A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 14: Demang Siuman


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Demang Baremowo akhirnya tersadar dari pingsannya. Ketika ia membuka mata, objek yang pertama dilihatnya adalah keindahan, yaitu wajah cantik Ayu Wicara, meski ada warna memar pada wajah putihnya.


Ayu Wicara menempatkan wajahnya di atas wajah Demang Baremowo, maksudnya tidak menempel, tapi berjarak sejangkauan tangan. Ayu Wicara memandangi wajah Demang seperti memandangi wajah makhluk alien. Ia memandangi dengan penuh serius sampai keningnya mengerut karena begitu beratnya kebodohannya.


Meski Ayu sudah melihat mata Demang Baremowo terbuka, tetap saja ia mengulurkan jari telunjuknya dengan perlahan, bermaksud mencolok bola mata lelaki berkulit putih tersebut.


“Apa yang kau lakukan?!” bentak Demang Baremowo sambil menepis tangan Ayu Wicara dengan gerakan yang lemah. Hal itu membuat lukanya di lengan terasa sakit. “Akk!”


Ayu Wicara terkejut oleh reaksi Demang Baremowo. Ia segera tegak setelah membungkukkan kepalanya di atas tubuh Demang.


“Demang sudah ciuman!” kata Ayu Wicara kepada Magar Kepang dan Garam Sakti yang turut ada di kamar itu.


“Hahaha!” tawa Magar Kepang dan Garam Sakti mendengar kata-kata Ayu Wicara.


“Kau saja yang mencium Demang. Hahaha!” kata Garam Sakti lalu tertawa lagi.


Magar Kepang yang selevel usia dengan Demang Baremowo menghampiri dipan.


“Syukurlah Gusti Demang sudah siuman. Berarti masa di ambang kematian sudah berlalu,” ujar Magar Kepang.


Demang Baremowo sejenak mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat kondisinya yang menyedihkan. Ia dalam kondisi tidak berbaju. Ada kain yang diatur sedemikian rupa sehingga membentuk pola balutan pada bahu, lengan, dan badan yang membalut luka pada punggung. Demang Baremowo juga merasakan betisnya perih karena di sana memang ada luka sayatan pedang.


“Ya, aku ingat kalian. Orang-orang yang penakut dan tidak mau menolongku,” ucap Demang Baremowo datar.


“Eh! Kenapa kau bicara seperti itu, Gusti Demang?” hardik Magar Kepang agak sewot. “Kami telah menolongmu!”


“Orang yang menolongku adalah gadis cantik itu,” bantah Demang Baremowo.


“Maksudmu aku, Gusti Benang?” tanya Ayu Wicara seraya tersenyum manis.


“Hahaha! Dasar Yuyu!” rutuk Garam Sakti sambil mendorong kepala Ayu Wicara dari belakang. “Bukankah kau yang lebih dulu mundur saat didatangi Gusti Demang?”


“Ah, itu kan masa layu, tidak usah dibahas,” kata Ayu Wicara enteng.


“Masa lalu, bukan masa layu sebelum berkembang, Ayuuu!” ralat Magar Kepang agak kesal.


“Di mana ini?” tanya Demang Baremowo. Ia asing dengan bilik itu.


“Kau ada di tempat yang kau benci, Demang. Kau berada di Perguruan Jari Hitam,” kata seorang tua yang datang dari luar kamar. Ia melangkah masuk langsung mendekati tempat Demang berbaring.


Lelaki tua itu bertubuh tinggi dan cukup gemuk. Ia mengenakan pakaian warna hitam-hitam. Kepalanya yang berambut putih diikat dengan lilitan kain warna biru gelap. Kakek berkumis panjang tapi tidak berjenggot itu membawa sebuah kotak kayu seperti kotak P3K, tapi lebih besar dan lebih berat, tapi juga lebih kecil dari koper travel. Dialah yang dikenal dengan nama Ki Sagu Gelegak, tabib di Perguruan Jari Hitam.

__ADS_1


Terkejutlah Demang Baremowo mengetahui kini ia berada di mana. Ia berusaha untuk bangun dengan wajah mengerenyit sakit.


Magar Kepang, Garam Sakti dan Ayu Wicara segera bergeser untuk memberi ruang bagi sang tabib.


“Kau harus banyak istirahat, Demang. Luka dalammu justru membuat empat luka pedangmu butuh waktu untuk kering,” kata Ki Sagu. “Jika kau tidak suka tempat ini, besok kau baru aku izinkan untuk pergi.”


“Kenapa Gusti Benang tidak suka di sini, Ki?” tanya Ayu.


“Gusti Demang, Ayu. Bukan Gusti Benang. Hehehe!” ralat Ki Sagu dengan nada yang bijak.


“Iya, maksudku itu, Ki,” kata Ayu Wicara.


“Aku tidak berhak menjawab, Ayu,” kata Ki Sagu sambil membuka kotak kayunya yang cara membukanya seperti brangkas, sebab ada tonjolan kayu bulat seperti ban mainan yang diputar-putar sehingga kotak itu terbuka. Ketika terbuka, ternyata isinya berbagai macam bahan obat herbal.


“Karena orang-orang Jari Hitam selalu mengganggu kebijakanku. Apalagi muridnya mungkin menculik putriku!” kata Demang Baremowo menjawab pertanyaan Ayu Wicara.


“Oh, putrimu yang bernama Gelas Sibeling itu?” tanya Ayu Wicara yang teringat alasan Gibas Madar digantung di pohon.


“Hahaha!” tawa Magar Kepang dan Garam Sakti. Sementara Ki Sagu hanya terkekeh mendengar penyebutan Ayu Wicara yang selalu terpeleset, padahal tidak becek.


“Gelis Sibening, Ayu. Orangtuanya memberi nama pakai acara ronggengan tujuh hari tujuh malam, kau seenaknya saja mengubah namanya. Gelis Sibening, yaitu kecantikan yang bening,” kata Magar Kepang.


“Sepertinya aku menyebutnya benar, yaitu Gelis Sibening,” kata Ayu Wicara. Lalu kata Ayu kepada Demang, “Aku rasa kau memang salah, Gusti Benang. Aku sebagai warga Desa Turusikil, merasakan kebijakanmu yang membuat rakyat terbebani.”


“Jangan bicara kacau kau!” hardik Demang Baremowo.


“Aak!” jerit Demang Baremowo.


“Awas jika aku sembuh!” ancam Demang Baremowo kepada Ayu.


“Aku yang akan lebih dulu membunuhmu!” kata Ayu Wicara lalu mencabut pedangnya dengan mata melotot dan mulut monyong.


“Eeeh, apa-apaan kau, Ayu?” hardik Garam Sakti lalu mengangkat tubuh Ayu Wicara begitu saja dengan kedua tangannya, lalu membawanya ke luar.


Namun, langkah Garam Sakti jadi terhenti karena di ambang pintu telah muncul Alma Fatara dan Debur Angkara. Keduanya terbelalak mendapati Ayu Wicara digendong mesra oleh Garam Sakti.


“Aku jadi bingung. Sebenernya Ayu kekasih Kang Garam atau Kang Debur?” tanya Alma.


“Bukan kekasihku!” jawab Debur Angkara cepat.


“Bukan kekasihku juga!” kata Garam Sakti pula sambil melepas bebas tubuh Ayu dari kedua tangannya.


Buk!

__ADS_1


“Aww!” jerit Ayu Wicara saat tubuhnya jatuh begitu saja di lantai papan yang keras.


“Hahahak!” tawa Alma dan Debur Angkara terbahak bersama melihat nasib Ayu Wicara.


“Kang Garaaam!” teriak Ayu Wicara marah sambil membabatkan pedang yang dalam kondisi terhunus.


Garam Sakti dengan gesit melompat mundur menghindari sabetan pedang itu. Gagal melukai Garam Sakti, Ayu segera bangkit sambil memegangi bokongnya.


Alma masih tertawa, tetapi ia berjalan masuk menemui Demang Baremowo dan Ki Sagu Gelegak.


“Bagaimana kondisimu, Paman Demang?” tanya Alma yang berhenti berdiri di sisi Ki Sagu Gelegak.


“Aku masih hidup,” jawab Demang Baremowo.


“Hahaha!” tawa Alma mendengar jawaban Demang Baremowo. “Aku bertanggung jawab sampai kau kembali ke keluargamu, Paman Demang. Setelah itu, aku akan pergi melanjutkan perjalanan.”


“Demang baru bisa pulang besok. Biarkan kondisinya sedikit membaik,” kata Ki Sagu sambil meletakkan sebuah tabung bambu mini yang memiliki penutup di sisi bantal Demang. Lalu katanya, “Isinya pil untuk mempercepat keringnya lukamu, Demang.”


“Siapa namamu, Nak?” tanya Demang Baremowo kepada Alma Fatara.


“Alma Fatara, Paman Demang,” jawab Alma sambil tersenyum lebar.


“Terima kasih sudah menolongku, Alma,” ucap Demang Baremowo.


“Hahaha. Aku melakukan sesuai yang kau pinta, Paman. Tapi apakah kau tahu, Paman, penolong sebenarnya adalah murid-murid Perguruan Jari Hitam. Di saat-saat kami kewalahan, mereka datang membantu. Makanya Paman Demang dibawa ke sini,” jelas Alma Fatara.


“Oh.” Demang Baremowo hanya mendesah singkat. Lalu tanyanya, “Tapi, apakah putriku Gelis Sibening ada di sini?”


“Tidak ada. Murid-murid perguruan sedang pergi mencari Dendeng Pamungkas dan Gelis Sibening,” jawab Ki Sagu Gelegak.


Tong tong tong …!


Tiba-tiba terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Bukan hanya satu kentongan, tetapi sampai tiga. Suasana langsung berubah bising dan hiruk-pikuk. Terdengar suara langkah kaki beberapa murid yang lewat di depan kamar itu. Langkahnya tergesa-gesa, setengah berlari.


Demang Baremowo, Alma Fatara dan rekan-rekannya terlihat diam menyimak suara keramaian itu.


“Tanda apa itu, Kek?” tanya Alma kepada Ki Sagu Gelegak.


“Tanda ada musuh yang akan datang menyerang,” jawab Ki Sagu tenang.


Seseorang tiba-tiba muncul di ambang pintu. Seorang pemuda tampan. Ia adalah Giling Saga.


“Alma, pasukan Kademangan dalam jumlah besar sedang menuju ke sini!” kata Giling Saga.

__ADS_1


Orang yang paling terkejut adalah Demang Baremowo.


“Tapi kenapa sepertinya panik? Bukankah di sini ada Paman Demang?” tanya Alma. (RH)


__ADS_2