A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 16: Pertarungan Dalam Kamar


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


“Kenapa kau memilih di sini, Alma?” tanya Demang Baremowo yang masih terbaring di tempat tidurnya.


“Dewi Gigi menurunkan wangsit kepadaku untuk menjagamu, Paman Demang. Hahaha!” jawab Alma yang duduk bersila di atas sebuah meja kayu yang kosong dari apa pun. Ia menjawab bernada seloroh.


“Hahaha!” tawa Demang Baremowo pendek.


“Aku mencium aroma tajam dari siasat busuk untuk membunuhmu, Paman Demang. Aku tanya, siapa orang yang bernama Jejak Langit yang ingin membunuh Paman Demang?”


“Aku tidak mengenalnya. Pastinya dia adalah orang bayaran,” jawab Demang Baremowo.


“Nah, karna ketidaktahuan Paman Demang inilah, jadi aku memilih menjaga Paman Demang. Paman Demang tidak tahu siapa orang yang ingin membunuh, bisa saja itu dari orang-orang terdekat Paman Demang. Dan orang-orang itu bisa saja menunggu Paman Demang sedang sendirian,” tutur Alma.


“Masuuuk!”


Tiba-tiba terdengar suara orang ramai berteriak di kejauhan.


“Sepertinya pasukanku mau memaksa masuk,” kata Demang Baremowo mengomentari suara ramai jauh di luar sana.


“Sepertinya kau harus kubawa ke luar, Paman Demang. Jangan sampai ada nyawa yang melayang,” kata Alma sambil bergerak turun dari atas meja.


“Tidak usah ke mana-mana, Alma!” kata seseorang yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.


Sosok lelaki itu berdiri membelakangi cahaya, membuatnya sejenak terlihat hitam seperti bayangan. Namun kemudian, netra Alma bisa beradaptasi dengan keremangan yang tercipta. Ia pun bisa langsung mengenali orang bertopeng kain cokelat tersebut.


Di belakangnya ada lima orang berpakaian cokelat dan bertopeng kain cokelat. Mereka semua sudah menghunus pedang.


“Eh, Paman Jejak Langit. Hahaha! Akhirnya bertemu lagi, padahal belum berlalu satu malam,” kata Alma santai.


“Biarkan Demang Baremowo di sini, karena aku akan membunuhnya di sini!” kata Jejak Langit.


“Tapi Paman Jejak Langit harus tahu bahwa Paman Demang masih berada dalam perlindunganku,” kata Alma.


“Tidak masalah, justru itu sangat menguntungkan bagiku,” kata Jejak Langit.


“Hahaha! Aku tahu, Paman Jejak Langit senang karena bisa mencoba keberuntungan untuk merebut pusakaku. Ya ya ya, tapi Paman akan dikutuk oleh Dewi Gigi jika melakukannya. Hahaha!”


“Siapa itu Dewi Gigi?”


“Dewi yang akan menghukum kejahatanmu dengan pesona kekuatan bulan. Hahaha!” jawab Alma berseloroh.


“Hahaha!” Jejak Langit turut tertawa. Ia suka gaya Alma dalam menghadapi situasi yang seharusnya tegang.


“Eh, Paman Jejak! Jika Paman tidak berhasil mengalahkanku, berarti Paman tidak bisa merebut pusakaku. Paman pilih hidup atau aku bunuh? Muda-muda seperti ini aku berani membunuh loh, Paman,” kata Alma.


“Hahaha! Kalau aku memilih hidup, nanti kau akan menyebutku curang, tapi kalau aku memilih mati, aku tidak bisa hidup lagi,” jawab Jejak Langit.


“Hahahak …!” tawa Alma terbahak seperti tawa bapak-bapak. “Baik, berarti aku yang menentukan nyawa Paman!”

__ADS_1


“Aku akan memberimu santapan pembuka, Alma,” ujar Jejak Langit lalu mundur lebih ke luar.


Mundurnya Jejak Langit digantikan oleh majunya kelima anak buahnya ke dalam kamar.


“Terima kasih, Paman Jejak, meski santapan pembukanya bukan hidangan lezat. Hahaha!” kata Alma yang kini berdiri berhadapan dengan lima lelaki berpedang. Ia tersenyum manis kepada kelima lelaki bertopeng di depannya setelah tawannya selesai.


“Serang!” perintah Jejak Langit.


Maka kelima anak buah Jejak Langit maju serentak dengan tusukan pedang masing-masing. Alma langsung bergerak cepat mengelak, tapi juga merangsek maju merapati lawannya.


Sementara Demang Baremowo hanya bisa terbaring menyaksikan pertarungan itu. Ia pun telah menyiapkan sebilah pedang di tangan kirinya sebagai bekal pertahanan.


Tep! Tep! Tseek!


“Akk …!” jerit dua lelaki bertopeng bersamaan lalu tumbang meregang nyawa dengan darah bersimbah.


Kejadian itu terjadi ketika dari kanan dan kiri Alma datang tusukan bersamaan. Dengan mudahnya Alma menangkap bilah kedua pedang dengan tangannya tanpa terluka sedikit pun. Kedua pedang itu lalu Alma tarik dengan keras ke arah yang berlawanan sehingga beradu tusuk. Dua pedang itu tertarik bersama pemiliknya dan saling tusuk dada teman sendiri.


Alma tidak berhenti. Tiga lawan yang tersisa juga ia pecundangi. Kekebalannya terhadap senjata tajam membuatnya bertarung dengan lebih luwes. Satu demi satu lawannya ia bunuh menggunakan pedang lawannya sendiri.


Hingga ketika lawan Alma tinggal satu orang, tiba-tiba Jejak Langit melakukan tindakan tidak ksatria.


Jejak Langit tiba-tiba berkelebat masuk ke dalam kamar, langsung kepada ranjang tempat Demang Baremowo berada. Pada telapak tangan kiri Jejak Langit telah berbekal sinar putih redup yang siap dihantamkan kepada Demang Baremowo.


Sang demang terbeliak melihat kedatangan Jejak Langit yang membawa maut.


Set! Slet!


Jejak Langit langsung berpaling memandang kepada Alma. Gadis jelita itu hanya tersenyum lebar seperti sedang memegang seutas benang yang tidak terlihat. Pada saat yang sama, satu orang lawan Alma bergerak tumbang dengan perut tertancap pedangnya sendiri.


Sebelum Jejak Langit mengeksekusi Demang Baremowo, Alma cepat melesatkan Benang Darah Dewa yang melilit pergelangan tangan kiri Jejak Langit. Jika tidak memfokuskan pandangan, orang akan sulit untuk melihat wujud Benang Darah Dewa.


Sebenarnya Alma bisa memutuskan pergelangan tangan Jejak Langit, tetapi itu tidak ia lakukan.


Sadar bahwa pergelangan tangannya diikat oleh seutas benang yang bukan biasa, Jejak Langit cepat meloloskan pedang panjangnya. Pedang panjang itu terkesan istimewa karena memiliki ukiran yang ramai pada bilahnya di kedua sisi.


Jejak Langit menebaskan pedangnya untuk memutus benang yang menghubungkan tangannya dengan tangan Alma.


“Apa?” kejut Jejak Langit saat mendapati ternyata benang itu tidak bisa putus oleh pedang andalannya.


Tebasan pedang itu membuat Benang Darah Dewa tertekan dan menarik Alma. Gadis itu langsung memanfaatkan tarikan tersebut untuk berkelebat cepat, melancarkan beberapa tendangan beruntun.


Dakdakdak!


Mau tidak mau, Jejak Langit memadamkan sinar putih dari ilmunya dan memilih menangkis tendangan beruntun Alma dengan tangan kirinya.


Meski tendangan Alma tertangkis, tetapi itu membuat Jejak Langit terdorong ke arah pintu.


“Paman Jejak Langit! Kau mencoba bermain tidak satria!” hardik Alma sambil menarik Benang Darah Dewa kembali masuk ke dalam jubah hitamnya. “Baiklah, aku akan memilih untuk membunuhmu!”

__ADS_1


“Ini pertarungan sampai mati!” seru Jejak Langit pula. Ia lalu maju kepada Alma dengan pedang panjangnya. “Hiaat!


Lincah bagi alma mengelaki beberapa tebasan dan tusukan. Ruangan kamar yang tidak luas justru membuat Jejak Langit tidak maksimal menggunakan pedang besarnya. Itu dimanfaatkan oleh Alma dengan bertarung di daerah pinggiran ruangan.


Brak! Brak!


Satu persatu benda yang ada di ruangan itu hancur terbelah oleh tebasan-tebasan pedang Jejak Langit.


Sreek!


Satu tusukan cepat mengincar perut Alma Fatara, tetapi pergeseran tubuhnya menyelamatkannya, membuat pedang menusuk dinding papan kamar hingga mentok pada gagang pedang.


Seset seset!


“Ak akh!”


Di saat pedang besar lawan menusuk tembus dinding papan, Alma bergerak cepat menghajar badan depan dan tangan kanan Jejak Langit yang memegang pedang.


Jari-jari dan telapak tangan Alma yang tiba-tiba berubah setajam pedang, memberikan enam besetan pada tubuh Jejak Langit. Lelaki gagah itu menjerit berulang ketika tiga sayatan bersarang pada badan depannya dan tiga sayatan pada tangan kanannya.


Bak!


Setelah itu, Alma mendaratkan dua telapak kakinya pada dada kekar Jejak Langit dengan leluasa, memaksa lawannya terjengkang di dekat pintu.


Jejak Langit kini bersimbah darah. Namun, ia buru-buru bangun berdiri dengan kening meringis sakit. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa tangan gadis itu bisa setajam pedang. Sementara itu pedang besarnya masih menyangkut di dinding kamar.


“Kau benar-benar gadis yang mengejutkan, Alma,” kata Jejak Langit.


“Hahaha! Aku masih punya banyak kejutan loh buat Paman Jejak Langit,” kata Alma santai yang didahului dengan tawanya. Ia melihat darah bertetesan ke lantai dari ujung jari tangan kanan Jejak Langit.


Alma melangkah mengambil posisi yang menghadap ke ambang pintu, di mana Jejak Langit berdiri. Ia lalu merendahkan tubuhnya dengan kaki menekuk memasang kuda-kuda. Tangan kirinya merentang ke belakang.


Jejak Langit sudah pernah melihat gaya itu. Alma pasti akan melepaskan ilmu anginnya.


Maka ketika pakaian Alma mengembung seperti balon gas, Jejak Langit cepat melesat mundur ke halaman belakang perguruan.


Karena Jejak Langit sudah kadung melesat ke luar, Alma membatalkan serangan anginnya. Ia memilih melesat ke luar menyusul Jejak Langit.


Sest! Swess! Bluar!


Namun, Alma justru disambut oleh lesatan sinar kuning berwujud pedang. Ilmu inilah yang pernah membunuh salah satu dari Dua Golok Setia pengawal Demang Baremowo. Sontak Alma melesatkan pula sinar kuning emas menyilaukan mata dari tangannya.


Maka ledakan dahsyat terdengar keras dan luas, ketika dua kesaktian itu beradu di pertengahan jarak.


Jejak Langit sampai jatuh terjungkal lalu sempat berguling dua kali di tanah dekat pagar belakang perguruan. Sementara Alma Fatara terdorong ke belakang, tetapi ia mampu mendarat dengan baik di teras depan kamar.


Suara ledakan itulah yang sebelumnya telah mengejutkan dua pihak yang sedang bersitegang di depan Perguruan Jari Hitam.


Ilmu Bandar Emas yang baru saja Alma keluarkan adalah ilmu yang memang berkekuatan tinggi, ilmu yang sangat tepat digunakan untuk beradu kesaktian.

__ADS_1


Namun, Jejak Langit tampaknya adalah pendekar yang pilih tanding, sulit untuk dijatuhkan. Dengan luka sayatan yang kian parah dan mengeluarkan darah yang semakin banyak, Jejak Langit masih siap melanjutkan pertarungannya.


“Gila! Aku sudah separah ini, sedangkan bocah cantik itu masih tidak kurang apa pun …” batin Jejak Langit. (RH)


__ADS_2