A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 19: Pasukan Pembebas Jintamani (TAMAT)


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Ratu Warna Mekararum tampil dalam kondisi bugar dengan pakaian serba putih. Ia sudah bisa berdiri tanpa bantuan orang lain. Wajahnya yang terang dan cerah sudah tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia dalam kondisi keracunan. Meski ia tidak bertiara, tetapi para adipati yang berada di tanah Lembah Hilang bisa mengenalinya bahwa ia adalah Ratu Kerajaan Jintamani.


Di sisi kanan sang ratu telah berdiri Datok Jari Sambilan yang berwarna merah putih. Merah seluruh pakaiannya, putih seluruh rambutnya. Ketua Satu Perguruan Pisau Merah itu sudah menjadi dekat dengan Ratu Warna Mekararum.


Di sisi kiri Ratu, tapi agak ke belakang sedikit, berdiri Alma Fatara yang untuk saat ini berlaku sebagai pengawal pribadi sang ratu. Di sisi Alma Fatara berdiri Jangkung Jamur alias Ki Ramu Empedu, orang yang telah mengobati Ratu Warna Mekararum.


Saat ini ketiganya berdiri di tanah yang tinggi di pinggir lembah. Di bawah mereka telah berkumpul banyak pasukan gabungan dari beberapa kadipaten. Ada juga ratusan pasukan berseragam merah bersenjatakan pisau-pisau merah. Mereka adalah murid-murid Perguruan Pisau Merah yang menjadi pasukan bantuan.


Di depan pasukan masing-masing kadipaten berdiri para adipati. Adipati Lalang Lengir dari Kadipaten Sorangan, Adipati Garongjaga dari Kadipaten Rangkas Kelud, Adipati Butak Jelaga dari Kadipaten Duno, Adipati Kendrang dari Kadipaten Bentangan, dan Adipati Panji Gumo dari Kadipaten Bukit Aren.


“Para adipati, apakah kalian masih mengenaliku?” tanya Ratu Mekararum dengan suara yang lantang dan berwibawa.


“Masih, Gusti Ratu!” jawab kelima adipati tersebut.


“Kondisi di Istana Jintamani adalah tipuan bagi seluruh rakyat Jintamani. Meski Prabu Marapata masih duduk di tahtanya, tapi di balik itu semua, kekuasaan Ibu Kota telah dikendalikan oleh Senopati Gending Suro dan seluruh pasukannya. Aku telah melalui bertahun-tahun masa pembuangan dalam kondisi tubuh penuh racun. Kini aku telah bebas dari segala bentuk sandera dan ancaman kematian. Aku yang tidak memiliki pasukan saat ini, hanya mengharapkan kesetiaan dari para adipati seluruh kadipaten di luar Ibu Kota Jintamani!” seru Ratu Warna Mekararum.


“Hamba masih setia, Gusti Ratu!” seru Adipati Lalang Lengir sambil turun berlutut menghormat.


“Hamba masih setia, Gusti Ratu!” seru Adipati Garongjaga, Adipati Butak Jelaga, Adipati Kendrang, dan Adipati Panji Gumo serentak sambil turun berlutut.


“Bangkitlah!” perintah Ratu Warna Mekararum.


Para adipati segera bangkit berdiri kembali dan menatap agak ke atas, kepada sang ratu dan ketiga orang yang bersamanya.


“Adipati Lalang Lengir!” sebut sang ratu.


“Hamba, Gusti Ratu!” sahut adipati wanita cantik itu.


“Jasamu tidak akan aku lupakan karena berhasil mempengaruhi keempat adipati lainnya,” kata sang ratu.


“Keberhasilan hamba tidak lepas dari arahan Gusti Ratu,” ucap Adipati Lalang Lengir.


“Tanpa bantuan pasukan dari kalian pun, aku bisa berperang melawan pasukan Senopati Gending Suro. Namun, seorang ratu memerlukan kesetiaan dari rakyatnya untuk menjadi seorang ratu yang benar-benar kuat. Maka itu, aku menyeru kepada kalian, apakah kalian bersedia berperang bersamaku?” seru Ratu Warna Mekararum.


“Kami bersedia, Gusti Ratu!” seru para adipati dan seluruh pasukan kadipaten dengan keras.


Suara mereka menggema memenuhi Lembah Hilang hingga ke sekitarnya.


“Dua hari lagi, kita aka berangkat menuju ibu kota Jintamani untuk menyelamatkan Gusti Prabu Marapata dan menolong Kerajaan Jintamani dari kehancuran!” seru Ratu Warna Mekararum.


“Jayalah Gusti Ratu! Jayalah Gusti Ratu!” teriak Adipati Panji Gumo tiba-tiba.


“Jayalah Gusti Ratu! Jayalah Gusti Ratu!” teriak semua prajurit dan murid-murid Perguruan Pisau Merah.

__ADS_1


“Hancurkan Senopati Gending Suro!” teriak Adipati Panji Gumo lagi.


“Hancurkan Senopati Gending Suro!” teriak pasukan lagi.


Teriakan penuh semangat perang itu seolah menepis hawa dingin yang mereka derita saat itu.


“Pasukan ini akan aku beri nama Pasukan Pembebas Jintamani. Bersama kita akan ada ratusan pasukan dari Perguruan Pisau Merah sebagai pasukan khusus, ditambah oleh gadis sakti bernama Alma Fatara yang akan menjadi Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani. Jika kalian masih meragukan kesaktian Panglima Perang yang belia ini, maka ketahuilah, hawa dingin yang kalian rasakan saat ini adalah bagian dari kesaktian Panglima Alma Fatara!” seru Ratu Warna Mekararum.


“Waw …!”


Terdengarlah suara terpukau dari banyak orang di dalam dua pasukan itu, yang kemudian mereka kembali peduli dengan hawa dingin yang berasal dari arah rawa. Hal itu membuat mereka kembali memeluk diri sendiri. Apalah daya, selain status yang masih jomblo, sebagian yang lain jauh diri bini. Tidak lucu jika sesama prajurit lelaki berpelukan hanya karena dingin.


Setelah rapat umum itu, pasukan pun ditugaskan melucuti mayat-mayat musuh. Sementara Ratu Warna Mekararum melanjutkan dengan pertemuan khusus yang dihadiri oleh Datok Jari Sambilan, Ki Ramu Empedu, Alma Fatara, Magar Kepang, Genggam Sekam, Sumirah, Sudigatra, Adipaksa, dan kelima adipati.


Mereka membahas seputar strategi perang yang akan mereka terapkan. Kali ini mereka berkumpul di dalam sebuah tenda besar yang telah didirikan oleh prajurit. Beberapa dari mereka sudah mengenakan pakaian pelapis untuk mengurangi hawa dingin.


Karena mereka duduk di kursi-kursi tanpa meja, mereka bermusyawarah sambil satu tangannya memegang gelas bambu yang berisik minuman panas.


“Jumlah pasukan kita masih sangat jauh dari jumlah pasukan Senopati, jadi kita masih membutuhkan penambahan dari pasukan tujuh kadipaten lainnya,” ujar Ratu Warna Mekararum. “Apa pandangan kalian?”


“Pengkhianatan kami terhadap pasukan kerajaan dan kekalahan telak pasukan kerajaan, pasti akan cepat sampai ke telinga Senopati Gending Suro. Kemungkinan, Senopati akan cepat berusaha menguasai para adipati yang belum mengerti cerita sebenarnya,” ujar Adipati Lalang Lengir. “Jika Gusti Ratu mengandalkan cara sebelumnya dengan mengutus Genggam Sekam dan Sumirah, mungkin hasilnya tidak seperti sebelumnya. Kecuali, Gusti Ratu bertemu langsung para adipati tersebut.”


“Tapi tidak mungkin aku melakukan perjalanan ke setiap kadipaten yang akan memakan waktu lama dan melelahkan. Aku akan tetap mengandalkan cara tusuk rambut itu dengan mengirim Genggam Sekam dan Sumirah. Apa pun hasilnya, kita hanya bisa berharap bahwa mereka percaya dan mau bergabung bersama Pasukan Pembebas Jintamani. Selain itu, strategi apa yang kalian usulkan?” kata Ratu Warna Mekararum.


“Jangan seperti itu!” tolak Garongjaga. “Sebelum Alas Tiga Air, ada sebuah padang rumput luas yang bagus untuk dijadikan medan perang. Kita tunggu pasukan Senopati di sana. Jika kita menyerang Ibu Kota, itu akan menjatuhkan korban dari kalangan rakyat Ibu Kota yang tidak ada hubungannya dalam konflik ini.”


“Tapi, jika berperang seperti itu, sama saja tidak ada strategi. Itu perang terbuka,” tandas Adipati Kendrang.


“Pasukan Kerajaan terlalu besar jumlahnya di banding kita. Jika kita perang terbuka tanpa tipu daya, korban akan jatuh banyak di pihak kita,” kata Lalang Lengir.


“Tapi menurutku, pasukan Senopati harus dipecah dengan ditarik keluar dari Ibu Kota, sehingga jumlahnya tidak sebanyak yang kita bayangkan,” kata Sumirah.


“Aku ada siasat bagus!” kata Panji Gumo tiba-tiba agak keras, membuat semua mata fokus kepadanya. “Tujuan utama kita adalah menguasai Istana di Ibu Kota. Jadi Pasukan Pembebas kita bagi dua. Pasukan pertama menantang perang di padang rumput Alas Tiga Air. Pasukan kedua pergi menyerang Ibu Kota lewat jalur utara. Di Alas Tiga Air pasukan kita tidak mungkin menang, jadi pasukan harus sudah menyiapkan jalur cepat untuk mundur menyelamatkan diri. Ketika mereka menyadari siasat kita, Ibu Kota sudah kita kuasai.”


“Aku setuju siasat itu!” timpal Adipati Butak Jalaga. “Ketika kita menguasai Ibu Kota, dan pasukan Senopati menyerang balik, kita sudah memiliki benteng Ibu Kota yang kuat.”


“Aku juga setuju dengan siasat itu,” kata Alma Fatara akhirnya. “Namun, pasukan tidak perlu dibagi dua. Pusatkan pasukan menuju Ibu Kota. Aku yang akan berperang sendiri di Alas Tiga Air. Aku hanya butuh beberapa orang pengangkut tenda dan juru masak. Hahaha!”


“Hah! Berperang sendiri melawan ribuan pasukan Senopati Gending Suro?” tanya Adipati Panji Gumo terkejut.


“Hahahak …!” tawa Alma Fatara kian terbahak, memperlihatkan dua gigi ompongnya.


“Hahaha!” tawa satu dua adipati yang baru melihat keompongan Alma. Termasuk Datuk Jari Sambilan dan kedua murid utamanya.


Namun, Alma tidak bermasalah jika ditertawakan giginya, asal jangan ditertawakan nasibnya.

__ADS_1


“Tidak usah khawatir. Aku sudah pernah berperang sendiri melawan ribuan pasukan,” kata Alma seraya tersenyum lebar.


“Iya, aku yang menjadi saksinya!” sahut Magar Kepang, memberanikan diri. Dengan ikutnya dia menyumbang suara, maka tidak sia-sia dia diajak rapat. Setelah menyumbang suara, ia tersenyum lebar sendiri.


“Karenanya, sebelumnya aku mengatakan kepada kalian, sebenarnya aku tidak butuh pasukan untuk merebut kembali Kerajaan Jintamani, tapi aku ingin melihat, kepala daerah mana yang setia atau yang memberontak,” tandas Ratu Warna Mekararum.


Para adipati hanya manggut-manggut mengiyakan dan tanda percaya.


“Tapi kau adalah Panglima Perang. Bagaimana bisa kau berpisah dengan pasukan, Alma?” tanya Ratu Warna Mekararum.


“Tinggal Nenek ganti panglima perangnya. Hahaha!” kata Alma Fatara yang sudah terbiasa menyebut sang ratu dengan sebutan “Nenek”.


“Baiklah. Aku menunjuk Alma Fatara sebagai Panglima Perang Pasukan Pembebas Jintamani dan Adipati Lalang Lengir sebagai wakilnya!” kata Ratu Warna Mekararum. “Di saat Alma tidak ada, maka Adipati Lalang Lengir pemimpinnya.”


“Siap, Nek!” sahut Alma Fatara.


“Hamba siap mengemban tugas besar ini, Gusti Ratu!” ucap Adipati Lalang Lengir sambil turun berlutut menghormat.


Dua hari kemudian.


Pasukan Pembebas Jintamani telah siap di Lembah Hilang. Mereka sudah berbaris rapi dengan adipati menjadi pemimpin pasukan kadipaten masing-masing. Pasukan Perguruan Pisau Merah dibagi menjadi dua pasukan, yang masing-masing dipimpin oleh Sudigatra dan Adipaksa.


Kini, Ratu Warna Mekararum menaiki kereta kuda milik Adipati Lalang Lengir, bukan pedati kuda lagi. Sang adipati sendiri sebagai Wakil Panglima Perang harus berkuda dan berpanas surya.


Dalam perjalanan perang ini, Dato Jari Sambilan tidak ikut. Sementara Genggam Sekam dan Sumirah sudah berangkat dua hari lalu. Pasangan kekasih itu membawa pesan Ratu kepada tujuh adipati lainnya yang dimiliki oleh Kerajaan Jintamani.


“Pasukaaaan, berangkaaat!” teriak Alma Fatara lantang membahana dari atas punggung kudanya.


“Pasukaaan, berangkaaat!” teriak Adipatai Lalang Lengir dan para pemimpin pasukan bersamaan sambil mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi.


“Berangkaaat!” teriak semua prajurit dan murid Perguruan Pisau Merah kencang, laksana sebuah pasukan besar.


Pasukan Pembebas Jintamani pun memulai perjalanannya. (TAMAT)


************************


Assalamu 'alaikum dan salam sejahtera.


TERIMA KASIH sudah menyelesaikan A1ma Dewi Dua Gigi sampai tamat.  Selanjutnya Readers yang baik-baik hati bisa melanjutkan ke novel Alma Fatara berikutnya. 


Jika ingin mengikuti lanjutan alur ini, silakan baca "Alma3 Ratu Siluman", tetapi masih on going lhooo. Jadi harus sabar menunggu sesabar menuggu jodoh.


Jika ingin lompat ke alur dua tahun kemudian, silakan baca "Perjalanan Alma Mencari Ibu" bagi yang belum. Bagi sudah baca, boleh baca ulang kok.


Pesan Author, biasakan tinggalkan like dan komen walaupun hanya setitik jejak. TERIMA KASIH.

__ADS_1


__ADS_2