
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
Pagi itu, rombongan Alma Fatara yang berniat pergi ke Rawa Kabut di sebelah barat Gunung Alasan, berangkat melanjutkan perjalanannya kembali.
Kali ini mereka bertambah anggota dan rombongan terlihat lebih ramai. Meski hanya tambah satu orang, tetapi kuda tambah tiga ekor.
Anggota baru mereka adalah Ayu Wicara yang cantik, semakin membuat Debur Angkara dan Garam Sakti kian bersemangat. Atas permintaan ayahnya, Ayu Wicara sangat dianjurkan ikut Alma Fatara agar bisa menempa kesaktian lebih hebat lagi.
Sebagai rasa terima kasih warga Desa Turusikil karena telah dibebaskan dari penjajahan kelompok perampok, Alma dan rombongan diberi tiga ekor kuda. Jadi, Warna Mekararum dan Alma tetap mengendarai pedati yang dikusiri oleh Garam Sakti, sementara Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara mengendarai kuda.
Hutan, bukit, lembah, sungai, dan perkampungan mereka lalui. Satu hari satu malam perjalanan mereka lalui dengan aman.
“Alma, sepertinya jalan hidupmu ke depan sudah terlihat jelas,” ujar Warna Mekararum pada satu waktu dalam perjalanan hari kedua setelah meninggalkan Desa Turusikil.
“Terlihat jelas dari mana, Nek?” tanya Alma serius.
“Dari gunung!” celetuk Warna Mekararum.
“Hahahak!” tawa Alma terbahak tiba-tiba.
Sudah bukan hal yang aneh jika tiba-tiba Alma Fatara tertawa keras. Jadi, jika itu terjadi, mereka yang lain sudah tidak ambil peduli.
Warna Mekararum hanya tersenyum karena celetukannya membuat Alma tertawa terbahak.
“Perbuatanmu dengan menolong warga Desa Turusikil, menunjukkan bahwa kau akan menjadi pendekar wanita yang suka menolong kaum lemah dan membela kebenaran,” kata Warna Mekararum yang yakin bahwa tidak akan lama lagi Alma akan menjadi pendekar wanita yang viral.
“Untuk menjadi pembela kebenaran dan kelemahan, aku masih butuh banyak belajar dari kedua guruku. Jika seandainya nanti aku berurusan dengan pendekar berkesaktian tinggi, bisa habis aku!”
“Sepertinya kau gembira menempuh perjalanan untuk menolongku, Alma?” tanya Warna Mekararum.
“Aku bahagia jika aku tertawa, Nek. Jadi, aku juga senang jika bisa membuat orang-orang yang dekat denganku ikut tertawa, yaaa setidaknya bisa tersenyum. Aku juga senang bisa melakukan perjalanan. Aku sangat penasaran ingin melihat dengan jelas apa yang aku lihat dari jauh. Ketika aku melihat ujung lautan, aku sangat ingin melihat seperti apa kondisi ujung lautan. Ketika aku melihat gunung, aku sangat ingin melihat seperti apa gunung itu sebenarnya dan ingin tahu siapa yang tinggal di sana. Aku ingin bisa merasakan keluasan alam ini. Jika seandainya ada cara pergi ke langit, aku akan berusaha mencari cara itu. Namun kata guru yang seorang petualang, sedikit demi sedikit dulu, cukupi kesiapan bekal, nanti dalam perjalanan harus mengumpulkan bekal juga untuk menggapai sesuatu yang lebih jauh,” tutur Alma cukup panjang. “Tapi ada yang harus aku utamakan lebih dulu ….”
__ADS_1
“Apa?” tanya Warna Mekararum.
“Mencari tahu siapa kedua orangtuaku.”
“Jadi, Slamet Lara dan Muniwengi itu bukan orangtua kandungmu?”
“Benar, Nek. Waktu bayi aku ditemukan di dalam peti kayu yang hanyut ke pantai. Hanya gelang emas kepala macan ini yang menjadi petunjuk dari orangtuaku,” kata Alma.
Alma menunjukkan gelang emas pada pergelangan kaki kanannya.
“Emm …,” gumam Warna Mekararum sambil memperhatikan gelang yang ditunjukkan oleh kaki Alma. “Nanti jika aku sudah sembuh, aku akan membawamu menemui seorang pengrajin emas ternama. Mungkin dia tahu perhiasan itu buatan siapa.”
“Wah, benar, Nek?” tanya Alma, seakan tidak yakin dengan apa yang didengarnya.
“Benar. Kau meragukan janjiku,” kata Warna Mekararum dengan wajah mengerenyit, karena menahan rasa sakit pada dalam tubuhnya.
“Hahaha!” tawa Alma senang.
“Hahaha! Tidak. Aku hanya ingin tahu cerita dan alasan kenapa aku dibuang ke laut,” jawab Alma.
Mendadak jalan pedati berhenti. Seiring itu, terdengar suara keramaian di depan sana. Magar Kepang, Debur Angkara dan Ayu Wicara juga menghentikan langkah kudanya.
“Ayo mengaku! Jika tetap tidak mau mengaku, akan kami gantung!” teriak seorang lelaki di antara kerumunan orang yang ada di depan sana.
Ada belasan lelaki berseragam prajurit yang sedang menggantung seorang lelaki, meski belum digantung. Pemuda berusia sekitar dua puluhan tahun sedang diikat di atas pohon. Kedua tangannya diikat di belakang punggungnya dan di lehernya melingkar tali yang terusannya mengulur ke atas dahan pohon. Ujung tali itu diikat kuat pada batang pohon. Sementara kedua kaki si lelaki berbaju biru masih menginjak dahan pohon yang lebih rendah, tetapi kedua kakinya diikat dengan tali yang panjang. Ujung talinya dipegang oleh salah satu prajurit yang berkerumun.
Jika tali pengikat kaki itu ditarik, otomatis lelaki tersebut akan jatuh dan lehernya akan menggantung di dahan atas.
“Aku berani bersumpah! Bukan aku yang menculik atau menyembunyikan Gelis Sibening!” teriak pemuda itu, ketakutan. Wajahnya sudah meneteskan keringat.
“Ada saksi yang melihatmu berkeliaran di depan kediaman Nyi Bungkir tadi malam, Gibas Madar!” kata lelaki berpakaian hitam bagus dan berbadan tegap. Lelaki berkumis itu yang sejak tadi menginterogasi pemuda yang bernama Gibas Madar. Ia adalah tangan kanan Nyi Bungkir yang bernama Dengkul Geni.
__ADS_1
Nyi Bungkir sendiri ada di tempat itu. Ia seorang wanita cantik berusia masih tiga puluhan tahun. Mengenakan pakaian berwarna hijau muda seperti dedaunan segar. Selain berpakaian bagus, di tubuhnya melekat sejumlah perhiasan emas. Cincin, gelang, kalung hingga giwang, melekat indah dan mewah padanya.
Nyi Bungkir sendiri adalah istri muda Demang Baremowo. Ia seorang berkesaktian, karenanya Demang Baremowo sering memerintahkannya untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Termasuk saat ini.
Nyi Bungkir termasuk tipe sedikit bicara. Karena itu, yang banyak bicara adalah Dengkul Geni.
“Iya, tadi malam aku memang lewat depan rumah Demang, tetapi aku tidak menculik siapa pun!” teriak Gibas Madar seraya mengerenyit pasrah.
“Ada apa ini? Ada apa ini?” tanya Alma Fatara yang tiba-tiba muncul menyeruak di antara para prajurit kademangan sambil mendongak melihat pemuda yang siap digantung.
Kemunculan Alma Fatara membuat semua orang yang ada di bawah pohon itu memerhatikannya. Nyi Bungkir hanya memandangi Alma yang tidak dikenalnya itu.
“Hei, siapa kau, Nisanak?!” tanya Dengkul Geni setengah menghardik.
“Namaku Alma Fatara,” jawab Alma santai sambil fokus mendongak memandangi pemuda di atas.
“Jika kau hanya sekedar lewat, lebih baik pergilah. Ini urusan Kademangan, jangan ikut campur!” tandas Dengkul Geni.
“Aku itu belum pernah melihat orang mati digantung. Mana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk melihat orang mati digantung,” kata Alma lalu menatap kepada Dengkul Geni seraya tersenyum kuda nil. “Ada yang pernah mengatakan kepadaku, jika seseorang mati digantung, lidahnya pasti menjulur. Tapi, ada juga yang mengatakan, kalau mati digantung, lidahnya keluarnya miring ke samping. Aku penasaran, apakah lidah orang di atas akan menjulur ke depan atau ke samping. Hahaha!”
Dengkul Geni beralih memandang kepada Nyi Bungkir. Wanita cantik dan megah itu mengangguk, entah apa maksudnya, mungkin hanya Dengkul Geni yang tahu.
“Tapi, kau harus beri tahu kami lebih dulu. Kalian dari mana dan mau ke mana?” tanya Dengkul Geni, masih belum percaya kepada Alma, sekalian untuk memperlama durasi menatap wajah cantiknya.
“Kami dari desa pesisir Iwaklelet. Kami mau ke Gunung Alasan untuk mencari seorang tabib. Nenekku menderita racun aneh dan tidak bisa diobati. Jadi kami melakukan perjalanan,” jawab Alma jujur.
Dengkul Geni sejenak melemparkan pandangannya ke arah rombongan Alma Fatara yang berhenti agak jauh dari lokasi itu. Ia lalu kembali beralih kepada pemuda di atas pohon.
“Kau tetap tidak mau mengaku, Gibas Madar?” tanya Dengkul Geni kepada pemuda di atas pohon.
“Bukan aku yang melakukannya! Huuu!” teriak Gibas Madar lalu menangis ala lelaki.
__ADS_1
“Gantung!” perintah Dengkul Geni kepada prajurit yang memegang tali. (RH)