A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 24: Misi Baru


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


“Ada tabib yang bisa mengobati Ratu Warna Mekararum,” kata Garudi Malaya setelah mendengar cerita Alma Fatara.


“Di mana tabibnya, Guru?” tanya Alma antusias.


“Cukup jauh. Tetapi kau harus membawa ratu itu langsung kepadanya. Namanya Ki Ramu Empedu,” kata Garudi.


“Aku ingat tabib bertubuh jangkung itu,” timpal Wiwi Kunai.


“Dia tinggal di Rawa Kabut sebelah barat kaki Gunung Alasan. Mungkin membutuhkan sepekan perjalanan, sekali jalan dengan pedati kuda, karena kau akan membawa orang yang sedang sakit parah,” kata Garudi.


“Itu jika ratu itu mau dibawa ke sana,” kata Wiwi Kunai. “Pergilah! Tapi ingat, kau harus pulang kembali kepada gurumu, masih banyak ilmu yang belum kami turunkan kepadamu. Aku khawatir kau akan ketagihan berpetualang, apalagi jika sudah kenal dengan lelaki seperti gurumu itu!”


“Baik, Guru. Aku akan selalu mengingat pesan-pesanmu,” kata Alma.


Pada kesempatan pertemuan itu, Alma menanyakan tentang teman-temannya yang ingin berguru kepada Wiwik Kunai.


“Berapa orang?” tanya Wiwi Kunai.


“Empat orang, Guru.”


“Suruh saja mereka ke sini. Tapi jangan kau temani. Biarkan mereka mencari tempat ini sendiri, karena kau harus membawa Ratu ke Rawa Kabut,” kata Wiwi Kunai. “Sebab aku juga sedang membutuhkan banyak tenaga.”


“Terima kasih, Guru!” ucap Alma begitu senang.


Akhirnya, Alma Fatara kembali pulang menuju desa nelayannya.


“Guruku mengizinkan kalian datang ke perguruan. Guruku akan mendidik kalian!” ujar Alma kepada keempat sahabatnya, termasuk Anjengan yang adalah kakak tirinya.


“Horeee!” teriak Anjengan, Iwak Ngasin, Juling Jitu, dan Gagap Ayu begitu senang, sambil loncat-loncat di tempat.


“Tapi kalian sendiri yang harus menemukan kediaman guruku, tanpa aku!” kata Alma.


“Hah!” kejut mereka serentak.


“Bagaimana, berani atau tidak? Demi menjadi seorang pendekar,” kata Alma


“Berani!” pekik Gagap Ayu lebih dulu.


“Iya, berani!” teriak Anjengan pula.

__ADS_1


“Harus berani!” teriak Juling Jitu pula.


“Iwak Ngasin, kok diam saja? Pasti belum ngopi!” kata Alma.


“Hahaha!” tawa mereka bersama.


“Pasti berani, Alma!” kata Iwak Ngasin mantap.


Alma Fatara lalu pergi menemui Warna Mekararum dan menyampaikan tentang Ki Ramu Empedu. Hanya saja, membutuhkan perjuangan untuk bisa sampai ke Rawa Kabut di Gunung Alasan.


“Bawalah aku ke sana!” kata Warna Mekararum setuju.


“Baik, tapi …,” ucap Alma, lalu mengambang.


“Tapi kenapa, Alma?” tanya Slamet Lara.


“Aku perlu pedati dan dua ekor kuda, Ayah,” jawab Alma dengan nada berat.


“Wah, uang Ayah hanya sedikit, Alma,” kata Slamet Lara.


“Tenang, uang warga sedesa pasti cukup,” timpal Jaring Wulung selaku kepala desa.


Maka Jaring Wulung menggalang dana dari seluruh warga Desa Iwaklelet. Namun, dana yang tekumpul baru bisa beli satu kuda dan roda pedati. Adapun bak pedati mereka bisa buat sendiri. Masih kurang satu kuda.


“Aku mau bantu, satu ekor kuda lengkap dengan uang untuk perbekalan, tapi dengan syarat, bagaimana?” kata Magar Kepang.


“Katakan dahulu apa syaratnya, Paman!” kata Alma.


“Aku ikut dalam perjalanan hingga pulang kembali,” tandas Magar Kepang.


“Setuju. Hahaha!” teriak Alma lalu tertawa terbahak. Ia senang, karena dengan demikian mereka akan memiliki penyandang dana tetap selama perjalanan, jadi tidak perlu takut kelaparan di jalan.


Keesokan harinya, sebuah pedati baru dengan dua ekor kuda penarik sudah tersedia. Adapun orang yang berangkat mendampingi Warna Mekararum selain Alma adalah Kepala Desa Magar Kepang dan Garam Sakti, Pendekar Desa Iwakculas. Selain itu, Debur Angkara sebagai Pendekar Desa Iwaklelet juga ikut. Sejak pertarungan besarnya di Pulau Seribis, dia jadi ketagihan untuk ikut berpetualang bersama Alma Fatara.


Pada hari keberangkatan, Warna Mekararum dibaringkan di bak pedati. Untuk melindunginya dari sengatan matahari, pedati itu dibuatkan atap rumbia, sehingga mirip rumah-rumahan. Yang bertindak sebagai sais adalah Garam Sakti. Di sebelahnya duduk Magar Kepang. Sementara Debur Angkara duduk di salah satu punggung kuda tanpa memegang tali kekang, karena talinya tetap dikendalikan oleh sais.


Sebelum berangkat, Alma dipanggil oleh ibunya secara pribadi.


“Alma, terimalah gelang peninggalan orang tuamu ini!” kata Muniwengi sambil terisak karena sedih. Wanita hitam bertubuh kurus itu sedih karena takut ditinggal dan dilupakan oleh Alma untuk selamanya, jika Alma berhasil menemukan orangtua kandungnya.


Muniwengi memberi Alma sebuah gelang emas tebal yang pada salah satu ujung lingkarnya berbentuk kepala macan, tetapi memiliki dua tanduk kecil. Pada garis tengah lingkarnya berderet lima batu permata berwarna merah. Begitu indah.

__ADS_1


“Bagus sekali, Mak! Hahaha!” kata Alma yang takjub melihat benda itu, lalu tertawa pendek.


Alma mendadak menghentikan tawanya saat melihat Muniwengi kian menangis. Ia pun memeluk erat ibu angkatnya itu.


“Emak takut ya kalau nanti aku bertemu orangtua kandungku, lalu aku melupakan Emak?” terka Alma.


Muniwengi hanya mengangguk seraya terisak.


“Tidak, Mak. Aku tidak akan melupakan Ayah dan Emak. Bahkan tidak akan melupakan desa ini. Aku berjanji. Jika aku lupa, Emak punya hak menagih janjiku,” kata Alma lembut seraya tetap memeluk ibunya.


“Kau janji ya, Alma. Hiks ….”


“Iya, Mak. Alma berjanji. Sudah ah, lucu kalau emaknya jagoan terlihat menangis!” kata Alma.


Mulailah Muniwengi tersenyum, yang disusul oleh tawa terbahak Alma.


Alma lalu mengenakan gelang itu di pergelangan tangannya.


“Terlalu mewah, Mak. Longgar pula,” kata Alma.


“Tapi gelang itu harus kau bawa, Alma!” tandas Muniwengi.


“Ah, di sini saja,” kata Alma sambil mencoba memasang gelang itu di pergelangan kaki kanannya yang putih bersih. “Ah, lebih pas. Hahaha!”


Seperti itulah. Akhirnya Alma mengenakan satu-satunya perhiasan di tubuh cantiknya itu.


Alma dan ketiga rekannya yang lebih tua akhirnya memulai perjalanan dengan membawa tubuh Warna Mekararum. Alma duduk di bak pedati mendampingi Mekararum.


Mekararum begitu senang kepada Alma, meski anak itu ia nilai tidak pernah belajar tata krama interaksi antara sesama manusia yang memiliki kelas. Dilihatnya Alma bergaul dengan Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti seperti teman sebaya saja, padahal mereka bertiga jauh lebih tua.


Terlebih Alma mengingatkan Warna Mekararum kepada seorang cucunya yang cantik jelita. Memang tidak sama, tetapi kesetaraan usia Alma dengan cucu si nenek membuat Warna Mekararum teringat.


“Kau mengingatkanku kepada cucuku yang bernama Manila Sari, Alma. Usianya mungkin sama denganmu. Dia juga cantik, banyak lelaki yang meliriknya,” kata Warna Mekararum sambil memegangi tangan Alma dengan dua tangan.


“Lalu dia ada di mana sekarang, Nek?” tanya Alma.


“Entahlah, aku ragu meyakini bahwa dia akan baik-baik saja. Nafsu terhadap kekuasaan itu sangat kejam, mata pisaunya tidak mengenal apakah korbannya lelaki atau wanita yang indah, semua bisa dibunuh. Aku pesankan kepadamu, jangan pernah mau menjadi budak nafsu kekuasaan,” kata Warna Mekararum.


“Iya, Nek. Aku hanya ingin menjadi pendekar wanita sakti, sehingga tidak ada lelaki kurang ajar yang berani menggodaku,” kata Alma.


“Kenapa jika ada lelaki yang menggodamu?” tanya Warna Mekararum.

__ADS_1


“Aku takut tergoda, Nek. Hahaha!” (RH)


__ADS_2