
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Jataru diarak dalam kondisi bertelanjang dada. Ia hanya mengenakan celana, itupun hanya celana luar. Sementara Menur Mawangi mengenakan pakaian lengkap, seperti sebelum ia berbuat ilegal dengan Jataru di lumbung padi.
Jataru tidak bisa berbuat apa-apa. sebab ia tertangkap basah. Dia ditangkap dalam kondisi yang benar-benar sedang menyatu dengan Menur Mawangi. Jadi dia tidak bisa mengelak lagi dari tuduhan. Kini ia harus menanggung malu yang luar biasa.
Berbeda dari Jataru, Menur Mawangi hanya diam diarak seperti itu. Sesekali ia justru tersenyum sendiri di saat warga sedang menahan marah. Ia memang sudah tidak memiliki rasa malu.
Pengarakan itu dipimpin oleh Gulang, kepala centengnya Mullar Adyawali.
Rombongan arakan itu akhirnya berhenti di depan rumah Kepala Desa Bungitan, Dugil Ronggeng.
Alangkah terkejutnya Ning Ara melihat siapa orang yang sedang diarak oleh warga dan centeng Mullar Adyawali. Meski perkaranya belum disampaikan, keberduaan Jataru dengan Menur Mawangi jelas begitu menyakitkan hatinya. Ingin rasanya ia menangis melihat kondisi itu.
“Kepala Desa! Kami ingin Kepala Desa menghukum dua orang ini!” teriak Gulang lebih dulu.
“Benar Kepala Desa!” teriak warga sepakat.
“Tenang … tenang!” seru Dugil Ronggeng yang di sisi kanan dan kirinya berdiri Alma Fatara dan sahabat-sahabatnya, termasuk Ning Ara yang sepasang matanya telah berkaca-kaca, bukan bahagia atau terharu, tapi hatinya pedih.
“Jataru dan Menur Mawangi telah berbuat tidak senonoh di lumbung padi!” seru Gulang.
Terkejutlah Ning Ara mendengar hal itu. Semakin hancur perasaannya terhadap Jataru., seperti batu kerikil yang ditumbuk menjadi butiran biji kacang hijau.
“Berbuat tidak senonoh seperti apa, Gulang?” tanya Dugil Ronggeng dengan sikap tetap berwibawa.
“Jataru memasukkan burungnya ke sangkar Menur Mawangi!” jawab Gulang penus semangat.
“Hahaha!” tawa para warga mendengar hal itu.
Sementa Ning Ara meneteskan segaris air mata. Hatinya yang sudah seperti butiran kacang hijau seperti ditumbuk menjadi tepung terigu.
Mengetahui ada Ning Ara yang menyaksikannya, Jataru hanya bisa menunduk malu, tidak berani menegakkan wajahnya. Ia sudah pasrah dengan nasib cintanya.
“Apakah kalian ada saksi yang melihat langsung?” tanya Dugil Ronggeng lagi.
“Kami yang melihat langsung, memergoki langsung,” jawab Gulang sambil menunjuk beberapa anak buahnya.
“Ini buktinya, Kepala Desa!” seru seorang anak buah Gulang sambil mengangkat sebatang kayu kecil. Pada ujung kayu itu ada terkait sebuah cawat. “Ini adalah cawat Jataru!”
“Hahaha …!” tawa warga terbahak dan berkepanjangan melihat cawat yang dipamerkan. Alma Fatara dan rekan-rekannya pun ikut tertawa, tapi setengah ditahan.
“Mereka berdua harus dikawinkan, Kepala Desa!” teriak Gulang lagi.
“Benaaar! Harus dikawinkan!” teriak warga sepakat.
“Aku tidak setuju!” teriak seseorang dengan keras dari arah lain.
Semua pandangan segera beralih ke sumber suara. Mereka melihat seorang lelaki tinggi gemuk berpakaian bagus warna putih datang. Langkah lelaki berkumis tebal itu cepat dalam balutan kain batik warna hitam dan putih. Ia membawa keris di tangan kirinya. Dia adalah Mullar Adyawali, orang terkaya di desa itu dan ayah dari Menur Mawangi.
Di belakang Mullar Adyawali berjalan seorang wanita gemuk berpakaian bagus. Wanita berkulit putih itu adalah ibu dari Menur Mawangi, namanya Jatiyem.
__ADS_1
Di belakang mereka berjalan dua orang lelaki bergolok yang adalah centeng Mullar Adyawali.
Seiring itu, dari dalam rumah Kepala Desa keluar Ning Ana dan ibunya yang berparas putih cantik dengan hidung yang bangir, mirip hidung bangir Ning Ara dan Ning Ana. Namun, usianya sudah matang. Wanita itu bernama Ning Asa.
Kedatangan Mullar Adyawali dan istrinya membuat semua orang terdiam, terutama para centeng yang adalah bawahan Mullar.
Mullar berjalan cepat mendatangi putrinya. Melihat kedatangan Mullar dengan wajah yang garang, Menur Mawangi sudah bisa menduga apa yang akan menimpanya.
Plak!
“Ak!”
Satu tamparan keras mendarat di wajah Menur Mawangi, membuatnya menjerit sakit.
“Dan kau, akan kubunuh kau, lelaki hina!” teriak Mullar Adyawali sambil mendatangi Jataru, lalu memukulnya membabi buta.
Bak bek bik bok buk!
Jataru hanya bisa berjongkok, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjerit dalam menahan pukulan dan tendangan Mullar. Beruntung, Mullar adalah lelaki yang tidak memiliki ilmu kesaktian, sehingga pukulannya terhadap Jataru tidak mengancam nyawanya.
“Ayah! Jangan pukuli Kakang Jataru!” teriak Menur Mawangi sambil pergi memeluk Jataru.
Perlindungan yang diberikan oleh Menur Mawangi ternyata ampuh, membuat ayahnya menahan diri dari memukuli Jataru.
“Untuk apa kau melindungi orang yang sudah menodaimu, Menur?!” teriak Mullar Adyawali.
“Ini bukan salah Kakang Jataru, Ayah. Kami melakukannya karena suka sama suka!” jawab Menur Mawangi sambil menangis. Ia menangis karena tidak tega melihat lelaki yang dicintainya dipukuli oleh ayahnya.
Sebelumnya, Menur Mawangi sudah membayar Gulang. Salah satu kesepakatannya adalah tidak memukuli Jataru, tetapi hanya mengaraknya. Namun, ia tidak pernah bersepakat dengan ayahnya.
“Benar, kawinkan saja. Jika sampai nanti hamil, ketahuan siapa bapaknya!” teriak seorang warga.
Jatiyem yang juga menangis melihat kondisi putrinya, menghaburkan diri memeluk putrinya.
“Malangnya nasibmu, Nak!” ratap Jatiyem.
“Baik, tolong dengarkan semua!” seru Dugil Ronggeng agak keras.
Suasana seketika senyap, kecuali suara tangisan Jatiyem yang meratapi putrinya.
“Mullar Adyawali, karena sudah terbukti jelas bahwa Jataru dan putrimu, Menur Mawangi, telah melakukan perbuatan tidak senonoh, yang perbuatan mereka itu disaksikan langsung oleh Gulang dan anak buahnya di lumbung padi, maka aku memutuskan untuk menikahkan mereka berdua. Agar keduanya bisa berhubungan lebih sah dan Desa Bungitan tidak dilanda keonaran dan bala!” seru Dugil Ronggeng memutuskan.
“Huh!” dengus Mullar Adyawali marah. Lalu perintahnya kepada Gulang, “Bawa mereka berdua ke rumah!”
“Tunggu! Akulah yang berhak menikahi Menur Mawangi!” teriak seorang lelaki tiba-tiba.
Kembali semua mata dialihkan ke sumber suara.
Seorang pemuda berbadan gagah tapi tampang pas-pasan muncul dari kegelapan tanpa membawa obor.
“Kakang Pengging!” sebut Menur Mawangi terkejut.
__ADS_1
“Pengging!” sebut sejumlah orang yang mengenal siapa pemuda itu adanya.
Pemuda berambut gondrong berhidung besar itu mencabut sebilah pisau bergagang bagus dari balik pakaiannya.
“Jataru!” teriak Pengging begitu marah.
Panggilan keras itu membuat Jataru yang masih berjongkok mengangkat wajahnya dan memandang kepada Pengging yang menatapnya penuh angkara murka.
“Tidak akan aku biarkan kau memiliki Menur!” teriak Pengging lalu menikam dirinya sendiri pada bagian perut.
“Akh!” jerit Jataru dengan tubuh tersentak.
Jataru memegangi perutnya dengan tangan kanan lalu ia tumbang terlentang sambil mengerang kesakitan.
Semua terkejut menyaksikan kejadian itu. Awalnya mereka terkejut ketika Pengging menusuk dirinya sendiri dengan pisau. Namun, mereka lebih terkejut saat melihat apa yang terjadi pada Jataru.
“Jataru berdarah!” sebut Alma Fatara yang jeli melihat darah pada tangan Jataru yang membekap perutnya.
Semakin terkejutlah mereka. Gulang cepat mendekatkan obornya ke atas tubuh Jataru.
“Kenapa bisa berdarah?” ucap Gulang bingung, tapi ia kemudian memandang Pengging.
Pengging mencabut tikaman pisau dari perutnya. Selanjutnya dia menyayat kuat dadanya dengan pisau. Anehnya, perut dan dadanya tidak berdarah ketika disayat oleh pisau.
“Aaak!” jerit Jataru keras menyayat.
Jataru yang tidak berbaju itu, dengan jelas menderita luka sayatan benda tajam pada dadanya. Garis lukanya sama seperti garis yang dibuat Pengging pada dadanya.
Darah segar seketika melumuri tubuh Jataru.
“Kakang Jataruuu!” jerit Menur Mawangi melihat kondisi Jataru. Kali ini ia benar-benar ketakutan melihat kondisi Jataru yang berdarah-darah.
Pengging tiba-tiba berlari kepada Menur Mawangi dan menariknya paksa dari ibunya.
“Ayah! Tolong aku!” jerit Menur Mawangi yang terbawa oleh tarikan Pengging yang kuat.
Sejumlah centeng ingin bertindak menolong Menur Mawangi, tetapi mereka urung niat karena ancaman Pengging.
“Jangan sampai nasib kalian seperti Jataru!” seru Pengging.
Mullar Adyawali dan semua centeng tidak ada yang berani maju untuk menolong Menur Mawangi. Mereka sekilas melihat kondisi Jataru. Ternyata pemuda yang baru diputuskan untuk kawin itu telah tewas.
“Bagaimana bisa dia menusuk dirinya sendiri, tetapi orang lain yang mati?” tanya Magar Kepang dengan nada pelan.
“Mungkin itu Pisau Bunuh Diri yang diceritakan Kakek Jangkung Jamur tadi,” jawab Alma.
Alma cepat bergerak menyentuh tangan Garam Sakti, karena pemuda berotot itu terlihat menarik keluar Keris Petir Api.
Garam Sakti memandang Alma. Gadis berjubah hitam itu hanya menggeleng sebagai jawaban.
“Jangan ada yang berani berurusan denganku jika tidak ingin mati!” teriak Pengging memperingatkan.
__ADS_1
“Ayaaah! Ibuuu!” teriak Menur Mawangi menangis sambil terpaksa ikut oleh tarikan Pengging. Keduanya pergi masuk ke dalam kegelapan malam.
Sementara itu, Ning Ara menangis deras melihat kematian Jataru di depan matanya. (RH)