
*Kampung Siluman (Kamsil)*
Alma Fatara dan rombongan akhirnya meninggalkan ibu kota Balongan pagi-pagi. Urusan yang tersisa di Ibu Kota itu tinggal bagaimana caranya untuk menyelamatkan nyawa Pangeran Derajat Jiwa dan Arya Mungkara, serta hukuman yang menanti bagi Adipati Marak Wijaya.
Kondisi Debur Angkara dan Garam Sakti sudah lebih baik dan dinilai sudah bisa melakukan perjalanan jauh dengan berkuda. Mereka melanjutkan perjalanan dengan senyum ceria. Tawa Alma Fatara sesekali meledak tanpa beban.
“Nek, apakah masih jauh letak Gunung Alasan itu?” tanya Alma kepada Warna Mekararum.
“Aku juga tidak tahu. Jika kita bertemu orang di jalan, lebih baik kita bertanya. Jangan sungkan bertanya. Ada pepatah yang mengatakan, malu bertanya sesat jodohnya,” kata Warna Mekararum.
“Ah? Sesat jodohnya? Maksudnya bagaimana, Nek?” tanya Alma Fatara tidak mengerti.
“Hihihi! Sebagai contoh. Kau menyukai Debur Angkara, tapi kau tidak pernah bertanya kepadanya apakah dia mencintaimu atau tidak. Padahal cintanya untuk Ayu Wicara. Padahal orang yang mencintaimu adalah Garam Sakti. Kemudian kau menikah dengan Debur Angkara, sehingga cinta kalian terjalin tanpa titik temu. Itu karena kau tidak pernah bertanya, jadi kau salah jodoh. Hihihi!”
“Hahahak!” tawa Alma terbahak. “Nenek sekarang suka melucu.”
“Hihihi!” tawa Warna Mekararum. “Hingga sejauh ini kau meninggalkan jejak berbekas yang baik di setiap tempat yang kau singgahi, Alma.”
“Bukankah seharusnya seperti itu, Nek?”
“Benar.”
“Tuh, dengarkan, Kang Garam!” kata Alma kepada Garam Sakti yang masih berperan sebagai sais pedati.
“Iya, Alma. Hahaha!” sahut Garam Sakti lalu tertawa.
“Hahaha!” tawa Alma mengikuti tawa Garam Sakti. Lalu katanya kepada Warna Mekararum, “Untung saja Pangeran terluka, jika tidak, aku khawatir dia akan mengejar-ngejar aku untuk menjadikanku istrinya.”
“Baru menempuh perjalanan segaris saja, kau sudah memikat seorang pangeran Singayam. Apa lagi jika garis tempuhmu sudah seperti benang kusut, mungkin akan ada seratus lelaki yang kau pikat,” kata Warna Mekararum.
“Eh, bukan aku yang memikat Pangeran Derajat Jiwa, tetapi dia yang terpikat kepadaku, Nek,” ralat Alma.
“Hihihi!” Warna Mekararum hanya tertawa pendek. “Kau jangan abaikan perkara itu, Alma. Seiring waktu, akan semakin banyak lelaki yang mengharapkan cintamu. Bagaimana jika mereka saling bunuh demi mendapatkanmu?”
“Hah! Saling bunuh? Yang benar saja, Nek.”
“Kekuatan kecantikan wanita itu sangat tinggi. Dulu ketika aku masih muda dan belum menjadi seorang permaisuri, ada dua pemuda yang saling bunuh demi mendapatkan cintaku, padahal aku mencintai lelaki selain mereka,” kisah Warna Mekararum.
__ADS_1
“Wah, berarti Nenek waktu muda sangat cantik sepertiku,” ucap Alma terpukau yang berujung memuji dirinya sendiri.
“Hahaha!” tawa Garam Sakti mendengar perkataan Alma.
“Aku lebih cantik darimu waktu aku muda!” tandas Warna Mekararum.
“Hahaha!” tawa Alma. “Jelas aku tidak percaya, Nek. Tidak ada buktinya. Hahaha!”
Warna Mekararum hanya tertawa.
“Ya, kau memang lebih cantik dariku. Semoga saja kecantikanmu tidak menjadi bencana bagi kaum lelaki. Kira-kira, lelaki seperti apa yang kau inginkan?”
“Lelaki yang kencingnya bisa lurus!” jawab Alma cepat dan mantap.
“Hahahak …!” Tawa Garam Sakti meledak kencang, sampai-sampai Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara menengok kepada Garam Sakti dan Alma yang tawanya menyusul.
“Kenapa tertawa, Garam?” tanya Magar Kepang dari punggung kudanya.
“Apakah Ki Magar kencingnya bisa lurus?” Garam Sakti justru bertanya balik.
“Ya tidak bisa!” jawab Magar Kepang dengan setengah membentak.
“Kenapa kau tertawa, Debur? Memangnya kencingmu lurus?!” bentak Magar Kepang.
“Kita senasib, Ki. Sama-sama tidak bisa lurus!” sahut Debur Angkara.
“Kenapa kalian membahas masalah kancing?” tanya Ayu Wicara pula.
“Hahahak …!” Semakin parah tawa mereka bersama-sama, kecuali Ayu Wicara yang hanya merengut melihat kehebohan rekan-rekannya.
Drap drap drap …!
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara lari kuda-kuda yang cepat. Saat itu mereka berada di jalan yang diapit oleh dua hutan bambu. Tidak jauh di depan, ada pertigaan yang dua jalan lainnya sama-sama menikung. Suara lari kuda berasal dari jalan yang menikung ke arah kanan atau timur.
“Hati-hati! Kita akan tabrakan!” teriak Debur Angkara tegang. Perkiraannya menyimpulkan seperti itu.
Dan memang, dari tikungan arah kanan muncul rombongan besar berkuda, yang pada tikungan mereka tetap berlari kencang. Apesnya, posisi rombongan Alma sangat dekat pada titik pertigaan.
“Menghindaaar!” teriak Alma Fatara cepat.
__ADS_1
“Awaaas!” teriak seorang penunggang kuda dari rombongan yang muncul dari tikungan. Ia dan para penunggang kuda, termasuk seorang sais, terkejut melihat keberadaan rombongan Alma Fatara.
Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara yang juga sama-sama terkejut, sigap membelokkan lari kuda mereka. Sampai-sampai kepala kuda Ayu Wicara masuk terselip ke antara batang pohon bambu.
Garam Sakti juga cepat membelokkan kedua kuda penarik pedatinya ke samping kiri. Namun, bak pedati terlambat meninggalkan tengah jalan.
Dua penunggang kuda terdepan dengan tangkas menghentikan kudanya secara mendadak. Kedua kuda itu berhenti tajam dengan mengangkat kedua kaki depannya tinggi-tinggi, sampai-sampai penunggangnya nyaris terlempar dari pelana.
Kereta kuda mewah yang berlari di belakang kedua penunggang kuda juga harus mengerem mendadak agar tidak menabrak bak pedati. Saisnya yang terlatih dengan mahir menarik kencang tali kekang, membuat keempat kuda meringkik kencang. Hal itu membuat dua orang yang ada di dalam bilik kereta kuda terlempar ke depan dan nyaris menabrak dinding depan bilik kereta.
“Ada apa, Abdi?” tanya lelaki separuh baya yang mengenakan totopong kain sutera dan kepalanya dililit ring emas. Pada bagian dahi ada permata berwarna merah delima.
“Kita hampir menabrak rombongan kuda lain, Gusti Prabu,” jawab sais yang bernama Abdi.
Di belakang kereta kuda, puluhan kuda pada menabrak bokong kuda lain yang ada di depannya karena pengereman mendadak itu. Sejumlah lelaki penunggang berseragam sampai jatuh terlempar dari punggung kudanya.
Hingga akhirnya, insiden tabrakan beruntun itu berhenti dalam kondisi yang kacau.
Barulah jelas bahwa rombongan berkuda itu adalah rombongan pasukan kerajaan. Dua penunggang terdepan adalah dua punggawa kerajaan, penumpang kereta kuda adalah anggota keluarga kerajaan, kemudian ada empat lelaki berkuda berpakaian cokelat, dua puluh prajurit berkuda yang berseragam warna putih-putih, dan lima puluh prajurit berkuda berseragam kuning kunyit.
Untuk prajurit berseragam kuning kunyit, jelas sama dengan pasukan berkuda yang dibawa oleh Panglima Ragum Mangkuawan ke Pertandingan Petarung Panah. Itu jelas menunjukkan bahwa rombongan itu adalah pasukan Kerajaan Singayam.
Insiden itu membuat pemuda berpakaian bagus dan lelaki separuh baya yang menunggang kuda terdepan marah.
“Hei! Kalian telah menghalangi rombongan Gusti Prabu Manggala Pasa!” teriak lelaki separuh baya yang bertubuh besar. Lelaki itu berkepala botak pada bagian depannya, botak karena kemarau berkepanjangan. Ia tidak mengenakan baju, tetapi selain celana, ia juga mengenakan kain selempangan berwarna biru terang. Di pinggang belakangnya ada sebilah kapak mata dua bergagang kecil yang terselip. Ia bernama Rangga Udamaya, Panglima Pasukan Pengawal Raja.
Mendelik Alma Fatara dan Garam Sakti dituding seperti itu.
“Hei, Paman Pejabat!” teriak Alma pula. “Kebenaran tidak ditentukan oleh usia. Kebenaran tidak ditentukan oleh pangkat derajat!”
Suami istri di dalam kereta hanya menyimak dengar pertengkaran yang terjadi di depan.
“Berani lancang kau terhadap Gusti Prabu Manggala Pasa!” kecam Rangga Udamaya gusar.
“Jangankan seorang raja, dewa salah pun aku akan teriaki. Rombongan kalian jelas-jelas berlari dengan mata terpejam. Dan ….”
Tiba-tiba Alma Fatara menghentikan kata-katanya saat melihat pemuda tampan yang duduk di kuda satunya.
“Hahahak …!” tawa Alma keras sambil menunjuk pemuda tampan di sisi Panglima Rangga Udamaya.
__ADS_1
Pemuda berpakaian hitam bagus itu terkejut heran karena ditunjuk dan ditertawai oleh Alma. Tawa Alma yang terbahak membuat pemuda berpedang bagus itu teringat seseorang di masa lalu. (RH)