
*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*
Kini, Alma Fatara, Genggam Sekam dan Debur Angkara berdiri berhadapan dengan Merah Matang dan Wanita Kipas Melati yang duduk di atas punggung kudanya. Alma cs berdiri di atas es, sementara kedua pendekar merah putih itu berada di atas tanah pinggir rawa yang membeku. Jarak mereka agak jauh.
Tampak uap dari napas Debur Angkara terlihat jelas karena dia memang habis berlatih keras. Sementara napas Alma dan Genggam Sekam tidak begitu kentara.
Pandangan Merah Matang tajam kepada Alma Fatara. Alma bisa menduga kenapa lelaki merah itu bisa menatapnya seperti itu, bukan karena Alma cantik jelita, tetapi karena pusaka yang Alma miliki.
“Merah Matang dan Wanita Kipas Melati!” seru Genggam Sekam mengenali siapa adanya kedua orang itu.
“Aku mendapat kabar bahwa saudaraku Setan Cakar Biru telah dibunuh di Rawa Kabut ini oleh seorang pendekar wanita!” ujar Merah Matang.
“Aku tidak kenal Setan Cakar Biru, tetapi beberapa hari yang lalu aku membunuh orang berwarna biru yang mau membunuhku. Padahal sudah aku beri kesempatan kepadanya untuk pergi dengan selamat,” kata Alma Fatara.
“Muda-muda tapi sesumbarnya tinggi,” kata Wanita Kipas Melati.
“Hahaha!” tawa Alma yang kemudian memperlihatkan gigi ompongnya.
“Hihihi!” Wanita Kipas Melati tidak bisa menahan tawanya ketika melihat tawa Alma Fatara.
Namun, Alma tidak peduli ditertawakan.
“Jika yang muda-muda tidak sesumbar, kalian yang tua-tua akan selalu meremehkan kami!” balas Alma Fatara.
“Lalu di mana mayat Setan Cakar Biru?” tanya Merah Matang.
“Mundur!” perintah Alma Fatara kepada kedua rekannya.
Alma Fatara bersama Genggam Sekam dan Debur Angkara melangkah mundur hingga sepuluh langkah. Setelah mereka berhenti, Alma menunjuk ke lantai es yang tadi menjadi tempat mereka berdiri.
Merah Matang dan Wanita Kipas Melati hanya bisa mencoba menangkap maksud dari tunjukan Alma. Keduanya lalu memutuskan untuk memajukan langkah kaki kudanya.
Langkah pelan kuda mulai menginjak lapisan es. Kedua kuda terus maju. Merah Matang dan Wanita Kipas Melati mengarahkan pandangannya ke lantai es. Ketika baru dua tombak mereka maju, mereka akhirnya melihat objek berwarna biru di dalam lapisan es. Objek itu tidak lain adalah sesosok mayat.
“Cakar Biru!” seru Merah Matang terkejut. Ia cepat melompat turun dari kudanya.
Broks!
Merah Matang langsung menonjok titik di lantai es. Muncul sinar merah yang tersembur dari tinju itu, menciptakan lubang cukup besar pada lantai es.
Broks!
Hal serupa kembali dilakukan oleh Merah Matang, membuat lubang yang lebih lebar. Dengan cara itu, Merah Matang bisa dengan leluasa menggapai mayat Setan Cakar Biru. Mayat itu membeku dan tidak mengalami pembusukan meski sudah beberapa hari tidak bernyawa.
Alma Fatara, Genggam Sekam dan Debur Angkara hanya menyaksikan apa yang diperbuat oleh Merah Matang dan Wanita Kipas Melati.
__ADS_1
Tubuh mati Setan Cakar Biru lalu diletakkan di punggung kuda Merah Matang dalam kondisi beku dan basah.
“Hari ini kami hanya datang untuk mengambil mayat saudara kami dan memakamkannya. Namun setelah itu, kau harus waspada!” ancam Merah Matang. “Siapa namamu, Nak?”
“Alma Fatara, Paman.”
“Siapa gurumu?” tanya Merah Matang lagi.
“Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit.”
“Oh, pantas,” ucap Merah Matang singkat.
Merah Matang lalu naik ke atas kudanya, demikian pula Wanita Kipas Melati. Tindakan kedua pendekar itu membuat Genggam Sekam dan Debur Angkara lega, sebab mereka berdua tidak siap jika harus bertarung.
Merah Matang dan Wanita Kipas Melati membalikkan arah kudanya dan melangkah pergi seperti jalan santai.
“Apakah kau mengenal Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit?” tanya Merah Matang kepada Wanita Kipas Putih.
“Aku hanya pernah mendengar nama mereka disebut oleh pendekar tua lain,” jawab Wanita Kipas Melati.
“Dua orang itu adalah pendekar sakti yang sulit dicari tandingannya. Namun aku tidak mengerti, bagaimana bisa gadis muda itu memiliki keduanya sebagai guru? Apalagi dia memiliki Bola Hitam,” kata Merah Matang.
“Apa? Gadis itu memiliki Bola Hitam milik Raja Tanpa Tahta yang hilang?” kejut Wanita Kipas Melati.
“Benar. Apakah kau tadi bisa merasakan aura kesaktian dari gadis itu?”
“Itulah aura Bola Hitam yang ada pada gadis itu. Pantas saja Setan Cakar Biru mudah mati di tangannya. Selain dia murid dua orang sakti, ternyata dia juga memiliki Bola Hitam,” kata Merah Matang. “Jika kita berdua memaksakan diri bertarung melawannya, kemungkinan besar kita tidak akan menang, tapi justru bisa bernasib seperti Setan Cakar Biru.”
“Lalu apakah kita tidak akan membalas kematian Setan Cakar Biru?” tanya Wanita Kipas Putih.
“Tetap akan kita balas, tapi kita harus berencana. Kita tidak tahu apa urusan pasukan Kadipaten Pagamuyung ke Rawa Kabut, tetapi sepertinya Kerajaan Jintamani akan melakukan serangan balasan atas kekalahan mereka.”
“Berarti kita akan bergabung dengan pasukan kerajaan?”
“Benar.”
Setelah berbincang-bincang santai tanpa kopi, akhirnya mereka lebih mengencangkan langkah kudanya menjadi berlari pelan.
Sementara itu, masih di tempatnya berdiri, Alma bertanya kepada Genggam Sekam.
“Kakang mengenal mereka?”
“Mereka itu ada empat orang. Merah Matang, Wanita Kipas Melati, Setan Cakar Biru, dan Siluman Ular Emas,” jawab Genggam Sekam. “Siluman Ular Emas seangkatan dengan guruku.”
“Aku yakin Paman Merah Matang merasakan keberadaan Bola Hitam, tetapi dia menahan diri,” kata Alma. “Ayo kita kembali, Kakang.”
__ADS_1
Mereka bertiga lalu kembali ke kediaman Jangkung Jamur.
Keesokannya, Ayu Wicara sudah bisa berlatih. Berlatih bersama sang kekasih membuat Ayu Wicara bersemangat. Meski ia sudah diberi pil dalam berlatih, tetap saja Ayu Wicara banyak mengeluh, terutama mengeluhkan hawa dingin yang menuntut kehangatan.
Ayu Wicara harus berlatih untuk menguasai berat pedangnya dulu sebelum belajar menggunakanya untuk serangan.
“Hahahak …!” tawa Alma Fatara dan Genggam Sekam melihat Ayu Wicara ketika ia keteteran dalam mengimbangi berat pedang yang ia ayunkan. Licinnya medan es sering kali membuatnya jatuh dan tertimpa pedang sendiri.
“Tidak bisakah aku berlatah (berlatih) di tanah?” tanya Ayu Wicara.
“Jika kau bisa menguasai medan licin seperti ini, maka medan kasar tidak akan ada apa-apanya!” sahut Alma Fatara.
Tanpa banyak membantah, Ayu Wicara kembali melanjutkan latihannya.
“Ayu! Tangkap!” teriak Genggam Sekam sambil melambungkan tongkat besinya kepada Ayu Wicara.
Tap! Bduk!
Ayu Wicara dengan santai menangkap batang tongkat itu. Namun, alangkah terkejutnya dia saat merasakan betapa beratnya tongkat besi itu. Tangannya langsung tertarik jatuh ke lantai es karena tidak mampu menahan beratnya.
“Hahahak!” tawa Alma Fatara.
“Terbuat dari besi apa tongseng (tongkat) ini?” tanya Ayu sambil mengangkat tongkat besi Genggam Sekam dengan dua tangan. Ia memberikan kembali tongkat itu kepada Genggam Sekam.
Memang tidak mudah bagi Ayu Wicara. Ketika ia sudah menguasai tekhniknya untuk mengimbangi berat pedangnya, ia harus bisa menguatkan kuda-kudanya agar bisa kokoh bertahan di atas medan yang licin lagi dingin.
Ternyata, satu hari tidak cukup bagi Ayu Wicara untuk menguasai berat pedang saja. Namun, tetap ada perkembangan bagus.
Keesokan harinya, latihan kembali dilanjutkan. Ayu Wicara semakin bersemangat berlatih ketika ia merasakan tenaga dalamnya mengalami peningkatan level.
Berkat arahan yang tepat dari Genggam Sekam, Ayu Wicara akhirnya bisa menguasai berat pedangnya dengan medan yang licin seperti es.
“Ayu! Tangkap!” teriak Genggam Sekam sambil melambungkan tongkatnya kepada Ayu Wicara.
Tap!
Ternyata kali ini Ayu Wicara sanggup menangkap tongkat itu tanpa harus terbawa jatuh oleh berat. Bahkan Ayu bisa memainkan sebentar tongkat berat itu.
“Bagaimana?” tanya Genggam Sekam.
“Luar biaya!” jawab Ayu Wicara semangat karena ia mengalami kemajuan pesat dibandingkan hari kemarin.
“Luar biasa! Hahaha!” ralat Genggam Sekam lalu tertawa.
Setelah itu, barulah Ayu Wicara berlatih menggunakan pedang beratnya dalam menyerang. Ternyata itu membutuhkan waktu yang lebih lama lagi.
__ADS_1
Sudah waktunya bagi Genggam Sekam untuk pergi sebagai utusan Ratu Warna Mekararum. Ia pun pergi berkuda meninggalkan Rawa Kabut. (RH)