
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Ning Ara duduk menangis di balik dinding rumah. Meski Jataru telah membuat cinta, harapan dan hatinya hancur lebur selebur bubur, tetapi kematian Jataru lebih membuatnya bersedih begitu dalam.
Di balik dinding papan itu, Ning Ara ditemani oleh Ning Ana, adiknya. Keduanya menyimak obrolan yang terjadi di teras.
Sementara di teras, Kepala Desa Dugil Ronggeng dan istri, Mullar Adyawali dan istri, serta Alma dan para sahabat sedang berdiskusi. Turut hadir pula Gulang, kepala centeng Mullar.
“Kenapa Kepala Desa tidak bertindak menolong putriku? Padahal Kepala Desa adalah seorang pendekar,” tanya Mullar Adyawali memprotes. Sementara di sisinya, Jatiyem masih menangis terisak-isak seperti orang yang sedang terserang wabah flu itik.
“Bukannya aku tidak bersedia menolong, Mullar. Kau lihat sendiri keanehan senjata pisau yang Peging gunakan, sangat berbahaya,” kilah Dugil Ronggeng bernada lembut.
“Benar, Paman,” kata Alma pula. “Senjata yang digunakan oleh Peging sangat membahayakan orang lain, sebab dia bisa membunuh orang lain tanpa menyentuhnya. Aku pun sempat mencegah Kakang Garam bertindak.”
“Lalu, aku harus minta tolong kepada siapa jika kalian tidak bisa menolong juga? Mana bisa mengandalkan Gulang dan anak buahnya yang hanya bisa bikin onar malam-malam,” kata Mullar Adyawali.
Gulang hanya menelan ludah dicap oleh bosnya.
“Benar, Nak Pendekar. Menur pasti sedang diapa-apakan oleh lelaki berbahaya itu!” kata Jatiyem sambil menangis karena begitu cemas.
“Menur tidak mungkin diapa-apakan, Gusti Ibu,” kata Gulang.
“Bagaimana kau bisa tahu?!” bentak Mullar kepada Gulang.
“Sebab … sebab Menur dan Peging pernah menjalin kasih,” jawab Gulang.
“Apa?!” kejut Mullar dan istrinya. Mereka tidak pernah tahu perkara yang diungkapkan oleh centeng mereka itu.
“Sebelum dengan Jataru, Menur lebih dulu menjalin cinta rahasia dengan Peging. Justru, Peging adalah lelaki pertama yang mengambil keperawanan Menur,” ujar Gulang.
Semakin terperanjat Mullar dan Jatiyem mendengar cerita pahit itu.
“Bagaimana bisa perkara seperti itu kau bisa tahu, Gulang?” tanya Mullar menggeram begitu marah. Darahnya yang mendidih di ubun-ubun seakan telah habis airnya.
“Menur selalu membayarku untuk memuluskan siasat cintanya. Peging mengambil keperawanan Menur karena Menur juga yang memancing. Karena tidak mau berurusan dengan Gusti, jadi Peging menghilang, pergi dari desa. Kemudian Menur tergila-gila kepada Jataru. Agar Jataru menjadi miliknya, Menur sengaja memancing Jataru malam ini. Menur sengaja membayar aku untuk menangkap basah perbuatan mereka di lumbung. Agar mereka bisa dinikahkan,” tutur Gulang.
“Gulang keparaaat!” teriak Mullar sambil tangannya cepat meraup gundukan kacang rebus lalu melemparnya ke wajah Gulang.
Gulang hanya menunduk dan pejamkan mata saat dilempar dengan kacang yang sudah dingin, agar tidak kelilipan kacang plus kulit.
__ADS_1
“Kenapa putriku bisa sehina itu?” ratap Jatiyem. Ia tidak menyangka bahwa Menur Mawangi berlaku seperti seorang sundal.
“Jadi bagaimana ini, Kepala Desa?” tanya Mullar dengan nada yang sudah melemah, sepertinya dia sudah pasrah dan menyerah.
“Bagaimana, Nak Alma? Mungkin kalian punya jalan keluar masalah ini,” tanya Dugil Ronggeng.
“Hmm …,” gumam Alma Fatara, seolah ia sedang berpikir. Ia justru bertanya kepada Magar Kepang, “Bagaimana, Paman Magar?”
“Eh?” kejut Magar Kepang. Ia tidak menyangka bahwa Alma akan bertanya kepadanya. “Alma, aku tahu kau gadis yang cerdas. Kau pasti lebih tahu jalan keluarnya daripada aku.”
“Hahaha! Paman Magar selalu rendah hati,” ucap Alma sambil tertawa rendah.
“Kau tidak tanya aku, Amal?” celetuk Ayu Wicara.
“Ayu Cantik punya pendapat apa?” tanya Alma seraya tersenyum.
“Tidak ada,” jawab Ayu Wicara datar, dingin, seolah tanpa dosa dan salah.
“Hahaha!” Alma justru tertawa di saat yang lainnya memendam kedongkolan terhadap Ayu Wicara.
“Ayuuu! Kalau kau tidak bisa memberi apa-apa, kenapa minta ditanyaaa!” teriak Magar Kepang emosi.
“Jika bukan orang cantik, sejak kemarin aku sudah tendang dia ke sungai!” rutuk Magar Kepang.
“Hihihi! Paman Mahar tidak akan bisa menendangku ke sungai,” timpal Ayu Wicara yang tertawa seolah mengejek Magar Kepang, karena orang tua itu memang tidak bisa bertarung seperti seorang pendekar.
“Awas kau, Ayu!” ancam Magar Kepang menahan diri.
“Aku mengusulkan, lebih baik serahkan kepada orang-orang sakti,” kata Alma akhirnya.
“Orang-orang sakti?” ucap Dugil Ronggeng dan Mullar Adyawali bersamaan. Mereka tidak mengerti.
“Jika pisau itu adalah pisau yang bernama Pisau Bunuh Diri, pisau itu sedang dicari-cari oleh beberapa orang sakti yang kemarin kami jumpai. Jika mereka tahu siapa orang yang memegang pisau itu, mereka pasti akan memburunya dan membunuhnya,” ujar Alma.
“Jadi, kita hanya menunggu?” tanya Dugil Ronggeng.
“Besok aku akan mencoba pergi mencari Kakak Menur dan membawanya pulang,” kata Alma.
“Tanya kau, Amal?” tanya Ayu Wicara.
__ADS_1
“Iya, hanya aku,” jawab Alma.
“Kenapa tidak mengajak kami?” tanya Debur Angkara.
“Senjata itu terlalu berbahaya, Kang Debur. Jika kalian punya cara untuk menangkalnya, aku akan izinkan kalian ikut,” tandas Alma.
Terdiamlah Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara. Mereka tidak punya jawaban untuk tantangan Alma Fatara. Untuk Alma, mereka tidak perlu pertanyakan lagi. Gadis itu kini kesaktiannya semakin tinggi.
Setelah ketiga sahabatnya tidak bisa menjawab, Alma lalu berkata kepada Mullar dan istrinya, “Untuk malam ini, Paman dan Bibi lebih baik pulang dulu untuk menenangkan diri. Besok tunggulah kabar dari pencarianku.”
Mullar tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah istrinya. Jatiyem yang masih sesegukan hanya menjawab dengan anggukan.
“Baiklah, kami akan pulang dulu. Tapi, jika kau besok membutuhkan bantuan tenaga, Gulang dan anak buahnya bisa mengawalmu, Nak Alma,” kata Mullar Adyawali.
“Baik, Paman. Besok cukup aku seorang,” kata Alma.
“Baiklah,” ucap Mullar.
Orang terkaya di Desa Bungitan itu lalu menuntun istrinya untuk berdiri.
“Sini, kembalikan uang pemberian putriku!” pinta Mullar kepada Gulang dengan membentak.
Dengan ekspresi kecewa, Gulang lalu merogoh di balik bajunya. Ia mengeluarkan sekantung kain berisi uang lalu diserahkan kepada majikannya.
“Ayo, Kak, kita ke kamar!” ajak Ning Ana kepada Ning Ara. Ia memegangi tangan kakaknya yang masih bersedih.
Ning Ara yang kini hanya terisak, bergerak berdiri dan berjalan masuk menuju kamarnya bersama Ning Ana. Kakak beradik itu memang berbagi kamar.
Di luar, Mullar Adyawali dan istrinya telah melangkah meninggalkan rumah Kepala Desa. Mereka dikawal oleh para centeng yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang, di bawah pimpinan Gulang.
“Terus terang, aku khawatir Peging akan mencelakaimu, Alma. Pisaunya itu sangat berbahaya,” ujar Dugil Ronggeng.
“Tidak apa-apa, Paman. Aku ini gadis sakti. Hahaha!” kata Alma berseloroh lalu tertawa.
“Baiklah, malam sudah larut. Lebih baik kalian juga istirahat,” kata Dugil Ronggeng.
Malam itu, Dugil Ronggeng tidur di ruang depan. Istrinya tidur bertiga di kamar putrinya. Alma memilih tidur di bak pedati bersama Ayu Wicara.
Sementara Magar Kepang dan kedua pendekar desa tidur di teras. Sebubarnya acara, Magar Kepang, Debur Angkara dan Garam Sakti berlomba-lomba menghabiskan kacang rebus. (RH)
__ADS_1