A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 12: Merayu Alma Fatara


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Alma Fatara berjalan dengan riang sambil menimang-nimang kantong kain yang berisi uang. Gegara melelang seekor ikan saja, Alma hari ini bisa pulang dengan uang yang banyak.


Ia menyusuri jalan sepanjang pinggir sungai. Pancingnya ia selipkan di sabuk belakangnya.


Namun, Alma merasakan ada seseorang yang mengikutinya dari jarak jauh. Ketika ia menengok ke belakang, ia tidak menemukan siapa-siapa.


“Ini pasti orang yang melihat aku dapat uang banyak di pasar,” pikir Alma. “Belum tahu dia, Alma anaknya Pak Slamet mau dirampok. Hihihik!”


Alma lalu berjalan lagi. Ketika ia menemukan sebatang kayu, ia pungut dan melemparkannya ke sungai. Selanjutnya, Alma melompat berkelebat dan mendarat di batang kayu yang mengambang di air. Setelah itu, Alma meluncur seperti bermain ski. Ia melesat memotong sungai untuk sampai ke seberang.


Garudi Malaya yang adalah orang penguntit Alma, jadi mendelik. Ia buru-buru berkelebat ke pinggir sungai, kemudian kembali berkelebat dan berlari di atas air sungai untuk sampai ke seberang. Beberapa kali kaki Garudi menginjak permukaan air tanpa tenggelam kakinya.


Ketika Garudi mendaratkan kaki di tanah seberang, sosok Alma Fatara berkelebat dengan kaki mengibas deras menargetkan kepala Garudi.


Tak!


Mudah bagi Garudi menangkis tendangan itu dengan batang tongkatnya.


“Hahaha!” tawa Alma Fatara saat mendarat kembali dengan gagah di tanah. “Rampok Tua!”


Garudi mendelik terkejut disebut “Rampok Tua”.


Alma Fatara lalu berjalan memutari posisi Garudi sambil memandangi lelaki itu dengan teliti dari atas hingga bawah.


“Baru kali ada perempuan yang memperlakukanku seperti ini,” kata Garudi di dalam hati sambil tetap mencoba bersikap santai sebagai orang sakti.


“Kalau aku nilai dari penampilannya, sepertinya bukan orang yang butuh uang. Jangan-jangan kau ini lelaki penjual wanita cantik ya?” kata Alma sambil terus berjalan memutari Garudi.


“Hahaha!” tawa Garudi karena dituding sebagai “lelaki penjual wanita cantik”. “Itu tuduhan yang jahat, Adik Cantik.”


“Hahahak!” tawa Alma semakin menjadi. “Buktinya, belum apa-apa sudah menyebut aku cantik!”


“Mana mungkin aku menyebut jelek gadis yang memang nyatanya cantik. Aku ini adalah seorang lelaki yang sepanjang hidupnya selalu menilai kecantikan seorang nenek, eh, seorang wanita maksudnya.”


“Hahahak …!” Meledaklah tawa Alma. Setelah tawanya reda, Alma bertanya, “Apa maksud Paman mengikutiku sampai jauh?”


“Aku ingin tahu di mana kau tinggal, Adik Cantik,” jawab Garudi sambil tersenyum tampan.


“Eh, mau apa tahu tempat aku tinggal? Pasti mau macam-macam!” tukas Alma.


“Hahaha! Aku ini memang genit, tetapi aku ini seorang pendekar yang baik hati dan tidak pernah menikah.”


“Hahahak! Paman, seumuran Paman ini seharusnya sudah punya anak seumuran aku. Malu ah kalau belum pernah nikah!”

__ADS_1


“Yaa, kau saja yang jadi anakku,” kata Garudi.


“Hah!” kejut Alma mendengar perkataan Garudi.


“Maksudku menjadi muridku,” ralat Garudi.


“Hahaha! Aku sudah punya guru, Paman. Sampai jumpa, Paman!” kata Alma yang didahului tawanya. Ia lalu berbalik dan melangkah pergi.


Garudi segera mengejar Alma.


“Siapa namamu, Adik Cantik?” tanya Garudi sambil berjalan di sebelah Alma.


“Alma Fatara.”


“Namaku Garudi Malaya, julukanku Pangeran Kumbang Genit. Aku tidak pernah mau mempunyai seorang murid, sampai aku melihatmu di pasar,” ujar Garudi.


“Apa kata dunia jika aku punya seorang guru yang genit. Lebih baik punya guru yang nakal daripada guru yang genit. Sebab aku juga nakal. Hahaha!” kata Alma.


“Pokoknya, kalau kau mau menjadi muridku, aku akan turuti apa saja maumu. Aku akan memanjakanmu. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja jadi penjual ikan,” kata Garudi.


“Tapi aku suka menjual ikan, Paman. Sebab aku adalah penjual ikan paling cantik di dunia. Hahaha!”


“Hahaha!” Garudi juga tertawa. “Aku jamin, jika kau menjadi muridku, kau akan bangga, Alma. Kau akan bahagia.”


“Apa yang akan membuatku bangga?” tanya Alma.


“Lalu apa yang bisa membuatku bahagia?” tanya Alma lagi.


“Apa saja yang bisa membuatmu bahagia,” jawab Garudi.


“Jawabanmu tidak jelas, Paman.”


“Ayolah, jadi muridku, ya?” rayu Garudi sambil berjalan mundur-mundur di depan langkah Alma.


“Ayolah, Paman. Aku ini sudah punya guru. Guruku juga sakti dan baik. Tidak mungkin aku jatuh hati kepada guru yang lain, apalagi gurunya genit. Bisa-bisa aku yang cantik ini dijahili oleh guru sendiri,” kata Alma.


“Tidaaak, tidak akan. Aku memang genit, tetapi aku sangat pantang melecehkan wanita!” tandas Garudi.


“Oh ya? Tapi tetap tidak bisa, Paman. Maaf ya!” kata Alma lalu berlari dan ….


Jbuur!


Alma dengan seenaknya melompat ke sungai lalu meluncur seperti seekor ikan menuju ke arah hulu.


“Eh eh! Dia itu manusia atau ikan?” ucap Garudi terkejut.

__ADS_1


Alma terus berenang. Terkadang ia menyelam dan tidak terlihat, terkadang harus melompat keluar dan berkelebat di udara jika sampai pada bagian sungai yang berbatu. Garudi juga berlari mengejar mengikuti.


“Aaa …!” jerit sejumlah wanita desa yang sedang mencuci di pinggir sungai, ketika tahu-tahu Alma muncul dari dalam air sungai dan berkelebat lalu masuk lagi ke air. Mirip seperti ikan terbang.


“Waaaw!” desah Garudi ketika melihat sekelompok wanita yang sedang berkegiatan di seberang sungai. Ia jadi terpesona lagi.


Namun, Garudi jadi teringat Alma kembali. Ia buru-buru berlari pergi mengikuti Alma.


“Gila, anak itu bisa berenang cepat sejauh ini,” ucap Garudi di dalam hati.


Setelah berenang cukup jauh ke hulu, Alma akhirnya melompat naik ke darat seberang. Alma lalu berkelebat pergi dengan tubuh dan pakaian yang kuyup.


Namun, tiba-tiba Alma menghentikan langkahnya. Ia melihat kemunculan sekelompok kupu-kupu berwarna kuning terbang berkerumun di depan wajahnya, mengikuti larinya. Alma merasa heran. Hal yang tidak wajar jika ada sekelompok kupu-kupu kecil terus terbang di depan wajahnya dalam jarak sejangkauan.


“Ini pasti perbuatan seseorang,” duga Alma.


Ia lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Pandangannya terhenti pada Garudi yang datang mendekatinya dengan tersenyum tampan.


“Paman yang melakukannya?” tanya Alma.


“Hahaha! Jika kau menjadi muridku, maka kau akan bisa mengendalikan serangga dan bisa berbicara dengan mereka,” kata Garudi.


“Wah, Paman hebat juga ya, bisa memerintah kupu-kupu,” puji Alma.


“Tidak hanya kupu-kupu, kumbang, anai-anai, dan belalang, aku juga bisa memerintah mereka,” kata Garudi dengan bangga.


“Aku akui, Paman memang hebat. Tapi aku akan tetap setia kepada guruku, Paman. Sampai jumpa, Paman!” kata Alma. Ia kemudian kembali berlari pergi meninggalkan Garudi.


“Tunggu, Alma!” panggil Garudi sambil turut berlari mengikuti.


Ketika Alma berkelebat, Garudi juga berkelebat.


Sebenarnya, Garudi bisa melesat lebih cepat dari Alma, tetapi ia sengaja mengimbangi. Karena Alma menolaknya, jadi ia ingin tahu tempat tinggal Alma. Jika perlu, ia akan meminta kepada gurunya Alma.


“Guruuu! Aku dikejar-kejar Paman Genit!” teriak Alma saat tiba di kediaman gurunya, Wiwi Kunai.


“Cari mati!” teriak satu suara perempuan dari dalam rumah panggung, terdengar marah.


Seet!


Tiba-tiba sebuah benda melesat cepat menyerang kedatangan Garudi. Garudi terkejut, karena lesatan benda yang adalah sebilah pisau itu terlalu cepat. Hampir-hampir saja ia tidak mampu mengelak tepat waktu.


Jika orang yang diserang hanya seorang pendekar biasa, mungkin gerakannya akan terlambat untuk menghindar.


“Siapa lelaki yang berani lancang kepada muridku?!” seru Wiwi Kunai yang sudah berdiri di atas tonggak bambu samping rumah.

__ADS_1


“Wiwi Kunai?” sebut Garudi tidak percaya.


“Hah! Kumbang Genit?” ucap Wiwi Kunai terkejut pula. (RH)


__ADS_2