A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 15: Kehebatan Bola Hitam


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Tiga tahun telah berlalu.


Jbuar!


Tiba-tiba dari dalam air sungai yang dalam, melompat keluar sesosok tubuh berpakaian serba hitam. Sosok itu adalah seorang wanita berambut kepang tunggal sebokong. Dan wanita itu tidak lain adalah Alma Fatara. Ia mendarat di tanah pinggir sungai dengan menggenggam benda berwarna biru terang.


Kini sosok Alma Fatara telah menjadi gadis belia dengan wajah yang sangat cantik dan tetap berkulit putih bersih. Ia memiliki postur tubuh yang indah bagi seorang wanita. Sosoknya laksana sempurna. Keseringan Alma terjun berenang ke dalam sungai membuat ia memilih warna hitam untuk pakaiannya, agar ketika kuyup lekuk tubuhnya tidak terlalu mencolok. Pada bagian dada, baju Alma diberi rumbai-rumbai untuk menghilangkan tampilan seronok karena gadis ini memang memiliki ukuran dada yang cukup besar.


Penampilan Alma Fatara tidak lepas dari masukan sang guru, Wiwi Kunai. Hal itu karena kini mereka hidup bersama seorang lelaki yang genit. Untuk berjaga-jaga dari kenakalan Garudi Malaya, Wiwi Kunai sangat menjaga penampilan dan kelakuan Alma. Untuk menjaga tubuh muridnya dari pandangan liar para lelaki mesum, Alma diberi pakaian khusus, yaitu sebuah jubah tebal berwarna hitam juga.


Alma Fatara baru saja mengambil benda pusaka yang bernama Bola Hitam, yang selama ini dipendam di dalam lumpur di dasar sungai. Benda berbentuk kotak kubus berwarna biru terang itu kemudian ia selipkan di balik sabuk kainnya.


Setelah itu, ia pun masih harus menggulung benang yang selama ini mengikat Bola Hitam agar tidak terbawa arus sungai. Benang berwarna merah itupun bukan sembarang benang. Benang itu tidak putus oleh tajamnya pedang biasa. Benang milik Wiwi Kunai itu bernama Benang Darah Dewa. Usai menggulung, Alma lalu mengenakan jubah hitam keringnya, yang ia tanggalkan sebelum masuk ke dalam air.


Setelah urusannya di sungai selesai, Alma segera pulang.


Wiwi Kunai dan Garudi Malaya sudah menunggu kedatangannya. Keduanya menunggu Alma bukan di rumah, tetapi di sebuah tempat lapang berumput yang di kelilingi oleh sejumlah pohon besar.


Yang berbeda dari Wiwi Kunai adalah dia menggendong seorang bayi berusia sekitar satu tahun. Itu adalah anaknya dari hasil kolaborasi dengan Garudi Malaya.


Tiga tahun yang lalu, Wiwi Kunai menuntut Garudi agar menikahinya dengan tujuan mengikat Garudi agar tidak pergi ke mana-mana, terutama agar tidak jatuh cinta kepada wanita lain. Butuh waktu satu tahun bagi Wiwi Kunai untuk hamil. Bayi lelaki itu kemudian diberi nama Janur Perkasa.


Sehubungan kesaktian Alma sudah meningkat pesat, maka Wiwi Kunai mengizinkan Alma untuk mengambil kembali Bola Hitam, sekaligus untuk mendemontrasikan kesaktian pusaka itu di depan kedua gurunya.


“Salurkan tenaga dalammu ke Bola Hitam!” perintah Wiwi Kunai.


“Baik, Guru!” sahut Alma.


Gadis cantik itu lalu menyalurkan tenaga dalamnya yang telah tinggi ke dalam genggamannya.


Bruss!


Secara mengejutkan, benda kotak itu tiba-tiba berubah menjadi hitam. Warna biru terangnya hilang sama sekali. Ia pun dibungkus oleh lapisan sinar putih tipis tapi transparan, sehinga benda itu akan terlihat seperti bola hitam dari jauh.


“Apa lagi yang harus aku lakukan, Guru?” tanya Alma.


“Terserah kau!” sahut Wiwi Kunai.


Sess! Bluarr!


Alma tanpa pikir panjang, dilesatkannya Bola Hitam di tangannya ke batang sebuah pohon. Batang pohon besar itu hancur berantakan. Sementara Bola Hitam memantul balik ke arah tangan Alma, seperti yoyo tertarik kembali. Dengan mudahnya Alma menangkap benda itu.


Bsruakr!


Batang atas pohon yang dihancurkan tumbang ke bumi.

__ADS_1


“Waw!” desah Alma terpukau karena daya hancur Bola Hitam tadi termasuk dahsyat. Batang pohon yang dihancurkan berdiameter setengah depa.


“Lakukan yang lain, Cantik!” teriak Garudi.


Alma lalu melompat tinggi ke udara.


Sess! Ctar!


Seset seset!


Dari udara Alma membanting keras Bola Hitam ke bawah. Bola Hitam meluncur deras dan menghantam tanah. Terjadi ledakan nyaring, tapi bukan tanah yang hancur, melainkan sinar-sinar biru berlesatan ke segala arah dari hantaman itu.


“Bocah Cucut!” maki Wiwi Kunai sambil melompat menghindari satu sinar yang menyasar kepadanya.


Hindaran yang sama juga dilakukan oleh Garudi. Setelah sebaran sinar-sinar biru berekor itu reda, barulah terlihat bahwa sinar-sinar itu bersifat tajam. Sejumlah batang pohon yang terkena mengalami sayatan yang dalam, tapi tidak sampai memotong tumbang. Namun, ada beberapa batang pohon kecil setebal tangan yang tertebas putus.


Sementara Bola Hitam memantul balik ke telapak tangan Alma.


“Kenapa hasilnya bisa berbeda?” pikir Alma heran setelah mendarat ke tanah.


“Coba lagi cara lain, Cantik!” seru Garudi yang senang melihat hasil pertunjukan itu.


“Baik, Guru!” sahut Alma yang juga sudah menjadikan Garudi sebagai gurunya.


Sess! Tap!


Alma yang mulai bisa memahami cara kerja benda itu lalu punya ide lain.


Sess! Bluarr! Bluarr!


Alma lalu bergerak mendekati dua buah pohon besar yang tumbuh berdampingan. Ia kemudian melakukan lemparan mengayun dari kanan ke kiri. Hasilnya, Bola Hitam melesat melengkung dan menyambar dua batang pohon besar itu.


Dua ledakan dahsyat terjadi seperti ledakan uji coba pertama, tapi kali ini dua batang pohon. Sementara Bola Hitam kembali ke telapak tangan Alma seperti ada benang gaib yang menjadi pengait.


Bsruakr!


Bagian atas dua batang pohon yang dihancurkan tumbang ke bumi.


“Sepertinya aku mulai tahu, tapi harus aku pastikan,” pikir Alma.


Sess! Ctar!


Seset seset!


Alma kembali melesatkan Bola Hitam dengan gaya lempar mengayun ke bawah seperti melempar bola bowling. Bola itu melesat ke depan bawah lalu menggesek tanah dan naik lagi melambung balik ke arah Alma.


Dari gesekan Bola Hitam dengan tanah menciptakan suara ledakan nyaring yang melesatkan sinar-sinar biru berekor ke arah depan, tidak seperti tadi yang lesatan sinarnya menyebar ke segala arah. Sinar-sinar itu menebas segala apa yang dihantamnya.

__ADS_1


Alma lalu berlari kecil menghampiri kedua gurunya.


“Aku paham, Guru!” kata Alma seraya tersenyum lebar.


“Apa yang kau pahami?” tanya Wiwi Kunai.


“Bola Hitam ini,” kata Alma sambil menunjukkan benda di tangannya yang sudah kembali berwarna biru dan berbentuk kotak. Bola sinar yang meliputinya juga sudah hilang. “Jika menghantam kayu akan meledak, tapi jika menghantam tanah akan beranak sinar lagi.”


“Berarti, jika menghantam orang akan lain lagi hasilnya?” tanya Garudi.


“Mungkin. Guru mau mencoba?” jawab Alma.


“Murid kecantikan!” maki Garudi.


“Hahaha …!” tawa Alma yang sejak tadi bersikap serius.


“Aku sudah pernah melihat senjata ini mengenai manusia. Korbannya tidak meledak atau terpotong, tetapi mati dengan tulang berhancuran di dalam tubuh,” kata Wiwi Kunai.


“Kalau mengenai batu dan air, Guru?” tanya Alma.


“Kau coba saja sendiri,” kata Wiwi Kunai.


“Pasti kalau kena batu, air, kambing, besi, kena eek, kena kue ….”


“Kau juga mau mencobanya kepada eek manusia? Sembarangan!” hardik Wiwi Kunai.


“Hahahak …!” Alma justru tertawa.


“Itu senjata pusaka, tidak boleh kau sembarangan menyentuhkannya kepada sesuatu yang kotor!” kata Wiwi Kunai lagi.


“Iyaaa. Sudah selesai kan, Guru?” tanya Alma.


“Pergilah! Tapi ingat, jangan lama-lama. Kesaktian kami masih banyak untuk kau pelajari!” kata Wiwi Kunai.


“Baik, Guru. Oh ya, Guru berdua. Kalian bisa bebas buat anak lagi, tidak perlu khawatir ada orang yang mendengar! Hahaha …!” kata Alma menggoda kedua gurunya.


“Bocah Cucut!” maki Wiwi Kunai sambil melepaskan satu angin pukulan kepada Alma.


Namun, gadis belia itu lebih cepat berlari pergi.


“Hahaha!” tawa Garudi pula. “Aku mau mandi lagi ah!”


Garudi berbalik dan melangkah pergi sambil tertawa-tawa. Ia memberi kode kepada istrinya.


“Lelaki Lele, maunya enak terus!” rutuk Wiwi Kunai lalu berbalik pergi juga.


Ia harus menidurkan Janur Perkasa lebih dulu di ayunan sebelum melayani suaminya di ranjang. (RH)

__ADS_1


__ADS_2