
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Setelah Alma Fatara pergi dari penginapan itu, Ninda Serumi kembali masuk ke kamarnya sebelum Pangeran Derajat Jiwa naik kembali.
Ninda Serumi memilih merebahkan diri di atas ranjang yang empuk. Ia lebih baik menerawangkan pikirannya untuk memikirkan kekasihnya, Bandeng Prakas.
Sebenarnya kepala Ninda Serumi dipenuhi oleh kecemasan. Ia benar-benar tidak yakin bahwa pada pertandingan besok kekasihnya akan memenangkan pertandingan.
“Apakah aku harus siap melupakan Kakang Bandeng? Benarkah Gusti Pangeran benar-benar jatuh hati kepadaku? Ayah dan Ibu begitu tega menjadikan aku sebagai hadiah pertandingan …,” batin Ninda Serumi.
Pikiran itu membuat perasaan di hati Ninda Serumi bergolak sedih. Tidak terasa air matanya menggenang di sepasang mata indahnya. Namun, ketika air bening itu bergulir jatuh ke sisi kepalanya, ia segera menyeka air matanya.
“Sudah terlambat untuk bersedih. Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah. Jika aku melarikan diri, mereka pasti tetap akan menemukanku dan nasibku pasti akan lebih buruk …,” pikir Ninda Serumi.
Tak!
Tiba-tiba Ninda Serumi menengok memandang ke arah jendela yang tertutup, setelah ada suara hantaman benda keras pada sisi luar jendela.
Ninda segera bangkit bangun dan beranjak ke jendela. Ia membuka jendela.
“Dia?” sebut Ninda Serumi lirih kepada dirinya. Ia terkejut melihat keberadaan Alma Fatara di bawah sana.
Alma Fatara berdiri di tanah, tepat di titik ketika Bandeng Prakas tadi berdiri. Terlihat Magar Kepang berdiri agak jauh di belakang. Dia masih menuntun kudanya.
Alma Fatara tersenyum lebar kepada Ninda Serumi yang memandanginya dengan ekspresi heran.
“Ayo turun!” kata Alma.
“Turun?” tanya Ninda Serumi setengah berbisik.
“Tidak, tapi terbang! Hahap!” sahut Alma bergurau, lalu tertawa lepas. Namun, buru-buru dia membekap mulutnya, setelah sadar dia sedang melakukan misi rahasia. Lalu ia pun berkata setengah berbisik, “Ayo turun!”
Jendela kamar itu memang tidak seperti jendela penjara, masih bisa dilewati oleh tubuh jika ingin keluar atau masuk lewat jalan itu.
“Apa yang gadis ini rencanakan?” batin Ninda Serumi. “Tapi … jika dia berniat buruk, pastinya tidak seburuk apa yang akan terjadi besok terhadapku.”
Akhirnya Ninda Serumi bergerak naik ke jendela. Ketika tubuhnya sudah berada di sisi luar jendela, Ninda Serumi tidak langsung melompat, karena posisinya cukup tinggi. Ninda Serumi adalah seorang gadis biasa yang tidak memiliki bekal ilmu kanuragan atau tenaga dalam.
__ADS_1
“Nanti aku tangkap!” bisik Alma.
Ninda Serumi percaya kepada Alma. Maka ia pun melompat. Dengan mudahnya Alma menangkap tubuh Ninda Serumi.
“Hahaha!” tawa Alma rendah.
Alma Fatara tidak menurunkan tubuh Ninda Serumi yang ada pada gendongan kedua tangannya, tetapi membawanya berkelebat. Magar Kepang cepat naik ke kudanya dan menggebahnya mengejar Alma.
“Mau kau bawa ke mana aku, Nisanak?” tanya Ninda Serumi tegang.
“Hahaha! Aku tidak berniat jahat kepadamu, Kakak Ninda,” kata Alma yang didahului dengan tawa lepasnya.
Sementara itu di penginapan.
Jendela kamar yang ditempati oleh Pangeran Derajat Jiwa dibuka dari dalam. Pengawal yang bernama Jendar menongolkan kepalanya, celingak-celinguk seperti maling. Ia tidak menemukan siapa-siapa atau seekor pun monyet. Namun, ia melihat daun jendela yang terbuka di kamar yang agak jauh di sebelah kiri.
“Tidak ada siapa-siapa, Gusti. Tapi aku melihat satu jendela kamar yang terbuka. Sepertinya itu jendela kamar putri Kepal Kepeng,” lapor Jendar kepada Pangeran Derajat Jiwa yang baru saja duduk santai di kursi.
“Coba periksa Ninda Serumi di kamarnya!” perintah Pangeran Derajat Jiwa.
Akhirnya Alma menurunkan Ninda Serumi ketika tiba di pinggir sungai.
“Ternyata kau berat juga, Kakak Ninda. Pasti Kakak kebanyakan makan untuk mempergemuk diri. Hahaha!” keluh Alma lalu tertawa pendek.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya Ninda Serumi.
“Namaku Alma Fatara. Aku dan Paman Magar hanya pengembara yang kebetulan lewat di kadipaten ini. Kami tahu tentang pertandingan besok. Dan kami tahu bahwa Kakak adalah hadiah utama dalam pertandingan besok. Hanya ada pertanyaan yang membuatku resah,” ujar Alma.
“Pertanyaan apa?” tanya Ninda Serumi yang sejak tadi tidak tersenyum sedikit pun kepada Alma.
“Paman Magar, berjagalah di sisi atas!” perintah Alma Fatara kepada Magar Kepang yang berdiri bersama kuda di tanah tinggi.
Alma dan Ninda Serumi kini duduk di atas sebongkah batu besar yang ada di pinggir sungai. Posisinya tidak terlihat jika orang lain tidak berdiri tepat di pinggir sungai.
“Baik, Alma!” sahut Magar Kepang.
“Jika aku berada di posisi Kakak Ninda, aku sangat tidak mau untuk dijadikan hadiah rebutan bagi dua belas lelaki, tidak peduli apakah mereka tampan, muda, atau tua. Kenapa Kakak Ninda mau?” tanya Alma Fatara.
__ADS_1
“Aku tidak mau. Aku terpaksa, Alma,” jawab Ninda Serumi.
“Ah, benar dugaanku!” pekik Alma, seolah baru saja mengetahui bahwa taruhan loterenya tembus. “Pasti Kakak memiliki seorang kekasih? Tapi, meskipun aku tidak memiliki kekasih, tetap saja aku tidak sudi menjadi pertaruhan seperti itu. Mungkin beruntung jika pemenangnya adalah seorang pangeran seperti Pangeran Derajat Jiwa. Namun, jika pemenangnya adalah seorang paman-paman seperti Paman Magar Kepang? Hahaha …!”
“Itulah yang aku takutkan. Tapi sudah terlambat. Jika aku sampai kabur atau memberontak, aku dan kedua orangtuaku akan celaka, sebab ayahku sudah terikat dalam kesepakatan,” jelas Ninda Serumi.
“Kakak Ninda punya kekasih?”
“Punya. Namanya Bandeng Prakas. Aku sudah mengajaknya agar membawaku lari, tetapi Kakang Bandeng tidak mau. Dia sangat yakin bahwa dia bisa memenangkan pertandingannya.”
“Tapi, apakah kekasihmu itu bisa mengatasi Pangeran Derajat Jiwa? Aku ragu jika seorang pangeran sudi berlapang dada jika jatuh kalah,” ujar Alma.
“Mengapa kau menanyakan ini kepadaku?” tanya Ninda Serumi.
“Aku tidak rela melihat gadis tercantik se-Kadipaten Balongan justru menjadi rebutan para lelaki. Wanita bukanlah benda seperti emas permata, yang siapa saja boleh menyentuhnya ….”
“Maksudmu, kau mau menolongku, Alma?” tanya Ninda Serumi memotong.
“Apa yang Kakak inginkan?” tanya Alma.
“Aku ingin pergi bersama Kakang Bandeng Prakas,” jawab Ninda Serumi.
“Bukankah tadi Kakak mengatakan bahwa kekasih Kakak itu tidak mau?” kata Alma.
“Benar. Ia ingin mendapatkanku lewat pertandingan, tapi aku sangat tidak yakin. Sebenarnya, Gusti Pangeran juga menginginkan aku untuk menjadi calon istrinya. Namun, dia mengatakan bahwa namanya sudah terlanjur tertera di daftar peserta,” tutur Ninda.
“Menurut Kakak, apa yang akan terjadi jika kau dan kekasihmu pergi melarikan diri bersama?”
“Kami akan diburu oleh orang-orang Adipati dan orang-orang yang terlibat bertaruh di dalam pertandingan ini,” jawab Ninda Serumi.
“Aaah, itu berat, Kak. Terlalu berbahaya.”
“Lalu cara apa yang kau pikirkan agar aku selamat dan bisa bersama Kakang Bandeng?” tanya Ninda Serumi.
Alma Fatara terdiam. Dia berpikir seperti orang dewasa yang waras. Ninda Serumi yang memandangi Alma jadi terdiam juga.
“Hahahak!” tawa Alma tiba-tiba. Tidak hanya mengejutkan Ninda Serumi, tapi juga mengejutkan Magar Kepang yang ada di sisi atas. “Aku tahu caranya.” (RH)
__ADS_1