
Lepaskan! Dia Pacarku
Sementara itu di depan podium yang dibuat begitu nyata seolah pernikahan yang sesungguhnya, sepasang suami istri sudah selesai berciuman. Lintani heran, Askelan memberikan ciuman kuat penuh minat yang memancing hasratnya.
Sedangkan Askelan terus bertanya pada dirinya sendiri mengapa gadis itu menggodanya berulang kali, padahal dia tahu sudah memiliki kekasih yang tengah hamil. Dia tidak mau menjadi orang jahat seperti keluarga Harrad yang memaksa ayahnya untuk meninggalkan ibunya, padahal tengah mengandung seorang anak.
Pria itu mengumpat dalam hati saat mencium Lintani demi menyenangkan ibunya, tapi, sungguh dia tidak ingin menghentikannya!
Sejenak mereka saling beradu pandang hingga kemudian, Lintani segera memalingkan muka ke arah Elliyat dan tersenyum malu-malu padanya. Dia berjalan mendekat tanpa melihat pada pria yang membuatnya serba salah.
“Ibu ... terima kasih sudah mau datang,” katanya sambil berlutut di depan Elliyat yang kakinya ditutupi selimut.
“Selamat, kalian sudah menjadi pengantin yang sesungguhnya, aku bisa pergi dengan tenang.”
“Ibu, kau ini bicara apa? Kau akan panjang umur dan segera sehat, apa kau tega meninggalkan aku?”
“Aku menitipkanmu pada patraku.” Elliyat berkata sambil tertawa kecil, “bagaimana, dia hebat, kan?”
Lintani menanggapi dengan wajah tercengang, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, “Bu, kau memang sangat memahami putramu, ya?”
“Tentu saja, aku, kan Ibunya, aku harap kalian cepat punya anak!”
“Makanya, kau harus bertahan untuk melihat cucumu lahir kelak!”
“Ya! Aku harap Tuhan memberkati!”
Saat dua wanita itu bicara, suara mereka tertahan, hingga tak ada yang mendengar. Askelan melihat semuanya dengan tatapan tidak suka, karena dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan hingga membuat ibunya tersenyum begitu lebar.
Maksud Lintani adalah benar bahwa Askelan akan segera memiliki anak, tapi, bukan dari rahimnya melainkan dari Haifa. Seandainya dia hamil, dia tidak tahu bayi siapa yang tengah dikandungnya.
Setelah selesai mengobrol, pembawa acara mengingatkan untuk melakukan foto bersama, yang akan berlangsung beberapa kali pengambilan termasuk foto bersama Elliyat.
“Bisakah aku mengambil fotoku sendiri dan dirimu, Bu?” tanya Lintani pada Elliyat.
__ADS_1
“Tentu saja!” Sahut Elliyat penuh semangat.
Lintani ingin mengambil kenang-kenangan khusus berdua, tapi, dia baru sadar jika tidak membawa tasnya bersamanya. Lalu, dengan terpaksa dia meminta Askelan untuk mengambil gambarnya dan Elliyat untuk dikirim ke ponsel miliknya.
Elliyat memeluk Lintani di akhir foto mereka, lalu, dia pergi bersama rombongan para dokter yang menjaganya dalam sebuah Van besar tempat menyimpan beberapa alat medis, yang bisa digunakan sebagai pertolongan pertama jika terjadi sesuatu padanya.
Lintani dan Askelan berjalan agak berjauhan saat melepas rombongan ibunya pergi. Dan, semua itu tidak lepas dari tatapan Elliyat. Dia tahu wanita itu memperhatikan mereka hingga dia berjalan dengan cepat menyusul Askelan, sambil mengangkat gaunnya. Tanpa permisi, dia mengaitkan jari-jarinya menjadi satu di tangan Askelan lalu mengacungkannya ke depan, hingga dilihat oleh wanita yang masih menatap mereka dari balik jendela mobil yang terbuka.
“Hati-hati, Bu. Besok aku akan menemuimu!” teriak Lintani sambil mengayunkan tangannya yang terpaut dengan Askelan yang tetap datar dan membiarkan perbuatan Lintani padanya.
“Lapaskan! Tangan pacarku!” kata sebuah suara dari belakang mereka.
Askelan tiba-tiba mengeratkan genggaman tangannya membuat Lintani kesakitan. Pria itu tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Seolah dia tengah meremukkan sebuah kebencian yang hendak lari dari penjara hatinya. Bahkan dia memasukkan tangannya yang masih terkait dengan tangan Lintani itu ke dalam saku celana.
Lintani segera menarik dengan sedikit kesulitan, lalu, Askelan menoleh pada tangannya hingga dia baru sadar jika ada tangan lain di sana.
“Lepaskan tanganku dulu, bodoh! Sekarang sudah tidak ada Ibumu!” Lintani berkata sambil mengibaskan tangannya yang sakit.
Askelan mengerutkan alis dan, suara gemeretak giginya beradu, tatapan membara dia lepaskan pada gadis di sampingnya. Wajahnya menaruh dendam, sedangkan hatinya penasaran, tapi, otaknya menolak menyukainya. Semua hal yang ada dalam dirinya tidak berjalan beriringan, semua saling berkhianat.
“Kau, bagaimana kau bisa ada di sini?” kata Lintani dan Askelan secara bersamaan, karena melihat Haifa ada di sana.
Lintani dan Askelan tidak tahu apa yang ada dalam pikiran gadis itu, yang penuh keyakinan menghampiri pria yang dicintainya.
“Aku mencarimu, dari tadi sampai ke sini! Aku merindukanmu, bagaimana kau tidak mengajakku pergi ke hotel seindah ini?” Haifa bergelayut manja di tangan Askelan, tatapannya sinis ke arah Lintani.
Laki-laki itu tidak percaya pada Haifa sebab dia melakukan pernikahan ini, penuh perhitungan dan rahasia agar tidak banyak orang yang tahu, jika dirinya menikahi wanita tidak berguna. Suatu saat dia akan menikahi Haifa jika ibunya sudah tiada. Namun dia heran kenapa gadis itu mencarinya sampai ke sana? Apa mungkin juga pengamanannya kurang bagus? Dia harus menanyakan pada Jordan.
Sementara itu Jordan sengaja melepaskan Haifa, dia tahu gerak gerik gadis itu seperti penguntit bagi tuannya sejak beberapa hari yang lalu. Saat dia melihatnya menyelinap, justru dia memerintahkan para penjaga untuk membiarkannya masuk.
“Dari mana kau tahu aku di sini?” kata Askelan dengan suara yang sangat lembut dan tidak tampak seperti orang yang marah.
“Kenapa? Apa aku tidak boleh ke sini? Apa karena dia?” kata Haifa menunjuk pada Lintani, dengan wajah yang cemberut.
__ADS_1
“Bukan karena dia, aku kira aku sudah memblokir jalan, tadi. Tapi, sudahlah, ayo! Kita pulang!” Askelan berkata sambil melirik Lintani acuh tak acuh.
“Tunggu!” Haifa berbalik menghadap Lintani, lalu, dia berkata, “Kenapa kamu memakai pakaian seperti itu, Lin? Apa calon suamimu tidak datang, dan kau menggoda pacarku, untuk menggantikan nya? Jangan bermimpi! Akulah yang akan menjadi istrinya!”
Lintani bingung, apakah dia harus menangis atau tertawa saat itu, bahkan otaknya seolah beku, dia tidak bisa berpikir atau mungkin saja sangat kecil karena dulu dia sedang tidur saat Tuhan membagikan pikiran pada otak manusia.
“Ah, iya, malangnya nasibku!” pekik Lintani.
Haifa kembali menyeringai, dia sudah tahu semuanya tapi dia berlagak bodoh. Oh, Tuhan! Seharusnya wanita inilah yang lahir tanpa otak.
“Askel Sayang, apa kau tahu kenapa dia memakai baju pengantin?”
“Seperti yang kau bilang aku di sini menggantikan suaminya!”
“Oh, begitukah?”
“Ya, tapi kamu tidak perlu khawatir, aku melakukannya karena ibuku!”
“Askel Sayang ... kau akan menikah dengan ku, kan?”
“Ya. Tentu!”
Askelan dan Haifa melangkah bergandengan tangan menuju mobil, sedangkan Lintani kembali ke hotel, menemui Mo dan mengganti pakaiannya.
Setelah Lintani mengganti bajunya yang biasa, dia makan bersama Mo, di tempat hidangan mewah telah disediakan oleh pihak Hotel. Mereka tidak berdua, tapi ada juga dan para staf Askelan yang tadi ikut menjadi pendukung acara pernikahan mereka.
Sesaat Mo heran mengapa Lintani datang hanya seorang diri, tapi, akhirnya dia mencoba memaklumi jika Askelan punya urusan penting lainnya hingga mengabaikan pengantin wanita.
Lintani baru saja melangkah dengan membawa semangkuk sup yang dia ambil dari salah satu meja, sementara segelas jus ada di tangan lainnya, saat seseorang menabraknya dengan sengaja dari belakang hingga pakaiannya basah dan kotor.
“Maaf, aku tidak sengaja, kamu tidak marah, kan, Lin?” Yang berkata adalah Haifa, dia kembali setelah minta izin pada Askelan untuk mengambil sesuatu barangnya yang tertinggal.
Lintani hanya tersenyum sinis lalu, melangkah ke toilet, untuk membersihkan pakaiannya. Dia tidak ingin berdebat apalagi, semua orang yang di sana semua tahu kalau Lintani, adalah wanita baik-baik yang dipilih oleh Elliyat, untuk putranya. Dia tidak akan mencemari nama Elliyat jika dia harus berurusan dengan perempuan itu.
__ADS_1
Ternyata Haifa tidak puas ditinggalkan begitu saja, dia berharap adanya sebuah pertengkaran dan dia mengikuti ke mana Lintani pergi.
Bersambung