A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 3: Terendus Pasukan Jintamani


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Alma membebaskan leher Adipati Girik Songko dari Benang Darah Dewa.


Ketika melihat Adipati Girik Songko sepertinya sudah terbebas dari ancaman, tiba-tiba Setan Cakar Biru melesat cepat sambil terbitkan segenggam sinar biru menyilaukan mata.


Sezt! Bzet!


“Akk!”


Sebelum Setan Cakar Biru melepaskan sinar birunya, Alma yang tidak lepas dari kewaspadaan lebih dulu melesatkan ilmu Sabit Murka. Sinar kuning tipis melengkung melesat cepat menghantam tubuh Setan Cakar Biru di udara.


 Setan Cakar Biru terpental keras bersama jeritannya.


Jbuur!


Tubuh lelaki berambut biru itu jatuh ke dalam air rawa yang sangat dingin.


Alma Fatara cepat berkelebat di udara mengejar Setan Cakar Biru.


Sess! Bresk!


Alma kembali melesatkan Bola Hitam mengenai air rawa yang tadi lapisan esnya dihancurkan olehnya. Sentuhan Bola Hitam itu menciptakan lapisan es tebal baru pada air dan semakin mempertebal bidang es yang masih ada.


Dengan demikian, tubuh Setan Cakar Biru terperangkap di dalam air rawa tapi di bawah lapisan es yang tebal.


Setan Cakar Biru yang telah menderita luka dalam akibat hantaman ilmu Sabit Murka, jadi kelabakan menahan dingin yang luar biasa, diperburuk tidak adanya jalan keluar untuk menuju permukaan.


“Cepat kalian semua pergi dari sini!” teriak Alma kepada Adipati Girik Songko dan lebih dua puluh prajuritnya yang masih selamat dari amukan Alma.


Sambil bekerja membalut potongan kaki Adipati Girik Songko, beberapa prajurit segera mengevakuasi junjungan mereka. Pengelana Kepeng yang juga mengalami luka parah sebelum bertarung, bergerak meninggalkan tempat itu. Puluhan mayat prajurit mereka tinggalkan begitu saja.


Crek crek!


Tiba-tiba terdengar suara es seperti ditusuk. Ternyata Setan Cakar Biru masih bisa berjuang. Dengan cakar yang bersinar biru, ia menusuk lapisan es yang ada di atas tubuhnya. Cakaran panas Setan Cakar Biru memang berhasil meretakkan lapisan es sampai ke atas, tetapi ia keburu kehabisan napas di dalam air.

__ADS_1


Alma dapat melihat jelas Setan Cakar Biru mati tenggelam dengan kedua tangan menancap kuat di lapisan es.


Alma lalu segera pergi mendatangi keberadaan Magar Kepang dan Ayu Wicara yang tergeletak di bawah pohon, setelah pasukan yang tersisa menjauh.


“Paman Magar!” sebut Alma cemas. Ia cepat memeriksa tanda-tanda kehidupan pada tubuh lelaki gemuk itu. “Masih hidup.”


Alma pun cepat memeriksa kondisi Ayu Wicara. Kondisi gadis itu ternyata lebih baik daripada Magar Kepang.


Alma segera pergi mengambil kuda mereka yang ditambatkan di dekat tenda. Dengan kuda itu, Alma mengangkut tubuh Magar Kepang. Adapun Ayu Wicara ia panggul pergi ke rumah Jangkung Jamur.


“Kakek Jangkung, kondisi Paman Magar sekarat!” kata Alma kepada Jangkung Jamur sambil membawa Ayu Wicara ke atas rumah.


Jangkung Jamur yang sedang mengobati Debur Angkara, cepat meninggalkan pasiennya dan turun ke bawah. Meski tua, tetapi kesaktian memudahkan Jangkung Jamur untuk menyeret Magar Kepang naik ke atas.


“Alma!” panggil Warna Mekararum yang mendengar kegaduhan di luar kamarnya.


“Iya, Nek! Sebentar, Nek!” sahut Alma.


“Apakah Ki Magar masih bisa ditolong, Tabib?” tanya Debur Angkara yang dalam kondisi tersadar dengan luka sayatan yang dipenuhi oleh ramuan berwarna cokelat.


“Apakah kau tidak mengkhawatirkan Ayu Wicara, Kang Debur?” tanya Alma, sempat-sempatnya menggoda Pendekar Desa Iwaklelet itu.


Kini Jangkung Jamur harus menangani tiga pasien sekaligus. Namun, kondisi Magar Kepang lebih utama untuk didahulukan penanganannya.


Alma lalu pergi menemui Warna Mekararum di kamarnya.


“Siapa yang menyerang kita?” tanya Warna Mekararum cepat, karena dia sudah menaruh curiga.


“Namanya Adipati Girik Songko. Dia membawa pasukan dan dua orang pendekar. Sudah aku usir dan satu pendekarnya mati aku bunuh. Adipati aku buntungi kakinya,” jelas Alma.


“Kadipaten Pagamuyung terletak berbatasan dengan wilayah Kerajaan Pelilitan. Jika mereka sudah sampai di sini, berarti Kerajaan Jintamani sudah tahu tentang kaburnya aku dari Pulau Seribis,” kata Warna Mekararum.


“Itu berarti, akan ada pasukan yang lebih besar datang ke sini nantinya,” kata Alma menyimpulkan.


“Itu sudah pasti. Sepertinya ada telik sandi yang melihat keberadaanku di dalam perjalanan,” kata Warna Mekararum. “Sepertinya kau akan bekerja keras ke depannya, Alma.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa, Nek. Seribu pasukan pun akan aku hancurkan jika bertujuan menangkap Nenek!” tandas Alma. “Tapi, apakah mereka tidak tahu bahwa orang yang akan mereka tangkap adalah ratu mereka?”


“Tidak tahu. Jika kau katakan bahwa aku adalah Ratu Warna Mekararum, mereka tidak akan percaya, meski aku muncul di hadapan mereka, kecuali aku tampil dalam pakaian keratuanku. Yang mereka tahu adalah aku berada di Istana. Prabu Marapata memang masih berada di atas tahta, tapi semua orang yang ada di sekelilingnya telah dikendalikan oleh Senopati Gending Suro. Jika mereka sudah mengetahui di mana letak harta Kerajaan, maka mereka tinggal membunuh Prabu Marapata, maka kerajaan baru akan terbentuk,” tutur Warna Mekararum.


“Tapi, bukankah banyak pejabat yang kedudukannya di atas senopati?” tanya Alma.


“Benar, tapi mereka kalah kesaktian dan pasukan. Senopati Gending Suro memang sengaja tidak mau mengambil jabatan lebih tinggi untuk menutupi kekuasaannya yang sebenarnya,” jawab Warna Mekararum.


“Nenek Warna sebenarnya siapa?” tanya Genggam Sekam tiba-tiba dari bilik sebelah. Rupanya dia mendengar perbincangan Alma dan Warna Mekararum.


Pertanyaan Genggam Sekam itu mengejutkan Alma dan Warna Mekararum, tapi tetap tidak merasa kecolongan.


“Nenek Warna adalah Ratu Kerajaan Jintamani yang dibuang dan di penjara di pulau terpencil, Kang Genggam,” jawab Alma.


“Apa?!” kejut Genggam Sekam. Kondisi pemuda itu memang sudah membaik, tetapi masih perlu istirahat sekira empat hari lagi untuk benar-benar pulih.


“Jangan terkejut, Kakang, nanti lukamu kian memburuk. Hahaha!” sahut Alma lalu tertawa.


“Nanti kalau aku sudah sembuh, aku akan mengawal Gusti Ratu sampai kembali ke Istana,” kata Genggam Sekam.


“Aku ini bukan ratu yang hanya sekedar untuk diantar pulang, tapi juga ratu yang akan dibunuh. Kau harusnya tahu, orang-orang yang ditugaskan membunuh ratu itu bukan pendekar jalanan atau pendekar baru berguru,” ujar Warna Mekararum.


“Hahaha! Aku juga bukan pendekar jalanan dan pendekar baru berguru, Gusti,” sahut Genggam Sekam.


“Aku tahu niat di balik ketulusanmu itu. Kau hanya ingin selalu bersama Alma, bukan?” terka Warna Mekararum, yang membuat Alma mendelik.


“Hahaha!” tawa Genggam Sekam, seolah membenarkan terkaan wanita tua itu.


“Hahaha!” tawa Alma pula. “Ternyata benar tudingan Ning Ana selama ini.”


“Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku begitu sulit berpisah denganmu Alma,” tutur Genggam Sekam.


“Tapi jangan salahkan aku jika Kakang Genggam harus beradu nyawa dengan pendekar lelaki lain, hanya karena memperebutkan aku. Padahal yang diperebutkan tidak mau ambil peduli,” kata Alma.


“Setidaknya aku bisa bahagia di saat bersamamu dan di saat bersama Ning Ara,” kata Genggam Sekam.

__ADS_1


“Jika Kakang Genggam siap mengawal Nenek Warna, maka bersiaplah, kita berdua akan berperang melawan pasukan Kerajaan Jintamani!” tandas Alma.


“Apa?!” kejut Genggam Sekam. (RH)


__ADS_2