A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Kamsil 10: Melawan Turun Bukit


__ADS_3

*Kampung Siluman (Kamsil)*


 


Tiba-tiba langit malam menjadi terang dengan munculnya sepuluh bola api yang naik ke udara tinggi. Sepuluh bola api dilempar dari kaki bukit naik ke atas bukit, tempat Kampung Siluman berada.


Melihat ketinggian yang dicapai oleh kesepuluh bola api peledak itu, terkejutlah Kirak Sebaya, Rempah Putih, Alma Fatara dan warga Kampung Siluman lainnya. Sebab dapat dipastikan, kesepuluh bola api itu akan melewati posisi benteng dan menjangkau tengah kampung.


“Munduuur!” teriak Kirak Sebaya begitu keras.


“Cepat munduuur!” teriak Rempah Putih pula.


Maka dengan panik, semua orang berlari sekencang mungkin menjauhi area benteng dan depan kampung. Yang punya kesaktian cepat berkelebat menjauh. Kaum wanita dan anak-anak yang masih berada di luar tempat perlindungan, berlari terbirit-birit menuju gua perlindungan.


Warna Mekararum pun dievakuasi oleh istri dan anak Kepala Kampung ke gua perlindungan.


Boam! Boam! Boam …!


Bola-bola api itu menghujani wilayah depan Kampung Siluman. Ada yang jatuh meledak di tanah kosong, ada yang jatuh menghancurkan beberapa rumah, ada yang tambah menghancurkan benteng. Sejumlah warga ada yang terkena langsung dan tidak langsung. Mereka yang terkena tidak langsung terpentalan dengan luka bakar yang parah dan ringan.


Satu bola api yang menjangkau paling jauh akan jatuh menimpa sekelompok lelaki kampung dan Rempah Putih yang bergerak menjauh. Melihat kemungkinan besar mereka akan terkena bola api, Alma Fatara cepat bertindak.


Sezt! Bluar!


Alma Fatara melompat ke udara sambil mengibaskan tangan kanannya. Satu lengkungan sinar kuning tipis melesat sekilas dan membelah bola api yang datang, sehingga meledak di udara. Percikan api ledakan itu menjadi hujan api yang tidak begitu berbahaya.


Rempah Putih dan sejumlah warganya hanya bisa terkejut dan senang karena selamat dari ancaman bola api itu.


Kehancuran yang diciptakan oleh kesepuluh bola api membuat semua orang terhenyak. Mereka menyaksikan kerusakan terparah dalan sejarah perang melawan pasukan Kerajaan Ringkik. Bahkan bisa lebih parah lagi, karena pasukan Kerajaan Ringkik sudah memiliki senjata yang bisa menjangkau kampung dan menghancurkan benteng bukit.


“Panglima Kampung! Jika kita hanya menunggu, kampung ini akan hancur dengan cepat!” teriak Rempah Putih kepada Kirak Sebaya.


“Untuk menghentikan serangan bola api, jalan satu-satunya adalah merusak alat pelontarnya!” seru Lingkar Dalam.


“Jika begitu, kita harus turun menghancurkan alat pelontar mereka!” kata Alma.


Terdiam sejenak Kirak Sebaya mendengar usulan Alma. Ia berpikir. Sebab, yang ada di pikirannya, jika mereka turun, berarti mereka akan turun berhadapan dengan ribuan prajurit.


“Kakek, siapa yang bisa turun bersamaku?” tanya Alma Fatara cepat.


“Aku. Aku adalah orang tersakti di kampung ini!” sahut Kirak Sebaya.


“Aku juga bisa turun!” sahut Rempah Putih.


“Garam Sakti!” panggil Alma Fatara. “Jika ada bola api datang, hancurkan di udara dengan keris pusakamu!”

__ADS_1


“Baik, Alma!” sahut Garam Sakti lantang, menunjukkan semangat juangnya yang tinggi.


“Jangan menunggu waktu lagi, Kek!” teriak Alma sambil berlari cepat menuju ke benteng yang hancur dan terbakar berantakan.


Kirak Sebaya cepat berkelebat mendampingi Alma menuju pinggir benteng. Rempah Putih juga berkelebat menyusul.


Setibanya di pinggir bukit, Alma langsung saja melompat turun dan berlari di tebing bukit yang miring. Sementara Kirak Sebaya melakukan lompatan-lompatan dengan ilmu peringan tubuhnya.


Rempah Putih melompat turun lalu berlari turun di kemiringan badan bukit batu. Mereka bertiga melakukan itu di dalam kegelapan.


Wuss! Wuss! Wuss …!


Pada saat yang bersamaan, sepuluh bola api raksasa kembali terbang naik ke udara tinggi dan siap menghujani Kampung Siluman.


“Serangan dataaang!” teriak Lingkar Dalam mengingatkan pasukan kampungnya. Ia sudah memegang tombak.


“Ayo, Garam Sakiiit!” teriak Ayu Wicara sambil menepak keras bokong padat Garam Sakti.


“Aww!” pekik Garam Sakti terkejut bukan main sambil menusukkan Keris Petir Api di tangannya.


Zess! Bluar!


Satu garis sinar hijau terang melesat dari bilah keris Garam Sakti. Sinar itu melesat menembak bola api pertama yang datang. Bola api itu pun meledak sebelum jatuh menghantam tanah kosong.


“Tidak akan aku biarkan! Hiaaat!” teriak Lingkar Dalam sambil melompat naik ke atas sebuah rumah bambu, lalu melompat tinggi ke udara, sambil melemparkan tombak di tangannya.


Tombak itu melesat cepat dari samping dan menancap di bola api. Hal itu membuat bola api meledak di udara.


“Heaat!” teriak Sabung, si pemuda bergigi tonggos. Dari ketinggian pula, dia melompat sambil melesatkan dua kapak pendeknya yang berputar cepat, lalu menancap di bola api yang datang.


Tetep! Bluar!


Bola api itu memang meledak di udara, tapi tetap saja kehancurannya jatuh menimpa sebuah rumah bambu.


Boam! Boam! Boam!


Namun sayang, tetap saja sejumlah bola api lainnya menghancurkan tanah kampung dan beberapa rumah warga, sehingga hancur total dan terbakar. Bahkan dua orang lagi lelaki Kampung Siluman gugur.


Ketika Alma Fatara dan Kirak Sebaya melesat menuruni badan bukit, mereka tidak terlihat karena gelapnya malam. Namun berbeda dengan Rempah Putih, pakaian putih-putihnya membuatnya terlihat samar oleh pasukan kerajaan yang ada di kaki bukit.


“Gusti Senopati, lihat!” kata Komandan Gelegar yang memimpin pasukan pembawa sepuluh alat manjanik.


Senopati Gulung Sedayu cepat memusatkan pandangannya ke arah tunjukan Komandan Gelegar. Ia bisa melihat pergerakan satu bayangan putih yang menuruni badan bukit dengan cepat.


“Pasukan panaaah!” teriak Senopati Gulung Sedayu cepat.

__ADS_1


Pasukan panah orang, bukan mesin, yang sebelumnya tidak disiapkan, segera berlari untuk membentuk formasi di garis depan.


“Cepat, cepat, cepat!” teriak komandan pasukan panah kepada pasukannya.


“Tembak bayangan putih itu!” teriak Senopati Gulung Sedayu, karena memang hanya Rempah Putih yang terdeteksi.


“Tembak bayangan putih itu!” teriak komandan pasukan panah pula.


Pasukan yang sudah berbaris, segera memasang satu anak panah pada busur mereka masing-masing.


“Rupanya mereka melihatku!” rutuk Rempah Putih kepada dirinya sendiri. Dia pun mencabut pedangnya.


Alma Fatara yang pergerakannya tidak terlihat karena gelapnya malam, tiba-tiba melesat cepat meninggalkan Kirak Sebaya dan Rempah Putih.


“Tembaaak!” teriak komandan kepada pasukan panahnya.


Set set set …!


Wuss!


Ketika puluhan anak panah dilepas dari busurnya dan melesat dalam kegelapan udara, tiba-tiba ada suara deru embusan angin yang kuat.


Tidak ada yang melihat bahwa Alma Fatara telah melepaskan angin Sedot Tiup, yang menghempaskan sebagian besar rombongan anak panah yang menargetkan Rempah Putih dan Kirak Sebaya. Kedua pemimpin Kampung Siluman itu pun tidak bisa melihat pergerakan hujan panah di udara.


Namun, Kirak Sebaya dan Rempah Putih tidak pernah merasakan ada serangan panah. Namun, mereka bisa mendengar suara angin kencang yang disusul suara jatuh anak panah yang banyak di bebatuan bukit. Demikian pula pasukan panah, mereka juga tidak bisa melihat bahwa panah-panah mereka telah dihalau oleh angin kiriman Alma.


Swess!


“Hah!” kejut para prajurit berjemaah.


Mereka tiba-tiba melihat kemunculan sinar kuning emas menyilaukan yang tidak begitu jauh di depan mereka. Terangnya sinar emas itu membuat wajah-wajah mereka terlihat jelas, termasuk wujud Alma pun terlihat.


Bluarr!


Namun, sinar kuning itu melesat cepat dan jatuh di tengah-tengah prajurit panah. Ledakan hebat terjadi yang menghancurkan tubuh beberapa prajurit panah dan mementalkan lebih banyak.


Ketika pasukan panah dibuat porak-poranda oleh ilmu Pukulan Bandar Emas milik Alma, Kirak Sebaya dan Rempah Putih telah datang dan menyerang para prajurit panah.


Sementara di sisi lain, kesepuluh manjanik telah dipasang bola api masing-masing.


Melihat hal itu, Alma Fatara cepat berkelebat menuju posisi kesepuluh alat manjanik yang lebih besar dari milik Kampung Siluman.


Set!


Alma Fatara terpaksa harus mengerem lesatan tubuhnya ketika satu tombak melesat menyerangnya. Tindakan Alma membuat tombak yang dilempar oleh Komandan Gelegar itu lewat di depannya.

__ADS_1


“Heaat!” teriak Komandan Gelegar yang bisa melihat keberadaan Alma di dalam kegelapan.


Ia berkelebat sambil menebaskan pedangnya. (RH)


__ADS_2