
*Perguruan Jari Hitam (Guru Jahit)*
Lelaki berpakaian cokelat yang menutupi wajah bawahnya dengan kain cokelat pula, berdiri sendiri di tepi jurang menatap alam liar di bawah sana. Lelaki berpedang panjang itu tidak lain adalah Jejak Langit, pemimpin dari orang-orang yang menyerang Demang Baremowo di dalam perjalanan.
Jejak Langit sudah hampir satu jam berdiri menunggu di tempat itu. Hingga akhirnya terdengar suara langkah kaki kuda dan putaran roda kayu sebuah kereta kuda.
Satu kereta kuda berhenti di bawah sebuah pohon besar.
Jejak Langit berbalik dan melangkah pergi mendekati kereta kuda. Sais kereta yang adalah seorang lelaki berkumis tebal, memandangi kedatangan Jejak Langit. Keduanya beradu pandang sejenak. Jejak Langit melihat di sabuk sais yang berusia sekitar empat puluhan tahun itu, ada terselip sebatang pipa seperti suling. Jejak Langit tahu bahwa sais kereta kuda itu bukan sekedar sais, tetapi juga seorang pendekar.
“Bagaimana kerjamu hari ini, Jejak Langit?” tanya satu suara wanita dari dalam bilik kereta saat Jejak Langit telah berhenti dan berdiri di sisi bilik kereta.
“Maafkan aku, Nyi. Aku gagal membunuh Demang,” ucap Jejak Langit sekaligus sebagai laporan.
“Huh!” Terdengar suara dengusan dari dalam bilik kereta. “Apa yang terjadi? Bukankah kelompokmu adalah pembunuh handal dengan jumlah yang banyak?”
“Sebenarnya kerja anak buahku bagus. Seharusnya aku bisa membunuhnya tadi. Hanya, ada pihak ketiga yang turut campur, ditambah kedatangan banyak murid Perguruan Jari Hitam,” kilah Jejak Langit.
“Aku tidak mau mendengar alasan apa pun. Sesuai perjanjian, bayaranku berlaku sampai Demang mati. Aku tidak peduli kau rugi nyawa atau tidak!” kata wanita di dalam bilik dengan nada cukup keras.
“Baik, aku mengerti, Nyi,” kata Jejak Langit.
“Lalu di mana Demang?”
“Dia terluka parah. Jika dia tidak dibawa pulang untuk diobati, dia pasti dibawa ke Perguruan Jari Hitam,” jawab Jejak Langit.
“Jika Demang berada di Perguruan Jari Hitam, berarti itu kondisi yang bagus,” ucap wanita di dalam bilik kepada dirinya sendiri. Lalu perintahnya kepada Jejak Langit, “Terserah dirimu mau menggunakan cara apa, Jejak Langit. Aku hanya tahunya bahwa tugasmu adalah membunuh Demang Baremowo. Namun yang jelas, selain menggunakan dirimu, aku juga membuat rencana lain.”
“Baik, Nyi.”
“Jangan membiarkan aku menunggu berhari-hari. Nama besarmu sebagai kelompok pembunuh bayaran menjadi taruhannya!”
“Baik, Nyi.”
“Ingat, aku tunggu kabar gembira darimu. Sekarang pergilah!” perintah wanita dalam kereta.
__ADS_1
“Baik, Nyi.”
Jejak Langit lalu melangkah pergi dengan langkah biasa.
“Sumpit Burung, kita kembali!” perintah si majikan kepada saisnya.
“Baik, Nyi,” jawab sais yang bernama Sumpit Burung. Ia lalu menghentakkan tali kekang kudanya agar kedua hewan itu berjalan berbalik arah.
“Nanti kau harus pastikan apakah Demang ada di kediamannya atau tidak. Jika tidak ada, gunakan satu prajurit untuk menyampaikan kepada Nyi Bungkir bahwa Demang ditawan oleh Perguruan Jari Hitam!”
“Baik, Nyi.”
Setengah jam kemudian. Di pusat Kademangan Dulangwesi.
Seorang prajurit berkuda memacu tunggangannya dengan kencang memasuki halaman rumah Demang Baremowo.
Melihat kedatangan prajurit dan kudanya yang tergesa-gesa, Dengkul Geni yang sedang mempersiapkan sekitar dua puluh prajurit, segera menghampiri prajurit yang datang.
“Kenapa tergesa-gesa seperti itu, Prajurit?” tanya Dengkul Geni.
Sebelum prajurit itu menjawab atau menyampaikan laporannya, dari dalam rumah besar Demang keluar Nyi Bungkir yang sudah berganti pakaian dengan warna putih bersih. Ia selalu tampil cantik.
Akhirnya prajurit itu tidak menjawab pertanyaan Dengkul Geni dan memilih pergi ke hadapan Nyi Bungkir.
“Lapor, Gusti. Rombongan Gusti Demang diserang di jalan dan saat ini Gusti ditawan oleh Perguruan Jari Hitam!” lapor prajurit tersebut.
“Apa?!” kejut Nyi Bungkir.
Pada wajah cantik itu kemudian muncul gambaran kemarahan. Lalu ia memberi perintah kepada pengawal pribadinya.
“Dengkul Geni! Kumpulkan semua prajurit Kademangan, kita serbu Perguruan Jari Hitam!”
“Tapi bagaimana dengan pasukan untuk mencari Gelis Sibening?” tanya Dengkul Geni lebih dulu.
“Mungkin Dendeng Pamungkas menyembunyikan anak itu di perguruannya,” jawab Nyi Bungkir, nada bicaranya kembali tenang.
__ADS_1
“Baik, Nyi,” jawab Dengkul Geni.
Maka, dalam waktu singkat, Dengkul Geni memobilisasi seluruh prajurit Kademangan. Ada sebanyak enam puluh prajurit yang berkumpul.
Menurut aturan dari Kerajaan Singayam, setiap kademangan hanya diizinkan memiliki prajurit kademangan sebanyak tujuh puluh lima orang. Akan tetapi, kepala kademangan diperbolehkan memiliki keamanan non resmi seperti centeng, tetapi pengupahannya ditanggung oleh demang.
Terkait itu, Demang Baremowo tidak berminat mempekerjakan centeng, kecuali Dengkul Geni yang awalnya adalah seorang pendekar yang bingung arah tujuan hidup.
Pergerakan para prajurit yang beramai-ramai pergi berkumpul di kediaman Demang, tertangkap perhatian oleh Giling Saga bersama dua rekan seperguruannya.
Giling Saga yang sedang bersama-sama mencari keberadaan Dendeng Pamungkas, jadi menaruh rasa penasaran.
“Kenapa prajurit Kademangan begitu terburu-buru?” tanya Giling Saga kepada dua rekannya yang juga tidak berbekal jawaban.
Mereka bertiga memantau dari balik batang pohon yang tumbuh agak jauh dari pagar tembok rumah Demang. Mereka menunggu.
Tidak berapa lama, sebuah kereta kuda berlari keluar dari dalam halaman rumah Demang Baremowo, didampingi oleh Dengkul Geni yang menunggang kuda. Di belakangnya berlari puluhan prajurit kademangan bersenjata lengkap, yaitu tombak dan tameng di tangan, ditambah satu pedang di pinggang.
“Kira-kira mereka akan pergi ke mana itu, Giling?” tanya Brata Ala, sesama murid senior perguruan. Ia lelaki berusia di atas tiga puluh tahun.
“Seperti pergi untuk berperang,” kata Giling Saga yang tidak bisa memastikan arah tujuan pasukan itu.
“Tapi kalau ke arah sana, ada juga kemungkinan menuju ke perguruan, Giling,” timpal Kulung, pemuda bertubuh agak pendek, tetapi kekar. Cocok disebut pendekar.
“Jangan-jangan Nyi Bungkir tahu jika Demang ada di perguruan!” kata Giling Saga terkejut dengan kemungkinan yang mereka pikirkan. “Brata, Kulung, cepat cari yang lain dan perintahkan semua segera kembali ke perguruan lewat jalan belakang!”
“Baik!” ucap Brata Ala dan Kulung patuh. Keduanya segera pergi untuk mencari sesama murid Perguruan Jari Hitam yang sedang menyebar mencari keberadaan Dendeng Pamungkas.
Sementara Giling Saga pergi mengikuti rombongan pasukan kademangan. Ia mengikuti dengan menjaga jarak, sesuai anjuran protokol kesehatan di masa pandemi.
Semakin jauh mengikuti, Giling Saga semakin yakin bahwa pasukan itu sedang menuju ke Perguruan Jari Hitam.
“Siapa yang memberi tahu Nyi Bungkir bahwa Demang ada di perguruan?” tanya Giling Saga dalam hati. “Tidak mungkin lelaki bertopeng kain cokelat itu. Tidak mungkin jika dia orang suruhan Nyi Bungkir sendiri. Tidak masuk akal jika dia orang bayaran Nyi Bungkir ….”
Waktu kian senja. Kemungkinan pasukan Nyi Bungkir akan tiba di perguruan saat hari senja.
__ADS_1
Namun, kereta kuda dan pasukan Nyi Bungkir harus terhenti oleh gelimpangan mayat di tengah jalan. Mayat-mayat itu tidak lain adalah sais dan kedua pendekar pengawal Demang Baremowo. Adapun yang jumlahnya lebih banyak adalah mayat-mayat pembunuh bayaran yang berseragam cokelat.
“Lebih baik aku segera memberi tahu Guru,” kata Giling Saga di dalam hati. Ia lalu berkelebat pergi menempuh jalan yang tidak biasa untuk tiba di Perguruan Jari Hitam. (RH)