
*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*
Terlalu cepat pasukan Kerajaan Jintamani berguguran. Meski kualitas prajuritnya lebih unggul, tetapi kalah kuantitas dan diperparah oleh mental yang jatuh, membuat mereka dengan cepat menuju ke gerbang kematian.
Kondisi yang sama mungkin dialami oleh dua komandan yang merasa dikhianati oleh para adipati.
Sebanyak lima adipati dan empat pendekar mengeroyok Komandan Jaru Berawak dan Komandan Bariat.
Kelima adipati itu adalah Adipati Lalang Lengir, Adipati Garongjaga, Adipati Panji Gumo, Adipati Kendrang, dan Adipati Butak Jelaga.
Sementara empat pendekar adalah Remuk Pusaka, Remuk Hasrat, Sudigatra, dan Adipaksa.
Sehebat-hebatnya Jaru Berawak dan Bariat sebagai komandan, tetap saja mereka dibuat tidak bertahan lama oleh keroyokan yang tidak mengenal tata kependekaran lagi.
Ketika Komandan Bariat sibuk beradu keris dengan Adipati Butak Jelaga dan Adipati Kendrang yang mengeroyoknya, tiba-tiba datang serangan membokong.
Pak!
“Hukh!” keluh Bariat saat punggungnya mendapat hantaman pukulan telapak tangan bertenaga dalam dari Adipati Panji Gumo.
Serangan membokong itu membuat Bariat terdorong ke arah Adipati Butak Jelaga dan Adipati Kendrang. Kedua adipati itu segera menyambut dengan tusukan keris masing-masing.
Tap! Ting!
Namun, Bariat masih selamat. Kerisnya masih bisa menangkis keris Adipati Kendrang, sementara tangan kirinya menangkap pergelangan tangan Adipati Butak Jelaga.
Dak dak!
Meski bisa lolos dari tusukan dua keris, kaki kedua Adipati menyusul menendang perut dan dada Bariat. Sang komandan itu terjengkang, lalu buru-buru bangun dan melompat mundur.
Srek!
Bariat cepat menusukkan kerisnya ke tanah lembah dengan tangan bergetar hebat, seolah sedang menyalurkan tenaga sakti yang tinggi.
Ketiga adipati yang mengeroyok Bariat jadi mendelik. Mereka tidak tahu kesaktian apa yang akan ditunjukkan oleh Bariat.
Ketika Bariat mencabut keluar bilah kerisnya dari tanah, maka terlihatlah keris itu bersinar merah menyala.
“Heaaat!” teriak Bariat sambil berlari maju mendekati ketiga lawannya.
Serzz!
Bariat menusukkan kerisnya dari jarak yang belum sampai. Selarik sinar merah tidak kenal lurus dan tanpa putus, melesat cepat menyergap tubuh Adipati Kendrang.
“Aakrr!” jerit Adipati Kendrang dengan tubuh kejang menahan rasa sengatan yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
Set set! Tseb tseb!
“Akk!”
Tiba-tiba dua buah pisau merah melesat terbang dang menancap di punggung Bariat. Bariat menjerit dan aliran sinar merahnya terhenti, membebaskan Adipati Kendrang dari kematian.
“Matilah kau pemberontak!” teriak Adipati Panji Gumoh sambil melompat tinggi lalu menonjok ubun-ubun Bariat.
Dug! Pret!
“Hekh!” keluh Bariat dengan mata memerah seperti hendak melompat ke luar, seiring itu terdengar pula suara kentut dari lubang bawah tubuhnya karena begitu sakitnya tinju itu.
Tsuk! Sret!
Setengah detik kemudian, Adipati Butak Jelaga maju menusuk perut Bariat hingga pool, lalu menarik robek sedikit perut itu sehingga tercipta luka menganga.
Ketika Adipati Butak Jelaga mencabut kerisnya, maka tumbanglah Komandan Bariat.
Adipaksa, murid Perguruan Pisau Merah, menghampiri mayat Bariat lalu mencabut dua pisau miliknya yang tadi membokong Bariat.
Nasib yang tidak lebih baik juga dialami oleh Komandan Jaru Berawak yang memimpin pasukan Kerajaan Jintamani.
Ting ting ting!
Jaru Berawak beradu keris dengan sengit melawan Adipati Garongjaga.
Adipati Garongjaga melancarkan pukulan bertenaga dalam tinggi di saat kedua keris saling adu kekuatan. Namun, pada saat yang sama pula, Jaru Berawak menyambut pukulan itu dengan pukulan sejenis.
Paks!
Akhirnya, peraduan dua pukulan itu membuat keduanya saling terdorong. Jaru Berawak terjajar dua tindak, sementara Adipati Garongjaga harus terdorong lima tindak lalu jatuh terduduk dengan dada terasa sesak.
Namun, pada saat itu, dua pendekar pengawal Adipati Lalang Lengir muncul melompat bersamaan menyerang Jaru Berawak dari depan.
Jaru Berawak langsung menyambut Remuk Hasrat dengan tusukan dan sabetan keris, tetapi pemuda gagah itu gesit menghindar. Di sisi lain, Remuk Pusaka juga mengagresi Jaru Berawak.
Set! Ting!
Di tengah kesibukan melayani agresi keras Remuk Hasrat dan Remuk Pusaka, tiba-tiba satu pisau merah dari Sudigatra melesat dari samping, mengejutkan Jaru Berawak.
Dengan tangkas, komandan itu menangkis pisau terbang dengan kerisnya.
Buk!
Namun, penangkisan itu membuat kaki Remuk Hasrat dan Remuk Pusaka bisa lolos bersamaan ke perut Jaru Berawak.
__ADS_1
Sang komandan terdorong keras ke belakang dan nyaris terjengkang.
Pada saat itu, sosok Adipati Lalang Lengir berkelebat menerjang dada bidang Jaru Berawak.
Bak! Bduk!
Jaru Berawak kali ini dibuat terjengkang. Namun, ia buru-buru bangkit dan langsung menyongsong kedatangan adipati cantik itu dengan kelebatan-kelebatan kerisnya.
Rupanya, Lalang Lengir bukan sekedar adipati yang menang di paras dan dada, ternyata dia benar-benar sakti.
Gerakan gesit sang adipati perempuan itu tidak tersentuh oleh keris Jaru Berawak.
Sret sret sret!
“Aaak!” jerit Jaru Berawak ketika Adipati Lalang Lengir dengan gerakan cepat menusuki sisi dalam lengan kanannya menggunakan ketajaman kuku-kuku panjang. Keris Jaru Berawak terlepas dari genggaman.
Cras cras!
“Akk!”
Serangan itu Adipati Lalang Lengir teruskan dengan dua cakaran ganas ke dada Jaru Berawak. Sambil menjerit menahan perih, Jaru Berawak buru-buru bergerak mundur.
Namun, Sudigatra muncul menggantikan Adipati Lalang Lengir. Sudigatra bergerak sangat gesit dengan dua pisau merah di tangan. Kecepatan gerak Sudigatra hanya bisa membuat Jaru Berawak diam terpaku, membuat Sudigatra dengan bebas menarikan kedua pisaunya di tubuh Jaru Berawak.
Sret!
Setelah menghujani tubuh Komandan Jaru Berawak dengan sayatan dan tusukan berulang-ulang, akhirnya Jaru Berawak dieksekusi dengan satu sembelihan yang menyeramkan.
Komandan Jaru Berawak tumbang seperti kambing sembelihan.
“Komandan Jaru Berawak sudah tewaaas!” teriak Adipati Garongjaga kencang membahana.
Teriakan itu mengejutkan para prajurit Kerajaan Jintamani yang masih tersisa. Teriakan itu juga menghentikan pertempuran yang tinggal seujung kuku lagi.
Para prajurit kerajaan yang tinggal beberapa puluh orang, cepat memilih menjatuhkan senjata tanda menyerah. Mereka turun berlutut saat itu juga.
Para prajurit kadipaten dan murid-murid Perguruan Pisau Merah segera meletakkan senjatanya di dekat leher para prajurit yang menyerah. Sementara rekan yang lain melakukan pembelengguan.
Para adipati dan kedua murid senior Perguruan Pisau Merah lalu memandang jauh ke arah ujung lembah, di sana sedang terjadi pertarungan sengit antara Alma dkk melawan para pendekar sewaan, beberapa di antaranya menaruh dendam kepada Alma Fatara.
Di pihak Alma Fatara ada Genggam Sekam alias Pendekar Tongkat Berat, Sumirah alias Pendekar Buaya Cantik, Ayu Wicara, dan Debur Angkara.
Adapun di pihak musuh ada Merah Matang dan Wanita Kipas Melati yang menaruh dendam kepada Alma atas kematian saudara seperguruan mereka. Ada pula Pengelana Kepeng yang pernah menderita luka oleh Alma Fatara. Selain itu ada Algojo Tombak dan Pendekar Macan Putih.
Merah Matang dan Wanita Kipas Melati mengeroyok Alma. Pendekar Tongkat Berat berhadapan dengan Pengelana Kepeng. Ayu Wicara dan Debur Angkara mengeroyok Algojo Tombak. Pendekar Buaya Cantik berhadapan dengan Pendekar Macan Putih.
__ADS_1
Awalnya Pendekar Buaya Cantik ingin melawan Pengelana Kepeng. Namun, Pengelana Kepeng menghindar karena Sumirah adalah mantan kekasihnya. Pengelana Kepeng lebih merasa harus melawan Genggam Sekam, hitung-hitung sebagai pelampiasan cemburu. (RH)