A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 17: Mengeroyok Alma


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Pertarungan lebih sengit terjadi antara Alma Fatara yang dikeroyok oleh Merah Matang dan Wanita Kipas Melati.


Merah Matang langsung menggunakan pedang merahnya dan Wanita Kipas Melati menggunakan dua kipas putihnya.


Alma Fatara bertarung dengan serius. Ia mengandalkan kecepatan gerak, Benang Darah Dewa dan semua sumber daya saktinya.


Di sini pulalah Merah Matang dan Wanita Kipas Melati harus mengakui ketinggian ilmu Alma Fatara yang masih berusia belasan tahun.


Pedang Merah Matang dan kipas Wanita Kipas Melati sama-sama mengandalkan ketajaman.


Alma Fatara yang antitajam meladeni kedua jenis senjata itu dengan gerakan-gerakan yang halus, tapi tidak mengajak adu tebas dengan pedang dan tidak mengajak adu sayat dengan kipas.


Pada saat yang bersamaan, Benang Darah Dewa bertarung pula. Namun, untuk dua lawan kali ini, mereka bisa melihat keberadaan Benang Darah Dewa. Meski demikian, Merah Matang dan Wanita Kipas Melati merasa kewalahan menghadapi serangan Benang Darah Dewa yang memiliki arah serangan sendiri.


“Akk!” jerit tertahan Merah Matang saat tangannya yang menggenggam pedang ditusuk beberapa kali oleh Benang Darah Dewa.


Sampai-sampai pedang itu terlepas dari genggaman. Namun, tangan kiri Merah Matang cepat mengambil alih pedang dan langsung menyerang Alma, membuat Alma terpaksa mundur menghindar dan beralih menyerang Wanita Kipas Melati.


Tek tek tek …!


Ketika Benang Darah Dewa menyerang dengan tusukan berulang menyerang Wanita Kipas Melati, benang sakti itu ditangkis menggunakan kipas putih.


Bak bak bak!


Kipas yang fokus menangkis serangan Benang Darah Dewa, membuat Alma bisa menyarangkan pukulannya ke dada Wanita Kipas Melati beberapa kali.


Alangkah terkejutnya Wanita Kipas Melati ketika pukulan Alma berhasil masuk ke dadanya secara beruntun. Namun, ia juga terkejut karena merasa aneh, pukulan Alma yang keras tidak memberi efek luka sedikit pun.


Alma Fatara memang menggunakan ilmu Tapak Rambat Daya, jadi tidak bisa melukai seseorang jika didaratkan langsung ke tubuh lawan.


Namun, Alma Fatara seolah tidak peduli, ia melanjutkan pertarungannya menepis datangnya tusukan pedang tanpa takut terluka. Seiring itu, Benang Darah Dewa kembali menyerang Merah Matang.


Merah Matang memilih mundur menjauhi serangan Benang Darah Dewa. Mundurnya Merah Matang, membuat Alma alihkan serangan Benang Darah Dewa kepada Wanita Kipas Melati.


Tek tek tek!


Pak!


“Hukr!”

__ADS_1


Wanita Kipas Melati menangkis serangan Benang Darah Dewa dengan hadangan kipas putihnya yang sekuat baja. Pada saat yang bersamaan, serangan telapak tangan Alma mengarah dada lawan.


Meski tadi pukulan Alma yang mengenainya beberapa kali tidak memberi luka sedikit pun, Wanita Kipas Melati tetap menangkis pukulan Alma Fatara dengan kipas putihnya yang satu lagi.


Namun, alangkah terkejutnya Wanita Kipas Melati. Tangkisannya justru seolah tidak berfungsi. Tenaga besar pukulan Alma bisa langsung menghantam tubuhnya. Terbukti ia langsung menyemburkan darah dengan tubuh terpental.


Merah Matang pun terkejut melihat Wanita Kipas Melati seolah dengan mudahnya dihajar.


Sambil meneriakkan kemarahannya, Merah Matang maju dengan tubuh berputar cepat seperti gangsing. Jika Merah Matang berputar saja tanpa senjata mungkin tidak begitu berbahaya, tetapi dia berputar menggunakan pedang.


Tak! Cescesces!


Paks!


"Hukh!”


Alma Fatara memilih menghentikan putaran tubuh Merah Matang, membuat lelaki merah itu terkejut. Sebab, ia terhenti karena Alma menangkis pedangnya hanya dengan batang tangan. Alma tidak terluka tebasan sedikit pun, padahal jenis pedang itu bukan kaleng-kaleng.


Pada saat itulah, Benang Darah Dewa melesat ke arah dada Merah Matang. Si kakek yang bisa melihat pergerakan dua ujung Benang Darah Dewa, cepat mengirimkan telapak tangan kiri yang bersinar merah, memblokir serangan benang itu.


Namun, seiring itu, Alma mengirimkan satu pukulan tangan kiri yang menerobos masuk menghantam dada Merah Matang. Si kakek mengeluh sambil terjajar dua tindak.


Bak bak bak!


“Hahahak!” tawa terbahak Alma karena berhasil menghajar Merah Matang.


Karena serangan Alma yang menghajarnya tidak begitu berbahaya, Merah Matang pun segera bangkit dan siap menyerang lagi.


Set set!


Sebelum Merah Matang menyerang lagi dengan pedangnya, dua benda tipis berwarna putih melesat terbang berputar-putar menyerang Alma dari sisi belakang.


Sambil melompat menghindar di udara, Benang Darah Dewa melesat cepat menangkap dua benda yang merupakan kipas putih. Kedua kipas itu dililit oleh si benang, lalu dikendalikan untuk menyerang Merah Matang.


Ting! Bset!


“Hahahak!” tawa Alma lagi ketika melihat satu kipas ditangkis dan satu lagi berhasil merobek lambung Merah Matang, tetapi hanya kain bajunya yang robek lebar.


Namun, itu cukup membuat si kakek merah terkesiap.


Set set!

__ADS_1


Kedua kipas putih yang masih tertaut pada Benang Darah Dewa lalu dilesatkan pulang kepada Wanita Kipas Melati. Kedua kipas itu melesat lepas dari benang dan menyerang tuannya sendiri.


Wanita Kipas Melati yang masih terluka parah, masih bisa dengan lihai menangkap senjatanya sendiri.


Sezt! Bsert!


Namun, Wanita Kipas Melati tidak berdaya, ketika ia menangkap kedua kipasnya kembali, Alma Fatara justru melesatkan ilmu Sabit Murka.


Sinar kuning tipis melengkung seperti sabit melesat dan langsung menghantam Wanita Kipas Melati. Perempuan itu hanya bisa menangkis dengan kembangan dua kipasnya. Namun, ilmu Sabit Murka terlalu kuat. Meski ditangkis, itu hanya mengubah cara mati Wanita Kipas Melati.


Jika serangan sinar kuning sabit itu tidak ditangkis, maka pastilah tubuh Wanita Kipas Melati akan terpotong dua. Namun, karena sinar kuning sabit itu ditangkis, maka tubuh Wanita Kipas Melati jadi dibuat terlempar keras.


Blugk!


“Adiiik!” teriak Merah Matang terkejut saat melihat tubuh wanita berpakaian putih jatuh berdebam di tanah, kemudian diam tidak bergerak.


Merah Matang cepat berkelebat di udara dan mendarat di dekat tubuh Wanita Kipas Melati yang telah tewas.


“Adik! Adik!” sebut Merah Matang sambil memangku kepala Wanita Kipas Melati di pahanya. Setelah pasti bahwa adik seperguruannya telah tewas, maka berteriaklah Merah Matang, “Aaa …!”


Ia kemudian memandang kepada Alma dengan penuh amarah. Wajahnya memerah legam menahan rasa frustasi.


“Bagaimana mungkin bocah sekecil itu bisa membunuh Kipas Melati dengan mudah?” desis Merah Matang.


“Pertarungan pendekar dan perang itu kejam, Kek. Jangan jadi pembunuh jika tidak siap untuk dibunuh,” kata Alma sambil berjalan mendekat dengan tenang.


“Kau memang benar, Bocah!” kata Merah Matang, lalu perlahan meletakkan kepala Wanita Kipas Melati di tanah. Ia pun bangkit berdiri.


Set!


Pedang Merah Matang melesat terbang langsung menyerang Alma Fatara. Mudah bagi Alma Fatara menghindar hanya dengan memiringkan tubuhnya.


Ses ses!


Selanjutnya, Merah Matang menyalakan kedua telapak tangannya dengan sinar merah bulat.


Swess Swess!


Melihat aksi Merah Matang, Alma pun melakukan hal serupa, tapi beda ilmu yang dikeluarkan.


Kini pada kedua telapak tangan alma bercokol sinar emas menyilaukan mata.

__ADS_1


“Kita adu kuat, Kakek Merah!” seru Alma Fatara. (RH)


__ADS_2