A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pis Budi 6: Skandal di Lumbung Padi


__ADS_3

*Pisau Bunuh Diri (Pis Budi)*


Namanya Menur Mawangi. Ia seorang gadis cantik beralis tipis tapi panjang. Pakaian sederhana ala desanya yang serba pendek, membuatnya populer sebagai gadis seksi yang seronok. Namun, statusnya sebagai putri dari orang terkaya di Desa Bungitan, membuatnya aman dari godaan dan sentuhan tangan liar para lelaki. Kaum lelaki hanya bisa menelan ludah jika melihat Menur Mawangi berjalan di depan mata mereka.


Malam ini, Jataru mengajaknya bertemu di lumbung padi desa yang dalam penjagaannya.


Menur Mawangi sangat tergila-gila kepada Jataru, meski kedua orangtuanya tidak setuju jika putri seksinya menjalin kasih dan cinta dengan Jataru, yang hanya seorang pemuda desa dari keluarga miskin tanpa punya tanah sepetak pun.


Namun, seperti sudah terguna-guna, Menur Mawangi memilih tetap berjuang untuk mendapatkan cintanya, meski ia tahu bahwa Jataru sudah punya kekasih, yaitu putri Kepala Desa. Ia bertindak diam-diam agar kedua orangtuanya tidak tahu. Jika pun ketahuan, Menur selalu memberi janji palsu kepada ayah dan ibunya.


Setelah memberi sekantung kain berisi uang kepada kepala centeng ayahnya yang bernama Gulang, Menur Mawangi pergi menembus kegelapan dengan membawa sebuah obor bambu kecil.


Saat itu Menur mengenakan baju hijau muda yang ukurannya nge-press, sehingga busungan dadanya begitu menantang. Kain bawahan yang dikenakannya pun hanya sebatas lutut, yang jika dipakai berjalan, ketinggiannya akan naik ke tengah pahanya yang putih mulus.


Setelah melalui pinggiran kebun dan jalan-jalan yang sepi, Menur Mawangi akhirnya tiba di sebuah rumah panggung, tetapi model bangunannya cukup berbeda karena itu adalah sebuah lumbung padi milik desa.


Setiap malam, lumbung itu dijaga oleh dua orang lelaki desa. Untuk malam ini, warga yang mendapat giliran jaga adalah Jataru dan seorang temannya.


Namun, khusus malam ini, Jataru punya rencana khusus. Dengan memberi temannya sedikit uang, Jataru meminta temannya bolos berjaga sehingga cukup dia sendiri yang menjaga lumbung.


Ketika Menur Mawangi sampai di depan lumbung, terlihat Jataru sedang duduk berjaga di teras lumbung.


“Kakang Jataru!” panggil Menur Mawangi sambil tersenyum senang kepada pemuda yang dicintainya.


Jataru hanya tersenyum sealakadarnya, itupun terkesan dipaksakan. Ia bangun berdiri menyambut. Melihat tampilan Menur, hati kecilnya tergiur.


Menur Mawangi lalu naik ke teras lumbung. Teras itu diterangi oleh dua obor yang dipasang di dua sisi berjauhan.


“Ada apa Kakang ingin bertemu malam-malam seperti ini?” tanya Menur Mawangi.


“Matikan obormu!” pinta Jataru.


Menur Mawangi lalu mematikan api obornya. Ia sandarkan bambu obornya di lantai.


“Ikut aku!” kata Jataru agak tegas sambil menggandeng tangan kanan Menur Mawangi.


Jataru menarik tangan Menur Mawangi agar mengikutinya masuk ke dalam lumbung yang hanya memiliki satu dian penerangan. Posisi dian jauh dari tumpukan ikatan-ikatan hasil panen padi, sehingga aman dari bahaya kebakaran.


Setelah mereka masuk, Jataru melepaskan tangan Menur Mawangi dan segera menutup pintu lumbung serta menguncinya.

__ADS_1


“Apa yang Kakang akan lakukan?” tanya Menur Mawangi, meski kondisi itu tidak membuatnya takut, tetapi membuatnya berdebar senang.


“Aku ingin membuatmu bertanggung jawab atas apa yang aku alami, Menur!” jawab Jataru dengan membentak. Kini dia telah berdiri berhadapan dengan gadis yang berpenampilan seksi tersebut.


Sebenarnya ada debar-debar dan aliran syur yang melanda jantung dan darah kelelakian Jataru, ketika memandang Menur di dalam keremangan. Namun, ia berusaha menekan rasa tergodanya dan lebih mengutamakan niatnya untuk menghakimi gadis yang dianggapnya licik itu.


“Apa salahku, Kakang?” tanya Menur Mawangi, pura-pura tidak mengerti. Padahal dia melihat ketika Ning Ara bertengkar dengan Jataru di jalanan tadi di kala senja.


“Bukankah kau sengaja agar Ning Ara melihat kita berdua saat di dalam sarung?” tukas Jataru.


“Tidak!” jawab Menur Mawangi. “Lagi pula, kita tidak melakukan apa-apa di dalam sarung, hanya bercanda. Kau dan aku berpakaian lengkap. Ning Ara saja yang kelewatan, begitu saja cemburu. Itu artinya dia tidak percaya kepadamu dan tidak mencintaimu!”


“Tidak! Kau memang sengaja melakukannya agar aku dan Ning Ara bertengkar dan akhirnya dia memutuskanku!” teriak Jataru dengan wajah dan mata yang memerah karena memendam amarah.


“Jika Ning Ara memutuskan Kakang, Kakang tidak perlu marah dan sedih. Aku selalu ada untukmu. Aku begitu mencintaimu, Kakang. Untuk apa Kakang mencintai gadis yang tidak mencintai Kakang. Jangankan uang, tubuhku pun aku bersedia memberikannya,” kata Menur Mawangi tanpa takut dengan kemarahan yang ditunjukkan oleh Jataru.


“Aku bisa menangkap, kau memang sengaja melakukannya. Jadi itu semua kau lakukan demi memilikiku? Iya?!” tanya Jataru membentak keras.


“Aku jawab tidak pun, Kakang pasti tidak akan percaya. Maka aku jawab iya. Iya, aku sengaja melakukannya demi mendapatkan cintah Kakang Jataru!” tandas Menur Mawangi dengan nada tinggi pula, mencoba mengimbangi intonasi Jataru.


“Oh, jadi kau ingin memilikiku? Baik, akan aku berikan diriku!” teriak Jataru sambil buru-buru membuka bajunya.


“A-a-apa yang akan kau lakukan, Kakang? Kendalikan dirimu, Kakang!” kata Menur Mawangi tergagap.


“Aku akan memberikan apa yang kau inginkan. Bukankah itu yang kau inginkan, Menur? Kau tidak perlu takut. Huh!” kata Jataru masih membentak, lalu tersenyum mendengus.


“Tapi … tapi bu-bu-bukan ini yang aku maksud!” kata Menur Mawangi dengan dada berdebar, meski di dalam hatinya ia senang.


“Baik, akan aku berikan diriku kepadamu!” ucap Jataru yang sudah bertelanjang dada. Kemudian dia pun tinggal melorotkan celananya. Bukan hanya celana luar, dia juga melorotkan cawatnya. Sehingga murni pemuda itu tanpa sehelai benang pun alias buto.


“Jangan lakukan, Kakang!” kata Menur Mawangi sambil pura-pura takut, tanpa berniat untuk kabur atau berontak.


Setelah bugil tanpa malu, Jataru langsung menghamburkan diri menyergap, memeluki Menur Mawangi.


“Sekarang rasakan apa yang kau inginkan!” desis Jataru sambil menciumi wajah dan leher Menur Mawangi.


Ternyata Menur Mawangi tidak berontak, kecuali sedikit sekali. Itupun karena ia merasa gelagapan menghadapi agresi Jataru yang begitu bersemangat dengan napas menderu-deru seperti knalpot racing.


Di saat bibirnya beragresi, tangan kiri Jataru memeluk kuat agar Menur Mawangi tidak melawan, sementara tangan kanan bergerilya melucuti apa yang gadis itu kenakan.

__ADS_1


Bduk!


Dorongan kasar Jataru membuat si gadis terjengkang ke lantai papan.


“Aww!” jerit Menur Mawangi menahan sakit yang tidak seberapa jika dibandingkan gelora birahinya yang juga menuntut tinggi.


Ketika tangan kanan Jataru bergerilya di area pakaian bawah Menur Mawangi, pemuda itu terkejut.


“Wanita licik! Ternyata kau pun menginginkan ini!” maki Jataru setelah mengetahui bahwa Menur Mawangi tidak mengenakan pakaian pelindung di balik kain bawahnya, seolah-olah gadis itu memang sudah bersiap untuk perbuatan itu.


Meski benci kepada Menur Mawangi, tetapi menggebunya genderang birahi di bawah perutnya, membuat Jataru tidak peduli lagi. Pokoknya malam ini ia harus memberi Menur Mawangi pelajaran.


Namun sayang, jenis pelajaran yang diberikan oleh Jataru justru adalah hal yang dinantikan dan disukai oleh si gadis.


Tak ayal lagi, Jataru yang sudah tidak bisa mengendalikan burungnya, ditambah Menur Mawangi yang justru suka, maka cepatlah timba masuk ke dalam sumur.


Ketika Jataru mencapai fase berkuda, Menur Mawangi pun justru keenakan dengan erangan yang makin membuat Jataru bersemangat.


Namun, tiba-tiba Jataru berhenti di tengah jalan, padahal fase puncak belum terdaki.


“Menur, kau sudah tidak perawan lagi?” tanya Jataru sambil memandang serius kepada wajah cantik Menur Mawangi yang mulai lembab oleh peluh. Sementara perabotnya masih tertanam.


“Itu masa lalu, Kakang,” jawab Menur Mawangi.


Brak!


Tiba-tiba pintu lumbung yang dikunci hanya sebatas diganjal dengan kunci kayu kecil, didobrak dari luar. Hal itu begitu mengejutkan jantung dan otak Jataru. Buru-buru dia mencabut dan berlari ke balik tumpukan padi di tengah ruang lumbung.


Sementara Menur Mawangi cepat menyambar pakaiannya dan menutupi organ pribadi dan dua bukitnya.


Kini di ambang pintu telah berdiri beberapa lelaki bersenjata golok.


“Jataru! Apa yang kau lakukan kepada putri Gusti Mullar?!” teriak lelaki paling depan yang sudah menghunus golok.


Jataru yang sebelumnya dilanda kemarahan dan semangat berkuda, kini ketakutan dalam kondisi buto di balik padi.


Sementara Menur Mawangi hanya duduk meringkuk bersandar pada tiang lumbung. Tidak ada ekspresi ketakutan sama sekali di wajahnya. Itu terjadi karena dialah yang telah membayar Gulang untuk melakukan mendobrakan jika sampai terjadi hal seperti itu.


Ketika Menur Mawangi dan Jataru berpacu dalam asmara, Gulang dan anak buahnya sudah menguping di luar lumbung. Ketika mereka memastikan bahwa hubungan itu benar-benar sudah terjadi, barulah mereka mendobrak. (RH)

__ADS_1


__ADS_2