
*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*
Pengemis Batok Bolong duduk bersandar pada batang pohon pinggir jalan. Keberadaannya sulit terlihat dari jalanan, karena tinggi rumput yang sedada menutupinya hingga atas kepala.
Sambil memejamkan mata, ia sedang menunggu sesuatu. Ia duduk di tempat tersembunyi itu sudah sekitar tiga jam.
Hingga akhirnya, suara lari santai sejumlah kuda dan putaran roda pedati terdengar datang mendekat.
Set!
“Awas, Amal!” teriak Ayu Wicara kencang saat melihat sebuah benda melesat cepat dari balik ilalang yang jelas-jelas mengincar kepala Alma Fatara. Saat itu kuda Ayu Wicara dan Debur Angkara berjalan di belakang pedati kuda.
Peringatan itu membuat Alma cepat merundukkan tubuh atasnya, membuat benda yang adalah batok kelapa separuh itu lewat tipis di atas kepala. Tengkuk Alma bisa merasakan energi hangat pada benda itu. Karena kulit Alma antiapi, jadi panas tinggi akan dirasakan hangat.
Bdar!
Sezt! Bdak!
Batok kelapa sakti itu menghantam dan meledakkan batang pohon ukuran sedang, lalu memantul balik kembali menyerang Alma. Sepertinya Pengemis Batok Bolong memiliki sudut lempar yang sempurna dan penuh perhitungan, sehingga ketika gagal, bisa menyerang balik dengan memanfaatkan pantulan.
Namun, Alma cepat mengibaskan tangan kirinya, melepas ilmu Sabit Murka. Sinar kuning tipis melengkung menghantam batok kelapa itu. Hebatnya si batok, dia hanya terpental jauh ke dalam ilalang tanpa mengalami kerusakan.
Zerzz!
Kali ini Garam Sakti bertindak cepat dengan menusukkan kerisnya ke samping kanan. Sealiran sinar hijau tanpa putus melesat mengenai rimbunan rumput ilalang bawah pohon.
Namun, sebelum lidah sinar itu sampai dan membakar rumput hijau, sesosok tubuh berkelebat cepat naik ke udara menghindari serangan.
Sezt! Zresst!
Lesatan tubuh Pengemis Batok Bolong langsung disambar oleh sinar kuning tipis melengkung. Namun, ternyata sang pengemis sudah siap, sehingga sinar kuning yang mengenainya terhadang oleh ilmu perisai Lindung Pengemis.
Ketika ilmu Sabit Murka mengenai Pengemis Batok Bolong, yang timbul adalah percikan sinar kuning dan membuat tubuh orang tua itu terpental kencang jatuh di dalam rumput ilalang.
“Uhhuk!” batuk Alma tiba-tiba.
__ADS_1
“Kau tidak apa-apa, Alma?” tanya Warna Mekararum khawatir.
“Tidak, hanya sesak karena mengeluarkan tenaga yang agak besar, Nek,” jawab Alma. Dua kali mengeluarkan ilmu Sabit Murka membuat dadanya cukup sesak.
Di dalam rerumputan pada sisi kanan jalan, terlihat Pengemis Batok Bolong bangkit dari jatuhnya. Ia cepat berkelebat keluar dari rerumputan dan mendarat di tengah jalan, di depan rombongan yang telah berhenti.
“Aku tahu maksudmu menghadang kami, Kakek Pengemis!” seru Alma Fatara menyapa.
Alma lalu berdiri dari duduknya di bak pedati. Ia berkelebat pendek di udara dan mendarat dua tombak di depan kuda pedati. Kini ia berhadapan dengan Pengemis Batok Bolong dalam jarak tiga tombak.
“Apakah Kakek sudah mendengar kabar tewasnya Ketua Dua Perguruan Pisau Merah? Itu akibat menginginkan Bola Hitam,” ujar Alma untuk memberi gambaran bagi Pengemis Batok Bolong jika berusaha merebut Bola Hitam.
Agak melebar sepasang mata Pengemis Batok Bolong yang berdiri agak membungkuk, karena tulang punggungnya memang sudah tidak bisa tegak.
“Hehehe!” kekeh Pengemis Batok Bolong untuk menutupi ketegangannya, karena ia sudah terkena satu serangan. Ia menatap tajam kepada Alma. Lalu katanya, “Aku tahu kau dalam kondisi terluka, Alma.”
“Hahaha! Kakek Pengemis jangan terkecoh dengan kelemahan seseorang,” kata Alma yang didahului dengan tawanya. “Apakah Kakek Pengemis tetap keras hati ingin merebut Bola Hitam?”
“Tentu,” jawab Pengemis Batok Bolong tanpa ragu.
Gaya serang Alma membuat Pengemis Batok Bolong terkejut dan heran, seolah Alma hanya berniat menabrakkan tubuh depannya.
Pengemis Batok Bolong cepat memanfaatkan kesempatan. Ia menyambut tubuh Alma dengan dua pukulan beruntun.
Tus tus!
“Ekk!” pekik Pengemis Batok Bolong sambil buru-buru melompat mundur, ketika dua pukulannya ditusuk oleh sesuatu yang terlihat seperti garis merah sangat tipis. Itu terjadi sebelum pukulannya tiba pada sasaran.
Belum habis Pengemis Batok Bolong berpikir, tubuh Alma telah bersalto di udara dengan tungkai kaki mengapak ke arah batok kepala.
Dak! Tus tus!
“Akh!” jerit Pengemis Batok Bolong tertahan dengan kaki kanan jatuh terlutut di tanah. Buru-buru dia melompat mundur cukup jauh, semata-mata untuk menjauhi Alma yang penuh misteri.
Sebelumnya. Pengemis Batok Bolong memutuskan menangkis tungkai kaki Alma dengan silangan kedua batang tangannya. Ternyata, pada saat yang bersamaan, Benang Darah Dewa yang keluar dari balik jubah melesat menusuk dua titik pada batang leher sang pengemis. Dua tusukan itulah yang membuat Pengemis Batok Bolong menjerit dan terkejut, sehingga pertahanannya saat menahan tendangan Alma menjadi lemah.
__ADS_1
Meski lubang pada leher Pengemis Batok Bolong kecil, tetapi ada darah yang keluar. Ketika Pengemis Batok Bolong mengusap lehernya, ia dapati telapak tangannya terlumur darah.
“Senjata apa yang dimiliki gadis cantik itu?” tanya Pengemis Batok Bolong dalam hati, sambil merobek ujung bajunya.
Pengemis Batok Bolong lalu melilit lehernya dengan kain bajunya yang lusuh. Hal itu untuk menahan darah agar berhenti keluar.
“Senjata apa yang kau miliki, Alma?” tanya Pengemis Batok Bolong.
“Hahaha!” tawa Alma. “Kita sedang bertarung, apakah penting bagiku untuk memberitahukan kepadamu, Kek? Seharusnya yang perlu kau takuti adalah jika aku sudah mengeluarkan Bola Hitam sebagai senjata. Atau, Kakek Pengemis ingin merebut senjata benangku juga?”
“Oh, rupanya benang,” ucap Pengemis Batok Bolong lirih.
“Serahkan Batok Bolong kepadaku!” teriak seorang lelaki tiba-tiba. Suaranya menggelegar mengejutkan dari jauh.
Seet! Teb!
Setelah teriakan keras itu, terdengar suara lari kuda yang kencang dari arah jauh di belakang. Seiring itu, sebatang tongkat melesat cepat dari belakang rombongan pedati yang mengarah Pengemis Batok Bolong.
Dengan tenaga dalam yang tinggi, telapak tangan kanan Pengemis Batok Bolong yang bersinar perak menahan ujung tongkat besi itu. Tongkat besi itu berhenti seperti menancap di dinding baja.
Puk! Baks!
Kondisi itu ternyata menjadi makanan empuk bagi Alma Fatara. Ia cepat menghantamkan pukulan telapak tangannya ke ujung tombak satunya. Alma mengerahkan pukulan Tapak Rambat Daya.
Satu gelombang tenaga besar menjalari tongkat dengan cepat yang berakhir dengan menghantam tangan dan tubuh Pengemis Batok Bolong. Sang pengemis langsung terpental ke belakang dengan mulut menyemburkan darah kental.
Pengemis Batok Bolong jatuh terjengkang di tanah jalanan. Namun, ia cepat bangkit, meski luka dalam telah menderanya.
Keunikan dari ilmu Tapak Rambat Daya adalah harus melewati benda mediasi untuk menghantarkan tenaga dahsyat ke benda berikut. Jika pukulan itu digunakan langsung ke target, justru tidak berfungsi. Tenaga yang dikeluarkannya pun tinggi tanpa mempengaruhi pemiliknya meski sedang mengalami luka dalam.
Serangan Alma tadi benar-benar merugikan Pengemis Batok Bolong karena akan mengurangi kekuatannya jika pertarungan berlanjut.
Kini di sisi Alma telah berdiri Genggam Sekam yang berjuluk Pendekar Tongkat Berat.
“Batok Bolong, mengakulah bahwa kau yang membunuh kekasihku, Dewi Penari Daun!” seru Genggam Sekam dengan tatapan penuh dendam kepada si orang tua. (RH)
__ADS_1