
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
“Adik Gedaaak!” teriak Goda Kadal terkejut melihat kematian saudaranya.
Keterkejutan itu membuat Goda Kadal menciptakan kelengahan bagi dirinya. Dua pengeroyoknya cepat ambil keuntungan dengan dua tusukan pedang yang cepat.
Trang!
Goda Kadal masih bisa menutup celah itu dengan tebasan golok birunya yang bersinar biru redup. Dua pedang lawan patah oleh golok sakti Goda Kadal.
Trang! Buk!
Kembali dua tebasan pedang datang menyerang Goda Kadal, tetapi lagi-lagi ia masih bisa menangkis dan mematahkannya dalam kondisi kewalahan. Namun, justru satu tendangan keras berhasil menusuk perutnya. Goda Kadal jatuh terjengkang karena keseimbangannya sudah lemah sebelumnya.
Kejatuhan Goda Kadal membuat dirinya seperti satu daging yang dilempar ke dalam kandang penangkaran berisi banyak komodo. Kejatuhannya membuat para pengeroyok bertopeng itu berebut menyerang Goda Kadal, karena delapan orang yang tadi mengeroyok saudaranya jadi beralih menyerangnya pula.
Seperti harimau yang sedang terluka, Goda Kadal mengamuk. Ia tidak mau mati juga seperti adik seperguruannya.
Seet! Joss!
“Hakr!”
Dalam posisi berjongkok, Goda Kadal melakukan kibasan memutar dengan goloknya, memaksa para pengeroyok menahan langkah dan jarak. Sementara telapak tangan kiri Goda Kadal telah menyala biru seperti lampu neon.
Ketika satu pengeroyoknya maju dengan pedang yang sudah patah, Goda Kadal bereaksi cepat mengelak sambil tangan kirinya menghentak. Sinar biru samar melesat pendek dan menghantam perut pemilik pedang buntung. Lelaki bertopeng itu langsung terpental dengan luka parah di perut.
Tseb!
“Akrr!” jerit salah seorang lelaki bertopeng yang datang menyerang dari belakang dengan tangan kosong, setelah Goda Kadal tahu-tahu berbalik sambil menusukkan golok birunya.
Golok bersinar redup itu menusuk perut pembokong hingga mentok. Namun, sambil menjerit kesakitan, korban yang ditusuk cepat menangkap pergelangan tangan Goda Kadal dan menahannya dengan sekuat tenaga.
Goda Kadal terkejut. Para pengeroyok cepat bergerak. Tangan kiri Goda Kadal yang masih bersinar cepat dihentakkan kepada penyerang terdepan.
Joss!
“Akh!” pekik seorang pengeroyok dengan tubuh terjengkang keras.
Tseb! Tseb!
“Hukr!” keluh Goda Kadal saat dua bila pedang muncul menusuk dari sisi belakang dan samping kanan.
__ADS_1
Posisi tangan kanan yang tertahan dan tangan kiri baru usai menyerang, membuat Goda Kadal hilang pertahanan. Dua serangan cepat dari belakang dan kanan tidak bisa ia elakkan. Dua pedang menusuk tembus perutnya.
“Yaaah, cucur lagi!” ucap Ayu Wicara dari punggung kudanya. Ia kecewa melihat gugurnya Goda Kadal.
“Gugur, bukan kue cucur, Ayu! Hahaha!” ralat Alma Fatara, lalu tertawa bersama rekan-rekannya yang menjadi penonton setia.
Tawa mereka itu jelas menjadi perhatian para lelaki bertopeng yang sudah membunuh Goda Kadal dan adiknya Gedak Suta. Perhatian Jejak Langit pun terarah kepada rombongan berkuda itu, terutama kepada Alma Fatara yang tawanya paling khas warnanya.
Alma Fatara dan rekan-rekannya hanya menonton. Mereka tidak mau ikut campur dalam urusan dua pihak yang mereka tidak kenal seorang pun, terlebih mereka tidak tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat, serta apa perkaranya. Jika ada yang mati, itu bukan menjadi urusan mereka. Alma dan yang lainnya hanya ingin lewat.
Tinggal Demang Baremowo yang masih bertahan, itupun sepertinya tidak akan lama lagi. Sebab, Demang saat itu terkena dua sabetan pedang.
Set! Set!
“Akk!” jerit tertahan Demang Baremowo saat dua pedang menyayat betis dan punggungnya.
Blaam!
Sebelum ada lebih banyak serangan yang bersarang di tubuhnya, Demang Baremowo menghentakkan kedua lengannya, menciptakan ledakan tenaga saktinya. Satu gelombang tenaga yang kuat melesat ke segala arah, menjengkangkan sejumlah lelaki bertopeng.
Lima orang lelaki bertopeng lain yang tidak terkena gelombang, segera melompat maju lalu berhenti dalam satu baris. Mereka berlima bertangan kosong menghadap kepada Demang Baremowo yang sudah berdarah-darah. Mereka berlima melakukan gerakan tangan bertenaga dalam.
Demang pun bersiap menghadapi segala serangan. Dengan wajah meringis, ia pun melakukan gerakan tangan bertenaga dalam.
“Hahahak!” tawa Alma dan ketiga rekan lelakinya mendengar perkataan Ayu Wicara.
Sementara Ayu Wicara hanya memandang heran kepada rekan-rekannya yang tertawa. Menurutnya, ia sudah bicara benar, tidak salah. Kenapa rekan-rekannya tertawa? Sementara Warna Mekararum yang terbaring di bak pedati hanya diam mendengar kegilaan para anak muda itu.
Tawa Alma dan kawan-kawan benar-benar mengganggu suasana tegang itu.
“Hei! Berhenti tertawa!” hardik seorang lelaki bertopeng sambil menunjukkan pedangnya ke arah rombongan Alma.
Ternyata itu manjur untuk menghentikan tawa Alma, Magar Kepang, Debur Angkara, dan Garam Sakti. Alma benar-benar berhenti tertawa, tetapi keheningan yang tiba-tiba justru menjadi lucu baginya. Tawanya yang ditahan berubah jadi cekikikan seperti tawa Si Manis Jembatan Anton.
“Hihihik!”
“Jika masih tertawa, ….”
Bluar!
Kata-kata ancaman lelaki bertopeng itu terputus oleh suara ledakan tenaga sakti yang terjadi antara Demang Baremowo dengan kelima lawannya. Tenaga sakti Demang Baremowo memang lebih tinggi dari para pengeroyok itu. Namun masalahnya, kesaktian Demang harus beradu dengan ilmu para pengeroyoknya yang bersatu padu.
__ADS_1
Detik sebelumnya, kelima lelaki bertopeng secara bersamaan menghentakkan tangan kanan, masing-masing tangan melesatkan sinar hijau sebesar buah kelengkeng kepada Demang Baremowo. Sebaliknya, Demang sendiri melesatkan seberkas sinar merah berpijar sebesar kepala kucing.
Pertemuan enam sinar itulah yang membuat kelima lelaki bertopeng terjengkang keras dan langsung muntah darah di balik kain topengnya.
Demikian pula Demang. Ia terlempar keras menabrak punggung lelaki yang sedang mengancam Alma. Akibatnya, lelaki bertopeng jatuh tersungkur ke tanah.
“Hahahak …!”
Tawa Alma dan rekan-rekannya benar-benar meledak melihat insiden tersebut. Mereka tertawa lepas, benar-benar tidak takut menjadi target bunuh, termasuk tidak memiliki rasa empati sedikit pun atas derita yang menimpa Demang Baremowo.
Sementara itu, kondisi Demang Baremowo semakin payah. Selain sudah menderita empat luka pedang, kini ia telah muntah darah akibat adu ilmu satu banding lima tadi.
Tanpa peduli dengan kebisingan di kubu Alma, sejumlah lelaki bertopeng itu cepat menyerang Demang dengan pedang. Demang yang sudah terluka parah, memilih melompat seperti kucing lalu berguling di tanah mendekati posisi rombongan Alma.
“Hei! Jangan dekat-dekat kami, Orang Utan!” seru Ayu Wicara cepat sambil menunjuk Demang Baremowo.
“Hahaha!” Kali ini yang tertawa hanya Alma seorang, sebab Magar Kepang, Ayu Wicara dan Debur Angkara terkesan panik dengan mendekatnya Demang Baremowo kepada mereka. Ketiganya segera membalikkan kudanya dan berjalan ke belakang pedati. Mereka tidak ingin pasukan berbaju cokelat itu menyerang mereka.
Menyaksikan pertarungan tadi membuat Alma dan rekan-rekannya bisa mengukur, apakah mereka bisa selamat atau tidak, jika orang-orang berpedang itu menyerang mereka. Debur Angkara dan Ayu Wicara tahu bahwa ilmu mereka masih belum selevel itu, makanya mereka segera mundur ke belakang ketika Demang Baremowo mendekati mereka dalam kondisi terluka parah. Apalagi Magar Kepang, ia hanya bermodal kuasa dan harta. Untuk urusan pertarungan, ia sama sekali bukan pilihan.
“Kisanak, Nisanak! Tolong aku!” kata Demang Baremowo sambil berjalan terhuyung menghampiri Garam Sakti di tempat sais pedati.
“Eh, menjauhlah! Kami tidak mau ikut campur dengan urusanmu, Nisanak!” hardik Garam Sakti. Dia juga tidak ingin dikeroyok oleh orang-orang bertopeng itu.
Akhirnya, Jejak Langit turun ke medan. Ia berjalan santai ke depan rombongan Alma. Pasukannya mengatur diri di belakangnya, sebagian sudah ada yang terluka dan ternyata ada empat orang yang tewas.
“Demang Baremowo! Jangan berharap kau akan selamat. Mereka semua juga takut mati!” kata Jejak Langit.
“Eh, Demang Baremowo? Demang yang memerintahkan membunuh Gibas Madar dan orang Perguruan Jari Hitam?” tanya Alma kepada Demang Baremowo. Ia cukup terkejut karena baru tahu bahwa orang berpakaian hitam itu adalah orang yang sudah sering mereka dengar namanya.
“Tolong aku. Aku akan membayar berapa saja jika kau bisa menyelamatkan aku, Nisanak!” ucap Demang Baremowo yang memang sudah tidak sanggup bertarung lebih jauh, ia sudah lemah dan terluka parah. Mulutnya penuh darah dan tubuhnya sudah banyak mengeluarkan darah. Dia bisa menilai bahwa Alma Fatara yang masih belia itu bukanlah gadis sembarangan.
“Tapi kau orang jahat!” tukas Garam Sakti.
“Aku bukan orang jahat, aku pejabat Kerajaan Singayam,” kata Demang Baremowo mencoba meyakinkan Alma.
“Jika kalian turut campur, kami tidak bertanggung jawab atas keselamatan kalian!” kata Jejak Langit datar, tetapi bernada mengancam Alma.
“Sebentar, sebentar. Aku mau tanya nenekku dulu,” kata Alma santai, ia tidak mempedulikan ancaman Jejak Langit. Alma lalu menengok kepada Warna Mekararum. “Bagaimana menurutmu, Nek?”
“Jika ada orang yang benar-benar minta tolong kepadamu, maka tolonglah. Namun, kau harus tahu dulu cerita masalahnya, jangan sampai salah menolong,” ujar Warna Mekararum.
__ADS_1
“Baik, Nek,” ucap Alma patuh. (RH)