A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 30: Musibah Besar Alma


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Genggam Sekam kini telah memegang tongkat besinya yang bersinar biru secara keseluruhan.


“Hiaat!” teriak Genggam Sekam sambil maju penuh kemarahan.


Dak! Dak!


Pengemis Batok Bolong yang diserang masih mencoba menghadapi seperti sebelumnya, yaitu mengandalkan kekuatan tubuhnya yang sekeras baja.


Namun, saat menangkis dua gebukan tongkat besi bersinar itu, Pengemis Batok Bolong merasakan sakit hingga ke tulangnya yang seolah ingin patah. Pengemis Batok Bolong terpaksa mundur dengan cepat, tapi Genggam Sekam cepat pula memburu.


Dak!


Pada satu tusukan tongkat, Pengemis Batok Bolong kembali memilih menahan dengan perutnya dan kedua kakinya memasang kuda-kuda.


“Aaa …!” teriak kedua lelaki beda generasi itu saling mendorong dengan tenaga dalam tingkat tinggi.


Ujung tongkat Genggam Sekam sebenarnya tidak benar-benar sampai pada perut sang pengemis, tetapi ada lapisan perisai tenaga yang tidak terlihat menahannya.


Zersss!


Dari titik tusukan itu muncul percikan sinar biru seperti kembang api.


Zuuum! Bluar!


Saat saling dorong tongkat lawan perut, Pengemis Batok Bolong menghentakkan tangan kanannya yang memegang batok kelapa dengan posisi luar batok ke depan.


Dari dalam lubang kecil pada batok melesat sinar putih panjang tanpa putus menyerang Genggam Sekam. Sigap pula pemuda itu menangkis dengan telapak tangan bersinar hijau terang. Akibatnya ledakan dua tenaga sakti tingkat tinggi terjadi.


Genggam Sekam terlempar jauh dengan mulut menyemburkan darah kental di udara, lalu jatuh keras di tanah jalanan.


Berbeda jauh dengan Pengemis Batok Bolong yang hanya terdorong ke belakang lalu jatuh terjengkang secara sederhana. Namun, tetap ada darah yang kembali keluar dari sela bibir tuanya.


Pengemis Batok Bolong segera bangkit, menunjukkan kuatnya fisik tuanya. Sementara itu, Genggam Sekam hanya bisa mengerenyit kesakitan tanpa bisa bergerak bangun lagi. Tongkat besinya yang sudah tidak bersinar, tergeletak tidak jauh darinya.


Alma Fatara dan rekan-rekannya yang menjadi penonton setia, tidak bisa banyak membantu.


Pengemis Batok Bolong segera berkelebat hendak mendapatkan Genggam Sekam.


Wusss!


Tiba-tiba Alma Fatara telah melepaskan ilmu angin Sedot Tiup yang menghempas tubuh Pengemis Batok Bolong di udara. Orang tua itu jatuh bergulingan cukup jauh di depan.


Namun, seperti orang yang tidak kenal rasa sakit, Pengemis Batok Bolong cepat bangun berdiri dan menatap buas kepada Alma Fatara.


Debur Angkara dan Garam Sakti telah turun tangan membantu mengevakuasi Genggam Sekam.


“Bagaimana, Kek?” tanya Alma Fatara yang sudah berdiri beberapa tombak di hadapan Pengemis Batok Bolong.

__ADS_1


“Jangan remehkan orang terluka, Alma. Hehehe!” kata Pengemis Batok Bolong.


“Itu artinya Kakek memilih lanjut,” kata Alma menyimpulkan.


Sess!


Pengemis Batok Bolong merentangkan kedua tangannya dengan jari-jari menegang seperti cakaran. Yang mengejutkan, kini di depan si kakek melayang lebih dua puluh batok, tetapi lebih seperti mangkok sinar merah.


Wesss!


Pengemis Batok Bolong lalu mengayunkan kedua tangannya mengarahkan sinar-sinar merah berwujud mangkok batok itu. Puluhan sinar itu melesat cepat ke samping lalu berbelok berputar menyerang Alma dari samping.


“Almaaa!” teriak rekan-rekan Alma terkejut melihat serangan massal itu.


Jujur, Alma Fatara cukup bingung untuk menghadapi serangan itu karena ia tidak memiliki ilmu perisai. Mau tidak mau, Alma hanya bisa melompat sedemikian rupa demi menghindari sinar-sinar panas itu.


Blar! Blar!


Dags! Dags!


Bahkan Alma terpaksa mengadu dengan dua Pukulan Bandar Emas di udara yang menciptakan ledakan tenaga, membuat Pengemis Batok Bolong terjengkang.


Namun, dua sinar merah ada juga yang menghantam tubuh Alma dengan telak. Satu sinar menghantam perut dan satu lagi menghantam wajah.


Dua hantaman itu membuat Alma terlempar jatuh ke semak ilalang.


Pengemis Batok Bolong yang lukanya kian tambah parah, segera bangkit.


Setelah bisa berdiri, Pengemis Batok Bolong mendadak jatuh berlutut kaki kiri karena kakinya tidak kuat menahan tubuhnya. Pengemis Batok Bolong cepat mengatur pernapasannya dan mengolah tenaga dalamnya.


“Amal!” teriak Ayu Wicara cemas saat Alma tidak segera muncul lagi dari dalam rerumputan.


“Alma! Alma!” teriak Debur Angkara dan Garam Sakti dengan wajah tegang.


Sementara itu, Pengemis Batok Bolong sudah bisa berdiri lagi. Ia juga menatap tajam ke arah area ilalang tempat Alma Fatara tadi jatuh, ia menunggu jika-jika ada serangan tiba-tiba dari balik ilalang yang tinggi atau mungkin telah terjadi sesuatu terhadap Alma.


Buru-buru Debur Angkara berlari menerabas ilalang yang setinggi dada.


Srek!


Namun, sebelum Debur Angkara sampai ke titik tempat Alma jatuh, tiba-tiba dari titik itu melesat sosok hitam ke depan Pengemis Batok Bolong.


Sess! Ctar!


Seset! Seset!


Alma yang melompat ke hadapan Pengemis Batok Bolong ternyata langsung melempar sebuah bola hitam dengan gaya lemparan bowling. Bola hitam yang adalah Bola Hitam itu melesat ke depan dan menggesek tanah, menciptakan ledakan nyaring. Dari ledakan itu berlesatan sinar-sinar biru berekor yang menyerang Penjgemis Batok Bolong ramai-ramai.


“Mati aku!” pekik Pengemis Batok Bolong terkejut bukan main sambil berkelebat secepat mungkin. Ia pun melindungi dirinya dengan ilmu perisai. Ia benar-benar tidak menyangka jika Alma akan menggunakan Bola Hitam.

__ADS_1


Namun akhirnya, Pengemis Batok Bolong hanya bisa mendelik dan ternganga tanpa jeritan, ketika tiga sinar biru berhasil memotong-motong tubuhnya menjadi empat bagian. Hebatnya, sinar-sinar itu tidak terhalang oleh ilmu perisai sang pengemis.


Dengan demikian, tidak ada alasan bagi Pengemis Batok Bolong untuk bertahan hidup. Pengemis Batok Bolong telah berakhir dan menjadi korban dari senjata yang ia dambakan sendiri, yaitu Bola Hitam.


“Kak Alma menaaang!” teriak Ning Ana sumringah.


Alma berdiri terdiam. Ia segera menyimpan kembali Bola Hitam dengan cara memisahkannya menjadi dua bagian benda kotak berwarna biru terang itu.


Alma kemudian memegang bibirnya yang belepotan oleh darah. Ia menyekanya dengan kain jubahnya sehingga bersih dari darah.


“Alma!” panggil rekan-rekan Alma sambil berlari kecil menghampiri.


Alma berbalik sambil tersenyum lebar. Maka tampaklah gigi Alma yang berwarna merah oleh darah.


“Alma, gigimu hilang!” teriak Garam Sakti terkejut.


“Iya, Amal. Gigimu belang!” pekik Ayu Wicara pula.


“Hilang, bukan belang, Ayu. Memangnya harimau!” ralat Debur Angkara.


“Ini bejana!” kata Ayu Wicara serius.


“Bejana apa?” tanya Ning Ana yang juga sudah bergabung.


“Bukan bejana, tapi beja …. Eh, bencana maksudku!” ralat Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Alma.


“Kau masih bisa tertawa, Alma?” tanya Debur Angkara heran.


“Memangnya kenapa?” tanya Alma.


“Kau sedang mendapat musibah besar. Seharusnya kau menangis sederas-derasnya air mata. Gigi depanmu kini hilang dua biji. Itu akan membuatmu jelek, Alma!” jelas Debur Angkara berapi-api.


“Ada apa kalian ramai sekali?” tanya Magar Kepang yang datang dengan langkah terpincang, masih terpengaruh oleh sakit pada bokongnya.


“Lihatlah gigi Alma, Ki!” kata Magar Kepang.


Alma lalu membuka bibirnya yang bengkak, memperlihatkan giginya yang saling merapat. Terlihat jelas, dua gigi depan atas Alma hilang alias bolong.


“Hahaha …!” tawa Magar Kepang terbahak. Lalu katanya, “Aku sarankan, ketika di depan lelaki tampan, kau jangan tertawa. Hahaha!”


Mereka hanya memandangi Magar Kepang dengan tatapan kesal. Sebab, bagi mereka Alma sedang ditimpa musibah, tetapi Magar Kepang justru tertawa.


“Bibir Amal juga bengkok,” kata Ayu Wicara.


“Bengkaaak!” ralat Debur Angkara dan Garam Sakti bersamaan, memberi kesan lucu.


“Hahaha! Uhhuk uhhuk!” tawa Alma lalu terbatuk-batuk karena pengaruh luka dalamnya yang bertambah parah.

__ADS_1


Alma masih beruntung karena ilmu batok-batok sinar merah Pengemis Batok Bolong bersifat panas, sehingga ketika satu sinar mangkok menghantam wajahnya, tepatnya di bagian mulut, Alma hanya menderita luka hantaman tanpa terbakar wajahnya. Akhirnya dua gigi depan atas Alma tanggal dan bibirnya menjadi bengkak. Jika bibir bengkak bisa mengempis, tetapi gigi tanggal tidak bisa dipasang ulang.


“Sudahlah, masih untung hilang gigi daripada hilang nyawa,” kata Alma lalu tersenyum lebar, kembali memperlihatkan gusi ompongnya yang masih mengeluarkan darah. (RH)


__ADS_2