A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 16: Siasat Pamong Sukarat


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


 


Seorang pemuda tampan berperawakan pendekar dengan baju warna hijau gelap dan celana warna hitam, ditahan oleh prajurit untuk memasuki halaman rumah Wakil Adipati, yakni Pamong Sukarat. Warna pakaiannya yang gelap membuatnya sulit untuk dilihat di waktu malam seperti itu, kecuali ia sudah mendekat. Cahaya sejumlah suluh yang tersebar di kediaman itu tidak cukup untuk memperjelas sosoknya.


Rumah Pamong Sukarat yang sudah duda itu ukurannya sederhana, tetapi terbilang mewah karena bahannya perpaduan batu dan kayu yang kokoh. Ada beberapa prajurit yang berjaga di kediamannya. Tidak hanya itu, sejumlah prajurit juga menyebar di sekitar rumah dalam radius yang cukup luas, bahkan lebih luas dari keamanan rumah Adipati Marak Wijaya.


“Aku Pendekar Mata Ular. Aku dipanggil oleh Gusti Pamong Sukarat,” ujar pemuda itu. Dia memang memiliki sepasang bola mata yang aneh, bola matanya tidak wajar. Entah apakah itu model mata ular atau model mata masa kini, yang jelas pupil bola mata itu berwarna kuning.


“Silakan, Pendekar,” kata prajurit penjaga pintu halaman, sambil bergeser minggir sedikit guna memberi keluasan jalan.


Pendekar Mata Ular berjalan ke teras rumah Pamong Sukarat. Namun, belum lagi ia berhenti, pintu rumah yang tertutup telah dibuka dari dalam.


Sosok Pamong Sukarat keluar dengan rambut tanpa hiasan totopong. Maka terlihat jelas kepalanya yang terselimuti oleh rambut putih.


“Orang-orangku sedang pergi untuk menukar anak panah yang akan digunakan di dalam pertandingan besok. Jadi besok, pilih anak panah yang pada bagian ekornya ada dua guratan yang cacat. Matamu sangat awas, kau pasti bisa mengenalinya dengan mudah,” ujar Pamong Sukarat langsung.


“Bagaimana jika anak panah yang ditandai itu lebih dulu diambil oleh peserta lainnya?” tanya Pendekar Mata Ular.


“Besok aku yang akan mengundi siapa yang lebih dulu mengambil anak panah. Aku bisa mengatur agar kau yang lebih dulu mendapat giliran, sehingga bisa memilih. Ingat, ketika memilih, jangan terkesan kau terlalu memilih, itu bisa mencurigakan.”


“Baik.”


“Tugas utamamu adalah memanah Pangeran Derajat Jiwa ….”


“Apa?” kejut Pendekar Mata Ular. “Kau ingin membunuh seorang pangeran? Aku bisa menjadi buruan Kerajaan Singayam.”


“Kau tinggal lari ke luar wilayah kekuasaan Kerajaan Singayam. Ingat, hadiah yang aku janjikan kepadamu di tempat yang telah ditentukan, sangat besar. Itu bisa mengubah hidupmu dalam sekejap. Lagipula, kau tidak akan begitu disalahkan, karena yang disalahkan adalah Adipati Marak Wijaya. Jika dia ditangkap, maka aku yang akan menggantikan kedudukannya.”


“Tapi aku tidak mengenal pangeran itu.”


“Mudah untuk mengenalinya. Kau akan lihat perbedaan wajah orang yang hidupnya di istana dengan di rumah biasa. Dia akan menjadi orang yang paling bersih penampilannya dibandingkan pemuda yang lain.”


“Baik. Tapi ingat, aku tidak bertanggung jawab jika terjadi kesalahan. Aku hanya melakukan tugas yang aku pahami,” tandas Pendekar Mata Ular.


“Tugasmu hanya membunuh Pangeran Derajat Jiwa, setelah itu kau bebas melakukan apa pun. Terserah kau, apakah kau mau langsung kabur atau pilih tetap di tempat itu. Yang jelas, bayaranmu sudah aku letakkan di tempat yang sebelumnya aku sebutkan. Akan ada satu orang yang menjaganya. Untuk urusan lainnya akan dikerjakan oleh kelima saudaramu.”


“Baik. Hanya itu?”


“Ya, cukup. Tapi ingat, jangan sampai kau yang gugur duluan sebelum kau membunuh Pangeran Derajat!” tekan Pamong Sukarat.

__ADS_1


“Itu tidak perlu kau risaukan. Aku permisi.”


Pendekar Mata Ular lalu berbalik pergi tanpa basa-basi penghormatan kepada pejabat kadipaten atau kepada orang tua.


“Dasar pendekar tidak punya tata krama!” rutuk Pamong Sukarat, setelah Pendekar Mata Ular hilang dalam kegelapan malam.


Setelah itu, Pamong Sukarat tidak memilih untuk masuk ke dalam rumah, sebab ia melihat titik api yang bergerak dalam kegelapan di kejauhan. Api yang terlihat bergerak terbang itu menuju mendekat ke arah rumahnya.


Selanjutnya, terdengar suara lari kuda yang memecah keheningan malam, mengiringi datangnya gumpalan api yang datang mendekat. Semakin lama, suara lari kuda semakin kencang.


Ternyata api yang terbang itu adalah api obor yang dipegang oleh seorang penunggang kuda. Ia menggebah kudanya hanya dengan tangan kanan yang memegang tali kekang.


Pamong Sukarat tahu siapa penunggang kuda yang datang menembus kegelapan malam kadipaten. Itu adalah prajurit yang diutus olehnya. Setelah kejadian tadi siang di jalanan yang melibatkan Alma Fatara, ia harus mengirim utusan untuk memastikan sesuatu.


Penunggang kuda diizinkan masuk ke halaman oleh prajurit. Seorang prajurit lain segera menyongsong mulut kuda yang berhenti di halaman.


“Hormat hamba, Gusti!” ucap utusan itu.


“Bagaimana kesiapan mereka?” tanya Pamong Sukarat.


“Luka Ular Terbang Mungil dan Cangkang Sejati tidak begitu serius. Besok kelimanya bisa melaksanakan tugasnya, Gusti.”


“Bagus. Kau boleh bergi!” perintah Pamong Sukarat.


Biar lebih jelas siapa mereka, disebutkan saja. Keempat orang itu adalah Alma Fatara, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara. Mereka membuat formasi dengan Alma di depan, lalu Debur Angkara di belakangnya, lalu Ayu, dan yang paling belakang adalah Garam Sakti.


Tanpa berkuda, mereka berempat pergi ke alun-alun yang dijaga ketat oleh para prajurit Kadipaten. Sekeliling alun-alun diterangi oleh obor yang akan menyala sampai pagi, karena mereka memang kuat begadang.


Titik yang mereka tuju adalah sebuah bangunan gudang yang dijaga ketat oleh enam prajurit. Gudang kayu itu terletak di sudut alun-alun.


Berdasarkan info dari Adipati Marak Wijaya, senjata panah yang akan digunakan dalam pertandingan besok disimpan di gudang di alun-alun.


Rencana Alma Fatara yang telah dijelaskan oleh Magar Kepang kepada rekan-rekannya, yaitu mereka akan membuat kekacauan di saat pertandingan berlangsung. Malam itu Alma dan rekan-rekan berniat merusak senjata panah, sehingga besok bisa menimbulkan kecelakaan. Itu yang kira-kira Alma harapkan.


“Kita harus menyelamatkan Ninda Serumi, yaitu dengan menjadikan pertandingannya kacau, sehingga tidak ada yang menang. Dengan begitu, tidak akan ada lelaki yang mendapatkannya,” jelas Magar Kepang ketika briefing di belakang kediaman Adipati.


Masih ada rencana Alma selain membuat kacau pertandingan, tetapi itu harus melihat dulu seperti apa kondisi yang tercipta besok.


Sebenarnya tidak sulit untuk mendekati gudang karena alun-alut tidak begitu dipagari. Namun yang jadi masalah, mereka bisa dengan mudah terlihat oleh prajurit jaga. Itu yang akan menjadi masalah.


Tiba-tiba Alma Fatara berhenti berjongkok, berlindung di balik ilalang malam. Debur Angkara sigap mengikuti dengan berhenti dan berjongkok pula.

__ADS_1


Pluk!


Namun, Ayu Wicara kurang sigap. Ia berjalan terus sehingga tersandung oleh bokong Debur. Ia pun jatuh, tapi tidak nahas karena jatuhnya ke punggung Debur. Agar tidak terjatuh ke tanah, Ayu Wicara sigap memeluk leher beton Debur Angkara.


Baru saja Ayu Wicara hendak memaki, dua prajurit patroli yang sedang berkeliling di luaran alun-alun muncul berlalu di depan mereka.


Ayu Wicara terpaksa diam bergerak dan juga menahan napasnya. Debur Angkara hanya bisa mendelik di dalam gelap. Ia sangat bisa merasakan dua gumpalan dada Ayu yang menekan di punggungnya.


Ayu pun sadar bahwa posisinya sedang salah tempat, tetapi ia tidak mau jadi biang kerok yang bisa membuat mereka ketahuan. Sementara di belakangnya, Garam Sakti pun sudah turun berjongkok dan mematung.


Dua prajurit itu membawa satu obor sebagai penerang. Dalam jangka waktu tertentu, mereka berdua akan berpatroli lagi.


Kedua prajurit ternyata tidak mendengar atau melihat suatu hal yang mencurigakan ketika mereka lewat di depan rombongan Alma.


Tut!


Benar-benar mengejutkan. Ada suara kentut dari sudut paling belakang, yaitu dari bokong Garam Sakti.


Alangkah terkejutnya Alma Fatara, Debur Angkara dan Ayu Wicara. Sebab meski sangat pendek durasinya, itu suara kentut yang keras. Kecuali Alma, yang lain masih bisa menahan diri untuk memaki atau tertawa. Alma harus ekstra menahan diri agar tidak tertawa lepas. Sebenarnya dia sudah tertawa, tetapi ia tahan sekuat rahim sehingga tidak bersuara.


“Kebiasaan kalau ronda pasti kentut!” gerutu prajurit yang membawa obor. Ia mendengar suara kentut itu, tetapi ia menyangka rekannyalah yang kentut.


“Kau juga kebiasaan, kau yang kentut, tetapi malah mencari tersangka!” balas prajurit satunya sambil terus melangkah menjauhi posisi Alma dan geng.


“Kebiasaan, malah balik nuduh!” rutuk prajurit pembawa obor.


Tiiit!


Ya ampun! Sudahlah kentut ekspres, Garam Sakti kembali kentut slow motion. Suaranya persis suara balon panjang yang dilepas ke udara tanpa ikatan.


Kentut bernada itu terdengar oleh kedua prajurit yang berpatroli. Mereka sontak berhenti dan terkejut.


“Hahahak …!”


Jika Debur Ankara dan Ayu Wicara bisa menahan tawa atau kekesalannya, maka tidak dengan Alma Fatara. Kali ini tawa gadis cantik jelita itu menjebol benteng mulutnya.


Karena Alma tertawa lepas, sontak Debur Angkara, Ayu Wicara dan Garam Sakti langsung tiarap sekali gerak, sehingga mereka benar-benar tenggelam di semak belukar. Ayu Wicara menelungkup di atas punggung Debur Angkara.


Suara tawa Alma Fatara tidak hanya membuat kedua prajurit patroli terkejut dan menengok ke arah posisi gadis itu, tetapi beberapa prajurit jaga yang mendengar suara tawa itu juga terkejut. Seketika mereka dilanda merinding. Terbatasnya bias cahaya dari api obor, membuat mereka tetap tidak bisa melihat keberadaan Alma dalam gelap, terlebih Alma berpakaian serba hitam.


“Hahahak …!” tawa Alma berkepanjangan sambil berkelebat menjauh.

__ADS_1


Mau tidak mau, para prajurit hanya bisa mendengar suara tawa perempuan yang keras seperti tawa bapak-bapak. Meski tawanya model itu, tetap saja membuat bulu kuduk dan bulu lainnya merinding. (RH)


__ADS_2