A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 22: Kolam Beracun


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Sama seperti menghadapi para prajurit di pantai sebelumnya, Alma Fatara tidak begitu kesulitan mengatasi tujuh prajurit yang datang menyerang.


Dari dua arah datang berlarian tiga orang tiga orang prajurit ke arah Alma.


Sementara Debur Angkara telah memungut dua buah anak panah. Ia bergerak cepat masuk ke dalam kompleks dengan melompati pagar. Ia menyongsong tiga prajurit yang muncul dari sisi kanan. Sementara Alma menyongsong ketiga prajurit dari sisi kiri.


Ketika ketiga prajurit itu menyerang dengan pedang dan berlindung dengan tameng, Debur Angkara bermain cantik dengan cara maju sambil menjatuhkan tubuhnya berlutut. Sabetan pedang dua prajurit lewat di atas kepalanya sementara itu dia menusuk betis kedua prajurit yang tidak tertutupi tameng.


Tusk! Tusk!


“Akk! Akk!” jerit kedua prajurit yang terluka.


Satu prajurit lainnya cepat menyerang Debur Angkara. Gesit lelaki berkumis poni itu berguling maju di tanah guna mengelak.


Tusk!


“Aak …!” jerit prajurit itu ketika bokongnya mendapat dua tusukan dari anak panah. Ketika kedua anak panah itu dicabut paksa oleh Debur Angkara, si prajurit menjerit lebih keras, karena dagingnya terkoyak.


Dengan terlukanya ketiga prajurit itu, Debur Angkara di atas angin. Tidak butuh waktu lama untuk menumbangkan ketiganya.


Di sisi lain, Alma sudah lebih dulu menidurkan ketiga prajurit yang menyerangnya, bukan meniduri.


“Kang Debur, di sana ada gua,” kata Alma menunjuk sambil berjalan menghampiri Debur Angkara.


“Sudah habis prajuritnya?” tanya Debur Angkara sambil mencari-cari keberadaan prajurit lain di tempat itu.


“Baru lima belas yang mati. Tadi katanya ada dua puluh prajurit,” jawab Alma.


“Berarti masih ada, Alma,” kata Debur Angkara.


“Ayo!” ajak Alma sambil berlari menuju ke gua yang ada di sebelah bawah tebing batu.


Debur Angkara segera berlari menyusul.


Tidak ada lagi prajurit yang muncul. Namun, ketika Alma dan Debur Angkara tiba di mulut gua, tiba-tiba ada suara deru angin dari dalam gua.


Wuss!


“Awas, Kang Debur!” teriak Alma sambil melompat tinggi ke samping.


Debur Angkara yang tidak bisa mengelak harus terhempas sejauh beberapa tombak, lalu terguling-guling dan berhenti dalam posisi kepala masuk ke dalam kolam kecil. Untung tidak ada hewan air predator yang mematuk ujung hidungnya.


Ia buru-buru menarik keluar kepalanya dari air dan bangkit berdiri dengan mengerenyit kesakitan.

__ADS_1


Alma yang mendarat dengan selamat cepat memandang ke dalam gua.


Sesosok lelaki gagah berbadan atletis bak binaragawan melangkah dari dalam gua. Lelaki itu memiliki usia kisaran lima puluh tahun, lebih satu hari. Lelaki bertelanjang dada itu bersenjatakan dua pedang kecil. Panglima Pulau, itulah julukannya. Ia sudah lama mengabdi sebagai pemimpin penjaga pulau.


Di belakang Panglima Pulau berjalan lima orang prajurit lain.


“Siapa orang yang berani menyusup ke pulau ini?” tanya Panglima Pulau sambil terus berjalan mendatangi Alma.


“Aaah, tidak menyusup kok, Paman. Kami hanya tersesat. Hehehe,” kata Alma sambil tertawa cengengesan.


“Tidak peduli kau adalah gadis cantik. Pedangku tidak mengenal kecantikan!” teriak Panglima Pulau garang sambil berlari ke arah Alma.


Alma melangkah mundur-mundur sambil bersiap. Tubuh Panglima Pulau sudah melompat jauh ke arahnya.


Teng!


Panglima Pulau menebaskan kedua pedang kecilnya hendak membelah tubuh Alma. Namun, kedua pedang itu tertahan tepat di atas kepala Alma yang berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh, sementara kedua tangannya terangkat seperti memegang sesuatu.


Panglima Pulau terkejut melihat laju kedua pedangnya tertahan oleh sesuatu yang tidak terlihat di atas kepala Alma. Setelah ia fokus mengamati, ternyata kedua pedangnya tertahan oleh bentangan benang tebal berwarna merah yang dipegang kuat oleh kedua tangan Alma.


Dak!


Saat Panglima Pulau terkejut, Alma Fatara menendang perut kotak-kotak lelaki itu. Panglima Pulau hanya terdorong dua tindak, lalu kembali maju menyerang Alma.


Alma tampil gesit meladeni Panglima Pulau dengan mengandalkan Benang Darah Dewa sebagai tameng dan senjata.


Teng teng ateng …!


Alma dengan gesit menangkis semua serangan pedang Panglima Pulau.


Pada satu ketika, saat Panglima Pulau menebas dengan cara menyilang seperti gunting, Alma menghindar dengan cara melompat bersalto melewati kepala sang panglima.


“Akk!” jerit Panglima Pulau saat merasakan punggungnya ditusuk sesuatu hingga tembus ke dada.


Ketika Alma bersalto itu, ia melesatkan ujung benangnya yang menusuk punggung Panglima Pulau.


Namun, tusukan itu hanya mengejutkan Panglima Pulau. Ia cepat berbalik sambil mengibaskan pedangnya kepada Alma.


Tang! Dak!


Alma menangkis kibasan itu dengan Benang Darah Dewa-nya. Lalu kaki kanannya berkelebat cepat menghantam dagu Panglima Pulau.


Panglima Pulau terjengkang karena kuatnya tendangan Alma. Buru-buru Panglima Pulau bangkit kembali.


Set! Tus!

__ADS_1


Benang Alma kembali melesat dan menusuk dada Panglima Pulau hingga tembus ke belakang. Setelah itu, benang merah tersebut kembali tertarik pulang.


Kini di tubuh Panglima Pulau ada empat titik yang mengeluarkan darah. Dua titik di dada, dua titik di punggung. Panglima Pulau berdiri dengan kaki bergetar. Wajahnya mengerenyit menahan sakit.


Tiba-tiba dari celah bibir Panglima Pulau keluar mengalir darah. Itu terjadi karena salah satu tusukan benang ada yang menusuk jantung sang panglima.


Wuss!


Giliran Alma yang pamer pukulan anginnya. Angin kencang menderu keras menghantam tubuh kekar Panglima Pulau, membuat tubuh Panglima Pulau terbang ke belakang.


“Sambut, Kang Debur!” teriak Alma.


Tsub!


“Hekr!”


Debur Angkara yang sudah menghabisi semua pengeroyoknya, menyambut tubuh Panglima Pulau dengan tusuk tombak yang dipegangnya. Tombak itu menusuk pinggang Panglima Pulau tembus ke perut.


“Waaah, Kang Debur!” kata Alma sambil menunjuk Debur Angkara.


“Ada apa denganku?” tanya lelaki berkumis poni itu kaget dan heran melihat reaksi gadis belia itu.


“Kang Debur jadi pembantai Pulau Seribis!” kata Alma sambil mendelik.


“Kok aku, Alma? Bukankah kau yang melakukannya? Aku tidak mau menjadi orang buruan kerajaan,” kata Debur Angkara.


“Hahaha! Kang Debur benar-benar jadi seorang pendekar, bukan Pendekar Desa lagi!” kata Alma yang didahului oleh tawanya.


“Hahaha!” tawa Debur Angkara jumawa. Ia merasa bangga bisa bertarung dan mengalahkan banyak prajurit.


“Ayo, Kang Debur. Kita lihat siapa orang yang ditahan di dalam!” ajak Alma.


“Ayo!”


Keduanya segera berjalan masuk ke dalam gua. Dengan langkah yang hati-hati dan pandangan yang waspada, keduanya memeriksa sejumlah lorong dan ruang gua.


Hingga akhirnya mereka tiba pada ruangan gua yang memiliki sebuah kolam kering. Kolam itu penuh dengan hewan melata dan binatang-binatang kecil beracun. Ular-ular berbisa sangat jelas terlihat menumpuk, sampai-sampai membuat Alma Fatara dan Debur Angkara merinding melihatnya. Banyak pula hewan kecil seperti kelabang, kalajengking, hingga kodok beracun.


Hewan-hewan itu akan selalu berkumpul di dalam kolam kering, sebab di sekeliling tepian kolam itu ada parit kecil yang berisi bara dan kobaran api. Parit kecil itu bisa dengan mudah dilengkahi oleh manusia, tetapi tidak bagi hewan-hewan itu.


Sementara di tengah dasar kolam ada sebuah kerangkeng besi yang berisi seorang wanita tua. Tua karena rambut panjangnya berwarna serba putih. Ia duduk meringkuk bersandar di sudut penjaranya. Wanita berpakaian lusuh compang-camping warna merah gelap itu sedang bersama sejumlah binatang. Seekor ular hitam terlihat bergerak merayap di tubuhnya, termasuk beberapa ekor kelabang sebesar-besar ibu jari. Namun, terlihat wanita tua berkulit biru itu hanya diam. Napas teraturnya menunjukkan bahwa dia masih hidup.


“Nenek!” panggil Alma. “Nenek, apakah kau masih hidup?”


Suara wanita yang tidak pernah ia dengar sebelumnya selama ditahan di tempat itu, membuat si nenek menggerakkan kepala. Dengan gerakan yang pelan, ia mengangkat wajahnya dan memandang ke sisi atas kolam.

__ADS_1


“Siapa kau, Perempuan?” tanya si nenek dengan suara serak yang nyaris tidak terdengar.


“Dewi Penolong. Hahaha!” jawab Alma berseloroh lalu tertawa terbahak pelan. (RH)


__ADS_2