A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 10: Ilmu Legenda Wiwi Kunai


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


“Hahaha …!”


Suara tawa terbahak-bahak selalu meledak dari dapur belakang Perguruan Jari Hitam. Seolah slogan mereka “Tiada Hari Tanpa Gelak Tawa”.


Di teras bagian dapur perguruan berkumpul Alma Fatara, Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara. Tuan rumah yang turut bersama mereka adalah Rinai Serintik dan Gibas Madar. Hanya Alma yang tidak ikut makan di saat teman-temannya disuguhi makanan yang banyak oleh Tuan Rumah.


“Amal!” panggil Ayu Wicara sambil jari-jari tangan kanannya mengaduk nasi di piring.


Namun, kali ini Alma tidak tertawa seperti sebelumnya jika dipanggil “Amal” oleh Ayu Wicara, sepertinya nama “Amal” sudah menjadi panggilan baku bagi Ayu Wicara, sama seperti panggilan baku “Ayam” jika dia memanggil ayahnya.


“Ya?” sahut Alma seraya tersenyum. Ia duduk di pinggiran teras dengan kedua kaki menggantung tidak menyentuh tanah.


“Sebenarnya pusaka apa yang kau miliki sampai pemimpin penjahat tadi ingin merebut pusaramu?” tanya Ayu.


“Pusaka, bukan pusara, Ayu! Hahaha!” ralat Debur Angkara.


“Hahaha! Pusakaku hanya boleh diketahui oleh orang-orang sakti,” jawab Alma setelah selesai tertawa.


“Ah, dasar pijit!” dumel Ayu Wicara merengut, lalu menyuap mulutnya.


“Hahaha!” Mereka kembali tertawa ramai-ramai.


“Pelit, bukan pijit, Ayu!” ralat Debur Angkara.


“Ah, Kang Debur meralat terus, lama-lama aku bisa jatuh tinja,” kata Ayu sambil tersenyum malu-malu.


“Hahahak …!” Mereka tambah tertawa terbahak. Sampai-sampai nasi di mulut Magar Kepang tumpah-tumpah.


“Ayu jorok!” tukas Garam Sakti setelah puas tertawa.


“Apanya yang jorok?” tanya Ayu Wicara membantah dengan tatapan sewot.


“Kau menyebut kotoran manusia!” tandas Garam Sakti.


“Aku hanya menyebut cinta, kenapa disebut jorok?” balas Ayu Wicara ngotot.


“Kau tadi menyebut kotoran manusia!” tegas Garam Sakti.


“Kakang itu yang menyebut koloran manusia!” balas Ayu Wicara.


“Hahaha …!” tawa mereka semua lagi.


“Aduh, Ayu lucu sekali!” ucap Rinai Serintik sambil memegangi perutnya. Sepasang pelipisnya terasa pegal karena tertawa sejak tadi.


Di saat mereka sedang ramai makan dan tertawa, seorang murid wanita senior datang kepada mereka. Murid itu adalah gadis berkepang tiga, pelatih murid-murid remaja perguruan. Ia bernama Nining Pelangi.


“Alma!” panggil Nining Pelangi.


“Ya?” sahut Alma.


“Guru, ingin bertemu denganmu,” ujar Nining Pelangi.


“Amal, jika Ketua menawarimu tiga permintaan apa saja, jangan lupa aku belum punya senggama pusaka!” kata Ayu Wicara.


“Hahaha …!” tawa mereka beramai-ramai.

__ADS_1


“Ayu, jika kau mau senggama pusaka, menikahlah dengan Kang Debur Angkara!” timpal Magar Kepang di sela-sela tawa mereka.


“Ih, kok bicaranya melantur? Paman Kepang bicara jorok!” hardik Ayu.


Sambil tertawa, Alma Fatara lalu beranjak pergi meninggalkan kumpulan itu. Ia mengikuti langkah kaki Nining Pelangi.


“Alma, bagaimana bisa kau berhubungan dengan Demang Baremowo?” tanya Nining Pelangi.


“Paman Demang minta bantuan kepada kami, Kak, saat dia kalah bertarung melawan orang-orang bertopeng pimpinan Paman Jejak Langit. Jadi, kami mau tidak mau harus melindunginya. Karena kondisinya seperti itu, mau tidak mau kami menunda perjalanan untuk memastikannya selamat sampai ia pulang,” jawab Alma. “Eh iya, seharusnya ada orang yang diutus untuk memberi tahu keluarganya, agar kami bisa melanjutkan perjalanan dengan segera.”


“Nanti kau bisa minta bantuan Gibas Madar, sebab murid-murid yang lain sudah terlanjur pergi mencari Dendeng Pamungkas,” kata Nining Pelangi.


“Dendeng Pamungkas yang katanya kekasih anak Demang itu?” tanya Alma memastikan.


“Benar.”


“Bukankah seharusnya Perguruan Jari Hitam dan Kademangan itu akur sehingga bisa saling membantu, tetapi kenapa justru saling bermusuhan, Kak?” tanya Alma kepada wanita yang lebih tua darinya tersebut.


“Ini cerita permusuhan yang lama. Orang-orang Demang Baremowo begitu membenci orang-orang perguruan ini. Namun, mereka juga segan untuk berurusan dengan kita. Mereka tidak mau jika kami sampai menyerang kediaman Demang,” jawab Nining Pelangi.


“Kakak sendiri sudah berapa lama berguru di perguruan ini?” tanya Alma.


“Sejak usiaku sepuluh tahun. Aku salah satu anak yang ditolong oleh Guru ketika gerombolan perampok membumihanguskan desa kami. Ada beberapa murid yang bernasib sama seperti diriku, harus kehilangan kedua orangtua dan keluarga lainnya karena kejahatan perampok yang kejam,” kisah Nining Pelangi. “Kau sendiri, Alma? Bagaimana bisa, di usia yang masih semuda ini kau memimpin rombongan?”


“Aku hanya ingin membantu Nenek Warna agar bisa sembuh dari penyakitnya. Hanya itu. Setelah bertemu dengan tabib di Gunung Alasan, aku akan pulang kembali untuk melanjutkan masa berguruku yang belum selesai,” kata Alma.


“Kau seperti putri seorang bangsawan,” kata Nining Pelangi.


“Hahaha!” tawa Alma setelah sekian jauh mereka berdua berjalan menuju ke tempat Ketua Perguruan Jari Hitam. “Orangtuaku tidak lebih seorang nelayan yang hebat. Meski mereka hidup miskin sebagai warga tanpa sandal, tetapi mereka begitu menyayangiku sebagai anaknya.”


“Warga tanpa sandal? Apa itu?” tanya Nining Pelangi.


“Ooh!” desah Nining Pelangi.


Akhirnya mereka tiba di depan sebuah ruangan terbuka tanpa dinding, seperti pendapa, tetapi ukurannya lebih kecil. Angin alam bebas lalu lalang di tempat itu. Di tengah tempat itu duduk bersila sosok Rereng Busa. Di depannya terlihat ada meja kecil berkaki pendek. Di atas meja ada gelas dan kendi.


“Silakan, Alma!” kata Nining Pelangi sambil berhenti hanya sebatas pinggir ruangan.


“Iya,” ucap Alma sambil mengangguk.


Alma lalu melanjutkan langkahnya masuk ke dalam, mendatangi Rereng Busa yang sudah menunggunya.


“Silakan, Alma!” kata Rereng Busa ketika Alma sudah tiba di depannya.


“Terima kasih, Kek,” ucap Alma. Ia lalu duduk bersila, berseberangan meja dengan lelaki tua tersebut.


Rereng Busa menuangkan air kendi ke dalam gelas tanah liat yang kosong. Ketika air kendi dituang, aroma air kelapa segar sampai kepada penciuman Alma.


“Itu air kelapa muda, Kek?” tanya Alma.


“Benar,” jawab Rereng Busa seraya tersenyum.


“Kakek memanggilku, apakah mau memberiku sesuatu?” tanya Alma ke-geer-an.


“Hehehe!” Rereng Busa terkekeh mendengar pertanyaan Alma.


Alma pun tersenyum kian lebar melihat lelaki tua itu tertawa.

__ADS_1


“Aku ingin tahu, sebenarnya kau murid siapa, sehingga Bola Hitam ada padamu?” jawab dan tanya Rereng Busa.


Terkejutlah Alma Fatara. Ia tiba-tiba melompat mundur, menjauhi tempat duduknya. Namun, tatapannya kepada Rereng Busa disertai senyum lebar. Sementara si kakek bersikap tenang menyikapi reaksi Alma, ia tetap menyelesaikan tuangan air kelapa muda yang lubang kucurannya kecil.


“Apakah Kakek juga mau memiliki senjata pusakaku?” tanya Alma.


“Tidak. Aku hanya penasaran, kenapa senjata sakti itu ada padamu dan kau berani membawanya ke mana-mana?” jawab Rereng Busa, tetap santai tanpa ketegangan sedikit pun.


Alma berubah lunak. Kesiagaannya ia kendurkan.


“Duduklah!” kata Rereng Busa.


Alma kembali mendekat dan duduk di tempatnya semula. Meski demikian, tatapannya awas tetap bersiaga.


“Minumlah!” kata Rereng Busa lagi.


“Di sini tidak ada racunnya, kan, Kek? Bisa saja kau juga minum untuk menunjukkan bahwa minuman itu tidak diracun, padahal kau sudah meminum penawarnya,” tukas Alma, masih curiga.


“Jadi, apakah kau akan memberiku jawaban atas pertanyaanku?” tanya Rereng Busa sambil mengangkat gelasnya. Setelah itu, ia meneguknya.


“Bola Hitam ada padaku karena aku yang menemukannya,” kata Alma.


“Jadi kau tidak ada hubungannya dengan Raja Tanpa Tahta yang sudah mati?” tanya Rereng Busa.


“Tidak.”


“Lalu siapa gurumu?”


“Guru perempuanku adalah adik bungsu Raja Tanpa Tahta, yaitu Pemancing Roh,” jawab Alma.


Terlihat keterkejutan Rereng Busa mendengar nama Pemancing Roh disebut.


“Kenapa, Kek? Sepertinya kau mengenal guruku?” tanya Alma.


“Ya, aku mengenalnya. Dia adalah salah satu pendekar wanita yang sudah sakti di usia muda. Namun, sudah lama aku tidak mendengar kemunculannya di belantara dunia persilatan. Dia adalah satu-satunya pendekar yang menguasai ilmu legenda Pemanggil Roh Langit,” kata Rereng Busa agak panjang.


“Ilmu legenda Pemanggil Roh Langit?” sebut ulang Alma dengan kening berkerut. “Aku tidak pernah mendengar nama itu dari guruku, Kek.”


“Menurutku, Wiwi Kunai tidak akan pernah mau menyebut atau memberi tahu tentang ilmu itu kepada muridnya, karena dia memang tidak akan pernah mau menurunkan ilmu itu kepada orang lain. Ia akan lebih memilih menjadi satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki ilmu itu,” kata Rereng Busa dengan menyebut nama asli Pemancing Roh, guru Alma Fatara.


“Berarti ilmu itu sangat istimewa,” ucap Alma.


“Memang iya. Ah, lupakanlah itu. Apakah kau sadar atau memang tidak tahu bahwa dengan membawa Bola Hitam, kau akan menjadi incaran orang-orang sakti? Karena orang-orang sepertiku akan dengan mudah merasakan keberadaan pusaka itu,” tanya Rereng Busa. Ia sudah mendeteksi keberadaan Bola Hitam pada tubuh Alma sejak gadis itu pertama bertemu dengannya beberapa waktu lalu.


“Aku tahu, Kek. Hehehe!” jawab Alma lalu terkekeh kecil.


“Lalu kenapa Wiwi Kunai membiarkanmu membawanya ke mana-mana? Atau ….”


Kata-kata Rereng Busa terputus mengambang karena berpikir.


“Atau kenapa, Kek? Buat penasaran saja seperti roh gentayangan. Hahaha!”


“Atau gurumu itu sangat tahu bahwa kau bisa mengatasi orang-orang sakti yang berniat merebut pusaka itu. Benar demikian?”


“Waaah, aku juga tidak tahu tentang itu, Kek.”


“Aku hanya berpesan kepadamu, berhati-hatilah. Dengan kau membawa Bola Hitam itu, akan ada banyak orang sakti yang ingin mencelakaimu, Alma,” pesan Rereng Busa.

__ADS_1


“Baik, Kek.” (RH)


__ADS_2