A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Pete Rabut 1: Alma Sembuh


__ADS_3

*Pertempuran Rawa Kabut (Pete Rabut)*


Jika Garam Sakti dan Ning Ana menghabiskan waktu senggang dengan berguru di Perguruan Pisau Merah, maka Debur Angkara dan Ayu Wicara menghabiskan waktu dengan memadu kasih. Ketika tidak ada Alma Fatara bersama mereka, maka jadilah Magar Kepang sebagai obat nyamuk.


Sementara itu, Alma Fatara kembali melakukan percobaan dengan Bola Hitam. Sebelumnya pada malam ketiga, tanpa sengaja Alma merasakan sesuatu, yaitu ketika Bola Hitam menyalurkan tenaga berhawa sejuk lagi enak yang membuat kepala Alma lebih fresh.


Hal itu terjadi ketika Alma menjadikan dua bagian Bola Hitam sebagai bantal saat tiduran. Awalnya Alma tidak terbetik tentang kemungkinan bahwa itu cara pengobatan dengan Bola Hitam. Barulah ketika pagi, Alma tersadar.


Pagi itu, Alma berpesan kepada Magar Kepang agar ia tidak diganggu sampai ia keluar dari tenda.


Maka, pagi itu Alma kembali berbaring dengan berbantalkan dua bagian kotak biru.


Tidak berapa lama, dua belahan kotak biru mengalirkan energi sejuk ke dalam batok kepala Alma. Setelah itu, Alma mencoba mengolah energi sejuk di dalam kepalanya lalu menyalurkannya agar menyebar ke seluruh tubuh. Ternyata cara itu berhasil karena Alma bisa merasakan perubahan positif di dalam tubuhnya.


Namun, pada satu waktu, tiba-tiba Alma merasakan rasa mual yang tinggi tapi tanpa pusing.


“Hoekh!”


Alma akhirnya muntah darah hitam yang berbau busuk. Ia lempar muntahannya ke samping.


“Alma! Apakah kau baik-baik saja?” tanya Magar Kepang dari luar tenda, tanpa berani mengintip.


“Tidak apa-apa, Paman. Aku tidak hamil! Hahaha!” sahut Alma masih sempat-sempatnya berseloroh.


“Hahaha!” tawa Magar Kepang lega.


Setelah itu, Alma kembali melanjutkan terapi Bola Hitam.


Ternyata, proses terapi itu hanya memakan waktu dua jam saja sampai Alma benar-benar merasa sembuh. Ia merasa kondisi fisiknya luar dalam benar-benar prima.


“Aneh, sepertinya tingkat tenaga dalamku bertambah tinggi,” batin Alma.


Setelah membersihkan muntahannya yang berbau busuk, Alma keluar dari dalam tenda dengan senyum yang sumringah, sampai-sampai ompongnya terbuka.


“Selang sekali,” kata Ayu Wicara.


“Senang, bukan selang,” ralat Alma.


“Iya, itu maksudku dari kemarin,” tandas Ayu Wicara.


“Hahaha!” tawa Alma. “Lukaku sudah sembuh.”


“Wah, berarti kita tidak terkalahkan lagi,” kata Debur Angkara.

__ADS_1


“Iya, biar kalian bisa memadu kasih dengan aman sentosa,” celetuk Magar Kepang.


“Hahaha! Nanti kalau pulang harus kita kawinkan, Paman,” kata Alma.


“Harus. Kasihan Debur jika tidak dikawinkan, nanti tidak perjaka lagi tapi tidak punya istri,” dukung Magar Kepang.


“Hahaha!” tawa Alma.


“Eh, Macan (Paman)! Seharusnya aku yang roti (rugi), bukan Kang Dengkur,” protes Ayu Wicara.


“Aku mau ke rumah Kakek Jangkung, ada yang mau ikut?” tawar Alma.


“Tidak!” jawab ketiganya serentak. Lalu mereka melajutkan, “Dingin!”


“Baik,” kata Alma seraya tersenyum.


Alma Fatara lalu melangkah pergi ke rawa yang airnya masih dilapisi oleh es tebal. Meski demikian, keluasan lapisan es sudah berkurang dan ketebalannya juga berkurang.


Setibanya di rumah Ki Ramu Empedu, Alma mendapati si tuan rumah sedang menumbuk dedaunan yang dari baunya saja sudah jelas kepahitannya. Tampak Jangkung Jamur mengenakan pakaian beberapa lapis, termasuk kain yang ia gunakan untuk menyelimuti kepala dan lehernya.


“Hahaha!” tawa Alma melihat Jangkung Jamur berpakaian seperti itu karena kedinginan.


“Tidak usah tertawa!” rutuk Jangkung Jamur. “Sepertinya kau sudah menemukan cara mengobati diri dengan Bola Hitam.”


“Iya, Kek. Justru aku mau berbagi kabar gembira ini,” kata Alma yang belum sempat duduk.


“Kau segar sekali, Alma?” tanya Warna Mekararum.


“Aku sudah berhasil mengobati diriku sendiri, Nek,” jawab Alma Fatara.


“Baguslah,” kata Warna Mekararum. “Aku harap kau bisa bersabar menunggu, Alma.”


“Pasti aku sabar menunggu, Nek. Bagaimana kondisi, Nenek? Warna muka Nenek sudah mulai alami.”


“Aku tentu semakin baik. Aku akui, Jangkung Jamur lebih baik dari tabib Kerajaan Jintamani,” kata Warna Mekararum.


“Setelah Nenek sembuh, kita akan pergi ke mana?” tanya Alma yang hanya berdiri di ambang pintu.


“Lebih baik kita ke Negeri Sembunyi dulu untuk memastikan kondisi terbaru mereka,” jawab Warna Mekararum.


“Baik, Nek.”


“Alma!” panggil Jangkung Jamur tiba-tiba dari teras depan.

__ADS_1


“Iya, Kek!” sahut Alma cepat lalu meninggalkan Warna Mekararum begitu saja.


Alma segera ke depan menemui Jangkung Jamur.


“Ada apa, Kek?” tanya Alma sambil duduk bersimpuh di depan Jangkung Jamur.


“Ada banyak orang yang datang ke pinggiran rawa,” ujar Jangkung Jamur.


“Siapa?” tanya Jangkung Jamur.


“Makanya aku memanggilmu agar melihat siapa mereka. Aku bisa merasakan tapi tidak bisa mengenali,” tandas Jangkung Jamur.


“Baik, aku akan lihat mereka,” kata Alma.


“Jika mereka berniat jahat, kau pasti tahu cara mencegah mereka untuk sampai ke rumah ini. Jika tidak ada es, aku bisa menggunakan ular-ular rawa untuk menyerang mereka.”


“Almaaa!” teriak seorang lelaki tiba-tiba dari kejauhan. Nada teriakannya mengandung nada kesakitan yang tinggi.


Alma Fatara dan Jangkung Jamur cepat berdiri dan melihat ke luar sana.


Mereka melihat sosok Debur Angkara yang tidak berbaju, berlari terpincang di atas es dengan kedua tangan masih menggenggam dua golok birunya. Tampak pula ada aliran darah yang menetes deras di ujung tangan kiri lelaki besar itu.


Bduk!


Debur Angkara jatuh tersungkur di atas lapisan es.


“Gawat!” desis Alma Fatara lalu buru-buru melompat turun tanpa pakai tangga lagi.


Jangkung Jamur juga segera berkelebat turun ke es. Mereka bersama-sama mendapati Debur Angkara yang menderita luka panah pada betis kanannya dan luka sayatan pada lengan dan bahu kiri.


“Alma! Ada pasukan kerajaan!” seru Debur Angkara dalam kondisi tubuh masih tengkurap.


“Aku serahkan kepadamu, Kek!” kata Alma lalu berlari cepat di atas es meninggalkan Debur Angkara.


Dari jauh, Alma sudah bisa melihat keberadaan banyak orang yang berbaris di pinggiran rawa. Orang-orang itu terlihat memiliki warna yang seragam, yaitu berbaju hijau bercelana hitam.


Di tanah pinggiran rawa yang tidak tersentuh lapisan es, telah berbaris sebanyak dua puluh prajurit panah dalam posisi berlutut satu kaki. Mereka dalam posisi siap dengan busur dan anak panah telah terpasang di tangan.


Di belakang pasukan panah berdiri rapat puluhan prajurit bertombak dalam format dua baris. Paling belakang ada tiga orang yang duduk di atas punggung kudanya.


Satu penunggang kuda berpakaian ala perwira kerajaan dengan senjata keris di perut, ditambah busur melintang di badan. Kumis tebalnya begitu jumawa menguasai area atas bibir. Kepalanya dihiasi totopong yang dipadu hiasan logam dari kuningan. Ia bernama Girik Songko, Adipati Kadipaten Pagamuyung.


Dua penunggang kuda lainnya berpakaian ala pendekar sakti.

__ADS_1


Lelaki separuh baya berjubah kuning memiliki rambut yang berwarna biru. Entah pylox merek apa untuk mengecat rambutnya. Selain rambutnya, ternyata bibirnya juga berwarna biru terang, seperti warna Bola Hitam milik Alma. Lelaki itu tidak bersenjata, tetapi ia memiliki sepuluh kuku jari tangan yang panjang dan runcing seperti kuku binatang buas. Warna kukunya juga berwarna biru. Lelaki yang diduga beraliran punk rock itu bernama Digdaya Sewu, lebih ternama dengan nama Setan Cakar Biru.


Sementara lelaki muda bertubuh gagah nan tampan mengenakan pakaian warna putih bersih, bersabuk warna ungu. Ia menyandang pedang bergagang putih di punggungnya yang masih aman di warangka warna perak. Pemuda itu memiliki rambut gondrong sebahu. Di bawa mata kanannya ada tiga titik hitam berformasi segitiga. Entah, apakah itu tahi lalat atau tato model terkini. Ia bernama Sanggar Aga, berjuluk Pengelana Kepeng. Julukan itu tersemat karena ia adalah seorang pengelana dan pendekar bayaran. (RH)


__ADS_2