A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Papepa 29: Eksekusi Pedang


__ADS_3

*Para Petarung Panah (Papepa)*


 


Fruut!


“Ak!” pekik terkejut Alma ketika tiba-tiba Si Cantik Mabuk menyembur wajahnya dengan air yang ditahan di dalam mulut.


Alma Fatara cepat melompat mundur menjauhi Si Cantik Mabuk. Ia mengusap wajahnya dengan mengerenyit. Ia mengerenyit karena merasa agak jijik, bukan karena menderita rasa panas atau perih.


Tidak seperti nasib Arang Saga yang mengalami kerusakan kulit akibat semburan itu, wajah Alma tetap utuh tanpa kerusakan lapisan kulit sedikit pun.


“Eh, Kakak Mabuk! Permainanmu jorok!” tukas Alma.


Si Cantik Mabuk yang sudah memegang kembali kendinya, hanya terkejut melihat kekebalan wajah Alma.


“Sakti juga kau rupanya, Bocah Kencur!” kata Si Cantik Mabuk.


“Hahahak!” tawa Alma mendengar dirinya disebut “Bocah Kencur”. “Ayo, Kakak Mabuk, kita akhiri!”


Set!


Si Cantik Mabuk kembali melesatkan kendi mautnya yang bersinar hijau.


Sezt!


Alma Fatara mengibaskan tangan kanannya, melesatkan lengkungan sinar kuning tipis yang membelah kendi menjadi dua bagian. Sebelum belahan kendi itu jatuh menyentuh tanah, Alma Fatara telah berkelebat cepat maju menyerang Si Cantik Mabuk.


Si Cantik Mabuk langsung menyambut dengan hentakkan kedua tangannya.


Serss! Blarr!


Sebelum dua sinar merah berwujud bintang segi delapan melesat dari kedua telapak tangan itu, Alma Fatara telah lebih dulu merunduk begitu rendah sambil menabrak kedua kaki Si Cantik Mabuk.


Kedua sinar merah melesat jauh lalu meledak sendiri di ujung jangkauannya. Sementara Si Cantik Mabuk terbanting jatuh oleh serudukan rendah Alma.


Baru saja Alma Fatara hendak bangkit, kedua kaki Si Cantik Mabuk yang masih terbaring, berkelebat menyerangnya.


Tap! Set!


“Akk!” pekik Si Cantik Mabuk saat kakinya ditangkis oleh tangan kiri Alma lalu membeset kaki itu dengan sekali irisan tangan.


Buru-buru Si Cantik Mabuk berguling menjauhi Alma. Ia cepat bangkit berdiri dengan terpincang. Kaki kirinya terluka dan mengalirkan darah dengan deras. Sayang, Si Cantik Mabuk sudah tidak memiliki tuak.


Si Cantik Mabuk menyalakan kesepuluh jarinya. Meski dengan kaki terluka, jurus mabuk tetap sanggup untuk bertarung. Si Cantik Mabuk tidak mempedulikan luka pada kakinya.


Si Cantik Mabuk melompat dua kali dengan satu kaki, seperti bermain tapak gunung. Setelah itu ia melompat jauh dengan kedua tinju menyerang Alma.


Tap tap!


“Kena kau, Kakak Mabuk! Hahaha!” seru Alma mengejutkan.


“Bocah Siluman!” teriak Si Cantik Mabuk terkejut bukan main.

__ADS_1


Alma Fatara tidak mengelak dari tinju panas itu, tetapi justru menangkapnya dengan kedua telapak tangannya.


Beg!


Dengan begitu keras kaki kanan Alma menendang perut Si Cantik Mabuk di saat ia menahan kedua tinju lawannya.


Si Cantik Mabuk terlempar ke atas lalu jatuh berdebam dalam kondisi tengkurap. Ia menggeliat kesakitan.


Alma Fatara memang memiliki kelebihan bawaan lahir, yaitu kebal senjata tajam dan panas. Bagi lawan yang tidak tahu akan hal itu pasti akan menderita kerugian fatal. Seperti saat ini yang dialami oleh Si Cantik Mabuk.


Alma Fatara lalu berjumpalitan seperti baling-baling berjalan. Dan ketika posisinya mendekati Si Cantik Mabuk, ia melompat bersalto lewat di atas tubuh lawannya.


Jleg!


Alma Fatara mendarat dan langsung memasang kuda-kuda. Kedua tangannya agak merenggang dan jari-jarinya mengepal, seperti sedang memegang benang layangan.


Alma yang berdiri tidak jauh dari kaki Si Cantik Mabuk yang tengkurap, kini sedang memegang dua bagian Benang Darah Dewa miliknya.


Si Cantik Mabuk mendelik tiba-tiba, saat merasakan lehernya seperti dililit tali yang sangat tipis tapi kuat. Bahkan ia sudah merasakan rasa perih karena ada kulit lehernya yang sudah teriris. Ia tidak tahu apa yang mencekiknya, tetapi itu sangat tajam. Karenanya, ia tidak berani bergerak, sebab benda yang melilitnya tidak bertambah kencang.


“Kakak Mabuk, aku tinggal menarik sedikit Benang Darah Dewa milikku, maka lehermu akan putus. Kau pilih mana, mati atau penuhi satu permintaanku?” tawar Alma.


“Bodoh jika aku memilih mati,” jawab Si Cantik Mabuk dengan perasaan ngeri-ngeri merinding. Sebab, bisa saja Alma tahu-tahu digigit nyamuk, lalu menggaruk dan tanpa sadar menarik Benang Darah Dewa. Maka itu sangat berbahaya.


“Tapi Kakak Mabuk harus berjanji akan memenuhi permintaanku? Permintaanku tidak lebih buruk dari kehancuran kendimu,” kata Alma lagi untuk memastikan bahwa Si Cantik Mabuk tidak akan main akal-akalan terhadapnya.


“Iya, aku berjanji akan memenuhi permintaanmu,” jawab Si Cantik Mabuk.


Si Cantik Mabuk segera bergerak bangkit dengan terpincang. Rasa sakit akibat tendangan keras Alma sudah berkurang. Yang tersisa adalah rasa sakit pada kaki dan perih pada leher. Terlihat jelas ada darah yang mengalir di leher putih Si Cantik Mabuk.


Sementara itu di pusat pertarungan lain, Pendekar Mata Ular dan Jenjer Mahesa begitu tangguh bagi para prajurit dan komandan prajurit.


Blar blar blar!


Ketika Pendekar Mata Ular menghentakkan kedua lengannya ke bawah, tercipta ledakan tanah di sekitar mereka. Sejumlah prajurit yang mengepung berpentalan dan jatuh berjengkangan.


Pada satu kesempatan, Komandan Gendas Pati dan Komandan Rewa Segili berkelebat dengan pedang terhunus kepada Jenjer Mahesa.


Bak! Bak!


Namun, kedua komandan pasukan itu terpental jatuh ke belakang saat pukulan jarak jauh tanpa wujud dilepaskan oleh Jenjer Mahesa. Pukulan itu menghantam dada keduanya. Sementara Lot pun tidak banyak berguna, karena memang kemampuannya tidak lebih tinggi dari dua komandan.


Bak bik bok! Bak bik bok!


Para prajurit satu per satu dihajar oleh Pendekar Mata Ular. Mata ularnya sangat jeli menangkap pergerakan serangan.


Wus wus wus …!


Setelah dihantam oleh pukulan jarak jauh, giliran Komandan Rewa Segili yang beraksi. Ia melompat naik ke udara, lalu menghentakkan kedua lengannya bergantian ke arah posisi Jenjer Mahesa. Maka berlesatan bayangan-bayangan telapak tangan berwarna hijau gelap.


Zreet!


Jenjer Mahesa juga cepat menghentakkan kedua telapak tangannya, mengeluarkan ilmu perisai berwujud sarang laba-laba warna biru. Maka, semua bayangan telapak tangan Komandan Rewa Segili menghantam perisai di depan tubuh Jenjer Mahesa. Tidak ada efek apa pun yang diciptakan.

__ADS_1


Sets!


Tiba-tiba di udara melesat sebilah keris berwarna perak yang dilapisi sinar merah bening. Kemunculan keris itu mengejutkan Jenjer Mahesa dan yang lainnya. Namun, Jenjer Mahesa tetap yakin bahwa ilmu perisainya bisa menahan keris milik Panglima Ragum Mangkuawan tersebut.


Tes!


Dan ternyata memang benar, ilmu perisai jaring laba-laba menghentikan laju keris perak. Namun, kemudian terjadi adu ketahanan.


Keris perak bersinar merah bening terus menekan berusaha menjebol perisai sarang laba-laba. Jenjer Mahesa sadar bahwa keris yang mendesaknya itu lebih kuat dari kekuatan perisainya. Ia pun menyiapkan hal yang lain.


Bress! Blar!


“Aakk!” jerit Jenjer Mahesa.


Akhirnya keris perak berhasil menjebol perisai jaring laba-laba dan melesat cepat menusuk ke tubuh Jenjer Mahesa. Namun, sebelum itu terjadi, tangan kanan Jenjer Mahesa telah berbekal sinar merah berpijar yang dihantamkan kepada keris yang datang.


Namun akhirnya, kesaktian di tangan Jenjer Mahesa tidak berfungsi bagi si keris. Justru keris itu menancap tembus di telapak tangan Jenjer Mahesa. Karenanya Jenjer Mahesa menjerit kesakitan.


“Pasukan Kadipaten mundur semua!” teriak Panglima Ragum Mangkuawan yang telah hadir di tengah-tengah titik pertarungan.


Maka, kedua komandan pasukan dan Lot, memerintahkan pasukannya untuk mundur semua, termasuk mereka bertiga.


“Pasukan Keluarga Kerajaan, ringkus pemanah Gusti Pangeran itu!” perintah Ragum Mangkuawan kepada enam belas prajuritnya yang sudah tidak berkuda.


Set!


“Aak!” jerit Jenjer Mahesa lagi saat keris yang menancap di tangannya tercabut sendiri lalu melesat pulang kepada Ragum Mangkuawan.


Pasukan Keluarga Kerajaan segera mengepung Jenjer Mahesa yang satu tangannya sudah terluka.


Sementara itu, Ragum Mangkuawan kini berhadapan dengan Pendekar Mata Ular.


Melawan Ragum Mangkuawan jelas bukan level Pendekar Mata Ular. Ingat, Ragum Mangkuawan adalah seorang panglima tinggi Kerajaan Singayam. Memiliki kesaktian tinggi adalah salah satu syarat wajib bagi seorang panglima di Kerajaan Singayam.


Jenjer Mahesa kini harus berjuang keras. Kini ia bukan berhadapan dengan prajurit Kadipaten, tetapi prajurit pasukan khusus yang memiliki keahlian ilmu olah kanuragan di atas pasukan biasa. Satu prajurit Pasukan Keluarga Kerajaan sama nilainya dengan satu orang komandan pasukan biasa.


“Eksekusi Pedang!” teriak seorang prajurit memberi komando.


Tiba-tiba keenam belas prajurit berseragam kuning kunyit itu melemparkan pedangnya ke udara.


Set set set …!


Mengejutkan, pedang-pedang itu langsung berlesatan terbang seperti burung dan dari segala arah menyerang Jenjer Mahesa.


Alangkah terkejutnya Jenjer Mahesa. Ia sungguh tidak mengira akan mendapat serangan pedang terbang sebanyak itu.


Jenjer Mahesa mengerahkan kecepatan terbaiknya untuk menghindar. Jika seandainya dia menggunakan ilmu perisai jaring laba-labanya, itu hanya bisa melindungi satu sisi.


Set set set …!


“Akk! Ak! Akh ...!”


Beberapa pedang melesat menyayat-nyayat tubuh Jenjer Mahesa, membuatnya menjerit berulang-ulang. Pada akhirnya, tiga pedang menusuk tembus tubuh Jenjer Mahesa dari berbagai arah. Maka berakhirlah pemanah sang pangeran itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2