A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 26: Alma VS Pamong Sukarat


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


 


Ayu Wicara berlari kencang dengan membawa pedang panjang yang ia seret menggores di tanah. Setelah berlari kencang laksana seorang pendekar wanita, Ayu Wicara lalu melompat bersalto jauh ke depan menghadang Si Cantik Mabuk yang hendak melarikan diri.


Jleg!


Ayu Wicara mendarat dengan sempoyongan karena keberatan pedang. Namun, hadangannya itu membuat Si Cantik Mabuk berhenti berlari dengan tubuh Ninda Serumi berada di bahu kanannya.


Kini Ayu Wicara berdiri dengan tatapan tajam kepada Si Cantik Mabuk. Sementara pedang besarnya terkulai di samping dengan ujung menyentuh tanah.


“Lepaskan celanamu!” seru Ayu Wicara garang.


Si Cantik Mabuk hanya kerutkan kening mendengar perkataan Ayu Wicara. Namun, ia melihat wajah Ayu bereaksi terkejut sendiri, sehingga ia mengulangi seruannya.


“Maksudku, lepaskan gadis itu!”


“Heh! Dasar pendekar ingusan tidak tahu raga!” desis Si Cantik Mabuk seraya sunggingkan sesudut senyum meremehkan.


“Tidak akan aku biarkan kau membawa jari garis itu! Hiaaat!” seru Ayu Wicara serius dengan dua kata yang salah sebut, lalu ia mengayunkan pedang besarnya dengan erangan dan kekuatan penuh.


Wuut!


Pedang besar itu mengibas berputar lalu menyerang Si Cantik Mabuk.


Dengan gerakan meliuk seperti orang mabuk mau jatuh, Si Cantik Mabuk bisa menghindari sabetan pedang. Ninda Serumi yang ada di panggulannya sudah tidak meronta, karena sudah mendapat totokan.


“Eeeh!” pekik Ayu Wicara gelagapan ketika pedangnya yang besar dan berat itu menarik tubuhnya sehingga hilang kendali.


“Sial! Ternyata bocah baru belajar pegang pedang!” maki Si Cantik Mabuk saat melihat Ayu Wicara justru terbawa oleh pedangnya sendiri.


“Jangan kabur!” pekik seorang lelaki saat Si Cantik Mabuk hendak melanjutkan pelariannya menuju pagar penonton di pinggir alun-alun.


Belum juga Si Cantik Mabuk berbalik melihat siapa yang berteriak, sekelebatan pedang sudah mengincar kepalanya. Arang Saga, pendekar pengawal pribadi Kepal Kepeng, telah menyerang Si Cantik Mabuk.


Si Cantik Mabuk menghindari serangan pedang Arang Saga dengan gesit dan cara seperti orang sedang mabuk. Beban berat yang sedang ia bawah di bahunya, membuat Si Cantik Mabuk tidak begitu leluasa untuk bertarung.


Tak! Daks! Bags!


Dengan menggunakan sepakan menekuk kaki kanan ke belakang, Si Cantik Mabuk menendang kendi tanah liatnya yang menggantung di pinggang kiri. Kendi itu terlompat lepas dari pengaitnya. Selanjutnya, Si Cantik Mabuk melakukan tendangan keras terhadap kendi yang melambung.


Kendi itu melesat cepat menghantam dada Arang Saga, membuat jatuh terjengkang.


“Lempar kepadaku!” teriak Gemba Arek yang datang berlari melintas.


Si Cantik Mabuk lalu melempar tubuh Ninda Serumi yang langsung ditangkap oleh Gemba Arek yang bertubuh besar. Lelaki itu berlari ke arah penonton dengan tangan yang bersinar merah berpijar.


“Aaa …! Lariii, selamatkan istri kaliaaan!” teriak seorang warga lelaki saat melihat kedatangan Gemba Arek kepada mereka dengan membawa maut.


Para penonton dari kalangan warga itupun panik dan berlari kocar-kacir.


Sekitar sepuluh prajurit Kadipaten datang menghadang Gemba Arek.

__ADS_1


Wuss!


Namun, kesepuluh prajurit itu harus terhempas porak-poranda oleh angin pukulan Gemba Arek. Hancurnya hadangan para prajurit membuat Gemba Arek dengan leluasa membawa pergi tubuh Ninda Serumi keluar dari alun-alun.


“Jangan kira bisa semudah itu lari, Kisanak!” seru Debur Angkara yang muncul bersama Garam Sakti menghadang Gemba Arek.


Maka tiga lelaki besar berotot saling berhadapan. Dua lawan satu.


Sementara itu, pengeroyokan dilakukan oleh Pamong Sukarat dan Legi Kasep membuat Alma Fatara bertarung dengan serius.


“Kau tega melukai gadis cantik sepertiku, Kakang?” tanya Alma sambil bergerak gesit menghindari sabetan pedang dan celurit Legi Kasep.


“Aku sudah mendapat pesan. Jangan tertipu dengan kecantikan siluman perempuan sepertimu!” jawab Legi Kasep sambil menghentikan sejenak serangan senjatanya.


“Hah! Siluman? Kakang Legi Kasep menyebutku siluman perempuan?” tanya Alma pura-pura terkejut.


“Iya.”


“Jangan salahkan aku jika aku tidak berperasaan kepadamu, Kakang!” seru Alma Fatara.


Seset!


Di saat kedua muda mudi itu sedang berbincang, Pamong Sukarat muncul melompat sambil melesatkan sejumlah jarum kepada Alma Fatara.


Blet!


Namun, Alma Fatara cepat mengibaskan ujung jubahnya sebagai tameng. Kibasan itu membuat jarum-jarum Pamong Sukarat gugur ke rerumputan alun-alun.


Pamong Sukarat melanjutkan serangannya dengan permainan tangan kosong bertenaga dalam. Alma Fatara meladeni serangan itu dengan cukup alot.


Di saat Alma dan Pamong Sukarat jual beli serangan, tiba-tiba Wakil Adipati itu menjerit-jerit genit, di saat ia merasakan ada seperti jarum-jarum menusuki kulit tubuhnya tanpa terlihat wujudnya.


Itu terjadi karena sambil bertarung, Alma lagi-lagi memainkan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat oleh Pamong Sukarat. Lebih dari sepuluh tusukan dirasakan oleh Pamong Sukarat saat melawan Alma.


Bak!


Akibat serangan Benang Darah Dewa yang mengganggu, satu pukulan telapak tangan Alma berhasil masuk ke dada Pamong Sukarat. Lelaki tua itu terjajar beberapa tindak dengan dada terasa sesak.


Setelah terpukulnya Pamong Sukarat, Legi Kasep datang ganti menyerang Alma Fatara.


Kali ini, Alma menghadapi kedua senjata tajam Legi Kasep dengan pertarungan jarak dekat. Sedikit pun Alma tidak merasa ngeri jika sampai teriris oleh kedua senjata itu.


Awalnya, pertarungan berjalan seimbang. Namun kemudian, tiba-tiba kecepatan gerakan Alma berubah semakin tinggi, mengejutkan dan membuat Legi Kasep kewalahan.


Set set!


“Ak akk!” jerit Legi Kasep saat sejumlah irisan melukai kedua tangan Legi Kasep secara berulang.


Trang!


Sampai-sampai kedua senjata Legi Kasep terlepas dari pegangan.


Buk!

__ADS_1


Set set set …!


“Akk ak ak …!”


Selanjutnya, Alma terus memepet Legi Kasep dan mendorong tubuh pemuda itu dengan lengan kanan. Selanjutnya Alma menggila. Dengan menggunakan kedua telapak tangannya yang bisa setajam pedang, Alma membeset-beset badan depan Legi Kasep seperti menyabet-nyabet kedebong pisang berulang kali.


Buk!


Eksekusi kebrutalan Alma ditutup dengan satu tendangan keras di perut Legi Kasep, membuat pemuda itu terjengkang.


Terkejutlah Pamong Sukarat melihat kondisi Legi Kasep yang panen luka sayatan dan penuh bersimbah darah. Padahal, Alma Fatara jelas-jelas tidak bersenjata tajam.


Ketika Alma Fatara beralih menyerang Pamong Sukarat, orang tua itu buru-buru melesatkan lagi sejumlah jarum. Namun, itu mentah oleh kibasan ujung jubah hitam Alma.


Selajutnya, Alma terus memburu Pamong Sukarat. Ketika Alma merangsek maju, Pamong Sukarat cepat melompat mundur menjauh sambil melepaskas satu gelombang angin pukulan.


Wuss!


Alma cepat melompat dengan tubuh berguling di udara. Ketika mendarat, Alma langsung memburu Pamong Sukarat lagi. Namun, lagi-lagi orang tua itu melesatkan beberapa jarum. Kali ini Alma hanya menghindari lalu langsung berkelebat kepada Pamong Sukarat.


Lagi-lagi, Pamong Sukarat memilih menjauhi Alma. Terlihat jelas bahwa dia menghindari pertarungan langsung dengan Alma. Pamong Sukarat memang tidak mau bernasib seperti Legi Kasep.


“Hahahak!” tawa Alma melihat tingkah Pamong Sukarat. “Paman, ada apa?”


Pamong Sukarat tidak menjawab. Ia lebih memilih melakukan gerakan tangan bertenaga dalam tinggi, yang berujung kedua lengannya mengeluarkan kilatan-kilatan listrik warna merah.


Melihat hal itu, Alma Fatara tersenyum lebar. Namun, Pamong Sukarat menilai senyum itu tidak berarti apa-apa, karena ilmu yang akan ia kerahkan sangat berbahaya.


Werzz!


Pamong Sukarat akhirnya menghentakkan kedua lengannya dengan gaya kamehameha. Sebola sinar merah sebesar kepala yang diselimuti aliran listrik merah melesat cepat. Alma yang sudah menduga serangan semodel itu, memilih melesat mundur guna menciptakan jarak, tetapi sambil melepaskan ilmu Pukulan Bandar Emas.


Swess! Bluarr!


Sinar emas menyilaukan melesat dari telapak tangan Alma dan menabrak sinar merah Pamong Sukarat.


Ledakan dahsyat yang kencang seketika mengejutkan semua orang. Sejenak mereka mengalihkan perhatian kepada pertarungan Alma dan Pamong Sukarat. Para penonton yang masih antusias melihat kekacauan itu, hanya bisa terperangah takjub.


Mereka melihat Pamong Sukarat terpental jauh ke belakang dengan mulut yang menyemburkan darah. Sementara Alma Fatara terdorong beberapa tindak sambil mengerenyit.


Alma Fatara cepat menarik napas dalam-dalam guna menghilangkan rasa sesak pada dadanya.


Meski terluka parah, Pamong Sukarat buru-buru bangun dengan sempoyongan. Kumis dan jenggot putihnya kotor oleh darah.


Setelah pernapasannya normal kembali, Alma berlari cepat lalu berkelebat ke arah Pamong Sukarat dengan kaki menerjang.


Dak dak!


Pamong Sukarat masih sanggup menangkis meski membuatnya jatuh terduduk. Alma mendarat di dekat tubuh Pamong Sukarat. Pada saat itu, Alma mengeluarkan Benang Darah Dewa yang seperti binatang piaraan di balik pakaian. Dua ujung benang yang bisa sekeras jarum baja itu, melesat menusuki dua lutut Pamong Sukarat.


“Aak! Ak! Ak!” jerit Pamong Sukarat ketika lututnya dilanda tusukan-tusukan yang sangat menyakitkan kakinya.


Buru-buru Pamong Sukarat berusaha bangkit.

__ADS_1


“Aaak!” jerit Pamong Sukarat karena ketika ia mau berdiri, kedua lututnya sangat sakit, membuatnya jatuh terlutut dan tidak sanggup berdiri lagi.


“Hahaha!” tawa Alma. (RH)


__ADS_2