
*Kampung Siluman (Kamsil)*
Rombongan Alma Fatara akhirnya berhenti di depan sebuah pedagang buah kelapa muda, bukan pedagang es kelapa muda.
Uniknya, pedagang kelapa muda itu adalah seorang wanita bertubuh cukup gemuk. Ia mengenakan caping berwarna merah, senada dengan warna bajunya yang merah terang dengan celana sebetis berwarna hitam. Di pinggang kanannya menggantung sebilah golok agak panjang yang bersarung. Usianya kisaran empat puluhan tahun.
Seperti pedagang kelapa pada umumnya, banyak buah kelapa muda menumpuk di lapaknya yang hanya berukuran empat kali empat meter. Lapak itu hanya berdinding rumbia tanpa atap. Ada sebuah bangku panjang di depannya. Dan lapak itu terletak di bawah pohon beringin besar yang marak dengan untaian akar menggantung, bagus untuk dipakai bergelantungan seperti Tarzan.
Namun uniknya, di sekitar itu tidak terlihat ada pohon kelapa yang tumbuh, hanya ada pohon-pohon berdahan besar. Di sisi selatan adalah hamparan rumput yang tidak jelas di mana tepiannya.
Sementara itu, sang surya sebentar lagi mencapai puncaknya, adalah waktu yang sangat bagus untuk minum air kelapa. Dilengkapi dengan embusan angin yang tetap sejuk di kala siang.
Saat itu, ada seorang kakek bertongkat berpakaian lusuh warna hitam yang dilapisi jubah abu-abu. Ia sedang asik duduk sambil mengeroki daging kelapa yang sudah dibelah.
“Ayo, Kang Debur, Kang Garam!” ajak Alma Fatara ceria sambil berlari kecil ke lapak kelapa muda.
“Ayo ayo ayo!” seru Debur Angkara pula setelah menambatkan kudanya.
Hanya Warna Mekararum yang tetap duduk bersandar di bak pedati.
“Bibi Kelapa, kami minta enam kelapa muda!” pesan Alma Fatara lalu pergi duduk di bangku panjang, tepatnya tidak jauh di sisi kakek yang sedang tekun mengeruk daging kelapa dengan sendok berbahan tempurung kelapa.
“Kelapa di sini dijual, tidak boleh diminta!” kata wanita pedagang kelapa agak ketus. Wajahnya pun terlihat asam, terlebih model bibirnya sedikit condong ke depan.
“Hahaha!” tawa Alma mendengar perkataan wanita penjual kelapa. “Maksudku kami beli, Bi.”
“Iya. Tapi jangan sebut aku Bibi, aku belum menikah dengan pamanmu!” kata wanita penjual kelapa.
“Hahaha!” tawa Alma lagi. Lalu tanyanya, “Lalu aku harus menyebut Bibi apa?”
“Galuh Derama, Penjual Kelapa Racun!” jawab wanita itu sambil tangan kanannya mencabut goloknya di pinggang kanan dengan gaya berbeda dari biasanya.
Baru saja wanita bernama Galuh Derama itu hendak mengupas bagian mulut kelapa, Alma cepat berteriak.
“Tunggu! Maksud Bibi Galuh, kelapa ini semuanya beracun?” tanya Alma yang membuat rekan-rekannya juga terkejut.
“Tergantung tujuan kalian mau ke mana. Di depan sana jalan bercabang. Jika kalian ke utara, maka aku akan beri kelapa beracun. Tapi jika kalian ke selatan, akan aku beri kelapa biasa.”
“Kenapa bisa seperti itu?” tanya Alma, tapi kepada dirinya sendiri.
“Jika kami mau ke Gunung Alasan, jalan arah mana yang harus kami tempuh?” tanya Magar Kepang kepada Galuh Derama.
“Gunung Alasan ada di utara. Jadi kalian harus minum air kelapa beracun,” kata Galuh Derama lalu melempar kelapa di tangannya ke tumpukan kelapa di sisi kanan. Ia lalu mengambil kelapa yang menumpuk di sisi kiri.
__ADS_1
“Bibi Galuh, apakah kami akan mati jika minum air kelapa beracun?” tanya Alma.
“Jika kalian tidak membayar, kalian akan mati. Sebab aku akan membacok kalian!” jawab Galuh Derama tetap ketus.
“Hahahak! Galak betul,” ucap Alma sambil tertawa, yang diikuti oleh tawa getir Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti.
Sementara Galuh Derama tetap bekerja mengupas dua sisi kulit kelapa sehingga memunculkan lubang air. Ia bekerja mengupas sebanyak enam kelapa.
“Kakek,” panggil Alma sambil mencolek lengan kakek di sebelahnya.
“Hm?” gumam si kakek tanpa menengok kepada Alma.
“Kakek makan kelapa beracun atau bukan?” tanya Alma setengah berbisik.
“Kelapa beracun,” jawab si kakek lalu menyuap sekerokan daging kelapa yang lunak.
“Wih, kok kakek tidak mati?” tanya Alma heran.
“Hehehe!” Si kakek justru terkekeh.
“Kakek sudah bayar?” tanya Alma lagi.
“Belum,” jawab si kakek.
“Biar kami yang bayar, Kek,” kata Alma dengan nada suara yang kencang. “Ayo, Kek, tambah lagi!”
“Hahaha!” tawa Alma karena terkejut melihat gigi emas si kakek. “Jangankan tambah satu, tambah dua juga boleh, Kek.”
“Oh, kalau begitu Kakek tambah dua, ya?” kata si kakek.
“Iya.”
“Amal, apakah tidak apa-apa kita minum kepala beracun?” tanya Ayu Wicara.
“Hahaha! Si kakek tidak apa-apa minum kelapa beracun,” jawab Alma.
“Jika kalian mau ke Gunung Alasan, kalian harus ke utara. Jika kalian tidak minum kelapa beracun, aku khawatir kalian justru akan mati,” timpal Galuh Derama.
Mendeliklah Alma dan rekan-rekannya mendengar kata-kata Galuh Derama.
“Galuh, berikan aku dua kelapa lagi. Anak-anak ini yang membayarnya!” kata si kakek.
“Baik,” jawab Galuh Derama. Lalu katanya kepada Alma dan rekan-rekannya, “Ini, kelapanya sudah siap!”
Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti, dan Ayu Wicara tidak langsung mengambil salah satu dari enam kelapa yang sudah dideretkan di atas sebuah meja papan. Justru Alma yang lebih dulu beranjak mengambil satu kelapa. Barulah teman-temannya ikut mengambil, tapi tidak ada yang langsung meminum air kelapanya.
__ADS_1
Alma kembali duduk di dekat si kakek. Tanpa ragu, Alma mendongak dan menuangkan air kelapa yang katanya beracun itu ke dalam mulutnya.
Magar Kepang dan yang lainnya hanya bisa mengerenyit melihat kecantikan leher Alma Fatara saat menenggak air kelapa. Mereka mengerenyit karena takut jika Alma keracunan.
“Akh!” pekik Alma tiba-tiba tersentak sambil memegangi lehernya, yang juga membuat air yang sudah masuk ke mulutnya jadi tertumpah lagi ke lehernya.
“Alma!” pekik rekan-rekan terkejut panik.
“Hahahak …!” tawa terbahak Alma menertawakan reaksi Magar Kepang dan rekan-rekannya.
“Kelomang kawin!” maki Magar Kepang, kesal.
“Dasar Alma gendeng!” maki Debur Angkara.
“Amal kutuuu!” maki Ayu Wicara pula.
Sementara Garam Sakti hanya geleng-geleng kepala seperti orang tua.
“Hahahak! Uhhuk uhhuk!” tawa Alma berkepanjangan lalu terbatuk-batuk.
“Emmm, rasakan!” kata Debur Angkara.
“Berdosa kau mengerjai orang tua!” rutuk Magar Kepang pula.
“Hahahak!” Alma hanya terus tertawa mendengar makian rekan-rekannya, sampai-sampai air matanya keluar. Ia lalu melanjutkan minum air kelapanya.
Melihat Alma baik-baik saja, barulah mereka meminum air kelapanya masing-masing. Magar Kepang membawakan satu kelapa teruntuk Warna Mekararum.
“Disebut kelapa beracun karena kelapa itu memang beracun, tetapi racunnya tidak akan terasa. Racunnya baru akan terasa jika kalian sudah memasuki Rawa Hijau, tetapi racun itu akan menjadi penawar dari racun di Rawa Hijau,” ujar si kakek sambil menerima dua buah kelapa sekaligus.
“Apa itu Rawa Hijau, Kek? Apakah kami akan melewati tempat itu saat menuju Gunung Alasan?” tanya Alma serius.
“Benar. Rawa Hijau adalah daerah yang tanah rawanya mengeluarkan udara racun. Karena itulah, Galuh Derama menjual kelapa racun sebagai penangkal bagi mereka yang menuju utara. Galuh tidak akan menjual kelapa beracun kepada orang yang tidak menuju ke utara, karena racunnya akan tetap menjadi racun jika tidak menangkal apa pun,” jelas si kakek.
“Nama kakek siapa?” tanya Alma.
“Hehehe! Namaku adalah Kirak Sebaya, Nak. Namamu adalah Amal?” jawab si kakek lalu balik bertanya.
“Hahaha! Alma, Kek. Alma Fatara. Dia tuh, yang suka memanggilku Amal!” jawab Alma lalu menunjuk Ayu Wicara.
Gadis yang ditunjuk hanya melirik Alma tanpa senyum di saat Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti ikut tertawa.
“Bibi Galuh, kenapa di sini tidak ada pohon kelapa?” tanya Alma.
“Jika ada pohon kelapa, untuk apa aku jualan buah kelapa?” jawab Galuh Derama ketus.
__ADS_1
“Eh, betul juga ya,” ucap Alma sambil manggut-manggut. (RH)