A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 18: Eksekusi Bola Hitam


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Set!


Baru saja Merah Matang dan Alma Fatara siap adu kesaktian yang berwujud sinar merah bulat dan sinar emas menyilaukan, tiba-tiba pedang terbang Merah Matang datang melesat dari belakang Alma.


Cepat Alma melakukan salto ke belakang sambil menghentakkan kedua lengannya, melesatkan dua sinar emas menyilaukan. Pada saat yang sama, pedang terbang Merah Matang lewat tepat di bawah tubuh Alma.


Swess swess! Suss!


Blar! Bluarr!


Satu sinar emas menyilaukan dari ilmu Pukulan Bandar Emas melesat mengejar pedang terbang dan berhasil menjangkaunya, kemudian meledakkannya di tengah jalan.


Sementara satu sinar lagi melesat cepat menyerang Merah Matang. Si kakek merah yang memang sudah menyiapkan sepasang bola sinar merah di kedua tangannya, langsung melesatkan kedua sinarnya mengeroyok satu sinar emas yang tersisa.


Kedua sinar merah itu menghantam sinar emas, menimbulkan ledakan tenaga sakti yang begitu keras.


Alma Fatara yang tubuhnya masih di udara, langsung terpental keras dan jatuh bergulingan di tanah berumput.


Namun, nasib tidak lebih baik dialami oleh Merah Matang. Ia terpental lebih keras dan lebih jauh.


“Hoekhr!” Merah Matang langsung muntah banyak darah kental dan panas setelah tubuhnya berhenti terguling-guling.


Ia merasakan tubuhnya terasa hancur dan sakit semua. Namun, ia masih berusaha untuk bangkit dengan kedua kaki yang gemetar kuat.


“Hoekr!” Merah Matang kembali muntah darah.


Swuss!


Namun, setelah muntah darah itu, tubuh Merah Matang diselimuti sinar merah tipis.


“Hiaaat!” teriak Merah Matang keras.


Swuarrs!


Setelah teriakan itu, sinar merah tipis pada tubuh Merah Matang meledak menjadi lebih besar dan berpendar-pendar.


“Hiaaat!” teriak Merah Matang lagi sambil mengencangkan semua urat dan ototnya, memaksimalkan tenaga saktinya ke level tertinggi yang ia miliki.


Swarss!


Sinar yang menyelimuti tubuh Merah Matang kembali meledak dan mengubahnya semakin besar, seolah memiliki bahan bakar yang banyak.

__ADS_1


Sementara itu, Alma Fatara yang baru saja menyeka darah yang keluar dari mulutnya, telah bersiap.


Alma Fatara lalu berlari kecil menuju tempat Merah Matang berdiri.


“Heaat!” teriak Merah Matang lagi sambil menghentakkan lengan kanannya.


Swuarrss!


Dari tangan kanan itu melesat wujud sinar merah berbentuk pedang raksasa besar menyerang Alma Fatara. Sangat cepat lesatannya.


Set!


Srusstt! Siit! Blus!


Alma Fatara menyambut ilmu tertinggi Merah Matang dengan melesatkan Bola Hitam. Ketika Bola Hitam bertemu dengan sinar merah besar itu, sinar merah berwujud pedang raksasa itu tersedot masuk ke dalam bola, sementara Bola Hitam terhenti sejenak di udara. Kejap berikutnya, ada tembakan sinar merah sepanjang satu depa dari Bola Hitam. Lesatannya sangat cepat seperti pedang sinar tadi. Dan sinar itu langsung mengenai tubuh Merah Matang yang tidak bisa menghindar. Selain karena garis sinar itu terlalu cepat, Merah Matang juga sudah tidak kuat bergerak cepat.


Tubuh bersinar Merah Matang seketika padam setelah terkena sinar merah dari Bola Hitam. Secara tiba-tiba tubuh dan pakaian Merah Matang berubah warna menjadi abu-abu seperti warna batu. Namun, detik berikutnya sosok itu langsung ambyar diterpa angin lembah.


Sebenarnya ini kali pertama Alma Fatara mengadukan Bola Hitam dengan satu kesaktian yang sangat berbahaya. Ia berspekulasi. Alma berpikir, jika Bola Hitam adalah pusaka yang sangat hebat. Pastilah dia bisa menahan kesaktian apa pun. Maka seperti tadilah hasilnya, membuat Alma Fatara terpukau.


“Luar biasa!” ucapnya sambil memandangi Bola Hitam di tangannya.


Ia lalu menyimpan kembali pusakanya. Ia beralih memandang kepada satu-satunya pertandingan yang tersisa, yaitu antara Sumirah yang berjuluk Pendekar Buaya Cantik melawan Pendekar Macan Putih.


Ting ting ting …!


Sepasang pedang buaya yang berwarna merah dan hitam bergantian menyerang Pendekar Macan Putih, yang hanya bisa menangkis dengan sinar biru berbentuk cakaran binatang di kedua tangan. Sementara langkahnya terus bergerak mundur karena tertekan.


Tiba-tiba Sumirah melompat jauh ke depan melampaui kepala Pendekar Macan Putih.


Jleg! Bsets! Brass!


“Hukr!”


Ketika mendarat, Sumirah langsung berbalik sambil mengibaskan kedua pedangnya karena musuh ada di belakang. Dari kibasan kedua pedang itu melesat sinar merah berbentuk “X” menyerang Pendekar Macan Putih.


Tidak bisa menghindar, Pendekar Macan Putih yang juga baru berbalik badan, hanya bisa menangkis dengan tenaga dalam tinggi yang tidak terlihat, dengan cara menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Pendekar Macan Putih terpental keras dengan mulut menyemburkan darah ke udara.


Seet! Crek!


Belum lagi Pendekar Macan Putih bangkit, Pendekar Buaya Cantik sudah datang melompat dengan kedua pedang menebas bersamaan. Namun, Pendekar Macan Putih mampu lolos dari bacokan dengan cara melompat cepat ke samping seperti macan.

__ADS_1


Setelah lawannya lolos, Pendekar Buaya Cantik tidak mau berhenti memburu. Ia cepat mengejar dengan kedua pedang mautnya.


Sees! Sraas!


“Akk!” jerit Pendekar Buaya Cantik karena kedatangannya disambut oleh selarik sinar putih yang tidak bisa dia hindari, kecuali dengan menangkis menggunakan silangan kedua pedangnya.


Wanita cantik itu terlempar balik dengan kedua pedang lepas dari genggaman.


Pendekar Buaya Cantik jatuh keras dengan punggungnya. Ia tidak cepat bangkit. Ia hanya menggeliat menahan sakit. Tampak darah merembes di sudut bibirnya.


Melihat kondisi lawannya terkapar, Pendekar Macan Putih yang telah terluka pula, cepat ambil kesempatan. Ia berlari lalu melompat menerkam dengan kedua tangan memiliki cakar sinar yang panjang. Cakar sinar itu siap mencabik-cabik tubuh indah Sumirah.


Seet! Cring! Dug!


Namun, sebelum Pendekar Macan Putih menunaikan niatannya, dari samping ada benda panjang yang melesat menyerang.


Pendekar Macan Putih yang terkejut, cepat mengalihkan cakaran sinarnya untuk menangkis benda panjang yang adalah tongkat besi itu.


Tongkat besi milik Genggam Sekam itu memang tertangkis sehingga terdengar suara nyaring dan percikan kembang sinar. Namun, tongkat itu tetap bisa lolos menghantam dada Pendekar Macan Putih.


“Akk!” pekik Pendekar Macan Putih dengan tubuh terlempar pendek dan jatuh berdebam di tanah. Ia menggeliat kesakitan karena dadanya seolah remuk.


Penyelamatan yang dilakukan oleh Genggam Sekam, membuat Sumirah memiliki waktu untuk bangkit. Melihat lawannya menggeliat kesakitan, dia cepat bergerak memungut kedua pedangnya, lalu melompat sambil membacokkan pedang buaya warna hitamnya.


Crak!


Namun, Pendekar Macan Putih yang posisinya masih terbaring di tanah, bisa menahan dengan silangan kesepuluh cakaran sinar birunya.


Crass!


“Aaak!”


Meski bisa menangkis pedang hitam Sumirah, tetapi Pendekar Macan Putih tidak bisa mencegah pedang yang berwarna merah.


Pendekar Macan Putih menjerit keras saat lengan kanannya putus ditebas pedang merah Sumirah. Dan itulah awal dari akhir hayatnya, sebab pedang hitam yang tadi tertahan kembali terangkat dan menusuk perutnya.


Tsub!


“Akhrr!” jerit Pendekar Macan Putih dengan tubuh melengkung menahan sakit yang luar biasa.


Darah mengalir deras dari lengan dan perut Pendekar Macan Putih, demikian pula dari rongga mulutnya. Setelah itu, ia pun menutup mata sebagai pendekar pemberontak.


Sumirah beralih memandang kepada Genggam Sekam. Ia tersenyum lebar kepada pemuda tampan itu. Rasa cintanya semakin tinggi kepada kekasih Ning Ara itu. (RH)

__ADS_1


__ADS_2