A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 19: Penyergapan Pisau Merah


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Setelah bermalam di pinggir sungai, Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara melanjutkan perjalanan untuk menyusul Alma Fatara dan yang lainnya. Mereka kehilangan satu kuda, yaitu kuda milik Magar Kepang. Karenanya, Debur Angkara satu kuda dengan Magar Kepang. Kuda yang mereka tunggangi pun mau tidak mau harus bersabar.


Ketika matahari mulai naik, barulah mereka tiba di Desa Rawabening.


“Kita cari ke mana, Ki?” tanya Debur Angkara. Mereka berhenti sejenak di pinggir jalan.


“Bapak pernah lihat Amal ada di desa ini?” tanya Ayu Wicara kepada seorang warga yang dijumpainya.


“Hah? Amal? Amal siapa ya, Nak?” tanya warga lelaki itu.


“Amal yang pakai batu hitam dan orangnya jentik seperti aku,” jelas Ayu Wicara.


“Hah? Jentik itu apa ya, Nak?” tanya si bapak lagi, tetap bingung.


“Wah, Bapak tidak lulus hujan (ujian)!” gerutu Ayu Wicara.


“Lulus hujan itu apa ya, Nak?” tanya si bapak lagi.


“Baik, Pak. Terima kawin (kasih), Pak,” ucap Ayu Wicara menyerah.


“Siapa yang kawin ya, Nak?” tanya si bapak.


“Aku, Bapaaak!” jawab Ayu kesal.


“Semoga banyak anak ya, Nak,” doa si bapak.


“Iya, iya, iya,” ucap Ayu seraya tersenyum canggung.


Bapak itu lalu melangkah pergi.


“Ayuuu!” teriak Magar Kepang.


Ayu Wicara menengok kepada Magar Kepang.


“Jangan bertanya kepada orang!” seru Magar Kepang.


“Kalau tidak bernyawa, bagaimana bisa tahu?” kata Ayu.


“Kalau tidak bernyawa, kau mati! Hahaha!” celetuk Debur Angkara lalu tertawa.


Set set set!


“Awaaas!” teriak Ayu Wicara terkejut ketika sudut matanya melihat gerakan beberapa orang lelaki berpakaian merah-merah.


Ting ting ting!


Debur Angkara sigap bergeser ke depan Magar Kepang sambil menangkis dua pisau merah yang melesat terbang menargetkan mereka. Dua pisau merah itu patah saat dibabat oleh mata Golok Setia. Sementara Ayu Wicara menggeser posisi pedang besarnya sehingga bisa menangkis satu pisau yang menyerangnya. Pisaunya pun jatuh ke tanah.

__ADS_1


Selanjutnya, sebanyak sepuluh lelaki berseragam merah-merah mendatangi Magar Kepang. Mereka adalah murid-murid Perguruan Pisau Merah. Mereka dipimpin oleh Sungiran, salah satu murid utama di perguruan.


“Mereka adalah teman-teman gadis yang membunuh Ketua Dua. Seraaang!” perintah Sungiran.


Maka sembilan orang yang bersama Sungiran berlari maju. Mereka masing-masing menggenggam dua pisau merah.


Tanpa berteriak sesuara pun, Magar Kepang berlari kencang untuk menyelamatkan diri. Dia tidak tahu berlari ke arah mana, yang penting dia berlari menyelamatkan diri. Sebanyak tiga orang murid perguruan mengejarnya.


Ada tiga murid pula yang mengeroyok Debur Angkara dan tiga juga yang mengeroyok Ayu Wicara. Sementara Sungiran hanya berdiri menonton.


Ayu Wicara menjadikan pedang besarnya sebagai tonggak yang ia berdirikan dengan memegangnya satu tangan di sisi gagangnya. Ia bergerak menghindar di sekitar pedangnya saja yang berdiri. Ia bergerak selalu berusaha berseberangan pedang dengan para penyerangnya, sehingga musuh terhalang oleh keberadaan pedang berbilah lebar tersebut.


Ting ting ting!


Ayu Wicara memiringkan ke kanan dan ke kiri pedangnya demi menangkis tusukan-tusukan pisau.


Dak! Set!


“Akk!”


Tidak mungkin Ayu Wicara hanya bertahan dengan menghindar dan menangkis. Ia pun harus melakukan serangan balasan.


Maka pada satu kesempatan, kaki kanan Ayu menyepak sisi lebar pada ujung pedangnya yang menancap di tanah. Maka ujung mata pedang itu tersentak menggores kaki satu lawan yang posisinya di depan pedang. Lukanya cukup serius karena pedang yang mengenainya berat sehingga goresannya dalam.


Selanjutnya, Ayu Wicara mempertahankan gaya tarungnya dengan menjadikan pedangnya sebagai tiang.


Set! Set!


“Aak! Akk!”


Setelah mematahkan pisau-pisau lawan, Debur Angkara melanjutkan dengan serangan golok di saat pemilik pisau terkejut. Pada masa terkejut itulah menjadi titik lemah murid Perguruan Pisau Merah.


Dua dari tiga pengeroyok Debur Angkara terkena bacokan golok. Terkena senjata tajam sudah hal biasa bagi murid-murid Perguruan Pisau Merah, tetapi terkena golok unggulan itu tidak biasa.


Ketika kedua orang yang terkena Golok Setia mau terus melanjutkan pertarungan, mereka tiba-tiba merasakan rasa yang begitu perih dan panas pada luka mereka. Rasa sakitnya membuat mereka terganggu.


“Aak!” erang mereka sambil memilih duduk memegangi lukanya pada lengan dan paha.


Maka tinggallah satu orang lawan Debur Angkara.


Ting ting!


Kembali golok Debur Angkara mematahkan kedua pisau yang dipegang lawannya. Namun, ketika Debur Angkara mencoba membacok, lawannya dengan cepat melompat mundur sambil melesatkan dua pisau merah lain miliknya.


Ting ting!


Namun, Debur Angkara masih sanggup menangkis. Bahkan pisau yang menyerang ke wajah tertangkis sambil mata terpejam karena ngeri.


Set set!

__ADS_1


Dalam durasi yang begitu rapat, dua pisau merah kembali terbang dari orang yang sama.


Ting! Bset!


“Akk!” pekik tertahan Debur Angkara saat satu pisau berhasil ia tangkis, tetapi satu pisau lagi berhasil menyambar kulit lengan kiri.


Darah pun mengalir dari luka Debur Angkara.


Lawan Debur Angkara tahu-tahu sudah berkelebat menerjang.


Bak!


Telak. Terjangan cepat itu tahu-tahu sudah mendarat di dada Debur Angkara. Ia pun terjengkang keras dan cukup jauh. Buru-buru Debur Angkara memfokuskan pandangannya kepada lawannya. Ternyata lawannya telah membuat kedua telapak tangannya membara merah seperti lampu neon.


Ses! Blar!


Ketika lawan Debur Angkara menghentakkan lengan kanannya, dari telapak tangannya melesat sinar merah berwujud pisau. Buru-buru Debur Angkara berguling, membuat tanah yang ditinggalkan tubuhnya meledak berhamburan. Meski tidak terkena, tetapi tubuh Debur Angkara terpental kecil.


Zerzz!


Ketika lawan Debur Angkara ingin menyerang lagi dengan ilmu yang bernama Tapak Pisau Merah, tiba-tiba selarik sinar hijau melesat panjang tanpa putus dan mengenai bokongnya.


“Aaak! Panaaas!” jerit lelaki lawan Debur Angkara.


“Hahahak!” Terdengar tawa khas Alma Fatara.


Alma Fatara yang datang bersama Garam Sakti dan Ning Ana tertawa menertawakan lelaki yang kebakaran pada pakaian bagian bokongnya. Lelaki itu buru-buru berlari pergi mencari sesuatu untuk memadamkan api di tubuh bawahnya. Akhirnya dia menemukan kubangan air tempat kerbau biasa berendam.


Garam Sakti yang telah menggunakan keris saktinya menyerang lawan Debur Angkara.


Sementara itu, Ayu Wicara masih dikeroyok oleh tiga orang, satu orang bertarung dengan terpincang.


“Kakang Adipaksa! Apa maksudmu menyerang teman-temanku?” seru Alma sambil melangkah kepada Sungiran.


“Namaku Sungiran, bukan Adipaksa!” ralat Sungiran dengan melotot.


“Oh rupanya sudah ganti nama,” kata Alma Fatara. “Apa maksud Kakang mengusik sahabat-sahabatku? Guru kalian saja tidak mengusik aku sedikit pun!”


“Kepandaianmu berbicara telah mengelabui guru kami. Bagaimanapun, kau adalah pembunuh Ketua Dua!” tukas Sungiran.


“Aaa! Panaaas!” teriak salah satu lelaki lawan Ayu Wicara saat api hijau membakar pula bokongnya, setelah diserang oleh sinar hijau dari Keris Petir Api. Dia mengikuti jejak temannya lari masuk ke kubangan.


“Hentikan, Kakang! Kami tidak mau membunuh murid-murid Perguruan Pisau Merah!” seru Alma.


Sungiran terdiam sejenak.


“Hentikan!” teriak Sungiran akhirnya.


Maka, pengeroyokan terhadap Ayu Wicara pun berhenti. Mereka yang terluka segera mundur ke dekat seniornya. (RH)

__ADS_1


__ADS_2