A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 13: Menangkap Pengging dan Menur


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Alma Fatara lebih mendahulukan membantu Nyai Delima yang mengalami luka tusuk cukup dalam. Alma telah memerintahkan Ning Ana untuk mengawasi keberadaan Menur Mawangi yang bersembunyi di balik sebatang pohon.


Sementara itu, Empat Bunga Pesona masing-masing sudah naik ke punggung kudanya, siap untuk pergi.


“Nyai Langsat! Pisau Bunuh Diri kini berada di tangan kami, jadi jangan coba-coba berusaha merebutnya kembali jika tidak mau celaka lebih buruk dari itu!” seru Bunga Dara, tapi salah menyebut nama.


Nyai Delima dan Alma Fatara hanya memandangi keempat wanita cantik itu.


Empat Bunga Pesona lalu meggebah pergi kudanya tanpa ada pihak yang mencegahnya.


Sementara Genggam Sekam alias Pendekar Tongkat Berat sedang fokus menginterogasi Pengging yang terbaring di tanah tidak berdaya. Kondisi sedang terluka dalam yang parah. Sementara kaki kanan Genggam Sekam menginjak lehernya yang berlumur darah dari mulutnya.


“Bagaimana kau bisa memiliki Pisau Bunuh Diri itu? Jawab!” bentak Genggam Sekam sambil menekan lebih kuat pijakan kakinya pada leher Pengging.


“A-a-aku mencurinya,” jawab Pengging tergagap.


“Dari siapa?” cecar Genggam Sekam.


“Dari Pengemis Batok Bolong,” jawab Pengging sambil memegangi kaki kanan Genggam Sekam, tapi tenaganya terlalu lemah untuk bisa menyingkirkan kaki itu.


“Awas jika kau bohong!” ancam Genggam Sekam setelah menarik lepas kakinya dari leher Pengging.


Genggam Sekam lalu menjejakkan kaki kanannya ke tanah, membuat tongkat besinya terlempar ke atas yang kemudian dengan mudah disambar oleh tangannya.


“Kakang Genggam! Aku minta tolong untuk mengikat orang itu. Dia akan kita bawa pulang!” teriak Alma.


Tanpa menyahut, Genggam Sekam lalu menotok Pengging.


Sementara itu, Alma yang sudah membantu menutupi luka Nyai Delima, berkelebat dan mendarat di dekat pohon tempat Menur Mawangi bersembunyi ketakutan.


“Jangan bunuh aku! Pergi!” teriak Menur Mawangi lalu berlari menjauhi Alma dengan paha ke mana-mana, karena kain bawahnya hanya sebatas setengah paha ketika ia bergerak, seperti pakaian penyanyi dangdut kampungan.


Tak!


Alma Fatara menendang sebuah batu kecil yang kemudian melesat menghantam punggung Menur Mawangi, membuatnya jatuh tersungkur. Posisi jatuh Menur Mawangi membuat paha putih mulusnya tersiar ke mana-mana.


Alma lalu melangkah santai mendekati tubuh Menur Mawangi. Sambil meringis kesakitan, Menur buru-buru bangun dan hendak kabur lagi. Namun, Alma lebih cepat tiba di dekatnya. Alma menotok Menur Mawangi, membuatnya tidak berkutik.


“Lepaska aku, Nisanak Pendekar! Jangan bunuh aku!” teriak Menur Mawangi, karena memang pita suaranya tidak dibungkam.


“Aku tidak akan membunuhmu, tapi akan menjualmu. Hahahak!” tawa Alma.

__ADS_1


Alma lalu mengangkat tubuh Menur Mawangi dan memanggulnya seperti memanggul karung beras.


“Kakang Genggam bawa lelakinya. Kita bawa untuk dihakimi di Desa Bungitan. Sekalian Kakang Genggam menjenguk Ning Ara!” teriak Alma kepada Genggam Sekam, karena jaraknya memang berjauhan.


Alma Fatara membawa Menur Mawangi ke kuda milik Genggam Sekam.


“Dasar perempuan murahan! Jika aku pendekarnya, aku gantung kau tanpa pakaian!” maki Ning Ana yang berjalan di belakang Alma Fatara sambil memukuli bokong Menur Mawangi.


“Awas kau, Ning Ana! Aku akan membuatmu menyesal atas perbuatanmu ini!” teriak Menur Mawangi marah tanpa bisa berbuat apa-apa.


“Coba saja. Justru aku yang akan mencubitimu lebih dulu!” kata Ning Ana sambil mencubiti paha belakang Menur Mawangi.


“Aww! Akk! Ning Ana hentikan! Hentikan! Sakiiit!” teriak Menur Mawangi jejeritan, karena Ning Ana mencubitinya tidak pakai perasaan, membuat paha belakangnya memerah.


“Karena kau, Kakang Jataru mati dan kakakku menjanda!” tukas Ning Ana kesal.


“Hahaha!” tawa Alma. “Janda sebelum menikah ya?”


Alma lalu meletakkan tubuh Menur Mawangi di pelana kuda Genggam Sekam. Bukan mendudukkannya, tetapi di telungkupkan melintang dengan perutnya.


“Alma, kenapa kau letakkan di kudaku?” tanya Genggam Sekam yang datang sambil memanggul tubuh besar Pengging.


“Mereka ini pasangan, satukan saja di kuda yang sama. Biarkan mereka bersama sebelum mereka dipisahkan,” kata Alma.


“Kakang itu sudah besar. Bisa berjalan sambil menuntun kudanya. Demi kekasih baru,” kata Alma Fatara.


“Lalu kau enak-enakan naik kuda,” kata Genggam Sekam.


“Aku juga jalan. Nenek Delima akan naik di kudaku,” kata Alma. Lalu tanyanya kepada Ning Ana, “Di desa ada tabib, Ning Ana?”


“Ada, tabib perempuan yang galak,” jawab Ning Ana.


“Tidak masalah jika galak. Nenek Delima lebih galak,” kata Alma.


Alma lalu meninggalkan Menur Mawangi di kuda Genggam Sekam. Pemuda bertongkat itu akhirnya menuruti settingan Alma. Ia meletakkan tubuh Pengging di punggung kudanya, berdempetan dengan tubuh Menur Mawangi. Sempat-sempatnya Genggam Sekam melirik lubang paha mulus Menur Mawangi yang membuat darahnya berdesir. Namun, ia hanya menelan salivanya.


Genggam Sekam lalu menarik kudanya.


“Kakang Tampan! Tolong lepaskan aku!” teriak Menur Mawangi.


Genggam Sekam hanya menengok melirik menatap wanita cantik itu.


“Aku akan berikan diriku tanpa tuntutan jika Kakang membebaskanku,” tawar Menur Mawangi.

__ADS_1


“Kakang Genggam, jika kau melakukannya, kau murni adalah lelaki buaya bermata gentong!” teriak Ning Ana yang mendengar upaya Menur Mawangi.


“Tidak, aku sedikit pun tidak tertarik!” sahut Genggam Sekam.


Sementara itu, Alma membantu Nyai Delima naik ke kudanya.


“Tidak aku sangka kau sebaik ini, Alma,” kata Nyai Delima.


“Nenek sih, kemarin langsung main serang. Hahaha!” kata Alma berseloroh.


Alma lalu menarik tali kekang kudanya, menuntunnya berjalan. Sementara Ning Ana sudah naik ke punggung Jelita, kambing tunggangannya.


Genggam Sekam menuntun kudanya berdampingan dengan kuda Alma. Kambing Ning Ana berjalan di depan.


“Kenapa kau tidak tertarik untuk memiliki Pisau Bunuh Diri, Alma?” tanya Nyai Delima.


“Karena aku sudah cukup puas dengan senjataku, Nek,” jawab Alma. “Lagipula, senjata itu tidak berfungsi terhadapku. Makanya aku berani mencari Pengging. Aku mencari Pengging untuk membawa pulang Menur Mawangi, bukan untuk merebut pisaunya. Karena keduanya bisa dibawa, maka aku bawa saja semuanya.”


“Lalu di mana rombonganmu?” tanya Nyai Delima.


“Istirahat di Desa Bungitan, Nek. Bagaimana dengan saudara kembarmu, Nek?”


“Memulihkan diri. Pengaruh es dari Bola Hitam cukup kuat,” jawab Nyai Delima.


“Apa yang kau dapat dari Pengging, Kakang Genggam?” tanya Alma.


“Pengging mendapatkan pisau itu dengan cara mencuri dari Pengemis Batok Bolong,” jawab Genggam Sekam.


“Sepekan yang lalu, aku melihat Pengemis Batok Bolong berkeliaran di Desa Rawabening,” kata Nyai Delima.


“Setelah dari Desa Bungitan, aku akan segera mencarinya ke Desa Rawabening,” kata Genggam Sekam.


“Sebenarnya siapa pemilik Pisau Bunuh Diri itu, Nek?” tanya Alma.


“Pisau itu awalnya dimiliki oleh Pendekar Tinju Pusaka. Sebelum mendengar kematiannya, aku pernah melihat Tinju Pusaka bertarung dengan Empat Bunga Pesona.”


“Kapan Pendekar Tinju Pusaka mati?” tanya Alma.


“Aku mendengarnya sekitar tiga pekan yang lalu.”


“Kakang, kau bilang bahwa kau telah berkabung selama dua purnama, berarti ketika kekasihmu dibunuh, kemungkinan pisau itu masih ada di tangan Pendekar Tinju Pusaka,” kata Alma kepada Genggam Sekam.


“Kau benar, Alma. Tapi, itu sama saja percuma aku mencari pembunuh kekasihku jika yang membunuhnya sudah mati,” kata Genggam Sekam. (RH)

__ADS_1


__ADS_2