
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Gadis cantik berpakaian warna merah muda itu berjongkok di pinggir sungai. Ia berjongkok bukan untuk buang air di ruang terbuka, tetapi untuk menciduk air dengan kedua telapak tangannya. Air itu ia basuhkan ke wajahnya.
Gadis itu membawa dua pedang pada punggungnya. Gagang pedangnya sama-sama berbentuk kepala buaya yang menganga. Satu berwarna merah dan satu lagi berwarna hitam. Karena dua pedang kembar beda warna itu, ia dijuluki Pendekar Buaya Cantik. Sedangkan nama aslinya adalah Sumirah.
Sumirah segera menengok dan memandang jauh ke ujung jalan saat mendengar suara lari kuda yang kencang. Dilihatnya ada seekor kuda muncul dari ujung jalan yang lurus. Ia bergerak berdiri dan berbalik untuk melihat dengan jelas siapa yang berkuda.
Sumirah tersenyum ketika mengenali pemuda di atas kuda. Hal yang membuatnya mengenali si penunggang adalah tongkat yang ia sandang di punggungnya.
Sumirah melangkah pergi ke jalan, berdiri benar-benar di pinggir jalan. Ternyata keberadaannya berhasil membuat penunggang kuda memelankan lari kudanya dan akhirnya berhenti tepat di depan Sumirah.
“Sumirah, sedang apa kau di sini?” tanya pemuda tampan yang adalah Genggam Sekam alias Pendekar Tongkat Merah.
Sumirah tidak langsung menjawab. Ia tersenyum lebar menunjukkan kecantikannya dan giginya yang putih rapi dan bersih, sebersih gigi iklan pasta gigi.
Genggam Sekam sudah turun dari punggung kudanya. Tangan kirinya tetap memegang tali kekang kuda.
“Aku sedang cuci muka,” jawab Sumirah jujur, karena wajah dan sedikit rambutnya basah. “Kau seperti hendak pergi menyelamatkan seorang putri.”
“Hahaha!” tawa Genggam Sekam. “Aku ingin mencari Batok Bolong di Desa Rawabening.”
“Dia sudah meninggalkan Rawabening,” kata Sumirah.
“Kau bertemu dengannya?”
“Tidak, tapi aku melihatnya dari jauh sedang mengikuti rombongan pedati ….”
“Apa?!” kejut Genggam Sekam memotong perkataan Sumirah.
“Jika tidak salah, bukankah kau juga ikut rombongan itu?”
“Benar. Aku harus pergi, aku harus mengejar Batok Bolong!” tandas Genggam Sekam sambil hendak menaiki kemballi kudanya.
“Sebenarnya apa urusanmu kepada Pengemis Batok Bolong? Apakah karena dia membunuh Dewi Penari Daun? Jadi benar, kau adalah kekasih Dewi Penari Daun?” cecar Sumirah dengan pertanyaan.
“Jadi Batok Bolong yang membunuh kekasihku?” tanya Genggam Sekam terkejut, seolah pendengarannya meragukannya.
__ADS_1
“Iya. Aku saksi matanya. Dewi Penari Daun dibunuh dengan Pisau Bunuh Diri.”
“Terima kasih untukmu, Sumirah!” ucap Genggam Sekam sambil melompat naik duduk di atas pelana kudanya.
“Hei, kau tidak memberikan apa-apa sebagai tanda terima kasih?!” teriak Sumirah dengan mata mendelik.
“Jika aku menang bertarung dengan Batok Bolong, aku akan mencarimu untuk berterima kasih! Heah heah!” teriak Genggam Sekam sambil menggebah kudanya ke arah ia tadi datang.
Itulah kisah yang membuat Genggam Sekam pergi mengejar Pengemis Batok Bolong dan akhirnya sampai. Ia sampai ketika Pengemis Batok Bolong sedang bertarung dengan Alma Fatara.
“Jangan menfitnahku sembarangan, Tongkat Berat!” tukas Pengemis Batok Bolong sambil menunjuk kepada Genggam Sekam yang berdiri di sisi Alma Fatara.
“Kau tidak bisa mengelak lagi, Batok Bolong. Pendekar Buaya Cantik telah memberi tahu aku bahwa kaulah yang membunuh Dewi Penari Daun dengan Pisau Bunuh Diri!” tandas Genggam Sekam.
“Kau dibohongi olehnya!” teriak Pengemis Batok Bolong dengang mulut yang sudah penuh oleh darah, akibat luka yang diberikan oleh Alma Fatara.
“Kaulah yang tukang bohong, Batok Bolong. Pendekar Buaya Cantik tidak memiliki alasan apa pun untuk membohongiku!” tegas Genggam Sekam sambil menghentakkan kaki kanannya ke tanah, membuat tongkat besinya yang tergeletak di tanah terlompat ke atas.
Genggam Sekam menyambar tongkatnya.
“Mundurlah, Alma. Batok Bolong kini urusanku. Dia harus membayar kematian kekasihku!” kata Genggam Sekam.
Gadis jelita itu lalu melompat dan melayang mundur ke dekat kuda pedati.
“Kau pikir akan bisa menghadapiku, Tongkat Berat? Kau harus sadar diri bahwa kesaktianmu ada di bawahku!” kata Pengemis Batok Bolong.
“Tapi aku tidak pernah merasa bahwa kau lebih sakti dariku,” bantah Genggam Sekam.
Pengemis Batok Bolong lalu menggerakkan satu tangannya dengan mengandung tenaga dalam.
Set!
“Awas, Kakak Ipar!” teriak Ning Ana kencang saat melihat kemunculan batok kelapa yang melesat dari dalam ilalang.
Dak!
Genggam Sekam tangkas menghantam batok kelapa itu dengan tongkatnya sehingga benda terbang itu terpental jauh. Namun, batok kelapa itu kembali berbalik, tapi datang kepada tuannya. Dengan mudahnya Pengemis Batok Bolong menangkap senjatanya.
__ADS_1
“Hiat!” pekik Genggam Sekam sambil maju menyerang Pengemis Batok Bolong dengan tongkat besi.
Meski mengalami luka dalam, tetap saja Pengemis Batok Bolong memiliki kekuatan yang tinggi. Seperti sebelumnya, ia mampu menangkis semua gebukan dan tusukan tongkat besi dengan tangan atau batok kelapanya.
“Sudah aku katakan, kau bukanlah lawanku!” seru Pengemis Batok Bolong pada satu ketika sambil melesatkan batok kelapanya kepada Genggam Sekam.
Dak!
“Hugk!” keluh Genggam Sekam saat ia pasang batang tongkatnya di depan dada sebagai penangkis serangan batok kelapa.
Di luar dugaan, ternyata batok kelapa itu berkekuatan lebih tinggi dari sebelumnya. Genggam Sekam terjajar beberapa tindak.
Wut wut!
Ketika Pengemis Batok Bolong hendak menyusulkan serangan, Genggam Sekam sudah pula membabatkan tongkat besinya ke arah kepala si kakek.
Pertarungan seperti awal kembali terjadi, di mana tangan dan kaki Pengemis Batok Bolong sekuat baja dalam menangkis setiap gebukan tongkat yang bisa menghancurkan batu besar tersebut.
Akhirnya, Genggam Sekam melompat mundur. Ia lalu memutar-mutar tongkat di depan tubuh dengan cepat, seperti putaran baling-baling. Kemudian, tongkat yang berputar itu berputar sendiri karena Genggam Sekam melepas pegangannya.
Dari putaran yang kencang itu, keluar gelombang seperti asap berwarna biru. Bergerak cepat menyerang Pengemis Batok Bolong. Itu adalah ilmu Putaran Tongkat Setan. Orang yang menghirup asap birunya akan keracunan.
Namun, Pengemis Batok Bolong bisa menangkalnya. Ia gunakan sisi lesung batoknya untuk menyedot semua asap masuk ke dalam batok. Anehnya, meski batok itu kecil, tapi seperti kantong ajaib Doraemon saja. Asap yang disedot jadi menghilang tanpa teralihkan ke daerah lain.
Genggam Sekam hanya bisa terkejut.
West! Tang! Dak!
Tiba-tiba kaki kanan Pengemis Batok Bolong melakukan sepakan mengibas membabat udara kosong. Ternyata dari sepakan kaki itu melesat seberkas sinar kuning yang menghantam tongkat besi yang masih berputar. Tongkat itu langsung terpental dan menghantam badan depan Genggam Sekam.
“Akk!” pekik Genggam Sekam dengan tubuh terlempar terjengkang bersama tongkatnya.
“Kakak Ipar! Apakah hanya seperti itu kehebatanmu?!” teriak Ning Ana mengompori kekasih kakaknya itu.
“Kurang ajar, Ning Ana malah membuatku malu!” rutuk Genggam Sekam, tetapi hanya di dalam hati.
“Ayo bangun, Tongkat Berat! Tunjukkan sesumbarmu!” teriak Pengemis Batok Bolong pula.
__ADS_1
Genggam Sekam lalu bangun dan memasang kuda-kuda. Kedua tangannya menggenggam di tengah-tengah batang tongkat. Kedua genggaman itu lalu ditarik saling menjauh mengusap batang tongkat dari tengah ke arah kedua ujung tongkat. Bagian tongkat yang sudah diusap berubah jadi bersinar biru seperti lampu neon. (RH)