
Pakaian Pelayan
“Oh, Ya! Ada pesta Harrad nanti malam!” kata Petra membuyarkan lamunan Lintani tentang Askelan.
“Pesta? Apa kau diundang juga?”
“Tentu, aku punya paman sepupu Ayahku adalah keluarga itu, jadi, mereka mengundangku sebagai bujangan, haha!”
“Kau pasti akan datang bersama kekasihmu, iya, kan?”
“Aku tidak punya kekasih!”
“Kau pandai berbohong, Pet. Mana mungkin laki-laki setampan dirimu tidak punya pacar!”
“Kau pikir aku tampan?”
“Tentu!”
“Buktinya aku tidak. Pacarku sudah diambil orang! Oh, ya! Kau pasti datang dengan Askelan, kan? Dia akan jadi bintangnya malam ini!”
“Begitukah?”
“Ya. Tetua Harrad akan mencarikannya pasangan karena inilah tujuan pesta.”
Tiba-tiba hati Lintani berdenyut, sakit rasanya mendengar ada orang yang akan mencarikan suaminya seorang istri, padahal dirinya masih hidup, bahkan baik-baik saja. Hidup ini kejam, bukan? Sepertinya kenikmatan hanya untuk mereka yang memiliki uang.
Elliyat saja tidak tahu kalau putranya, Askelan, hanya akan membawa Haifa bersamanya.
Tiba-tiba Petra tertawa keras.
“Kenapa kau tertawa, di sini tidak ada yang lucu, Pet!”
“Kedengarannya aneh kalau para orang tua itu belum tahu soal dirimu dan Askelan!”
“Soal apa?”
__ADS_1
“Bukankah Askelan pacarmu, tapi, di media banyak yang bilang Askelan kekasih Haifa, aku tidak suka melihatnya! Saat kau tahu bagaimana dia menyelamatkanmu, aku pikir kamulah pacarnya dan bukan artis itu!”
“Aku bukan siapa-siapanya!”
“Kalau begitu, aku masih punya kesempatan, kan?”
“Kesempatan seperti apa?”
“Memilikimu!”
Lintani yang tertawa sekarang.
“Kau tidak akan berani memilikiku, Pet. Aku tidak pantas untuk siapa pun.” Lintani berkata dengan mata berkaca-kaca, dia begitu senang mendengar ada pria yang tulus menyukai dan mengatakan perasaannya, tapi, dia harus mengakui sesuatu pada pria itu sebelum perasaannya jatuh semakin dalam lagi.
“Pet, kau tidak akan mau mencintai seorang narapidana karena membunuh seseorang, kan?”
“Tentu, itu mengerikan, bagaimana seorang pembunuh bisa dicintai seumur hidup? Bukankah seharusnya dia pun dikubur bersama dengan orang yang di bunuhnya?”
“Ya, sepertinya itu hukuman yang pantas, nyawa dibayar nyawa, tapi, aku adalah satu narapidana karena kasus pembunuhan itu!”
Lintani tersenyum sambil mengangguk, kemudian pergi begitu saja meninggalkan Petra yang bengong. Dia menaiki bis yang kebetulan lewat.
“Aku pikir Askel akan memberi mereka kejutan, aku tidak sabar menunggu, siapa yang akan dibawanya ke pesta, Haifa, atau perempuan residivis itu?” gumam Petra setelah kepergian Lintani dari hadapannya.
Sementara itu Askelan menemui Haifa yang meminta bertemu di suatu tempat, dia dihubungi melalui telepon dan Askelan menyambut ajakannya dengan sukarela.
Mereka bertemu di sebuah taman bunga yang manis untuk dijadikan pertemuan antara sepasang kekasih yang saling merindu. Namun, Askelan selalu mengecewakannya. Walaupun, dia bersikap lembut dan ramah, tapi, tidak mau menyentuhnya. Hanya Haifa yang berinisiatif bergelayut manja di lengannya. Terkadang saja Askelan menepuk kepalanya atas kemauannya sendiri. Itu pun dia sudah senang.
Berulang kali gadis itu mengajaknya mengulangi percintaan mereka di mobil, tapi, Askelan selalu beralasan kalau dia masih hamil, dan takut melukai bayinya nanti. Itu terlalu mengada-ada, tapi apalah dayanya tak bisa memaksa.
“Aku dengar ada pesta di keluarga besarmu, apa kau akan mengajakku? Aku menunggu berita darimu, tapi kau tidak juga menghubungiku?”
“Tentu, aku akan menjemputmu nanti malam, bersiaplah.”
“Kau ingin aku memakai pakaian apa?”
__ADS_1
“Apa saja, kau cantik mengenakan apa pun juga!”
“Aku sudah memesan gaun ungu pada Deondra, aku akan memakainya nanti malam!”
“Baiklah, apa kau sudah melunasi tagihannya?”
“Belum.”
“Gunakan ini untuk melunasinya!” Askelan berkata sambil memberikan Haifa sebuah kartu tanpa batas miliknya, membuat Haifa tersenyum lebar.
Dia bukan artis papan atas, selama ini dia hanya mendapatkan peran-peran kecil dalam sebuah film. Namun, dengan memiliki Askelan di sisinya dan rumor yang berhasil dia sebarkan, dia mendadak terkenal. Dia menayangkan beberapa foto dirinya bersama Askelan di media sosial, membuatnya seolah sudah melebihi kualifikasi papan atas kalangan artis yang memerankan banyak karya. Bahkan dia kini sering didekati para selebritas yang sebelumnya tidak mau melihatnya.
Setelah pertemuan itu, Haifa pergi ke salon untuk merias diri sedangkan Askelan kembali ke kantor.
Sementara itu, di rumah, Lintani baru saja selesai membereskan pakaian Pelayan yang sudah dia setrika rapi ke dalam tas, saat itulah dia melihat masakannya di meja sudah habis. Tidak masalah, walaupun sebenarnya, dia menyisakan makanan untuk dirinya sendiri, tapi nyatanya, setiap kali dia pulang, piringnya selalu kosong.
Lintani naik bus untuk sampai di gedung itu lebih cepat sebelum para tamu undangan hadir. Dia masuk dengan seragam pelayan, dan kamera dia sembunyikan pada saku berenda putih di bagian depan yang menjadi ciri khas seorang pelayan.
Dia berjalan dengan cepat menyusup di antara pelayan lainnya agar tidak ketahuan, biar bagaimanapun juga itu adalah tempat khusus, yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang kecuali yang berkepentingan. Bahkan para penjaga ada di mana-mana.
Semua pelayan mulai mengerjakan tugasnya masing-masing begitu juga dengan Lintani, ini pekerjaan mudah baginya, membawa minuman, menyiapkan makanan dan camilan serta meladeni para tamu yang ingin di foto dengan berbagai gaya.
Musik mengalun lembut dan suasana semakin ramai, saat Lintani mulai memastikan kamera berfungsi dengan baik.
“Hai! Apa yang kau lakukan di sana! Cepat lakukan tugasmu!”
“Baiklah!”
Lintani berbalik saat ketua pelayan menegurnya seolah dia sedang bersantai, di saat yang sama dia melihat Askelan turun dari mobil, diikuti Haifa sesudahnya. Pria itu berjalan memasuki gedung, langkahnya tegap dan elegan, dengan satu tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tangan yang lain digelayuti Haifa.
Pandangan mereka untuk sementara beradu, saling mengunci.
Hati Lintani kosong saat Haifa menyeringai ke arahnya.
Bersambung
__ADS_1