
*Kampung Siluman (Kamsil)*
Di saat sebagian besar warga Kampung Siluman bekerja merapikan kehancuran dan mulai membangun kembali satu per satu rumah yang hancur, para pemimpin dan tokoh utama Kampung Siluman sedang bermusyawarah membahas sejumlah permasalahan.
Tokoh yang hadir di balai kampung antara lain: Panglima Kampung Kirak Sebaya dan istri, Kepala Kampung Rempah Putih dan istri, Lingkar Dalam tanpa istri, Lilia Seharum, dan beberapa tokoh Kampung Siluman. Adapun dari pihak tamu semua hadir tanpa terkecuali.
Berbagai hal mereka bahas, dari masalah membangun kembali rumah-rumah yang hancur, benteng yang hancur, pipa saluran minyak yang rusak, membuat kembali manjanik yang semuanya rusak, harta rampasan, penanganan mayat-mayat, pengambilan bahan baku bambu, hingga masalah para janda dari lelaki Kampung Siluman yang gugur.
Semua perkara itu lebih banyak dibahas oleh intra warga Kampung Siluman. Barulah untuk perkara keamanan Kampung Siluman di masa depan, Alma Fatara dan Warna Mekararum banyak memberi masukan.
“Berarti kalian harus mencegah agar alat pelontar itu tidak bisa menjangkau kampung ini,” kata Warna Mekararum memberi masukannya. “Itu tidak bisa dilakukan jika alat pelontar itu masih bisa sampai di kaki bukit.”
“Berarti … harus ada penghalang yang dibuat untuk mencegah alat itu mendekat,” kata Lilia Seharum.
“Jika kita membangun benteng agak jauh dari bukit, pasti mereka tetap akan bisa menghancurkannya dan tetap bisa menjangkau kaki bukit,” kata Rempah Putih.
“Aku banyak tahu tentang pertahanan berbagai kerajaan. Salah satunya adalah membuat sungai buatan atau parit besar yang mengelilingi benteng kerajaan,” kata Warna Mekararum.
“Itu bisa kita buat, Panglima,” kata Lingkar Dalam.
“Tapi kita tidak memiliki sumber air untuk air sungainya karena kita berada di ketinggian yang minim air,” kata Rempah Putih.
“Jika kita membuat parit tanpa air pun, itu bisa menghambat alat pelontar. Akan tidak mudah jika alat pelontar itu dipaksakan untuk menyeberang,” kata Kirak Sebaya.
“Kalian bisa membuat parit yang tidak mengalir dan mengisinya dengan air hujan atau dengan minyak. Bukankah sumur minyak kalian tidak pernah kering?” kata Warna Mekararum.
“Benar. Parit yang kita buat bisa kita isi dengan minyak,” kata Kirak Sebaya sepakat.
“Membuat parit pastinya akan memakan waktu yang lama, Panglima,” kata Rempah Putih.
“Untuk saat ini, hanya cara itu yang bisa kita lakukan,” kata Kirak Sebaya.
“Kenapa tidak berdamai saja, Kek?” tanya Alma tiba-tiba.
Pertanyaan Alma itu seketika membuat mereka semua terdiam sejenak.
“Bagaimana caranya?” tanya Tulu Rumping, istri Rempah Putih.
“Aku tidak tahu. Aku hanya bertanya. Bukankah jika berdamai, artinya tidak ada peperangan? Hahaha!” kata Alma lalu tertawa pendek.
“Apa yang dikatakan oleh Alma memang masuk akal. Sambil membangun parit, kalian bisa mencoba menawarkan perdamaian. Meski kalian hanya sebuah kampung, tapi kalian bisa mencoba menawarkan kerja sama minyak dengan Kerajaan Ringkik. Kerajaan membutuhkan minyak, dan kalian memiliki minyaknya. Kalian bisa tawar-menawar. Jika Kerajaan tidak bersedia, berarti kemungkinan perang masih mungkin terjadi. Tapi ingat, sepertinya penguasa Kerajaan Ringkik bukan sosok yang baik,” tutur Warna Mekararum.
“Sepertinya itu bisa kita coba, Panglima,” kata Rempah Putih.
__ADS_1
“Ya, itu bisa kita coba,” kata Kirak Sebaya sembari manggut-manggut.
“Apakah kalian tidak memiliki sekutu yang lebih kuat dari kalian untuk membantu sebagai pihak perantara? Sebab akan sangat berisiko jika orang yang pergi menemui Raja Ringkik adalah Panglima Kampung atau Kepala Kampung,” ujar Warna Mekararum.
“Kami memiliki sekutu dengan Kerajaan Bulaga yang kini adalah kerajaan kecil,” jawab Rempah Putih.
“Bukankan Kerajaan Ringkik ingin mempersunting Kakak Lilia Seharum? Nikahkah saja agar jadi satu keluarga dengan Kerajaan. Hahaha!” celetuk Alma.
Semua mata seketika beralih memandang Lilia Seharum yang jadi mendelik mendengar perkataan Alma Fatara.
“Hahaha …!” Alma Fatara tambah tertawa melihat reaksi gadis jelita yang lebih tua darinya itu.
“Benar, cara itu bisa dicoba juga karena sudah jelas bahwa Raja Kerajaan Ringkik tertarik kepada Lilia,” kata Warna Mekararum.
“Aku tidak sudi!” pekik Lilia Seharum cepat. “Setahuku Raja Kerajaan Ringkik sudah tua dan sudah memiliki banyak istri.”
“Hahahak!” tawa Alma Fatara mendengar itu. Namun kemudian dia berkata, “Mungkin saja raja itu ingin meminangmu untuk putranya, si pangeran yang tampan.”
“Tetap tidak mau!” tegas Lilia Seharum dengan wajah merengut.
“Jika penolakannya sudah harga mati, biasanya sudah punya calon sendiri,” kata Magar Kepang.
“Tapi kami tidak pernah tahu bahwa Lilia dekat dengan seorang pemuda,” kata Tulu Rumping.
“Aku baru tahu kalau Paman Magar itu pakar cinta,” kata Alma Fatara.
“Hahaha! Kau kurang mengakrabi aku, Alma,” kata Magar Kepang yang didahului dengan tawa jumawanya.
“Hahaha!” Alma Fatara hanya tertawa mendengar perkataan Magar Kepang.
“Silakan putuskan untuk masalah pertahanan Kampung Siluman, Rempah,” kata Kirak Sebaya.
“Aku memutuskan, kita akan membuat parit besar sebagai pertahanan luar. Pada saat yang bersamaan, benteng bukit juga harus kembali di bangun dan harus lebih kokoh. Kita akan membayar pekerja dari kampung lain. Seiring itu, kita akan mencoba melakukan penawaran melalui bantuan Kerajaan Bulaga,” kata Rempah Putih memutuskan. “Adapun untuk putriku, dia tetap akan menjadi kembangnya Kampung Siluman.”
Legalah perasaan Lilia Seharum mendengar keputusan ayahnya.
“Berarti, kami sudah bisa melanjutkan perjalanan menuju Gunung Alasan,” kata Alma Fatara.
“Aku rasa untuk sementara ini bantuan kalian sudah cukup,” kata Rempah Putih.
“Kalian belum bisa ditinggalkan oleh Alma!” tandas Warna Mekararum.
Semua mata pun tertuju kepada nenek berwajah kebiruan itu.
__ADS_1
“Tidak ada jaminan bahwa pasukan Kerajaan Ringkik tidak akan kembali dalam waktu dekat,” kata Warna Mekararum. “Bisa saja ketika kami pergi, pasukan itu datang kembali untuk menyerang, bahkan ketika kalian belum sempat membuat parit dan membangun benteng kembali.”
“Tapi, kita tidak mungkin berlama-lama di sini, Nek. Nenek juga perlu segera diobati,” kata Alma Fatara.
“Kami akan pergi ke Gunung Alasan. Setelah pengobatanku selesai, lebih baik Alma kembali ke Kampung Siluman ini untuk melihat perkembangan,” kata Warna Mekararum.
“Bagaimana jika aku mendampingi kalian ke Gunung Alasan?” tawar Lingkar Dalam.
“Tidak boleh!” seru Ayu Wicara cepat. “Jika kau ikut, nanti aku bisa sakti mati!”
Terkejut semua orang mendengar perkataan Ayu Wicara.
“Maksud Ayu, sakit hati?” tanya Debur Angkara.
“Iya. Memangnya aku bicara apa tadi?” kata Ayu Wicara bernada agak tinggi kepada Debur Angkara.
“Hahaha …!” tawa mereka bersama.
“Ayu, kenapa kau bisa sakit hati?” tanya Alma mewakili orang-orang yang penasaran.
“Tadi pagi si Lingkar Selam itu menanyakan siapa kekasihku, eh kemudian dia langsung berubah haluan kepadamu, Amal!” jawab Ayu Wicara lantang dengan lirikan yang mengiris hati kepada Lingkar Dalam.
“Hahaha!” tawa Alma terbahak, yang disertai tawa rendah kaum tua. Alma lalu berkata, “Wah, berarti sudah ketahuan nih, ternyata jodoh Ayu Wicara ada di sini. Berarti Ayu tidak ikut kita ke Gunung Alasan, sebab dia harus menikah dengan Kakang Lingkar Dalam.”
Mendeliklah Lingkar Dalam dan Ayu Wicara mendengar perkataan Alma yang seenaknya, menurut mereka.
“Sembarangan kau, Amal!” hardik Ayu Wicara. “Aku dengan setia melewati sirup dan mati mendampingimu dalam perjalanan, tapi kau dengan teganya mau mencampakkanku!”
“Hahaha!” Alma Fatara justru tertawa mendengar rutukan Ayu Wicara. Lalu katanya, “Ya sudah, kau tidak jadi dikawinkan dengan Kakang Lingkar Dalam. Ternyata kau masih setia kepada Kang Debur.”
“Nah seperti itu dong sebagai sahabat. Lebih baik aku kawin dengan Kacang Garam dari pada si Lingkar Selam itu,” dumel Ayu Wicara.
“Hahaha …!” Mereka hanya tertawa mendengar sikap Ayu Wicara.
“Kau tidak boleh meninggalkan Kampung Siluman yang sangat membutuhkan tenagamu, Lingkar,” tandas Rempah Putih.
“Baik, Ayah,” ucap Lingkar Dalam.
“Baiklah. Nanti aku akan tunjukkan jalan singkat untuk sampai ke Gunung Alasan. Jika terjadi situasi berbahaya di sini, aku akan segera mengirim utusan untuk mencarimu, Alma,” kata Kirak Sebaya.
“Baik. Nanti, dalam perjalanan pulang, mudah-mudahan aku tidak lupa untuk datang ke wilayah Rawa Hijau atau pedagang kelapa racun,” kata Alma Fatara.
“Baik,” kata Kirak Sebaya. (RH)
__ADS_1