A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Guru Jahit 18: Nyi Kenanga


__ADS_3

*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*


Bertepatan malam memeluk alam, pasukan Kademangan yang dipimpin oleh Dengkul Geni datang dengan tiba-tiba ke kediaman Nyi Kenanga, istri kedua Demang Baremowo.


Pasukan langsung melumpuhkan empat centeng yang berjaga di luar. Keempat centeng itu syok melihat kemunculan pasukan yang banyak dan tiba-tiba. Mereka memilih turun berjongkok sambil angkat kedua tangan tanda menyerah, bukan tanda sapaan say hello.


Setelah itu, tengkuk mereka digebuk menggunakan gagang pedang oleh prajurit, membuat keempatnya tumbang tidak sadarkan diri.


Pasukan bergerak mengepung rumah besar tersebut. Itu adalah rumah terbesar kedua di Kademangan Dulangwesi setelah rumah utama Demang Baremowo. Sebenarnya rumah itu termasuk rumah sang demang juga yang ditempati oleh istri keduanya, setelah istri pertama yang merupakan ibu dari Gelis Sibening wafat.


Suara ribut yang timbul membuat seseorang keluar dari rumah dengan tangan memegang sebatang pipa sumpit. Orang itu tidak lain adalah Sumpit Burung, sais kereta yang pernah ditemui oleh Jejak Langit di pinggir jurang. Sumpit Burung terkejut melihat pasukan Kademangan sudah mengepung.


“Tangkap!” teriak Dengkul Geni memberi perintah dari atas kudanya.


Beberapa prajurit segera berlari masuk ke teras untuk membekuk Sumpit Burung.


Set! Set! Set!


Sumpit Burung cepat memasang salah satu ujung sumpit dan meniupnya. Kerennya, setelah meniup sekali, jari tangan Sumpit Burung bergerak cepat memasukkan jarum lalu ditiup kembali. Gerakan isi ulang dan tiupan terjadi dengan ritme yang sangat cepat, seperti koboi yang mahir menembak saat duel tembak.


Sebanyak empat prajurit tumbang di tengah jalan karena leher mereka terkena jarum sumpitan. Namun, tetap saja serangan sumpit itu tidak memadai untuk melumpuhkan prajurit yang banyak. Sumpit Burung terpaksa bertarung fisik menghadapi tiga prajurit yang berhasil mendapatkan dirinya.


Dalam waktu singkat, Sumpit Burung bisa melumpuhkan ketiga prajurit yang menyerangnya.


Set! Teb!


Alangkah terkejutnya Sumpit Burung saat melihat sebatang tombak sudah melesat kepadanya. Refleks Sumpit Burung memiringkan tubuhnya, membuat tombak itu menancap kuat di dinding papan rumah.


Dak! Bak!


Dengkul Geni sudah berkelebat pula di udara dengan kaki kanan mengibas kuat. Sumpit Burung yang tersudut di dinding rumah masih dapat menangkis, tetapi tendangan kaki kiri Dengkul Geni bisa masuk menghantam dada.


Sumpit Burung terhuyung nyaris jatuh. Dua prajurit cepat datang mendapatkan tubuh Sumpit Burung.

__ADS_1


Set!


“Akh!” jerit Sumpit Burung saat satu pedang berhasil mengiris lengan kirinya.


Set!


Sambil membuang tubuhnya keluar dari teras, Sumpit Burung meniup sumpitnya. Kembali satu jarum melumpuhkan seorang prajurit.


Namun, Dengkul Geni sudah datang menyerang Sumpit Burung dengan ganas. Sumpit Burung melakukan perlawanan sengit dan menjadikan sumpitnya sebagai senjata tusuk. Namun, rupanya kelas Dengkul Geni lebih unggul dibandingkan Sumpit Burung.


Bak! Bug bug!


Setelah tiga kali gebrakan, akhirnya tendangan mendorong Dengkul Geni mendarat di dada Sumpit Burung, membuat tukang sumpit itu terjajar. Dengkul Geni tidak memberi jeda, dia langsung mengejar dan mendaratkan dua bogem matang pada wajah Sumpit Burung. Tinju itu sampai membuat darah dan satu gigi Sumpit Burung terlompat bebas ruang.


“Hentikan!” teriak satu suara perempuan tiba-tiba.


Pertarungan pun terhenti mendengar bentakan keras tersebut. Namun, hal itu juga yang membuat Sumpit Burung mati kutu, sebab tiga prajurit tahu-tahu sudah datang dari belakang dan menempelkan mata pedangnya pada lehernya.


Pandangan mereka terpusat pada ambang pintu rumah yang memiliki dua dian minyak sebagai penerang. Di sana telah berdiri seorang wanita matang dengan kisaran usia empat puluh tahunan. Dandanan mahalnya dengan sanggul yang mewah membuat ia terlihat masih cantik. Ia mengenakan pakaian biru muda. Wanita berkulit putih itulah yang bernama Nyi Kenanga, istri kedua Demang Baremowo.


Terkejutlah Dengkul Geni mendengar hal itu.


“Jika kau masih berani bertingkah, aku pastikan Gelis Sibening hanya tinggal nama dan raga yang mati!” seru Nyi Kenanga lagi.


“Kau jangan menipuku, Nyi Kenanga. Kau sudah tidak bisa mengelak dari hukuman. Pembunuh bayaranmu yang bernama Jejak Langit pun sudah mati. Apa yang ingin kau andalkan untuk melindungi dirimu?” kata Dengkul Geni yang terkenal sebagai orang yang tidak mudah percaya terhadap omongan orang lain.


“Hihihi! Jika begitu tangkaplah aku! Biarkan Demang menyesali kematian Gelis Sibening!” tantang Nyi Kenanga.


Tantangan itu membuat Dengkul Geni tersudut dan bingung harus mengambil keputusan apa. Namun, setelah terdiam sejenak, akhirnya dia mengambil keputusan.


“Tetap kepung rumah ini! Jangan biarkan satu orang pun masuk atau keluar dari rumah ini!” perintah Dengkul Geni. “Ikat tukang sumpit itu!”


Duk!

__ADS_1


“Ugh!” keluh Sumpit Burung lalu tumbang tidak sadarkan diri setelah tengkuknya dihantam.


Prajurit lalu menyeret Sumpit Burung.


Tindakan para prajurit itu membuat Nyi Kenanga mendelik gusar.


“Aku ingatkan! Jika kalian berani mendobrak pintu ini, Gelis Sibening mati!” ancam Nyi Kenanga sembari menahan kemarahannya.


Ia lalu masuk ke dalam rumah.


Brak!


Keras pintu dibanting, menunjukkan bahwa ia sedang marah.


Nyi Kenanga berjalan masuk ke dalam sebuah kamar. Di dalam kamar itu ada sosok Ninggat yang terbaring dalam kondisi terluka parah. Tangan kirinya sudah tidak ada karena diamputasi demi menyelamatkan tubuhnya.


“Apa yang terjadi di luar, Ibu?” tanya Ninggat lemah.


“Ayahmu mengirim pasukan dan mengepung kita!” jawab Nyi Kenanga dengan warna muka yang masih memendam kemarahan. Sepasang tangannya mengepal kuat, serasa ingin menjambak rambut seseorang.


“Apa yang diperbuat Sumpit Burung?” tanya Ninggat.


“Dia dilumpuhkan. Untung saja Dengkul Geni percaya dengan ancamanku. Jadi kita bisa mengulur waktu sampai bantuan kakekmu datang dari Kadipaten,” kata Nyi Kenanga. “Seharusnya tadi malam kau langsung bunuh Dendeng Pamungkas itu!”


“Aku tidak tahu jika dia bisa lepas dengan cepat dari pengaruh racun jarum Sumpit Burung,” kilah Ninggat Lemah. “Tapi, aku yakin Ayah tidak akan sampai tega membunuh Ibu.”


“Iya, tapi Perempuan Setan yang bernama Bungkir itu sudah menguasai ayahmu. Kini ayahmu tidak lebih dari seekor kerbau di sawah!” gerutu Nyi Kenanga. “Kakekmu tidak akan naik jabatannya jika tetap bertahan sebagai pejabat Kadipaten Balongan. Kakekmu adalah orang satu-satunya yang pantas menjabat sebagai demang di Dulangwesi ini jika ayahmu mati. Setelah menjadi demang, barulah kakekmu pantas menjadi seorang adipati.”


“Tapi, apakah pasukan bantuan dari Kakek akan datang malam ini juga?” tanya Ninggat.


“Seharusnya malam ini mereka tiba,” jawab Nyi Kenanga yakin.


“Berita apa yang Ibu berikan sehingga Ibu yakin Kakek akan mengirim pasukan?” tanya Ninggat.

__ADS_1


“Kau pikir pemberontakan ini Ibu lakukan atas keinginan Ibu? Bukan, semuanya atas perintah kakekmu,” kata Nyi Kenanga. “Karena Ibu memang sakit hati kepada ayahmu dan Perempuan Setan, jadi Ibu melakukannya.”


Sementara itu, seorang prajurit menembus gelapnya malam dengan menunggangi seekor kuda. Atas perintah Dengkul Geni, prajurit tersebut diutus pergi ke Perguruan Jari Hitam untuk melapor kondisi di kediaman Nyi Kenanga. Ia menunggangi kuda yang sebelumnya ditunggangi oleh Dengkul Geni. (RH)


__ADS_2