
*Para Petarung Panah (Papepa)*
“Bagaimana penilaian Paman terhadap Pamong Sukarat?” tanya Alma tiba-tiba mengalihkan topik perbincangan.
Agak terkejut Adya Bangira mendapat pertanyaan seperti itu.
“Aku memiliki urusan penting dengan Paman Pamong Sukarat, tapi aku belum pernah bertemu dengannya,” tambah Alma.
“Menurutku, Pamong Sukarat adalah pejabat yang nakal. Aku mencurigai dia untuk beberapa hal, sebab gerak-gerik dan sikapnya menimbukkan kecurigaan. Namun, aku tidak mau menimbulkan konflik yang membuat Kadipaten terlihat tidak aman,” jawab Adya Bangira.
“Contoh dari gerak-gerik yang mencurigakan itu seperti apa, Paman?” tanya Alma.
“Beberapa kali ia meminta uang kepadaku untuk perkara yang tidak diperintahkan oleh Gusti Adipati. Bisa saja aku mempermasalahkan permintaan tidak jelas itu, tetapi Pamong Sukarat membawahi pasukan keamanan di bawah Gusti Adipati,” jawab Adya Bangira.
“Tapi, setelah pertandingan besok, Paman Pamong Sukarat akan berakhir!” tandas Alma.
“Apa yang akan kau lakukan, Alma?” tanya Adya Bangira, ia sedikit terkejut.
“Hanya membersihkan Kadipaten Balongan dari orang jahat seperti Pamong Sukarat,” jawab Alma seraya tersenyum. Lalu katanya kepada Arung Seto dan Ariang Banu, “Ayo, kita lihat sejauh mana kehebatan memanah kalian, Kakang!”
“Ayo!” sahut Arung Seto bersemangat.
Setelah acara makan-makan itu, Arung Seto dan Ariang Banu lalu mengajak Alma Fatara ke area belakang rumah. Adya Bangira, Aning Sulasih dan Magar Kepang ikut untuk melihat pertunjukan tersebut. Kedua putra Bendahara Kadipaten terlihat begitu bersemangat.
Kini, Arung Seto dan Ariang Banu sudah memegang busur di tangan kiri masing-masing. Sementara Alma berdiri seorang diri sejauh lima tombak di depan mereka. Itu adalah jarak yang akan dipakai saat tarung panah.
Dalam pertandingan besok di alun-ulun pinggir sungai, para Petarung Panah akan melalui beberapa jenis pertandingan. Puncaknya, sebanyak dua belas Petarung Panah akan diadu dalam dua kelompok, hingga akhirnya nanti tersisa hanya satu Petarung Panah.
“Kalian bebas memakai panah tajam, tidak perlu sungkan!” seru Alma Fatara.
“Baik, bersiaplah, Alma!” seru Ariang Banu sambil menarik senar busurnya.
“Tunggu tunggu tunggu!” teriak Magar Kepang sambil maju ke depan Arung Seto dan Ariang Banu. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi tanda “tahan”.
Magar Kepang lalu berbalik kepada Alma.
“Alma, kau yakin akan melakukan ini?” tanya Magar Kepang yang tidak yakin.
“Kenapa baru sekarang Paman Magar mencegah?” tanya Alma.
“Hehehe! Tadi aku tidak masalah, tapi setelah aku melihat panah itu, aku jadi ragu,” kilah Magar Kepang.
__ADS_1
“Hahaha! Tenang saja, Paman. Aku berjanji akan membawamu pulang kembali ke Desa Iwakculas. Sekarang minggirlah, Paman!” kata Alma.
“Baik, baik, baik,” ucap Magar Kepang patuh.
Magar Kepang pun segera menyingkir ke pinggir.
Set!
Seminggirnya Magar Kepang, Ariang Banu langsung melepaskan anak panahnya kepada Alma. Hal itu mengejutkan kedua orangtuanya.
“Ariang!” seru Adya Bangira dengan mata mendelik. “Kenapa kau melepas panah dengan tiba-tiba seperti itu?”
“Hehehe! Tapi Alma tidak apa-apa, Ayah,” kata Ariang Banu sambil cengengesan.
Ya, Alma Fatara tidak apa-apa. Dengan mudah ia bisa menghindari anak panah Ariang Banu.
“Apakah hanya satu panah?” tanya Alma Fatara seraya tersenyum.
“Awas, Alma!” seru Arung Seto sambil melepas anak panahnya.
Set!
“Hebat!” puji Alma seraya tersenyum. “Tapi belum ada apa-apanya. Ayo, tunjukkan yang terbaik!”
“Jangan ragu, Kakang!” kata Ariang Banu kepada kakaknya.
Arung Seto mengangguk. Keduanya kompak mengambil anak panah dari tabung yang berdiri di lantai. Ketika mereka memasang anak panah, posisi busur masih menghadap ke bawah.
Seolah kompak menghitung di dalam hati, keduanya kompak pula langsung menaikkan tangan kirinya yang lurus memegang busur, sementara jari tangan kanan melepas jepitannya pada ekor anak panah.
Set set!
Dua anak panah melesat cepat, tidak terlihat oleh mata bisa. Namun, tetap saja dengan tenangnya Alma bergeser selangkah pada waktu yang tepat. Dua anak panah itu hanya lewat begitu saja dan pergi menancap ke tanah berumput di balakang rumah.
“Aku tidak percaya panah kita tidak bisa menyentuh Alma!” desis Arung Seto.
Ia lalu mengisi ulang busurnya dengan gerakan yang cepat dan tanpa waktu jeda, langsung memanah Alma. Hal itu Arung Seto lakukan berulang-ulang.
Melihat kakaknya melakukan itu, Ariang Banu kemudian melakukan hal yang sama, yaitu memanah Alma berulang-ulang tanpa jeda.
Akibatnya, Alma Fatara menghindari serangan anak panah bersusulan itu dengan gerakan yang cepat pula, sehingga gadis cantik itu seperti menari karena tubuhnya miring ke sana, miring ke sini, geser ke kanan, gesek ke kiri, bahkan kedua tangannya bergerak seperti angsa mengepakkan sayapnya.
__ADS_1
Hingga kemudian, anak panah milik Arung Seto dan Ariang Banu habis di tabungnya.
Set! Tuk tuk!
Alangkah terkejutnya Arung Seto dan Ariang Banu ketika dua anak panah melesat dan masing mengenai dada kakak beradik itu. Kedua anak panah itu tidak menancap, tetapi terpantul jatuh ke lantai. Hantaman anak panah itu cukup membuat kedua pemuda tersebut terjajar setindak.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara.
Pada dua anak panah terakhir yang menyerangnya, Alma tangkap dengan kedua tangannya. Lalu balas melesatkannya secara terbalik kepada Arung Seto dan Ariang Banu. Karena itu, panah yang mengenai dada keduanya tidak menusuk, tetapi memantul.
Serangan terhadap kedua anaknya membuat Adya Bangira dan istrinya sempat terkejut. Namun, mereka jadi lega saat melihat dua anak panah tersebut jatuh ke lantai dan tahu bahwa anak panah itu melesat terbalik.
“Kalian berdua mati! Hahaha!” seru Alma lalu tertawa.
Memang benar, jika Alma melesatkan anak panah itu tidak terbalik, maka mungkin mereka sudah mati tertusuk.
“Sekarang aku yang memanah kalian dengan panah tumpul,” kata Alma.
Selain panah tajam, Arung Seto dan Ariang Banu juga memiliki anak panah tumpul yang memang diperuntukkan latihan.
Giliran Alma Fatara yang memegang busur dan anak panah, tapi anak panah tumpul. Alma bahkan menambah jauh jaraknya dengan mundur beberapa langkah. Di sisi lain, Arung Seto dan Ariang Banu bersiap menghadapi serangan.
Set! Set! Set …!
“Akk! Aw! Akk …!”
Kakak beradik itu memekik berulang-ulang ketika semua anak panah yang dilepaskan oleh Alma semuanya mengenai target. Jerit-jerit mereka jadi terdengar lucu, membuat sang ayah tertawa.
“Hahahak …!” tawa Alma terbahak setelah stok anak panah tumpulnya habis.
Arung Seto dan Ariang Banu hanya bisa terengah-engah dengan wajah mengerenyit, sebab hantaman para anak panah tumpul itu menyisakan memar pada beberapa titik yang terkena.
“Jika seperti ini, kaliah akan habis. Tidak ada harapan untuk menang. Lihat, semua anak panahku mengenai sasaran,” kata Alma sambil berjalan mendekati kedua pemuda tampan itu.
Alma menyerahkan busurnya kepada Arung Seto.
“Aku sarankan, kalian berlatih saling panah. Ketika kalian menjadi target, perhatikan tangan pemanah yang memegang ekor panah. Setelah itu, ukur kecepatan panah dan jarak jauh. Jika hitungan tepat, maka akan dengan mudah menghindari anak panah, sebab pemanah pasti akan membidik target dengan tepat. Dan aku sarankan, jika target kalian bisa menghindari panah dengan baik, maka jangan bidik tubuhnya, tapi bidik sisi kanan atau kirinya untuk bermain untung-untungan. Namun, jika kalian bisa melesatkan anak panah dengan tenaga dalam sebaik dengan busur, lebih baik gunakan tenaga dalam, itu lebih memiliki banyak gaya yang bisa sulit terbaca,” tutur Alma.
“Baik, kami akan berlatih,” kata Arung Seto.
“Aku izin pamit, Paman!” ucap Alma kepada Adya Bangira. (RH)
__ADS_1