A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 14: Penghakiman dan Cinta


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Kedatangan Alma Fatara mendapat sambutan yang meriah dari warga Desa Bungitan. Bukan meriah memuji, tetapi meriah memaki Pengging terus-terusan.


Alangkah jumawanya Ning Ana di atas kambingnya ketika melihat kedatangan para warga yang menyambut. Meski dia tidak digubris oleh warga, tetapi dia merasa hebat saja.


Warga sudah berdatangan menyambut kepulangan Alma sejak di luar desa, karena kabar kedatangan Alma terlihat sejak di luar desa oleh warga yang sedang di luar. Warga bersama-sama mengarak rombongan menuju ke rumah Kepala Desa.


Kabar kedatangan Alma yang membawa pulang sejumlah orang, termasuk Pengging dan Menur, lebih cepat sampai dari pada orangnya. Hal itu membuat Ning Ara penasaran pula. Ia memilih pergi menyongsong daripada menunggu di rumah.


“Ning Ara datang, Kakang Genggam,” kata Alma Fatara kepada Genggam Sekam saat melihat kedatangan Ning Ara.


Genggam Sekam cepat alihkan pandangannya. Maka terpesonalah Genggam Sekam ketika melihat kecantikan Ning Ara yang sesuai espektasinya. Lagu “Terpesona” seketika berdendang di dalam kepalanya.


“Aku ambil tawaranmu, Alma!” kata Genggam Sekam cepat penuh semangat.


Ketika bertemu pandang dengan Genggam Sekam yang tampannya segunung, Ning Ara sempat terpana, tetapi ia cepat beralih karena selain tidak kenal, ia juga tidak mau malu. Ia lebih memilih beralih ke Ning Ana.


“Ana, dari mana saja kau? Kami mencarimu!” omel Ning Ara.


“Hihihi! Aku berpetualang bersama Kakak Alma. Sangat mengasikkan, Kak. Besok kau harus ikut berpetualang, biar dapat banyak jodoh,” jawab Ning Ana.


“Lihat saja, Ayah pasti akan memarahimu!” tandas Ning Ara.


“Kakak Ara!” panggil Alma.


Ning Ara segera berpaling kepada Alma.


“Kak Ara tahu kediaman tabib di sini?” tanya Alma sambil memberikan tali kudanya kepada Genggam, sedangkan dia mengambil tali kekang kuda pemuda itu.


“Iya,” jawab Ning Ara.


“Kak Ara tolong antar Kakang Genggam Sekam ke rumah tabib. Nenek Delima perlu diobati,” ujar Alma.


Ning Ara tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu memandang kepada Genggam Sekam yang tersenyum manis kepadanya. Ia pun memandang kepada Nyai Delima yang dingin.


“Baik,” jawab Ning Ara sambil tersenyum tipis. “Ikut aku, Kakang!”


Ning Ara lalu berbalik dan berjalan lebih dulu. Alma Fatara tersenyum lebar kepada Genggam Sekam yang membalas dengan kedipan satu mata. Nyai Delima hanya mengikuti permaianan para anak muda itu.


Ning Ara dan Genggam Sekam berpisah dari rombongan. Sementara warga lebih peduli kepada Pengging dan Menur.

__ADS_1


“Namamu Ning Ara?” tanya Genggam Sekam kepada gadis yang berjalan di depannya.


“Bagaimana Kakang sudah tahu?” tanya Ning Ara, meski ia tahu bahwa Alma yang memberitahukan.


“Alma yang memperkenalkanmu kepadaku. Dia mengatakan ada gadis yang sangat cantik di Desa Bungitan. Dan gadis itu membutuhkan seorang lelaki yang baik untuk menghibur hatinya yang sedang sedih. Kita senasib, Ning Ara. Dua purnama lalu, aku juga kehilangan kekasihku karena dibunuh orang. Mungkin, pertemuan dua hati yang terluka justru bisa saling mengobati dan melengkapi menjadi lebih indah dan bahagia,” ujar Genggam Sekam.


Kata-kata “gadis yang sangat cantik” membuat hati Ning Ara berbunga-bunga, meski sulit untuk ia tampakkan. Ning Ara tidak seperti adiknya. Ia masih gampang dihanyutkan oleh kata-kata pujian.


“Maksud Kakang Genggam apa?” tanya Ning Ara ragu untuk mengerti.


“Maksud Genggam itu, apakah kau mau menjadi kekasihnya,” kata Nyai Delima menegaskan.


Ning Ara jadi tersenyum dan menunduk malu, meski wajahnya membelakangi Genggam.


“Aku hanya seorang gadis desa biasa, tidak pantas bagi seorang pendekar tampan seperti Kakang,” kata Ning Ara. Dalam hati ia mengakui bahwa Genggam Sekam jauh lebih tampan dari mendiang mantan kekasihnya, Jataru.


“Jangan mempersempit keluasan cinta dengan pemikiran seperti itu. Bukankah tanda-tanda bahwa kita berjodoh itu terlihat kuat. Kita sama-sama ditinggal mati oleh kekasih. Kau begitu cantik dan aku tampan. Jelas kita sangat cocok dan akan menjadi pasangan yang serasi. Jika kau tidak sudi menjadi kekasihku, aku tidak tahu harus ke mana mencari gadis yang secantik dirimu lagi,” rayu Genggam Sekam yang ternyata berpendidikan untuk perkara rayuan.


“Jika aku bersedia menjadi kekasih Kakang, apakah Kakang akan membawaku pergi dari desa ini?” tanya Ning Ara.


“Aku akan memenuhi kemauanmu asalkan kau bahagia,” kata Genggam.


“Itu kesempatan bagus, Nak. Manfaatkanlah. Yang dipegang dari lelaki adalah omongannya!” kata Nyai Delima memberi masukan.


Sementara itu, rombongan Alma telah tiba di depan rumah Kepala Desa. Alma disambut oleh Magar Kepang, Debur Angkara, Garam Sakti dan Ayu Wicara. Ternyata di sana juga telah ada Mullar Adyawali dan istrinya.


Alangkah terkejutnya Dugil Ronggeng dan istrinya saat melihat keberadaan Ning Ana yang berjalan paling depan dengan menunggang kambing.


“Tugasku sudah selesai, Paman. Anakmu sudah aku bawa pulang,” ujar Alma lalu ia membebaskan totokan pada tubuh Menur Mawangi.


“Ibuuu!” pekik Menur Mawangi sambil berlari menangis pergi memeluk ibunya yang juga menangis.


“Gulang!” teriak Mullar Adyawali.


“Iya, Gusti!” sahut Gulang datang mendekati majikannya.


“Bawa Menur dan pasung sampai dia menyesali perbuatannya!” perintah Mullar Adyawali.


“Ayah, jangan lakukan kepadaku! Aku mohon, Ayah! Aku tidak gila, Ayah!” teriak Menur Mawangi berusaha berontak ketika dua centeng segera mencekal tangannya.


Menur Mawangi dipisahkan dari ibunya yang hanya bisa menangis. Sebelumnya Jatiyem memang sudah tahu niatan suaminya jika Menur berhasil ditemukan dan dibawa pulang oleh Alma Fatara.

__ADS_1


Menur Mawangi segera dibawa pulang oleh Gulang dan anak buahnya. Jatiyem juga turut pulang mendampingi putrinya.


“Kepala Desa, jatuhkan hukumanmu kepada pembunuh dan penculik ini. Dia telah menghancurkan kehidupan putriku!” seru Mullar Adyawali.


Pengging lalu diturunkan oleh warga dari kuda dan dibiarkan tergeletak di tanah. Ia masih dalam kondisi tertotok.


“Karena dia telah melakukan banyak kejahatan, terutama telah membunuh Jataru, maka aku memutuskan untuk memukulinya sampai mati!” seru Dugil Ronggeng memutuskan.


“Hajaaar!” teriak warga lelaki beramai-ramai menghakimi Pengging dengan pukulan dan tendangan.


Mullar Adyawali juga ikut memukuli Pengging yang hanya merintih, karena memang kondisinya sudah terluka parah.


Alangkah terkejutnya Dugil Ronggeng dan istrinya, ketika melihat Ning Ana ikut mencuri-curi kesempatan menendang tubuh Pengging, meski ia harus berdesakan dengan para lelaki dewasa.


“Ning Ana!” panggil Dugil Ronggeng membentak.


Terkejut Ning Ana diteriaki seperti itu. Ia langsung menengok kepada kedua orangtuanya.


“Jangan ikutan!” teriak Dugil Ronggeng.


“Hahaha …!” tawa Alma melihat keekstreman Ning Ana. Ia sudah tidak heran lagi melihat kegilaan Ning Ana.


“Berhenti, berhenti!” teriak seorang warga. “Pengging sudah mati!”


Maka berhentilah para warga. Justru yang terakhir berhenti adalah Mullar Adyawali.


Ning Ana mendatangi Garam Sakti.


“Kang Garam harus menikah denganku agar Kang Garam bisa melindungi aku sepanjang waktu. Jadi aku tidak perlu berguru kesaktian untuk menjaga diri,” ujar Ning Ana kepada Garam Sakti.


Terkejutlah Garam Sakti, Alma Fatara dan Debur Angkara mendengar perkataan Ning Ana.


Alma Fatara lalu menghampiri Dugil Ronggeng.


“Paman, sepertinya urusan kami sudah selesai di sini. Jadi, kami memutuskan melanjutkan perjalanan menuju Rawa Kabut,” ujar Alma.


“Baiklah, Nak Alma. Terima kasih karena banyak membantu kami. Jika ingin ke Rawa Kabut, kalian cukup mengikuti Sungai Ngulur. Setelah melewati Desa Rawabening dan Perguruan Pisau Merah, kalian akan sampai,” tutur Dugil Ronggeng. Namun, tiba-tiba dia bertanya kaget, “Di mana Ning Ara?”


“Tidak perlu cemas, Paman. Ning Ara sekarang sedang bersama calon menantumu di rumah tabib, membantu nenek kenalanku untuk berobat,” jawab Alma seraya tersenyum.


“Calon menantu?” sebut ulang Dugil Ronggeng heran.

__ADS_1


“Seperti kata Pamang Magar, putri Paman pantas mendapat jodoh yang terbaik, meski bukan yang terbaik. Hahaha!” (RH)


__ADS_2