A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 6: Bantuan Murid Jari Hitam


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Betapa senangnya Alma Fatara melihat sahabat-sahabatnya terjun pula ke dalam pertarungan. Namun ia sangat sadar, masuknya mereka ke dalam pertarungan sangat berisiko bagi mereka.


Terbukti, baru saja Ayu Wicara masuk mengamuk mengambil lawan, tiga orang bertopeng kain cokelat mengeroyoknya. Pedang Ayu Wicara tidak banyak berbicara. Sama-sama pendekar pedang, keahlian pedang Ayu Wicara bisa disebut masih di bawah standar.


Tang! Bak! Dak!


Tebasan pedang Ayu Wicara mendapat tangkisan, disusul oleh tusukan kaki lawan ke perutnya. Ayu Wicara terjajar. Kemudian berkelebat satu kaki yang mengibas dan menghajar pelipis Ayu Wicara. Gadis cantik itu terbanting.


“Tidak sakti!” teriak Ayu Wicara lalu cepat bangkit dengan wajah yang memerah.


Adapun lawan-lawan Debur Angkara menggunakan senjata pedang patah, yaitu pedang-pedang mereka yang tadi dipatahkan oleh golok pusaka Gedak Suta dan Goda Kadal.


Tang tang ting! Buk!


Dengan kelabakan Debur Angkara menangkis serangan keroyokan pedang tiga lawannya, lalu dua tinju bersarang di dadanya. Debur Angkara bisa sedikit bangga, karena dua tinju musuh itu tidak berefek pada dirinya.


Tang tang ting! Bak!


Kembali, dengan kewalahan Debur Angkara menangkis serangan pedang-pedang buntung, yang disusul dua tendangan keras pada perut Debur Angkara. Lelaki berkumis poni itu terjengkang dibuatnya.


Zess! Bress!


Ketika ketiga lawan Debur Angkara bergerak hendak menghabisi Debur Angkara yang wajahnya sudah pias, tiba-tiba ada satu aliran sinar hijau melesat dan membakar salah satu pengeroyok.


“Aaak! Panaaas!” jerit lelaki berpakaian cokelat yang dibakar oleh api hijau.


Garam Sakti yang tadi melepas sinar dari Keris Petir Api itu kembali melesatkan serangan serupa. Target tidak bisa menghindar. Ia pun terbakar. Sejumlah anak buah Jejak Langit harus bernasib terlalap api.


Sementara itu, Alma berinisiatif mengakhiri pengeroyokan menggunakan senjata benangnya.


Tanpa suara dan tidak terlihat, Benang Darah Dewa melesat menusuki enam orang pengeroyok Alma.


“Ak! Aw! Ak …!”


Keenam lelaki berpakaian cokelat jadi menahan gerakannya secara tiba-tiba sambil menjerit tertahan, ketika mereka merasakan ada sesuatu yang menusuk tubuh atau tangan dan kaki mereka.

__ADS_1


Bak buk buk!


Meski Benang Darah Dewa-nya beraksi, Alma juga beraksi dengan tetap stabil. Dengan tertahannya gerakan lawan-lawannya, membuat Alma jadi leluasa menyarangkan pukulan dan tendangannya yang melumpuhkan.


Contoh. Ketika satu lawan hendak menebaskan pedangnya kepada Alma dari belakang, ujung Benang Darah Dewa lebih dulu menusuk pahanya, membuatnya tertahan karena terkejut. Momentum itu langsung Alma manfaatkan dengan gerak serang berbalik yang langsung mendarat keras di dagu lawan, membuatnya seketika KO.


Jejak Langit dapat menangkap keanehan yang terjadi pada anak buahnya yang melawan Alma, terlebih mereka menjerit kecil-kecil, padahal tidak terlihat ada yang menyerang mereka.


“Alma pasti menggunakan senjata rahasia sehingga anak buahku bertingkah genit seperti itu …,” pikir Jejak Langit.


“Serang!” teriak seseorang tiba-tiba memberi komando, mengejutkan mereka semua yang sedang bertarung, terutama Jejak Langit.


Tiba-tiba sekelompok lelaki dan perempuan muncul berlari datang dan masuk ke dalam pertempuran. Kedelapan orang itu langsung mengambil para lelaki bertopeng sebagai lawan. Mereka semua tidak bersenjata, tetapi mengandalkan jari-jari yang berwarna hitam sebagai senjata natural.


“Sial, murid-murid Jari Hitam!” rutuk Jejak Langit.


Kemunculan delapan orang yang berpakaian beda-beda itu membuat Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara lega. Mereka bertiga buru-buru mundur ke dekat pedati.


Kedatangan delapan orang pendekar yang terdiri dari enam lelaki dan dua wanita itu, membuat anak buah Jejak Langit yang tersisa tidak bisa berbuat banyak.


Sambil tersenyum, Alma melangkah mendatangi Jejak Langit. Ia menyerahkan nasib anak buah Jejak Langit kepada orang-orang yang tidak dikenalnya itu. Namun pastinya, orang-orang itu ada di pihaknya, mungkin karena mereka iba kepada nasib gadis cantik jelita yang dikeroyok kaum lelaki.


“Untuk sementara sampai di sini, Alma. Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Setidaknya pusaka yang kau miliki harus berpindah kepadaku,” kata Jejak Langit.


“Aku akan menunggumu dengan penuh kerinduan, Paman Jejak Langit,” kata Alma.


“Mundur!” teriak Jejak Langit kepada orang-orangnya yang masih hidup.


Perintah Jejak Langit cepat direspon oleh para anak buahnya yang masih bernyawa. Mereka semua harus berlari pergi dengan sempoyongan, membawa berbagai jenis luka yang mereka derita. Anak buah Jejak Langit yang tewas ditinggal tanpa toleransi.


Orang-orang dari Perguruan Jari Hitam juga membiarkan orang-orang bertopeng kain itu pergi.


“Tunggu kedatanganku, Alma!” kata Jejak Langit. Ia lalu berbalik dan berkelebat pergi.


“Baik, Pamaaan!” teriak Alma supaya suaranya masih terdengar oleh Jejak Langit. “Hahaha! Eh!”


Alma mendadak berhenti tertawa ketika mengingat hal yang penting, yaitu nasib Demang Baremowo. Ia langsung menengok melihat ke arah posisi Demang Baremowo. Lelaki peguasa Kademangan Dulangwesi itu ternyata telah tergeletak tidak sadarkan diri di tanah dekat roda pedati.

__ADS_1


“Kang Debur, Demang Baremowo!” teriak Alma cepat.


Debur Angkara yang disebut jadi terkejut. Buru-buru dia berlari kecil menghampiri tubuh Demang Baremowo dan melihat kondisinya.


“Demangnya pingsan, Alma!” sahut Debur Angkara.


“Bawa ke kereta kudanya, Kang. Kita harus membawanya ke tabib!” kata Alma.


Debur Angkara segera mengangkat tubuh besar Demang Baremowo untuk dibawa ke kereta kudanya yang masih terparkir di tengah jalan.


Sementara Alma yang didampingi oleh Ayu Wicara, mendatangi orang-orang yang baru saja membantu mereka menghadapi para orang bertopeng.


“Sahabat-sahabat yang baik hati, terima kasih atas bantuan kalian. Hahaha! Hampir saja kami mati jika kalian tidak datang,” ucap Alma sambil tertawa kecil.


“Kalian adalah rombongan dan mereka adalah sekelompok orang bertopeng, tentunya kami tahu siapa yang jahat dalam pertarungan ini,” ujar seorang pemuda tampan berpakaian warna putih. Terlihat jelas ia memiliki jari-jari tangan yang berwarna hitam, sama seperti ketujuh orang lainnya. Hingga kuku-kukunya pun berwarna hitam pekat. Pemuda berusia tiga puluh tahun itu adalah murid utama Perguruan Jari Hitam, namanya Giling Saga.


“Giling Saga, lebih baik Demang Baremowo diobati di perguruan, lebih dekat,” ujar wanita cantik yang rambutnya digelung dan diikat dengan pita putih. Wanita berpakaian kuning tersebut berusia lima tahun lebih tua dari Giling Saga. Ia juga murid utama perguruan, namanya Rinai Serintik.


“Benar,” kata Giling Saga kepada Alma. “Lebih baik Demang dibawa ke perguruan kami untuk diobati. Di perguruan ada tabib. Jika membawanya pulang, akan lebih jauh, khawatir terjadi apa-apa dengan kondisinya.”


“Oh, baiklah. Hahaha! Senang bertemu dengan orang baik!” ucap Alma senang.


“Amal, jadi kita mampir ke perguruan?” tanya Ayu Wicara.


“Hahaha! Namaku bukan Amal, Ayu Cantik!” tawa Alma lalu meralat.


“Hehehe!” Ayu Wicara hanya terkekeh, terlihat di wajahnya ada memar, tanda mata dari pertarungan tadi.


Alma lalu pergi menyusul Debur Angkara. Namun, sambil berjalan, ia memungut dua bilah golok biru pada mayat Gedak Suta dan Goda Kadal. Alma mengambil senjata yang bernama Dua Golok Setia.


“Kang Debur, kusiri kereta kuda ini ke perguruan,” kata Alma sambil memberikan dua golok biru gelap di tangannya kepada Debur Angkara. “Ini golok bagus. Jangan dibuang.”


Tersenyum lebarlah Debur Angkara, sebab ia tadi melihat kehebatan golok biru itu ketika digunakan oleh dua pendekar pengawal Demang Baremowo.


“Nisanak, biar kami yang membawa kereta kuda itu,” ujar Giling Saga yang datang bersama rekan-rekannya.


“Terima kasih, Kisanak,” ucap Alma.

__ADS_1


“Namaku Giling Saga. Ini Rinai Serintik.” Pemuda tampan itu memperkenalkan dirinya dan Rinai Serintik.


Alma pun memperkenalkan dirinya dan nama rekan-rekannya. (RH)


__ADS_2