A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 9: Jurus Pegang Burung


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


Ayu Wicara berdiri dengan kuda-kuda, siap berlatih dengan pedang barunya yang besar dan panjang, sesuai dambaan setiap wanita. Tidak hanya itu, pedang itu juga berat.


Sementara itu, Warna Mekararum duduk di sebuah kursi menyaksikan latihan tersebut. Debur Angkara dan Garam Sakti masih berdiri di pinggir, memberi kesempatan bagi Ayu Wicara untuk lebih dulu bebas beraksi.


“Jurus apa yang akan kau mainkan, Ayu Cantik?” tanya Garam Sakti seraya tersenyum lebar.


“Jurus Putaran Pegang Buruuung!” teriak Ayu Wicara menyebut nama jurus yang akan ia mainkan.


“Hahahak …!” tawa Debur Angkara dan Garam Sakti terbahak.


“Garam Sakti, tutup burungmu, nanti dipegang sama Ayu! Hahahak …!”


Tambah terbahak kedua lelaki besar berotot itu sambil menangkup sudut pahanya masing-masing dengan telapak tangan sendiri.


Ayu Wicara tidak peduli dengan kelucuan apa yang ditertawakan oleh kedua lelaki besar itu. Pikirnya, ia tidak melakukan satu hal yang lucu atau salah.


“Hiaaat!” pekik Ayu Wicara sambil mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengayunkan pedang besar dan berat itu.


Pedang peninggalan pendekar Jejak Langit itu terayun dan lepas landas dari tanah. Ayunan memutar yang dilakukan oleh Ayu Wicara membuat pedang itu terbang mengibas memutar.


Namun, kuatnya ayunan dan beratnya pedang membuat tangan Ayu Wicara justru terbawa oleh pedang. Ayu tertarik hingga berlari terbawa oleh pedang. Akhirnya pedang itu terlepas dari kedua tangan Ayu, sementara gadis cantik itu berlari tanpa kontrol ke depan, lalu jatuh tersungkur.


“Hahahak …!” Debur Angkara dan Garam Sakti yang belum habis tertawanya gegara “burung”, tambah tertawa melihat Ayu Wicara seperti orang mabuk.


Bukan hanya kedua lelaki pantai itu yang tertawa, tetapi Warna Mekararum juga tertawa.


Sementara itu, pedang besar Ayu Wicara menancap di depan kaki Arya Mungkara yang baru saja datang ke tempat itu.


Melihat pedangnya menancap di depan kaki Arya Mungkara, Ayu Wicara jadi terkejut. Ia buru-buru berlari mendapati kembali pedangnya.


“Jaga burungmu, Arya! Nanti dipegang Ayu!” teriak Debur Angkara sambil menunjuk posisi “burung” anak Adipati itu.


Arya Mungkara yang tidak mengerti tidur permasalahannya, jadi terkejut, terlebih Ayu berlari cepat ke arahnya. Buru-buru pemuda itu mundur dua tindak sambil memegangi sudut celananya beserta isinya.


“Mohon maaf, Gusti Tampan. Pedangku suka lemas diri!” ucap Ayu Wicara sambil senyum kuda. Ternyata dia mau mengambil pedang, buklan burung.


“Seperti apa pedang yang lemas diri itu?” tanya Arya Mungkara, tetapi tetap waspada.


“Eh?” Pertanyaan itu membuat otak Ayu Wicara blank sejenak. Namun kemudian, dia mengerti dan cepat meralat, “Oh, maksudku, pedangku suka lepas sendiri dari tanganku.”


“Oh,” desah Arya Mungkara mengerti sembari jadi rileks lagi. Ia lalu datang kepada Warna Mekararum. “Hormatku, Gusti Ratu.”


“Ada apa, Arya?” tanya Warna Mekararum dengan nada yang pelan.


“Di mana Alma Fatara, Gusti?” tanya Arya Mungkara.


“Sedang pergi bersama Magar Kepang ke kediaman Bendahara Kadipaten, memenuhi undangan,” jawab Warna Mekararum.

__ADS_1


Mendengar itu, terdiamlah Arya Mungkara.


“Terima kasih, Gusti Ratu,” ucap Arya Mungkara sambil menghormat. Ia lalu berbalik pergi.


“Gusti Tampan, apakah kau tidak berniat melihat kehebatan jurus Putaran Pegang Burung milikku?” tanya Ayu Wicara sambil tersenyum manis.


Arya Mungkara hanya mendelik mendengar nama jurus pedang Ayu Wicara. Otaknya bingung untuk mencerna maksud nama jurus itu.


“Hahahak!” Debur Angkara dan Garam Sakti hanya tertawa karena mendengar nama jurus pedang itu lagi.


Akhirnya, Arya Mungkara hanya tersenyum kepada Ayu Wicara, lalu ia berlalu pergi.


“Dasar orang-orang tidak waras!” desis Arya Mungkara pelan sambil meninggalkan belakang rumahnya.


“Ayu! Apakah kau yakin nama jurus itu Putaran Pegang Burung?” tanya Debur Angkara.


“Hah! Kalian jangan berpikiran jorok!” hardik Ayu Wicara. “Jurusku itu bernama Putaran Pedang Burung, bukan pegang burung!”


“Hahaha …!” tawa Debur Angkara dan Garam Sakti, tetapi lebih pelan dibandingkan sebelumnya.


Arya Mungkara pergi masuk ke rumah. Di dalam ia mengambil tabung berisi anak panahnya dan menyambar busur yang terpajang di dinding.


“Mau ke mana kau, Arya?” tanya Adipati Marak Wijaya yang baru masuk dari depan rumah.


“Aku mau menyusul Alma Fatara ke kediaman Paman Adya,” jawab Arya Mungkara dengan wajah yang tegang, seolah sedang menahan gumpalan emosi.


“Aku tidak suka jika Arung dan Ariang itu memanfaatkan Alma Fatara!” tandas Arya Mungkara.


“Alma itu gadis yang punya pendirian, dia tidak akan mungkin bisa diperalat,” kata Marak Wijaya.


“Mungkin Ayah terlalu yakin, tetapi aku tidak bisa!” tandas Arya Mungkara lalu berlalu begitu saja melewati ayahnya.


Ia keluar dan langsung menuju ke kandang kuda yang tidak begitu jauh dari bangunan penjara yang dijaga oleh empat prajurit.


Marak Wijaya hanya menggelengkan kepalanya pelan.


“Hiah hiah!” teriak Arya Mungkara menggebah kudanya meninggalkan halaman.


Namun, setelah cukup jauh meninggalkan rumahnya, Arya Mungkara terpaksa menghentikan lari kudanya. Di tengah jalan terjadi satu keributan.


Para prajurit Pasukan Keamanan Ibu Kota sedang mengepung seseorang yang sedang berteriak-teriak.


“Kalian harus tahu, dengan menangkapku, itu akan menjadi citra buruk bagi Adipati!” teriak seorang pemuda bertubuh kekar tapi agak pendek. Ia memelihara kumis tipis dan memiliki codet bekas luka sayatan pada ujung alis kirinya. Di tubuhnya melintang sebuah busur dan di pinggangnya menggantung tabung tipis berisi sejumlah anak panah. Ia bernama Ronggo Manik, salah satu peserta Pertandingan Petarung Panah.


“Apa maksud perkataanmu, Ronggo Manik?” hardik pemimpin prajurit yang bernama Rugu Banula, pengganti sementara Komandan Gendas Pati yang sedang menjalani masa terapi.


“Jika kalian menangkapku, orang-orang akan menuding Adipati sengaja menangkapku untuk menyingkirkan pesaing dari putranya,” kata Ronggo Manik.


“Pelanggar hukum tetaplah pelanggar hukum. Tidak peduli kau peserta pertandingan atau bukan!” tandas Rugu Banula.

__ADS_1


“Lepaskan dia, Rugu Banula!” seru Arya Mungkara tiba-tiba, mengejutkan para prajurit dan Ronggo Manik sendiri.


“Hahaha! Kau dengar sendiri, Prajurit. Peserta Pertandingan Petarung Panah adalah orang yang kebal hukum, jika tidak, itu akan berdampak buruk kepada Adipati dan putranya sendiri,” kata Ronggo Manik merasa menang.


“Kau boleh bebas hari ini, Ronggo. Tapi ingatlah, panahku besok akan mengincar wajahmu!” ancam Arya Mungkara yang masih duduk di atas kudanya di belakang barisan prajurit.


“Hahaha! Aku juga akan pastikan, besok adalah hari sialmu!” balas Ronggo Manik.


Pemuda itu lalu berbalik pergi menerobos pengepungan prajurit.


“Khusus hari ini, jangan buat perkara dengan para peserta pertandingan besok!” kata Arya Mungkara kepada Rugu Banula.


“Baik, Gusti,” ucap Rugu Banula patuh.


“Bubarlah!” perintah Arya Mungkara.


Bluar!


Belum juga para prajurit itu bubar, belum juga Arya Mungkara pergi, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh satu suara dentuman keras dari kejauhan.


Ronggo Manik yang berjalan pergi juga jadi terkejut. Kepalanya langsung menengok ke arah timur, arah asal suara dentuman.


“Pasukan!” teriak Rugu Banula sambil berlari menuju ke timur. Ia segera diikuti oleh para prajurit yang jumlahnya lebih dari dua puluh orang.


Arya Mungkara mendahului lari para prajurit dengan kudanya. Sementara Ronggo Manik berkelebat dengan ilmu peringan tubuhnya.


Ketika mereka mendekat, terlihat warga Ibu Kota telah ramai berkumpul mengerumuni tengah jalan dalam radius yang cukup lebar.


“Hahahak …!”


Terdengar suara tawa terbahak seorang wanita. Arya Mungkara langsung mengenali siapa pemilik tawa itu, yaitu Alma Fatara.


“Minggir! Beri jalan! Beri jalan!” teriak Rugu Banula dari belakang kerumunan warga.


Warga yang sedang asik menonton itu segera bergeser memberi jalan kepada kuda Arya Mungkara dan para prajurit.


Rugu Banula yang awalnya berniat mengepung keributan itu, jadi batal niat saat melihat siapa saja yang melakukan keributan di jalan itu.


Orang pertama adalah Alma Fatara, yang tertawa melihat kejatuhan seorang lelaki gemuk bulat seperti gentong, benar-benar seperti gentong.


Alma baru saja membuat jatuh si lelaki gentong yang berperawakan pendekar. Lelaki gemuk bulat itu mengikat kepalanya dengan kain merah, sementara warna pakaiannya putih kuning. Orang gemuk itu bernama Obol-Obol. Itu bukan nama sebenarnya, tetapi nama populernya yang sudah melekat seperti tahi lalat.


Yang membuat para prajurit segan adalah keberadaan empat orang lainnya di belakang Obol-Obol. Mereka dua wanita dan dua lelaki berperawakan pendekar, dengan berbekal senjata yang berbeda.


Sementara itu, tampak Magar Kepang berdiri berbaur bersama warga menjadi penonton yang baik.


Obol-Obol segera bangun berdiri memasang kuda-kuda. Ia menatap serius kepada Alma yang baru reda tawanya.


Dari sisi lain, Ujang Barendo, Balingga dan Bandeng Prakas baru tiba pula untuk melihat hal yang menjadi sumber keramaian. (RH)

__ADS_1


__ADS_2