A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 22: Kejamnya Alma


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


“Ini seperti gerombolan kambing lawan gerombolan harimau,” kata Dengkul Geni kepada Alma, melihat berhadapannya pasukan Kademangan dengan pasukan Kadipaten. Jumlah pasukan Kadipaten dua kali lipat dari pasukan Kademangan.


“Tenaaang … tenang. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa pelan. Ia lalu maju ke depan kuda Komandan Dampuk Ulang yang berdiri di depan pasukannya.


Sambil tertawa-tawa Alma melambaikan tangan kepada Dampuk Ulang.


“Bertemu aku lagi. Hehehe!” sapa Alma.


“Bebaskan Nyi Kenanga!” perintah Dampuk Ulang.


“Sangat terlihat bahwa kau pasukan yang tidak benar. Pejabat yang sah kau hendak membunuhnya, tetapi orang yang jelas-jelas melakukan pembunuhan dan memberontak justru kau bela,” kata Alma bernada serius.


“Jangan coba-coba melawan pasukan Kadipaten, Nisanak! Salah besar jika kau berani berurusan dengan Komandan Utara Kadipaten Balongan. Dampuk Ulang!” seru Dampuk Ulang lalu menepuk dadanya merasa jumawa.


“Aku beri dua pilihan kepadamu, Komandan!” teriak Alma keras sambil menunjuk dan menatap tajam kepada sang komandan.


Bentakan itu membuat Dampuk Ulang terbeliak. Tiga puluh persen nyalinya seketika terkikis oleh gertakan Alma yang tampaknya sedang marah sungguhan.


“Pilih pulang sebagai prajurit yang baik, atau pulang sebagai mayat yang jahat!” tandas Alma tegas.


Meski nyalinya sempat ciut, ancaman serius Alma itu justru memancing kemarahan Dampuk Ulang.


“Pasukan panah!” teriak Dampuk Ulang sambil angkat tangan kanannya.


Pasukan panah yang posisinya paling belakang, segera tarik senar busurnya. Melihat hal itu, pasukan Kademangan yang tidak memiliki pasukan panah, memilih bersiap berlindung di balik tameng kayunya. Suasananya begitu tegang.


Gelis Sibening telah berlindung di dalam rumah.


“Pa …!”


Set!


Teriakan lanjutan Dampuk Ulang mendadak putus ketika Alma menarik hentak kedua tangannya. Sebab, leher Dampuk Ulang tiba-tiba jatuh dari lehernya setelah ada jeratan tajam yang tidak terlihat memotong leher itu.


Semua terkejut ngeri. Setelah kepala Dampuk Ulang jatuh ke tanah, giliran tubuhnya yang jatuh dari atas kuda dengan bersimbah darah.


Alangkah syoknya Lot melihat komandannya tewas dengan sangat mengenaskan. Hal itu membuat tubuhnya gemetar. Dahinya langsung berkeringat dengan mata liar memandang bingung.


Pasukan panah yang juga terkejut jadi bingung, apakah harus lepas panah atau batal.


Ketika Alma menunjuk wajah Dampuk Ulang, diam-diam dia melesatkan Benang Darah Dewa yang tidak terlihat dan terasa oleh Dampuk Ulang. Hingga ketika benang itu telah membuat lingkaran di sekitar leher Dampuk Ulang, benang itu tetap tidak dirasakan.

__ADS_1


Dan ketika sang komandan itu memilih pilihan yang salah, menurut Alma, maka Alma langsung menarik Benang Darah Dewa-nya, mengeksekusi. Ini pertama kalinya Alma menggunakan Benang Darah Dewa untuk memenggal leher lawan.


“Munduuur!” teriak Lot keras, panjang dan bergetar.


Lot lalu buru-buru membelokkan kepala kudanya lalu berlari pergi. Pasukannya segera menurunkan senjatanya dan berlari mengejar kuda Lot. Tinggallah mayat Dampuk Ulang tergeletak dengan kepala yang terpisah.


“Wah, kau … kau kejam sekali, Alma!” ucap Dengkul Geni yang sudah datang mendekati Alma sambil memandangi mayat Komandan Utara Kadipaten Balongan.


“Paman Dengkul mau merasakan juga kehebatan senjata benangku?” tanya Alma sambil mendelik kepada Dengkul Geni.


“Ti-ti-tidak. Hehehe!” jawab Dengkul Geni sambil tersenyum kecut. Ia jelas merasa ngeri jika sampai bernasib seperti Dampuk Ulang.


“Hahaha!” tawa Alma kembali encer. Ia lalu mengomel, “Aku kesal sekali kepada orang seperti itu. Sebagai pejabat pemerintah justru membela yang jahat. Sudah aku beri pilihan, malah menganggap aku badut. Dia meremehkan wanita cantik seperti aku!”


“Hahaha!” tawa Dengkul Geni.


“Eh, Paman Dengkul, kenapa tertawa? Paman pikir aku tidak cantik? Aku pernah menyandang gelar Penjual Ikan Tercantik di Dunia. Hahaha!” kata Alma.


Akhirnya, kemelut di kediaman Nyi Kenanga selesai. Istri kedua Demang Baremowo itu lalu digelandang dan dikurung di sebuah kerangkeng yang ada di belakang rumah Demang. Parahnya, ia dikurung berlima bersama Ninggat dan ketiga pelayannya, padahal kapasitas kerangkeng itu layaknya diisi tiga orang saja.


Nyi Bungkir kondisinya sudah ditangani oleh tabib. Panah pada lambungnya sudah dicabut. Dengan kembalinya Dengkul Geni, berarti Nyi Bungkir sudah ada yang menjaganya.


Setelah Gelis Sibening membersihkan diri, malam itu juga ia dibawa pergi ke Perguruan Jari Hitam oleh Giling Saga dan Alma Fatara. Brata Ala pun sudah mendapat penanganan dari tabib, meski kemudian kondisinya masih belum sadarkan diri.


Kondisi Brata Ala harus ditangani ulang oleh Ki Sagu Gelegak. Kepada sang guru dan para murid senior, Giling Saga harus menjelaskan apa yang terjadi terhadap mereka di tengah jalan.


“Waaah! Alma tidak mengajak kita!” keluh Debur Angkara saat tahu bahwa Alma baru pulang dari misi tengah malam.


“Iya ya, biarpun kita tidak sakit, kita juga siap beruang!” timpal Ayu Wicara yang hanya membuat Alma tertawa.


“Tidak sakti, Ayu, bukan tidak sakit!” ralat Magar Kepang.


“Bukan beruang, Ayu, tapi ber ju ang!” ralat Garam Sakti pula.


“Memang itu maksudku,” kata Ayu tanpa merasa berdosa.


“Karena begitu sayangnya aku kepada kalian, jadi aku membiarkan kalian untuk tidur nyenyak, karena besok kita akan melanjutkan perjalanan,” kata Alma.


“Oooh!” desah mereka bersamaan karena merasa terharu.


“Hahaha!” tawa Alma melihat tingkah mereka yang sok imut.


Sementara itu, tangis Gelis Sibening pecah melihat kondisi ter-update ayahnya. Ia memeluk ayahnya dan menangis di atas tubuhnya.

__ADS_1


“Apakah ibumu Nyi Kenanga menjahatimu, Gelis?” tanya Demang Baremowo.


“Dia mengikatku seperti sapi mau dipotong, Ayah,” jawab Gelis Sibening sambil menangis sesegukan.


“Jika dulu Ayah tahu bahwa dia sejahat ini, Ayah tidak akan menikah dengannya,” sesal Demang Baremowo. “Dia bahkan membayar orang untuk membunuhku.”


“Jadi Ayah percaya, kan, bahwa ini bukan perbuatan Kakang Dendeng Pamungkas?”


“Iya, Ayah percaya. Kau dan Dendeng Pamungkas sudah kami jodohkan ….”


“Hah!” pekik Gelis Sibening terkejut tidak menyangka. “Apakah Ayah bercanda?”


“Kenapa? Kau tidak mau menikah dengan pemuda pujaanmu itu?” tanya Demang Baremowo.


“Ah, tidak, hihihi!” ucap Gelis Sibening lalu tertawa malu. “Aku sangat mencintai Kakang Dendeng, tentu aku sangat ingin menikah dengannya, Ayah. Tapi ….”


“Kenapa lagi pakai tapi?” tanya Demang Baremowo heran.


“Tapi, apakah Kakang Dendeng mau menikah denganku. Sebab, ternyata di sini juga ada gadis yang sangat cantik,” kata Gelis Sibening.


“Siapa?” tanya Demang Baremowo.


“Itu, gadis yang suka tertawa itu. Apalagi dia sangat sakti,” jawab Gelis Sibening.


“Oh, Alma? Namanya Alma Fatara. Ayah yang meminta khusus kepadanya untuk memastikan keselamatanmu. Dia juga yang menolong Ayah ketika Ayah diserang oleh orang-orang bayaran Nyi Kenanga,” kata Demang Baremowo.


“Tapi wanita itu sangan kejam, Ayah,” kata Gelis Sibening.


“Kejam bagaimana maksudmu?”


“Pimpinan pasukan dari Kadipaten Balongan dia penggal lehernya tanpa menyentuhnya,” kata Gelis Sibening.


“Tanpa menyentuhnya?”


“Iya, Ayah. Bulu kakiku sampai merinding melihatnya.”


“Hahaha! Eh, kau bilang pasukan Kadipaten. Jadi ada pasukan dari Kadipaten yang datang?”


“Iya. Mereka menyerang rombongan Nyi Bungkir di tengah jalan, tapi diselamatkan oleh gadis tertawa itu. Nyi Bungkir terkena panah, dalam kondisi terluka di rumah.”


“Apakah kondisi Nyi Bungkir parah?” tanya Demang Baremowo cepat. Ia cemas.


“Hanya luka tusuk di lambung, tapi sudah ditangani oleh tabib.”

__ADS_1


“Untunglah semua masalah ini selesai,” ucap Demang Baremowo lega. (RH)


__ADS_2