
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Empat Bunga Pesona masih melakukan pencarian. Keempat wanita muda lagi cantik-cantik itu di antaranya Bunga Dara, Bunga Gadis, Bunga Mekar, dan Bunga Semi.
Mereka masih menunggangi kuda dalam menjelajahi daerah kisaran Sungai Ngulur, sebab beberapa kali berita tentang kemunculan Pisau Bunuh Diri diceritakan oleh orang-orang yang tinggal tidak jauh dari sungai.
Sementara itu, Ning Ana yang sedang mengikuti Alma Fatara dan Genggam Sekam jadi terkejut ketika mendengar suara lari beberapa ekor kuda di daerah belakang. Ia cepat menengok. Dilihatnya ada empat wanita muncul dengan menunggang kuda.
Buru-buru Ning Ana menepak bokong kambingnya dan arah kambing ia belokkan meninggalkan jalan.
“Hei, lihat anak perempuan itu!” seru Bunga Mekar yang berpakaian warna kuning tapi berselendang merah.
Mereka berempat memang sudah melihat keberadaan Ning Ana bersama kambingnya.
“Hihihi!” tawa Bunga Semi sambil menggebah kencang kudanya mengejar Ning Ana bersama kambingnya.
Mengetahui ada seekor kuda yang mengejarnya, Ning Ana jadi panik.
“Ayo lari yang cepat, Jelitaaa!” teriak Ning Ana sambil memukul bokong kambingnya beberapa kali.
Namun, sebirit-biritnya sang kambing berlari, tetap saja dengan mudah terkejar oleh kuda.
“Mau lari ke mana kau, Gadis Kecil?” tanya Bunga Semi yang tahu-tahu sudah menyambar Ning Ana dengan merenggut belakang bajunya.
“Aaak! Lepaskan!” jerit Ning Ana yang menggantung tanpa pijakan. Sementara kambingnya berlari tanpa penunggang lagi.
Tuk!
Kepanikan membuat Ning Ana meronta dengan berbagai cara agar lepas dari cengkeraman Bunga Semi. Satu tendangan Ning Ana yang serampangan, tanpa sengaja menendang leher kuda. Hal itu membuat kuda terkejut dan berlari liar ke arah lain. Hal itu pula yang membuat cengkeraman Bunga Semi terlepas.
Ning Ana jatuh ke tanah berumput. Ia buru-buru bangun dan berlari mengejar kambingnya.
Namun, pelarian Ning Ana harus terhenti, karena kuda Bunga Gadis tahu-tahu muncul menghadangnya.
Ning Ana cepat berbalik, hendak berlari ke arah lain, tetapi kuda Bunga Mekar juga sudah mengepungnya. Para gadis itu hanya tertawa melihat kepanikan Ning Ana yang seperti seekor ayam hendak ditangkap.
Bunga Semi yang kudanya sempat liar, telah kembali turut mengepung Ning Ana.
“Kakak Almaaa …!” teriak Ning Ana begitu kencang lagi panjang.
Ternyata suara teriakan Ning Ana sampai kepada telinga Alma Fatara yang ada di sisi selatan bersama Genggam Sekam.
“Siapa yang memanggilku? Suaranya seperti suara anak-anak,” ucap Alma sambil memandang ke belakang.
Genggam Sekam juga memandang ke belakang.
“Kakak Almaaa …!”
__ADS_1
Alma dan Genggam kembali mendengar suara panggilan dari tempat yang agak jauh di belakang.
Alma dan Genggam segera memutar arah kudanya lalu pergi ke belakang. Tidak butuh jauh, Alma dan Genggam sudah bisa melihat Empat Bunga Pesona sedang mengepung Ning Ana dengan kuda.
Alma bergegas mendatangi tempat itu.
“Ning Ana!” panggil Alma sambil datang mendekat.
Empat Bunga Pesona hanya memandangi Alma sebentar, karena mereka lebih tertarik untuk memandangi Genggam Sekam.
“Hahaha!” tawa Alma melihat Empat Bunga Pesona memilih lebih suka memandangi Genggam Sekam.
Alma turun dari kudanya. Ning Ana cepat berlari kepada Alma tanpa ada yang menghalangi.
“Ning Ana, kenapa kau sampai ada di sini?” tanya Alma sambil membiarkan Ning Ana memeluknya.
“Aku mengikuti Kakak. Aku bosan di rumah,” jawab Ning Ana.
“Tapi di luaran desa banyak binatang liar,” kata Alma, membuat Ning Ana hanya merengut karena merasa disalahkan.
“Hei, Alma!” hardik Bunga Dara sebagai pemimpin Empat Bunga Pesona.
Alma dan Ning Ana jadi memandang kepada Bunga Dara.
“Kau menganggap kami binatang liar, hah?!” bentak Bunga Dara.
“Jadi bocah cantik itu adikmu?” tanya Bunga Gadis.
“Iya. Adik dadakan. Hahaha!” kata Alma. “Eh, tapi apa niat kalian kepada adikku ini?”
“Jika anak ini tidak ada yang punya, kami bermaksud mengambilnya untuk dijadikan pelayan,” jawab Bunga Semi.
“Enak saja! Aku bukan anak buangan!” teriak Ning Ana sewot, ia mulai berani membalas kata.
“Eh eh eh, mulai berani ya!” kata Bunga Gadis sambil menunjuk Ning Ana dengan jari kelingkingnya.
“Jelita!” sebut Ning Ana saat teringat kepada kambingnya. Ia cepat mencari.
“Siapa Jelita?” tanya Alma.
“Kambing kesayanganku,” jawab Ning Ana sambil mengedarkan pandangannya, hingga ia melihat bokong dan ekor kambingnya. “Itu dia!”
Ning Ana cepat berlari pergi meninggalkan Alma Fatara. Tidak ada yang mencegahnya untuk pergi kepada kambingnya yang bernama Jelita.
“Hahaha!” tawa Alma melihat tingkah Ning Ana, mengingatkan dia sewaktu kecil.
“Mau ke mana Empat Bunga Pesona gerangan?” tanya Genggam Sekam.
__ADS_1
“Kami mencari Pisau Bunuh Diri,” jawab Bunga Dara. “Tapi siapa kau? Kau bisa mengenal kami, sedangkan kami tidak mengenalmu. Kau kekasih Alma?”
“Hahaha!” Alma justru tertawa. Lalu ia mengancam, “Awas kalau kau berbohong, Kakang Genggam!”
“Aku adalah keka … akk!” jawab Genggam Sekam lalu tiba-tiba menjerit terkejut, saat ia merasakan bokongnya ditusuk sesuatu seperti jarum.
“Hahaha!” Alma Fatara tertawa kencang di saat Empat Bunga Pesona terheran. Alma telah menggunakan Benang Darah Dewa untuk menyuntik bokong Genggam Sekam karena mau berdusta.
“Alma, apa yang kau lakukan kepadaku?” tanya Genggam Sekam.
“Aku tidak melakukan apa-apa. Kau lihat sendiri,” jawab Alma sambil tersenyum-senyum, seolah menunjukkan bahwa dia tidak jujur. “Aku hanya mengingatkan Kakang agar tidak berbohong. Hahaha!”
Akhirnya Genggam Sekam mengabaikan Alma dan berkata kepada Empat Bunga Pesona, “Namaku Genggam Sekam, Pendekar Tongkat Berat. Aku teman Alma.”
“Kakang Genggam itu sedang mencari wanita pemuja. Jika kalian terpesona dengan ketampanannya, lebih baik kalian menjadi kekasihnya saja,” sela Alma.
Terkesiap keempat gadis berkuda itu.
“Kami bukan gadis semurah itu,” kata Bunga Dara demi menjaga harga diri mereka.
“Alma, kenapa kau menawarkan diriku? Bukankah kau tadi menawarkan Ning Ara untukku?” tanya Genggam Sekam berlagak memprotes, meski ia senang dipromosikan seperti itu di hadapan para wanita cantik.
“Hahaha!” Alma justru tertawa sambil naik ke punggung kudanya. “Semakin banyak pilihan bukankah lebih baik?”
“Ayo, Kakak Dara!” ajak Bunga Semi.
“Eh, tunggu!” seru Alma cepat, membuat Empat Bunga Pesona fokus memandangnya. “Mungkin aku punya petunjuk orang yang memegang Pisau Bunuh Diri.”
Terkejutlah Empat Bunga Pesona mendengar hal itu.
“Katakan!” kata Bunga Dara cepat.
“Aku tidak tahu apakah pisau yang aku lihat adalah Pisau Bunuh Diri. Tadi malam, seorang pemuda membunuh pemuda desa dengan pisau. Dia membunuh dengan menusuk dan menyayat tubuhnya sendiri.”
“Yah, itu Pisau Bunuh Diri!” seru Bunga Gadis antusias.
“Lalu di mana pemuda itu?” tanya Bunga Mekar.
“Namanya Pengging. Dia pemuda gagah tapi ketampanannya hanya separuh dari ketampanan Kakang Genggam. Dia membawa gadis cantik yang diculiknya. Wanita itu berpakaian wah wah wah,” jelas Alma.
“Maksudmu wanitanya berpakaian ketat dan pendek? Bajunya berwarna hijau muda?” terka Bunga Dara.
“Kalian pernah bertemu dengan mereka?” tanya Alma.
“Ya, tadi kami melihat mereka sedang membersihkan diri di Sungai Ngulur,” jawab Bunga Mekar.
“Ayo, cepat kembali ke sungai!” teriak Bunga Dara cepat.
__ADS_1
Maka Empat Bunga Pesona cepat menggerakkan kuda-kudanya dan menggebahnya berlari meninggalkan Alma dan Genggam Sekam. (RH)