A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 4: Rawa Hijau


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


Setelah kenyang oleh air dan daging kelapa, Alma Fatara dan rombongan melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan lurus dari kedai kelapa muda, rombongan itu dihadapkan jalan bercabang, salah satu cabangnya ke arah utara yang menurut petunjuk adalah jalan menuju Gunung Alasan.


Mereka belum menemukan tanda-tanda ada gunung di arah utara selain dataran tinggi atau bebukitan.


“Tidak aku sangka harga kelapa beracunnya begitu mahal,” kata Alma Fatara kepada Warna Mekararum.


“Itu mahal karena manfaatnya,” kata Warna Mekararum.


“Untung saja Paman Magar Kepang masih punya banyak uang. Benar-benar tidak sia-sia mengajak dia ke mana-mana. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa sealakadarnya.


“Kakek Kirak Sebaya itu seperti orang sakti, tetapi kenapa dia tidak merasakan keberadaan pusakamu, Alma?” tanya Warna Mekararum.


“Berarti dia bukan orang sakti, Nek,” jawab Alma yakin.


“Kau pikir orang yang membelah kelapa dengan tangan kosong itu bukan orang sakti?” tanya Warna Mekararum.


“Ah, aku tidak melihat Kakek Kirak Sebaya membelah kelapa dengan tangan kosong,” kata Alma Fatara.


“Bukankah dia makan daging kelapa? Apakah kau melihatnya minta dibelahkan oleh penjual kelapanya?” tanya Warna Mekararum.


“Tidak. Benar juga kata Nenek,” kata Alma. “Mungkin perasaannya sedang menghilang, Nek. Jadi dia tidak merasakan aura Bola Hitam.”


“Dasar kau!” umpat Warna Mekararum.


“Hahaha! Eh, Nek. Kenapa Nenek tidak mau dikenali saat kita bertemu dengan Raja Manggala Pasa?” tanya Alma setelah tertawa pendek.


“Dia mengenal aku. Jika sampai dia mengenaliku, aku khawatir keberadaanku akan terendus oleh teliksandi Kerajaan Jintamani. Jika itu terjadi, kita akan menjadi buruan besar-besaran.”


“Tapi, Nenek tidak punya masalah dengan Kerajaan Singayam, kan?”


“Masalah masa lalu itu ada, tapi hanya diketahui oleh Prabu Manggala Pasa.”


“Pasti terkait masalah cinta!” terka Alma.


“Jangan jadi orang berlagak tahu. Kau bisa hitung umurku dengan umur Prabu Manggala Pasa.”


“Bisa saja di masa lalu Nenek itu adalah ratu genit yang suka dengan jagung muda. Hahaha!”


“Di depan ada rawa!” teriak Debur Angkara dari depan.


“Mungkin itu yang tadi disebut Rawa Hijau,” sahut Alma pula.


Mereka terus bergerak maju dan kemudian berhenti di pinggir rawa. Rawa-rawa itu cukup luas dan daerahnya berkabut halus yang warnanya cenderung berwarna hijau. Di daerah itu juga tercium bau alam yang asing di penciuman.

__ADS_1


Meski itu rawa, tetapi ada jalan bertanah kering di tengah-tengah rawa yang berair. Jalan itu cukup lebar. Bertebaran tumbuhan semodel ilalang tapi berbatang dan berdaun lebih tebal. Mereka tumbuh di atas air.


Di seberang daerah rawa adalah hutan kecil yang pepohonannya kecil-kecil tapi cukup tinggi, atau istilah lainnya kurus jangkung.


“Kita lanjutkan perjalanan. Kita sudah memiliki penangkal racun rawa!” perintah Alma Fatara.


Mereka melanjutkan perjalanan. Penunggang kuda yang lebih dulu maju memasuki jalan yang membelah Rawa Hijau. Jujur, Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara dilanda dag dig dug. Pikiran mereka traveling yang macam-macam. Wajah mereka tampak tegang.


Plung!


“Hiaaat!” teriak Debur Angkara tiba-tiba sambil melompat dari atas kudanya, membuat semuanya terkejut. Itu terjadi ketika ada seekor katak melompat masuk ke air rawa.


Proses masuknya katak ke dalam air rawa menimbulkan suara yang nyaring. Memang mengejutkan bagi mereka bertiga yang berkuda, tetapi reaksi Debur Angkara begitu hiper.


Bcrak!


Ujung-ujungnya, Debur Angkara justru mendarat di air rawa sehingga kedua kakinya tenggelam hingga selutut.


“Hahahak …!” tawa Alma terbahak melihat hal yang dialami Debur Angkara.


Magar Kepang, Garam Sakti dan Ayu Wicara yang awalnya tegang, akhirnya turut tertawa. Terlebih melihat lumpur rawa sampai muncrat ke wajah dan badan Debur Angkara.


“Apa yang kau lakukan, Dengkur?” tanya Ayu Wicara.


“Kenapa, Kang Debur?” tanya Alma pula.


Debur Angkara kembali meraih kudanya dan melompat naik.


“Hahaha!” Magar Kepang masih menertawakan. Lalu terkanya, “Pasti gara-gara kodok.”


“Jika rawa ini beracun, kenapa kodok yang tidak minum air kelapa masih bisa hidup di rawa ini?” tanya Alma heran.


“Karena kodok itu sudah kebal dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya,” jawab Warna Mekararum.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah kuda yang perlahan. Hingga tidak terasa mereka sudah tiba di pertengahan jalan rawa.


Namun, tiba-tiba Alma Fatara menangkap ada keanehan di depan jalan mereka.


“Berhenti!” seru Alma cepat.


Terkejutlah yang lain mendengar teriakan Alma. Mereka semua menengok kepada Alma dengan tatapan bertanya.


“Perhatikan baik-baik di depan kita!” kata Alma Fatara serius.


Maka, mereka semua kembali memandang ke depan dengan pandangan yang teliti.


Akhirnya mereka semua bisa melihat bahwa alam di depan mereka seolah ada dinding bening transparan, tetapi ada gerakan-gerakan samar sehingga membentuk riak-riak kecil pada dinding alam tersebut. Mereka tetap masih bisa melihat alam yang ada jauh di depan sana, karena itu bukan cermin.

__ADS_1


“Dinding apa itu?” tanya Garam Sakti yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun.


Alma lalu melompat dan berlari pendek di udara. Ia mendarat tepat di dekat dinding bening tersebut.


“Jangan gegabah, Amal!” teriak Ayu Wicara.


“Benar, kita tidak tahu itu dinding apa!” teriak Debur Angkara pula.


“Kang Debur, berikan kudamu!” pinta Alma.


Debur Angkara segera turun dari punggung kudanya dan menuntun kuda tersebut kepada Alma.


Alma mengambil alih kuda tersebut. Debur Angkara dan yang lainnya hanya memerhatikan dengan tegang.


Alma memegang tali kekang kuda dengan satu tangan, lalu tangan kirinya mendorong lembut bokong kuda agar maju menabrak dinding bening tersebut.


Tanpa suara, ternyata kepala kuda bisa masuk menembus dinding bening yang seolah memenuhi ketinggian alam. Melebar mata mereka melihat hal itu. Namun anehnya, meski mereka bisa melihat apa yang ada di balik dinding, tetapi mereka tidak bisa melihat kepala kuda yang telah masuk ke dalam dinding.


“Kenapa kepala kudanya tidak terlihat?” tanya Debur Angkara terkejut.


Hal itu membuat Magar Kepang dan Ayu Wicara cepat turun untuk melihat yang terjadi. Mereka sama-sama melihat bahwa kepala kuda yang masuk ke dalam dinding tidak terlihat, padahal alam di balik dinding terlihat jelas.


Alma lalu menarik mundur sang kuda sehingga kepala kuda kembali keluar dan terlihat jelas. Terlihat sang kuda baik-baik saja.


Melihat hal itu, Alma tiba-tiba memasukkan kepalanya ke dalam dinding bening.


“Jangan, Alma!” teriak Debur Angkara dan Magar Kepang bersamaan.


“Jangan, Amal!” teriak Ayu Wicara pula sambil cepat menarik satu tangan Alma sehingga tubuhnya ikut tertarik.


Alma tertarik mundur dengan kepala yang kembali keluar. Ia menengok dan memandang rekan-rekannya yang tampak cemas. Terlihat wajah Alma masih utuh, matanya tidak ada yang hilang.


“Kenapa kalian? Hahaha!” tanya Alma lalu tertawa melihat kondisi wajah rekan-rekannya yang terlihat begitu cemas.


“Kenapa kau malah tertawa, Amal?” tanya Ayu Wicara kesal.


“Sebab wajah kalian begitu menggemaskan. Hahaha!” jawab Alma yang hanya membuat yang lain dongkol.


“Apa yang kau lihat di balik dinding itu?” tanya Magar Kepang.


“Aku hanya melihat warna putih,” kata Alma.


“Lalu bagaimana?” tanya Debur Angkara.


“Aku minta masukan dulu dari Nenek,” jawab Alma.


Alma lalu memberikan kuda yang dipegangnya kepada Debur Angkara. Alma pergi ke pedati. Pastinya ia ingin bertanya kepada Warna Mekararum.

__ADS_1


“Nek, kita tidak tahu ada apa dan seperti apa di balik dinding itu. Apa yang kita lihat jauh di balik dinding itu tidak jelas apakah itu gambar yang nyata atau bukan,” ujar Alma. (RH)


__ADS_2