
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Kereta kuda mewah tersebut berhenti di depan penginapan satu-satunya yang ada di Kadipaten Balongan. Kereta kuda tersebut diiringi oleh seorang penunggang kuda berperawakan pendekar.
Dua orang sekuriti pintu utama penginapan segera menyongsong tali pengaman moncong kuda agar tenang. Sementara satu orang lagi segera menunggu di pintu bilik kereta.
Orang yang pertama turun adalah seorang lelaki separuh baya berpenampilan kaya, karena dia memang orang kaya. Lelaki berkumis dan berjenggot pendek itu mengenakan pakaian sutra warna kuning emas yang dikombinasi warna hitam. Di pinggang belakangnya terselip sebuah keris warna merah gelap yang indah dengan ukiran bagusnya. Ia turun lebih dulu dan satu tangannya dipegangi oleh penjaga penginapan. Dialah orang terkaya se-Kadipaten Balongan, namanya Kepal Kepeng. Nama itu melekat sudah lama karena kebiasaannya memberi kepeng dari dalam kepalannya.
Barulah setelah itu, turun dua orang wanita satu per satu yang dipegangi oleh Kepal Kepeng sendiri. Wanita pertama sebaya dengan Kepal Kepeng, tapi lebih muda. Wanita agak gemuk berpakaian model kebaya warna biru muda itu bernama Asih Munira, istri Kepal Kepeng.
Wanita kedua yang turun adalah seorang gadis cantik jelita berambut panjang terurai, tapi berhias jepit rambut yang terbuat dari emas permata. Kecantikannya seumpama …. Pokoknya cantik. Saat ini, mungkin dialah gadis tercantik di seluruh wilayah Kadipaten Balongan yang terdiri dari tujuh kademangan. Sebab, dialah yang saat ini terpilih sebagai hadiah utama Pertandingan Petarung Panah. Ia bernama Ninda Serumi, putri dari Kepal Kepeng.
Namun, sejak kedatangan Alma Fatara ke Ibu Kota, sepertinya status Ninda Serumi sebagai gadis tercantik sekadipaten, jadi terancam. Hal itu terbukti dari penilaian Ariang Banu dan Arung Seto.
Kepal Kepeng bukanlah warga Ibu Kota, tetapi ia berasal dari Kademangan Bandetan. Karena besok pagi mereka harus hadir dalam kompetisi Pertandingan Petarung Panah, jadi mereka memilih bermalam di penginapan daripada harus pulang pergi ke Kademangan yang akan memakan waktu.
“Silakan, Gusti!” ucap penjaga penginapan.
“Bagi dua!” kata Kepal Kepeng sambil memberikan beberapa kepeng uang ke telapak tangan keamanan tersebut.
“Terima kasih, Gusti,” ucap penjaga tersebut.
Sementara itu, pengawal berkuda Kepal Kepeng segera megikuti majikannya setelah mengikat kuda tunggangannya di tempat penambatan kuda.
Sebelum masuk ke dalam penginapan, Ninda Serumi melirik ke samping jauh, yaitu kepada seorang pemuda tampan yang berdiri bersandar di bawah sebatang pohon. Setelah itu, Ninda Serumi mengikuti ayah dan ibunya masuk.
Pemuda tampan di bawah pohon segera bergerak pergi ke area belakang penginapan. Pemuda itu berpakaian ala pendekar dengan rambut gondrong sebahu dibiarkan terurai alami, tapi tidak mengganggu wajahnya. Di punggungnya ada tabung bambu berisi beberapa batang anak panah. Namun, tidak terlihat dia membawa busur. Pemuda itu bernama Bandeng Prakas.
Bandeng Prakas berhenti di bawah salah satu pohon yang tumbuh di belakang penginapan. Ia berdiri sambil memandang ke beberapa jendela lantai dua penginapan yang tertutup. Sepertinya ia sedang menunggu.
Tidak berapa lama.
Clak!
Wajah dan pandangan pemuda beralis sayap elang itu bereaksi, ketika mendengar suara kunci dibuka. Ia fokus memandang kepada sumber suara. Kejap berikutnya, sebuah jendela di lantai dua penginapan terbuka.
__ADS_1
Satu wajah cantik tersembul keluar dari dalam penginapan. Sepertinya itu dari dalam salah satu kamar penginapan. Pemilik wajah cantik yang langsung tersenyum itu adalah milik Ninda Serumi.
Melihat kemunculan wajah cantik itu, Bandeng Prakas cepat maju beberapa langkah untuk lebih mendekat di bawah jendela.
“Ninda sayang!” sebut Bandeng Prakas setengah berbisik. Ia tersenyum sumringah.
“Kakang, bawa aku lari!” seru Ninda Serumi, tetapi setengah berbisik.
“Tidak, itu akan menempatkan kita pada posisi yang salah dan akan menjadi masalah!” tolak Bandeng Prakas.
“Tapi, Kakang. Besok kau akan melawan sebelas orang,” kata Ninda keberatan, menunjukkan ia tidak yakin bahwa kekasihnya itu akan menang.
“Percayalah, aku pasti akan menang. Saingan terberatku adalah Arya Mungkara. Aku sudah mengukur kemampuan panahnya,” kata Bandeng Prakas.
“Tapi kau harus berjanji menang, Kakang!” tuntut Ninda Serumi.
“Aku pasti menang. Aku berjanji!” tandas Bandeng Prakas.
“Ninda, apa yang kau lakukan?” tanya satu suara wanita tiba-tiba, berasal dari belakang Ninda Serumi.
Pertanyaan itu membuat Ninda Serumi terkejut, hingga-hingga hatinya nyaris jatuh dari atas jendela.
Ninda Serumi menengok ke belakang. Sebentar kemudian, muncul wajah Asih Munira di jendela, di sisi Ninda Serumi.
Sang ibu memandang ke bawah, ia hanya melihat lingkungan berpohon yang kosong dari manusia. Bandeng Prakas sudah tidak terlihat berada di bawah sana, ia sudah pergi, tepatnya bersembunyi. Ninda Serumi merasa lega melihat keadaan di bawah.
“Ayo, kita temui ayahmu!” ajak Asih Munira.
“Untuk apa, Ibu? Bukankah baru saja usai bersama Ayah?” tanya Ninda Serunai heran.
“Ada yang ingin bertemu,” jawab Asih Munira.
“Siapa?”
“Pangeran dari Istana Singayam.”
__ADS_1
Terkejut Ninda Serumi mendengar jawaban itu.
“Pa-pa-pangeran?” sebut ulang Ninda Serumi tidak mengerti.
“Ayo, ikut saja!” kata Asih Munira.
Akhirnya Ninda Serumi menurut dan mengikuti ibunya. Ia dan kedua orangtuanya memang beda kamar.
Namun, Ninda Serumi tidak dibawa ke kamar sewa orangtuanya, tetapi ke kamar yang lain.
Baru saja keduanya masuk di ambang pintu kamar yang terbuka, aroma harum bebungaan tercium lembut.
Ninda Serumi langsung melihat keberadaan ayahnya yang sedang duduk di kursi, bersanding dengan seorang pemuda tampan dan berkarisma yang duduk di kursi lain. Pemuda itu berpakaian begitu megah dengan perhiasan emas permata yang lengkap, laksana Toko Emas Kilau Jaya berjalan. Pemuda itu memiliki hidung mancung yang bagus dan rapi, seolah enak dipakai untuk perosotan.
Di belakang kursi mereka, berdiri lima lelaki. Empat lelaki berseragam hitam-hitam. Keempatnya bersenjata pedang. Jelas mereka berempat adalah pengawal dari pemuda tampan itu, karena Kepal Kepeng hanya memiliki seorang pengawal, yang saat ini berdiri di belakang juga.
“Sembah hormat hamba, Gusti Pangeran!” ucap Asih Munira sambil turun bersimpuh dan menjura hormat.
Hal yang sama dilakukan oleh Ninda Serumi mengikuti ibunya.
Tampak pemuda yang disebut “Gusti Pangeran” itu selalu menatap kepada Ninda Serumi.
“Bangunlah!” perintah si pemuda.
Asih Munira dan Ninda Serumi segera bangkit berdiri.
“Bagaimana, Gusti Pangeran?” tanya Kepal Kepeng kepada si pemuda.
“Paman Kepal Kepeng, secara raga putrimu adalah wanita yang sangat aku suka. Namun, namaku sudah tercantum di dalam daftar peserta Pertandingan Petarung Panah. Mau tidak mau, aku harus melalui pertandingan besok. Aku pun sudah menemui Adipati Marak Wijaya bahwa aku akan bertanding secara adil. Namun, aku meminta Adipati untuk menyembunyikan siapa adanya diriku,” tutur sang pangeran.
“Ninda, ini adalah Gusti Pangeran Derajat Jiwa. Dia sangat menginginkan kau menjadi calon istrinya,” kata Kepal Kepeng kepada putrinya seraya tersenyum lebar, menunjukkan bahwa ia sangat mendukung hal itu.
Perkataan ayahnya itu membuat Ninda Serumi terkejut. Hal itu jelas mengancam hubungan cintanya dengan Bandeng Prakas.
“Tapi, Ayah. Aku ini adalah hadiah utama dari pertandingan besok. Tidak mungkin aku dipinang sebagai istri atau kekasih oleh seorang pun lelaki. Bukankah aku milik dari pemenang besok hari. Ayah jelas melanggar kesepakatan dengan Adipati,” tandas Ninda Serumi.
__ADS_1
“Benar, Ninda,” kata Pangeran Derajat Jiwa. “Aku akan berusaha mendapatkanmu dengan cara berjuang sebagai seorang lelaki sejati. Namun, jika itu ternyata gagal, aku akan menempuh jalan lain untuk mendapatkanmu. Aku sangat pandai menilai seorang wanita, apakah dia memang layak diperjuangkan atau tidak. Dan aku menilai dirimu memang layak diperjuangkan.”
“Terima kasih atas penilaian dan penghargaan dari Gusti Pangeran,” ucap Ninda Serumi. (RH)