
*Para Petarung Panah (Papepa)*
“Waw!”
Pemuda yang datang memasuki alun-alun dengan berlari di udara itu, membuat sebagian besar warga berteriak “waw”.
Jleg!
Pemuda yang adalah Pendekar Mata Ular itu, mendarat di atas panggung kecil. Ia juga membawa sebuah busur panah.
“Inilah Petarung Panah berikutnya! Pendekar sakti pilih tanding, saudara muda dari Lima Pendekar Sungai Ular. Dia adalaaah Pendekaaar Mataaa Ulaaar!” teriak Pamong Sukarat.
“Waw waw waw!” teriak seorang warga penuh semangat seperti gukguk chihuahua. Ia bertepuk tangan dengan kencang, heboh sendiri.
Namun, warga dan penonton yang lain hanya diam, karena mereka tidak mengenal kandidat peserta yang satu itu.
“Huh!” dengus Pendekar Mata Ular karena mendapat sambutan yang bak area kuburan.
“Gusti Adipati dataaang!” teriak seorang warga yang pertama kali melihat kedatangan kereta kuda mewah model terbuka.
“Mana, mana, mana?” sahut para warga segera kepo mencari.
Susunan warga di barisan penonton bergerak menggeliat. Sebagian warga berusaha mendekat ke area jalan masuk demi melihat kegagahan pemimpin mereka.
Tampak Adipati Marak Wijaya duduk gagah di kursi keretanya dengan setelan baju warna merah terang berpadu sulaman warna emas. Ia mengenakan blangkon warna kuning emas.
Sebanyak sepuluh prajurit berlari di belakang kereta yang berlari pelan.
“Gustiii! Gusti Adipati!” teriak warga begitu senang karena bisa melihat sang pemimpin dari dekat.
“Aaa …!” pekik histeris seorang janda begitu gembira sambil mengulurkan tangannya di dalam jepitan kerumunan.
“Hidup, Gusti Adipati!” teriak seorang warga.
“Hidup, Gusti Adipati!” Akhirnya semua warga ikut berteriak mengelu-elukan sehingga suasana begitu ramai.
“Gusti Adipati pemimpin hebat!”
“Gusti Adipati pemimpin hebat!”
“Gusti Adipati ganteng!”
“Gusti Adipati ganteng!”
Sambutan yang begitu meriah laksana menyambut idol dari Korea Selatan, menuntut sang adipati melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Ia melambai seperti putaran gerakan radar, agar warga merasa terjawabi sambutannya.
Akhirnya, kereta kuda Adipati Marak Wijaya tiba di dekat panggung. Menjadi aturan, sang adipati pun diwajibkan naik ke atas panggung perkenalan.
“Inilah! Pemimpin sejati Kadipaten Balongan yang bijaksana dan dicintai oleh warganya. Adipati Maraaak Wijayaaa!” teriak Pamong Sukarat dengan nada penuh semangat, padahal di dalam hatinya yang ada hanyalah kebencian.
__ADS_1
Plok plok plok …!
Warga ramai bertepuk tangan menyambut pemimpin mereka. Sang adipati lambaikan tangan menghadap ke sana dan ke sini, sambil senyumnya diobral murah.
Sang adipati lalu turun dari panggung dan pergi ke panggung utama, di mana di atas sana sudah ada duduk Bendahara Adya Bangira. Memang di atas panggung utama telah tersedia sederetan kursi kayu. Di sanalah nanti para pembesar dan orang kaya se-Kadipaten Balongan duduk.
Sementara para Petarung Panah untuk sementara menunggu di tengah-tengah alun-alun.
“Lihat, lihat, lihat! Jagoan kita sudah datang!” kata Alma kepada ketiga rekannya sambil tersenyum memandang kedatangan Arya Mungkara dengan kudanya.
Arya Mungkara yang tampil dengan pakaian serba hitam dan bermotif, datang dengan berbekal sebuah busur tanpa membawa anak panah. Lari kudanya agak kencang.
“Aryaaa!” teriak sejumlah kaum perawan begitu girang melihat kedatangan si pemuda tampan.
“Hidup Arya Mungkara!” teriak lelaki yang sama, komandan suporter. Sepertinya ia memang di-setting sebagai provokator fans.
“Hidup Arya Mungkara!” teriak warga penuh semangat. Mereka semua tahu, dialah juara bertahan ajang pertandingan ini.
“Arya Mungkara pasti menang!”
“Arya Mungkara pasti menang!”
“Kalau tidak menang pasti kalah!”
“Kalau tidak menang pasti kalah!”
“Hahaha …!” tawa warga sebagian besar. Mereka jadi sadar sendiri.
Alangkah bahagianya jiwa muda Arya Mungkara mendengar teriakan semacam itu. Ia pun menengok dan lemparkan pandangan kepada si perawan lalu lambaikan tangan sambil berkuda menuju panggung.
“Setan Gosong!” maki Arya Mungkara pelan dan jadi tersenyum getir, saat melihat si perawan yang bergigi tonggos dan berhidung pesek.
“Aaa …! Gusti Arya terpesona kepadaku!” teriak si gadis perawan histeris begitu heboh karena menyangka Arya Mungkara begitu low profile.
Ketika Arya Mungkara naik ke panggung dan diperkenalkan oleh Pamong Sukarat, atmosfir sambutannya begitu tinggi, lebih tinggi dari sambutan terhadap ayahnya.
Namun ternyata, gegap gempita sambutan terhadap Adipati dan putranya tersaingi, ketika Bandeng Prakas datang berkuda dengan kegagahannya. Hal itu jelas mengejutkan Adipati Marak Wijaya dan Arya Mungkara, pasalnya dia baru kali ini ikut dalam pertandingan tersebut, tetapi sudah jadi idola.
Sambutan yang meriah dari warga Kadipaten terhadap Bandeng Prakas, menjadi fenomena dalam ajang tersebut. Semua itu bisa terjadi karena sosok Bandeng Prakas seolah menjadi wakil bagi warga kalangan menengah ke bawah.
Di mata warga Ibu Kota, Bandeng Prakas memang terkenal sebagai pemuda tampan, gagah dan sakti, meski tidak sakti-sakti sangat. Selama ini dia sedikit pun tidak tertarik ikut dalam pertandingan. Namun, karena wanita yang dicintainya justru menjadi pertaruhan, maka ia mau tidak mau harus ikut dan memenangkan pertandingan, agar Ninda Serumi bisa menjadi miliknya tanpa satu pun aral lagi.
Setelah itu, datanglah sejumlah pejabat dan orang kayanya Kadipaten Balongan. Satu per satu mereka diperkenalkan, seperti ayah dari Ujang Barendo sang juragan jengkol, ayah dari Balingga sang juragan ikan, ayah dari Ronggo Manik sang juragan kambing, juragan tanah, dua orang demang, dan beberapa orang terpandang lainnya.
Kemudian datanglah Balingga bersama Ronggo Manik, sambutannya tidak begitu meriah.
Namun, ketika yang datang adalah Kepal Kepeng bersama istri dan putrinya, suasana berubah hening, tapi heboh.
Bagi warga yang sudah pernah mendengar masyhurnya kecantikan Ninda Serumi tapi belum pernah melihatnya, jelas sangat penasaran. Kaum pisangan, apalagi pisang muda, segera berdesakan untuk berebut berada di barisan depan. Mereka sangat ingin melihat kecantikan yang melegenda se-Kadipaten Balongan. Sontak kaum wanita tersingkir kedudukannya menjadi ke barisan belakang.
Para penonton mulai riuh ketika melihat seseorang mulai turun keluar dari bilik kereta kuda.
__ADS_1
“Yah, bapaknya!” ucap sejumlah penonton pria kecewa saat melihat turunnya Kepal Kepang dari kereta.
“Yah, emaknya!” ucap sejumlah warga lagi kembali kecewa, karena yang turun adalah Asih Munira. Padahal mereka sudah sumringah karena yang turun adalah perempuan.
Kepal Kepeng dan Asih Munira naik bersama ke panggung perkenalan. Pamong Sukarat memperkenalkan, tetapi sambutannya biasa saja. Adem-adem saja. Hal itu membuat Kepal Kepeng berwajah asam. Dengan hati kecewa dia turun dari panggung dan naik ke panggung utama.
Di panggung utama, Kepal Kepeng di sambut hangat oleh Adipati dan tokoh lainnya.
“Itu Ninda Serumi turun!” teriak seorang warga, ketika melihat seorang wanita berpakaian warna putih bersih bergerak keluar dari dalam bilik kereta. Ia mengenakan sanggul berhias untaian bunga melati. Riasan membuatnya terlihat sangat cantik dari jauh.
“Wah, cantik sekali!”
“Bidadari sungai!”
“Oh nenekku, Ninda Serumi cantik sekali!”
“Cantiknya. Semoga ada keajaiban bagiku!”
“Oh, Dewa. Buatlah aku tiba-tiba sakti, lalu bisa terbang, lalu menculik Ninda yang cantik!” doa seorang pemuda botak.
Macam-macamlah respon para lelaki, tanpa kenal apakah dia bujang atau duda, atau sudah berbini.
Ninda Serumi berjalan anggun menaiki panggung perkenalan.
Terlihat para peserta Pertandingan Petarung Panah yang sudah hadir mulai gelisah dan greget. Wanita yang mereka harapkan sudah berada di depan mata mereka. Kecantikannya memang membuat mereka terpukau. Hingga-hingga sudah ada yang menaruh gairah dini.
“Sial! Kenapa pisangku jadi lurus?” rutuk Ujang Barendo, tetapi di dalam hati.
“Saudara-saudara! Kisanak dan Nisanak! Inilah, gadis paling cantik se-Kadipaten Balongan. Kecantikannya yang di kala pagi bersinar, di kala siang tidak lekang, di kala senja tidak tenggelam, dan di kala malam selalu dimimpikan. Dialah, Nindaaa Serumiii!” teriak Pamong Sukarat.
“Yaaa …!” sorak gegap gempita para warga.
Ninda Serumi hanya menunduk malu menyikapi sambutan para warga.
“Eh eh eh! Lihat, bukankah lebih cantik gadis di atas pohon itu?” tanya seorang pemuda setelah mencolek-colek rekannya seperti mencicip masakan sayur asam.
Tiga pemuda rekannya segera menengok dan memandang kepada Alma Fatara yang asik duduk di dahan pohon.
“Dia bukan monyet, kan?” tanya rekannya.
“Eh, jangan macam-macam, dia itu pendekar sakti. Kemarin saja menghajar Lima Pendekar Sungai Ular!” bisik teman yang lain dengan mimik super serius.
Ayu Wicara yang melihat gelagat keempat pemuda itu jadi melotot kepada mereka.
“Hei! Kenapa jilat-jilat?!” bentak Ayu Wicara.
“Hahaha!” tawa Alma Fatara dan kedua lelaki besar yang bersama mereka.
“Lihat-lihat, Ayu, bukan jilat-jilat. Dikira mereka kucing!” ralat Garam Sakti.
Mendapat bentakan seperti itu dari wanita berpedang besar, keempat pemuda itu segera berbalik dan kembali alihkan perhatian ke tengah alun-alun.
__ADS_1
“Lihat, Lima Pendekar Sungai Ular ada di sini juga!” kata Alma Fatara dengan pandangan dilempar jauh. (RH)