A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 10: Menantang Pendekar Desa


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Kabar kepulangan Alma Fatara setelah menghilang selama sebulan lebih satu hari, membuat para tetangga berdatangan ke rumah Slamet Lara. Mereka turut gembira.


Senakal-nakalnya seorang anak, dia akan tetap membuat sedih orangtua jika pergi dari rumah. Kepulangannya dalam kondisi sehat akan menjadi hal yang membahagiakan karena jelas kondisinya. Meski Alma adalah anak perempuan yang nakal, tetapi keberadaannya yang seperti mutiara di tengah-tengah lingkungan nelayan itu membuat banyak orang yang menyayanginya.


Dalam kerumunan teman-temannya dan para tetangga, lelaki dan wanita, Alma bercerita berapi-api.


“Hahahak …!”


Tidak lupa ledakan tawanya mewarnai ceritanya ketika ia mengisahkan hal yang dianggapnya lucu. Orang-orang yang mendengarkan juga ikut tertawa.


“Nah, begitulah ceritanya. Karena guruku baik hati dan tidak kocak, jadi aku diizinkan untuk pulang sehari mengunjungi kalian semua dan ayah emakku. Setelah itu aku harus kembali lagi ke tempat guruku,” ujar Alma Fatara.


“Tinggallah dua atau tiga hari lagi, Alma!” pinta Slamet Lara.


“Iya!” sahut para warga.


“Oh, tidak bisa, Ayah. Ini masalah kedisiplinan dan penepatan janji. Aku sudah berjanji untuk pulang hari ini juga, jadi aku harus pulang apa pun alasannya. Orang lain tidak akan mau tahu apa masalah kita, sebab yang mereka pegang adalah kata-kata kita. Aku pun harus disiplin waktu untuk menjadi karakter yang rapi dan tegas. Jika latihannya di waktu subuh, ya harus bangun sebelum subuh. Jika makannya di waktu puncak matahari, berarti masaknya sebelum itu. Jika pulangnya harus di awal malam, berarti pulangnya sebelum senja,” tutur Alma layaknya seorang dewasa yang sudah matang akal dan kepribadiannya.


“Oooh!” desah semuanya sambil manggut-manggut. Mereka kagum, baru sebulan berguru tapi Alma sudah banyak berubah dan wawasan karakternya semakin luas.


“Tapi sebelum aku pulang ke tempat guruku, aku harus menantang Debur Angkara bertarung. Aku harus mengalahkan Pendekar Desa lebih dulu!” kata Alma.


“Hah!” kejut semua orang.


“Jangan Alma! Debur Angkara seorang pendekar dan dia orang besar!” kata Muniwengi cepat.


“Hahaha! Tidak apa-apa, Mak. Aku hanya menantangnya bertarung, bukan menantangnya main Kuda Lempar Kerang,” kata Alma santai dengan tawanya.


Setelah meyakinkan bapak emaknya, Alma Fatara lalu pergi untuk menantang duel Pendekar Desa Debur Angkara.


Alma berjalan didampingi oleh keluarganya. Ia membawa keranjang telur. Di belakang, mengikuti teman-teman sepermainannya. Lebih belakang lagi, berjalan para tetangga rumah.


Mereka tahu di mana Debur Angkara biasa mangkal, jadi mereka bisa langsung menemukannya.


Saat itu, Pendekar Desa Debur Angkara sedang duduk bersandar di bawah pohon kelapa depan rumah Jaring Wulung, Kepala Desa Iwaklelet. Lelaki berkumis tebal seperti poni itu sedang makan ikan bakar tanpa nasi atau kecap.


Melihat ada banyak orang yang mendatanginya, Debur Angkara cepat bangun berdiri dengan kening berkerut.


“Ada apa ramai-ramai?”


Yang bertanya bukanlah Debur Angkara, tetapi Kepala Desa Jaring Wulung yang berdiri di depan rumahnya.


Alma dan para warga segera menghadap ke arah orang nomor satu di desa itu.


“Aku mau menantang Debur Angkara bertarung, Ki!” sahut Alma lantang yang membuat Jaring Wulung terkejut.


"Hahaha ...!" tawa Debur Angkara mendengar kata-kata Alma.


Mendengar Debur Angkara tertawa, Alma jadi berpaling menatapnya dengan ganti kerutkan kening.


“Hei, Alma sombong! Aku tahu kau sekarang sedang berguru agar menjadi sakti, tapi kau baru berguru selama satu purnama. Baru berlatih sebentar saja sudah mau melawan macan ganas. Sombong betul!” kata Debur Angkara.


“Benar kata Debur Angkara. Kau masih kecil dan baru berguru sebentar. Lebih baik kau berguru lagi sampai kau dewasa, baru datang lagi untuk menantang Debur Angkara. Apakah kau bermaksud menjadi Pendekar Desa menggantikan Debur Angkara, Alma?” kata Jaring Wulung lebih lembut sebagai orang tua.


“Justru aku mendapat perintah dari guruku untuk mengalahkan pendekar desaku, Ki!” tandas Alma. “Demi menunaikan tugas Guru, meski harus bonyok seperti ikan rebus, aku siap!”

__ADS_1


“Baik!” teriak Debur Angkara. “Kalian dengar semua! Jadi jangan anggap aku menganiaya anak kecil!”


“Hahaha! Tenang saja, Kang Debur. Aku pastikan aku akan tetap cantik sampai pertarungan selesai!” kata Alma.


“Baik, baik!” ucap Debur Angkara manggut-manggut sambil menatap tajam kepada Alma, sementara tangannya membuang sisa ikan bakarnya begitu saja ke samping, yang langsung diburu oleh seekor kucing.


“Beri ruang! Beri ruang!” teriak Alma pula sambil melangkah untuk mengambil posisi tarung di depan rumah Kepala Desa.


Orang-orang yang sudah ada segera bermunduran, memberi tanah kosong untuk pertarungan langka itu. Berita tentang tantangan Alma terhadap Pendekar Desa cepat menyebar seperti aliran listrik PLN. Para warga segera berlarian datang ke depan rumah Kepala Desa. Sebelum pertarungan itu mulai, depan rumah Kepala Desa pun penuh oleh warga dari semua garis usia.


Suasana terdengar riuh, lebih bising daripada sarang lebah. Mereka ramai berbisik-bisik.


Kini, Alma Fatara dan Debur Angkara sudah saling berhadapan. Pemandangan yang cukup mengerikan, karena Alma yang masih anak kecil menuju remaja berhadapan dengan lelaki bertubuh tinggi besar. Terlebih Debur Angkara memegang golok panjang bergagang kepala ikan. Sementara Alma hanya membawa keranjang berisi telur ayam.


“Wahai warga Desa Iwaklelet!” seru Jaring Wulung yang berdiri di teras rumahnya yang agak tinggi. “Ini adalah pertarungan yang diminta sendiri oleh Alma Fatara putra Slamet Lara. Hanya pertarungan sampai ada yang kalah, bukan sampai ada yang mati. Paham, semua?”


“Pahaaam!” jawab semua orang.


“Jadi, jangan menyalahkan Debur Angkara jika Alma sampai terluka!” kata Jaring Wulung lagi.


“Iyaaa!” jawab seluruh warga lagi.


Namun, tetap saja bapak, ibu, dan teman-teman Alma merasa cemas. Mereka akui Alma memang anak yang hebat, tetapi apakah sehebat bisa mengalahkan Debur Angkara?


“Pertarungan akan dimulai!” teriak Jaring Wulung memberi tanda.


Crak!


Debur Angkara melempar goloknya yang ditangkap oleh seorang temannya. Tidak mungkin ia bertarung menggunakan golok untuk seorang anak kecil.


Alma mengambil sebutir telur, lalu dilambungkan ke udara dan jatuh pecah di tanah berpasir, tepat di pertengahan jarak antara ia dan Debur Angkara.


Alma memasang kuda-kuda seperti layaknya seorang pendekar, matanya tajam memandang kepada Debur Angkara. Sementara lawannya hanya berdiri tenang dengan kaki terbuka, seolah tidak perlu menseriusi tantangan Alma.


Para penonton pun tegang.


“Pertarungaaan …!” teriak Jaring Wulung panjang.


Alma melemparkan keempat telurnya ke udara bersamaan, tapi dengan tinggi lambung yang berbeda. Dan ketika Jaring Wulung berteriak, “Mulaiii!”


Tak! Tak!


Dengan gerakan tendangan yang lincah, kaki Alma mengibas bergantian di udara dengan cepat, menyambar dua dua telur yang meluncur jatuh. Gerakan itu membuat para penonton terpukau, terlebih empat telur yang ditendang tidak pecah, padahal itu telur mentah.


Sebagai seorang pendekar, Debur Angkara dengan mudah menghindari keempat telur itu dengan cara cukup memiringkan tubuh atas ke kanan dan ke kiri, tanpa harus memindahkan kakinya.


Pcrak!


Namun, Debur Angkara harus terkejut, sebab ada telur kelima yang melesat cepat dan mendarat tepat di wajahnya.


“Hahaha …!” Meledak tawa para penonton melihat wajah Debur Angkara belepotan telor mentah.


Sruuut! Tap! Blugk!


Pada saat itu pula, tiba-tiba Alma berlari kencang ke arah Debur Angkara. Ketika tiba di depannya, Alma menjatuhkan tubuhnya meluncur di pasir, masuk di antara dua kaki Debur Angkara. Saat meluncur itulah, kedua tangan Alma menggaet kaki kanan Debur Angkara dan menariknya ke belakang dengan kuat.


Seketika Debur Angkara jatuh terbanting ke depan dan wajahnya mencium tanah pasir.

__ADS_1


“Hahaha …!” Penonton kembali tertawa.


Sementara itu Alma menekuk kedua kaki Debur Angkara yang tengkurap, bahkan menduduki tekukan kaki itu agar Debur tidak berkutik. Itu yang biasa dia lakukan pada Anjengan jika mereka berkelahi.


“Aaa!” teriak Debur Angkara sambil mendorong kuat kedua kakinya yang diduduki.


Memang dasarnya tenaga Debur Angkara jauh lebih besar, sehingga tanaga Alma tidak cukup kuat menahan dorongan kaki Debur Angkara. Sampai-sampai Alma terlempar dan jatuh di tanah pasir.


Kedua petarung itu sama-sama cepat bangkit. Debur Angkara bangkit dengan kemarahan yang tinggi. Ia begitu berang. Ia merasa dipermalukan.


“Hati-hati, Alma! Debur sudah marah!” teriak Anjengan tegang.


Debur Angkara berlari ke arah Alma.


Srek!


“Akk!” jerit Debur Angkara saat wajahnya tersiram pasir yang dicongkel oleh kaki Alma Fatara. Ada pasir yang masuk ke matanya.


Bak!


Setelah itu, Alma melompat menerjang dada Debur dengan dua kaki sekaligus.


Debur Angkara yang tidak bisa melihat harus terjengkang keras, masih untung tanahnya pasir.


Buk!


Alma Fatara melompat bersalto dan mendarat di dada kekar Debur Angkara.


“Habislah kau, Kang Debur!” teriak Alma Fatara sambil memukuli wajah Debur Angkara tanpa ragu.


Debur Angkara mencoba meninju buta beberapa kali, tetapi Alma bukan sekedar cerdik, tetapi juga gesit. Ia bisa menghindari tinju yang beberapa kali menyerangnya.


“Hiaat!” pekik Alma sambil melompat bersalto lagi dan mendarat keras di perut Debur Angkara.


“Hukk!” keluh Debur Angkara menahan sakit. Ia mencoba membuka matanya, tetapi terlalu sakit untuk melek.


Sementara itu, Alma menyerang Debur terus-terusan.


“Terus! Terus! Terus!” teriak teman-teman Alma mendukung.


Daripada terus-terusan dihajar oleh Alma, yang pukulan dan tendangannya bertenaga, Debur Angkara memilih menyerah. Memaksa bertarung dengan mata tertutup pun akan percuma, justru akan lebih lama dipermalukan di depan orang banyak.


“Cukup cukup cukup! Aku menyerah!” teriak Debur Angkara.


“Yeee! Aku menaaang! Hahaha ...!” teriak Alma begitu senang.


“Yeee …! Alma pendekar! Alma pendekar! Alma pendekar!” teriak warga pendukung Alma.


“Pertarungan dimenangkan oleh Alma Fataraaa!” teriak Kepala Desa Jaring Wulung layaknya penyiar ring tinju profesional.


Teman-teman Alma Fatara berlarian mendapati Alma dan menggendongnya. Anjengan tampil sebagai penggendong, sementara yang lain bersorak-sorai mengelu-elukannya.


Debur Angkara bangkit dibantu oleh temannya, karena ia masih kesulitan untuk melihat.


“Kang Debur! Nanti kalau aku sudah dewasa aku akan menantangmu lagi, jadi berlatihlah dengan giat lagi. Saat itu kita akan bertarung benar-benar sebagai dua orang pendekar! Hahaha!” seru Alma layaknya orang dewasa.


Alma Fatara lalu digotong pergi membawa kemenangan.

__ADS_1


Alma Fatara memang baru satu bulan berguru kepada Wiwi Kunai yang berjuluk Pemancing Roh. Namun, kedua orangtuanya dan warga desa yang mengenalnya tidak tahu, Alma memiliki kecerdasan yang tinggi, semangat yang tinggi, dan yang utama ia memiliki sejumlah kelebihan bawaan lahir.


Alma kebal terhadap api dan senjata tajam. Saat Wiwi Kunai mengetahui keajaiban pada diri Alma Fatara, Wiwi segera mematenkan Alma sebagai murid. Jadi Alma kini memanggil Wiwi Kunai dengan sebutan “Guru”, bukan “Bibi” lagi. (RH)


__ADS_2