
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Di saat Alma Fatara terjatuh oleh hempasan angin pukulan dari Si Cantik Mabuk, Gemba Arek juga melesat di udara dan tiba di atas Alma.
Set!
Dari ketinggian itu, Gemba Arek menghentakkan kedua lengannya. Dari dalam lubang lengan jubahnya, dua benda panjang berwarna hitam melesat ke bawah, tepatnya kepada Alma Fatara.
Alma Fatara yang belum sempat bangun atau menghindar, terpaksa mengandalkan senjata benangnya. Matanya yang awas bisa memastikan benda apa yang dilesatkan oleh Gemba Arek.
Dari balik pakaian Alma melesat pula dua ujung Benang Darah Dewa. Siapa pun tidak ada yang bisa melihat benang itu karena kehalusannya.
Kedua ujung benang Alma melesat dan menusuk rongga mulut kedua ular Gemba Arek. Kedua ular itu dihentikan melesat di udara dalam kondisi badannya terkulai dan menggantung di udara.
Gemba Arek dan semua yang melihat jadi terkejut. Mereka menduga Alma menggunakan kekuatan mata karena bisa menghentikan laju ular dan menggantungnya. Itu karena mereka tidak melihat keberadaan Benang Darah Dewa.
Setelah menusuk tenggorokan kedua ular berbisa itu, Benang Darah Dewa lalu bergerak melilit leher ular.
Tes! Tes!
Benang Darah Dewa memenggal leher kedua ular dalam sekali tarik. Tubuh dan kepala kedua ular jatuh ke tanah dalam status sebagai bangkai.
“Tonooo! Tiniii!” teriak Gemba Arek histeris saat melihat kedua ularnya jatuh mati.
“Hahahak …!” Meledaklah tawa Alma Fatara mendengar nama kedua ular itu diteriakkan. Sebab, ia sungguh tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka jika kedua ular tersebut punya nama sekeren itu.
Sejumlah penonton yang awalnya terperangah melihat adegan eksekusi pancung kedua ular, jadi ikut tertawa.
“Akan aku balaskan kematian Tono dan Tini! Heaat!” teriak Gemba Arek semakin gusar karena ditertawakan.
Gemba Arek berkelebat menyerang Alma Fatara yang sudah dalam kondisi berdiri dan siap.
Alma Fatara cukup terkejut saat menangkis tendangan dan pukulan Gemba Arek. Hantaman serangan lelaki itu membuat Alma merasa terguncang, bahkan bisa membuatnya terdorong setindak jika tenaganya kurang besar untuk menahan.
Karena sulit mendapatkan kesempatan untuk menyerang balik, Alma memutuskan untuk melompat mundur yang nyaris mengenai barisan warga. Setelah mundur, Alma melompat bersalto cepat di udara kepada Gemba Arek.
Wuss!
Namun, sebelum Alma mendaratkan tendangan berbahayanya, Gemba Arek lebih dulu menyambut Alma dengan hentakan angin pukulan.
Mau tidak mau, tubuh Alma terlempar balik seperti daun kering tertiup angin gunung. Namun, Alma bisa mendarat dengan baik di antara para penonton. Warga segera berlarian menjauh dan berhenti di zona aman.
Alma Fatara kembali melakukan serangan yang serupa, tapi kali ini putaran salto tubuhnya lebih deras dan kuat.
Zerzz!
Kali ini Gemba Arek tidak menyambut Alma dengan angin pukulan, tetapi dengan kedua tangan bersinar merah berpijar yang siap dihantamkan pada tubuh si gadis.
Swesst! Bluar!
“Huakkr!”
Sungguh tidak terduga dan tidak terlihat gelagatnya. Dari putaran tubuh Alma tahu-tahu melesat sinar emas menyilaukan yang menghantam tanah depan kaki Gemba Arek.
__ADS_1
Gemba Arek yang belum sempat menyerangkan kedua tangannya, menjerit kesakitan dengan tubuh terpental jauh di udara.
Bdlugk!
Gemba Arek jatuh berdebam di antara kaki para prajurit Kadipaten. Kondisi kedua kaki Gemba Arek terluka dengan celana yang robek tak beraturan. Meski tidak begitu fatal, tetapi luka yang merusak kulit dan daging kaki itu tetap membuat Gemba Arek mengerang kesakitan.
“Aaakk!” erang Gemba Arek.
Si Cantik Mabuk cepat berlari mendapati tubuh Gemba Arek. Sementara para prajurit memilih mundur menjauhi kedua pendekar itu.
“Sial! Serangannya mengejutkan dan menipu!” desis Gemba Arek saat Si Cantik Mabuk membantunya berdiri.
“Luka kakimu harus diobati dulu, Gemba,” kata Si Cantik Mabuk.
“Dia tidak berniat membunuh kita,” ucap Gemba Arek. “Lebih baik kita mundur dulu. Kita tunggu peluang bagus.”
“Tapi kita akan malu,” kata Si Cantik Mabuk.
“Kau lihat, dia bisa membunuh Tono dan Tini hanya dengan kekuatan mata,” kata Gemba Arek.
Tampak Alma Fatara berdiri dengan senyum mengembang. Sejauh ini kondisinya baik-baik saja.
“Buka jalan!” teriak seseorang tiba-tiba.
“Buka jalan! Minggir, minggir!” teriak suara lelaki yang lain.
Dari belakang barisan dan kerumunan warga terdengar suara bising banyak orang. Ketika warga bergeser membuka jalan, serombongan prajurit Kadipaten yang lain tiba, bergerak masuk ke dalam area pertarungan. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang.
Puluhan prajurit itu segera membentuk formasi pengepungan terhadap Alma dan kelima lawannya, membuat warga posisinya di luar kepungan.
“Aku perintahkan kalian bubar!” teriak Pamong Sukarat dengan suara menggelegar.
“Siapa kau, Orang Tua?” tanya Legi Kasep yang sudah mencabut pedang dan celuritnya sejak Gemba Arek terluka.
“Aku Wakil Adipati, Pamong Sukarat!” jawab Pamong Sukarat. “Siapa yang berani membantah, akan diringkus!”
Melebar mata Alma saat mendengar nama itu. Sebab ia memang belum pernah bertemu dengan orang yang akan diurusnya itu.
“Pejabat sombong!” maki Legi Kasep lalu melompat berkelebat menyerang Pamong Sukarat di atas kuda.
Seset!
Triting!
Belum lagi serangan Legi Kasep sampai, Pamong Sukarat tiba-tiba menghentakkan jari-jemarinya. Sejumlah senjata berupa jarum melesat kepada Legi Kasep. Namun, pemuda tampan itu sigap menangkis dengan bilah pedang yang dijadikan perisai.
Set! Dak!
Sementara celurit Legi Kasep berkelebat hendak memangkas leher Pamong Sukarat. Sigap Pamong Sukarat menjatuhkan tubuhnya ke belakang menghindari celurit. Di saat yang bersamaan, kaki kanan Pamong Sukarat naik menghantam perut Legi Kasep.
Tendangan itu membuat Legi Kasep jatuh terjengkang ke tanah dan Pamong Sukarat juga jatuh dari kudanya. Keduanya cepat-cepat bangkit.
“Tangkaaap!” teriak Pamong Sukarat memerintah pasukannya.
__ADS_1
Para prajurit segera bergerak.
“Tunggu!” teriak Si Cantik Mabuk pula dengan suara nan kencang.
Teriakan wanita matang itu ternyata ampuh menghentikan gerakan para prajurit.
“Biarkan kami pergi. Jika tidak, akan banyak prajurit yang mati!” seru Si Cantik Mabuk.
Pamong Sukarat mengerenyit mendengus. Ia terdiam sejenak, berpikir.
“Biarkan mereka pergi!” perintah Pamong Sukarat.
Maka para prajurit pun bergerak mundur dan membuka jalan.
Gemba Arek dipapah oleh Legi Kasep. Lima Pendekar Sungai Ular lalu melangkah pergi meninggalkan pusat pertarungan.
“Kakang Arek, apakah kau butuh kuda?” tanya Alma Fatara, seolah tanpa permusuhan.
“Tidak perlu!” jawab Gemba Arek kasar, sepertinya ia ngambek.
“Iya, kami butuh kuda!” sahut Legi Kasep sambil berhenti berjalan dan menengok kepada Alma.
“Paman Magar, berikan kudaku kepadanya!” perintah Alma kepada Magar Kepang.
Magar Kepang yang sejak tadi memegang dua kuda, segera memberikan satu kuda kepada Gemba Arek.
Mau tidak mau, Gemba Arek harus mau dinaikkan ke punggung kuda.
“Sampai jumpa lagi, Kakang. Hati-hati di jalan!” kata Alma sambil tersenyum lebar.
Pamong Sukarat sudah naik kembali ke punggung kudanya.
“Arya Mungkara!” panggil Pamong Sukarat dengan berteriak. Wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang marah kepada pemuda itu. “Kenapa kau membiarkan kekacauan ini terjadi, hah?!”
“Karena Alma bisa mengatasi mereka,” jawab Arya Mungkara.
“Siapa itu Alma?” tanya Pamong Sukarat.
“Aku, Paman. Salam kenal!” sahut Alma Fatara sambil berjalan mendekati kedua kuda pemimpin tersebut.
Pamong Sukarat memandang serius kepada Alma.
“Siapa kau?” tanya Pamong Sukarat dingin.
“Aku Alma Fatara, Paman. Aku tamunya Paman Adipati,” jawab Alma seraya tersenyum.
“Hmm!” gumam Pamong Sukarat.
“Paman Pamong, Ayah memanggil Komandan Dampuk Ulang, tetapi tidak datang-datang,” kata Arya Mungkara, sengaja untuk melihat reaksi Pamong Sukarat.
Sepasang mata Pamong Sukarat sedikit melebar. Sebenarnya ia terkejut di dalam hati. Sebab ia sebelumnya sudah mendapat laporan tentang kematian Komandan Dampuk Ulang.
“Baik, nanti akan aku panggil,” kata Pamong Sukarat dengan nada rendah.
__ADS_1
Ia lalu menjalankan kudanya meninggalkan Arya Mungkara dan Alma. (RH)