
*Para Petarung Panah (Papepa)*
Tampak Lima Pendekar Sungai Ular berada di belakang kerumunan warga sebagai sesama penonton. Alma Fatara bisa melihat Gemba Arek alias Ular Terbang Mungil bergerak dengan langkah yang agak terpincang, akibat luka yang Alma berikan kepadanya kemarin.
Sementara Junjung Kemilau dan Obol-Obol terlihat sudah baik-baik saja, sepertinya mereka sudah bisa mengatasi lukanya masing-masing.
“Kalian lihat kelima orang berpakaian pendekar itu?” tanya Alma Fatara kepada ketiga rekannya.
“Iya,” jawab Garam Sakti.
“Iya. Kelapa, Amal?” tanya Ayu Wicara yang kemudian membuat Alma tertawa kecil mendengar pertanyaan Ayu Wicara.
“Mereka belum mengenal kalian. Kalian menyebar dan awasi mereka dari jauh!” perintah Alma.
“Baik,” jawab Debur Angkara.
“Tapi ingat, jangan sampai bentrok dengan mereka. Kesaktian mereka ada di atas kalian!” pesan Alma.
Ketiganya mengangguk, lalu bergerak pergi bersama. Setelah berbagi target, mereka bertiga lalu menyebar. Sementara Alma memilih naik ke dahan pohon yang lebih tinggi, sehingga jangkauan pandangannya lebih luas.
Di panggung utama, Ninda Serumi duduk di kursi khusus yang menyendiri dari kursi-kursi pejabat dan tokoh.
Selanjutnya, muncul tiga pemuda berperawakan pendekar, yang datang berjalan kaki, mereka berjalan memasuki alun-alun. Masing-masing membawa busur.
Pemuda tampan pertama bertubuh kurus tanpa memiliki porsi daging memadai untuk membuatnya berotot ideal. Ia memelihara sekumpulan jenggot yang ujungnya melengkung ke dalam seperti jenggot domba. Ia mengenakan pakaian warna cokelat dengan sabuk kuning. Ia adalah Petarung Panah yang bernama Jenjer Mahesa, seorang putra demang dari luar Ibu Kota. Ia datang seorang diri tanpa membawa massa atau kerabat. Salah satu dari dua demang yang hadir di panggung utama bukanlah ayahnya.
Pemuda kedua bertubuh tinggi besar seperti Debur Angkara, dalam arti tidak lebih besar dari Garam Sakti. Ia mengenakan baju biru gelap yang ketat tanpa lengan, sehingga terlihat jelas tubuh atletisnya dengan model otot idaman tante-tante. Kontras dengan bajunya, ia justru bercelana model gombrong. Sabuknya terbuat dari logam seperti kaleng-kaleng. Ia Petarung Panah yang bernama Tiro Mulaga.
Pemuda ketiga disebut tampan karena memiliki kulit yang putih. Wajah bersihnya dilingkari oleh brewok hitam yang halus. Ia memiliki sepasang mata agak sipit. Tubuhnya sedikit gempal, tapi masih terlihat gagah. Ia Petarung Panah yang bernama Gegas Simanuk dari Hutan Balewang.
Mereka bertiga adalah para pemuda hebat dari luar Ibu Kota.
Ketika mereka diperkenalkan satu per satu oleh Pamong Sukarat di panggung perkenalan, sambutan warga Ibu Kota kurang meriah. Hebatnya si Pamong Sukarat, dia mengenal semua kandidat Petarung Panah.
Tiba-tiba terdengar suara ramai lari kuda dari jauh yang datang mendekat. Semua mata seketika tertarik melihat siapa yang datang.
Ada lima ekor kuda. Kuda yang paling depan adalah seorang pemuda tampan berkulit bersih. Ia mengenakan pakaian sutra warna perak. Ia pun mengenakan totopong warna perak di kepalanya. Busur yang dibawanya terlihat bagus berwarna merah terang. Ia tidak lain adalah Pangeran Derajat Jiwa.
__ADS_1
Empat kuda lainnya ditunggangi oleh keempat pengawalnya yang berpakaian hitam-hitam.
Para warga kembali riuh melihat kegagahan berkuda sang pangeran. Hanya ada beberapa orang yang tahu bahwa Derajat Jiwa yang datang itu adalah seorang pangeran, yakni Adipati Marak Wijaya, Wakil Adipati Pamong Sukarat, Kepal Kepeng dan keluarga, Alma Fatara dan Magar Kepang.
Kelima kuda memasuki alun-alun dengan kecepatan tinggi, membuat para prajurit penjaga pintu masuk ngeri terserempet kuda.
Ketika Pangeran Derajat Jiwa naik ke panggung perkenalan, ia disambut meriah dengan sorakan dan tepuk tangan. Gaya dia datang memberi pengaruh untuk meyakinkan penonton bahwa ia berpeluang menang. Namun, sambutannya tidak semeriah ketika Arya Mungkara, putra Bendahara Kadipaten dan Bandeng Prakas disambut. Namun, itu tidak membuatnya kecewa karena dia tidak bisa membandingkannya.
“Hadirin segenap warga Ibu Kota! Kedua belas Petarung Panah telah hadir di alun-alun ini! Mendebarkan! Dukung Petarung Panah pilihan kalian!” teriak Pamong Sukarat. “Diperintahkan para pengawal Petarung Panah dan kendaraannya untuk menepi ke pinggir lapangan!”
Maka, semua pengawal para Petarung Panah, termasuk kendaraannya, bergerak pergi ke pinggir alun-alun, tetapi masih di sisi dalam. Kini tinggallah dua belas pemuda yang ada di tengah alun-alun.
“Pamong Sukarat!” panggil Adipati Marak Wijaya.
Pamong Sukarat segera menengok kepada junjungannya.
“Hamba, Gusti,” ucap Pamong Sukarat sambil membungkuk hormat.
“Kumpulkan ketiga komandan!” perintah Adipati Marak Wijaya.
Agak terkesiap Pamong Sukarat mendengar perintah itu. Namun, ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Pastinya, ia tidak bisa mengumpulkan ketiga komandan, karena untuk Komandan Pasukan Utara Dampuk Ulang, dia sudah mati di Kademangan Dulangwesi.
Pamong Sukarat lalu kembali menghadap ke arah khalayak ramai yang berjarak jauh.
“Komandan Keamanan Ibu Kota, Komandan Pasukan Utara, dan Komandan Pasukan Selatan, diperintahkan cepat datang menghadap ke panggung utama!” teriak Pamong Sukarat.
Dari tiga titik di pinggir alun-alun terlihat gerakan tiga orang. Gendas Pati selaku Komandan Keamanan Ibu Kota bergerak melompati kepala barisan prajurit, lalu ia berlari cepat menuju panggung utama. Rupanya lututnya sudah sembuh dari cedera yang Alma Fatara berikan.
Dari arah lain berlari pula dua orang lelaki berpakaian prajurit. Lelaki yang berjenggot lebat bernama Rewa Segili, Komandan Pasukan Selatan. Sementara prajurit satunya adalah mantan tangan kanan Komandan Dampuk Ulang yang bernama Lot saja.
Melihat kedatangan ketiga pemimpin prajurit itu, Adipati Marak Wijaya dan Adya Bangira jadi kerutkan dahi. Mereka tidak melihat kemunculan Komandan Dampuk Ulang.
Ketiga pemimpin prajurit itu berhenti dan menghormat di depan panggung.
Adipati Marak Wijaya bangkit dari duduk dan berjalan dengan tongkatnya ke tengah panggung.
“Hormat kami, Gusti Adipati!” ucap ketiganya menghormat.
“Di mana Komandan Dampuk Ulang?” tanya Adipati Marak Wijaya masih bernada datar, sebab ia sudah tahu jawaban ketidakhadiran Dampuk Ulang.
__ADS_1
“Ampuni hamba, Gusti Adipati. Komandan Dampuk Ulang telah tewas dibunuh,” jawab Lot dengan tetap pose menghormat.
“Apa?!” teriak Adipati keras, menunjukkan kemarahannya. “Siapa yang membunuhnya?”
“Seorang pendekar wanita di Kademangan Dulangwesi, Gusti,” jawab Lot.
“Aku tidak pernah mendapat kabar tentang pengerahan Pasukan Utara ke Kademangan Dulangwesi,” kata Adipati Marak Wijaya. Ia lalu beralih kepada Pamong Sukarat, “Bisa kau jelaskan, Pamong?”
“Hamba akan jelaskan apa yang terjadi di Kademangan Dulangwesi setelah acara pertandingan ini selesai, Gusti. Tentunya semua sudah menunggu,” ujar Pamong Sukarat dengan senyum samar yang merasa bersalah.
“Hmm, baiklah. Lanjutkan!” kata Adipati Marak Wijaya. Lalu katanya kepada ketiga pemimpin prajurit itu, “Kalian tetap harus berdiri di situ!”
“Baik, Gusti!” jawab ketiga pemimpin prajurit tersebut.
Baru saja Pamong Sukarat hendak melanjutkan kerjanya sebagai pembawa acara pertandingan tersebut, dari luar alun-alun datang serombongan pasukan berkuda. Sekitar dua puluh kuda.
Pasukan berkuda yang ditunggangi oleh para prajurit berseragam warna kuning kunyit itu memasuki alun-alun. Para prajurit itu terlihat memiliki perawakan yang gagah-gagah. Adipati Marak Wijaya dan pejabat lainnya hanya memandangi dengan tatapan terkejut.
“Pasukan Kerajaan Singayam!” sebut Adipati Marak Wijaya.
“Bukankah mereka pasukan Kerajaan?” tanya Adya Bangira yang telah berdiri di sisi Adipati.
“Gusti Adipati mengundang pejabat Kerajaan juga?” tanya Pamong Sukarat.
“Aku tidak pernah mengundang pejabat Kerajaan datang ke acara ini,” bantah Adipati Marak Wijaya.
Orang terdepan yang menunggang kuda jelas adalah seorang pejabat kerajaan. Dapat dikenali dari cara berpakaiannya. Ia seorang lelaki separuh baya yang masih bertubuh kokoh. Ia mengenakan baju dan celana merah terang dengan sabuk biru terang. Ada sebuah keris warna perak yang terselip di sabuk depannya.
“Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan!” sebut Adipati Marak Wijaya saat mengenali pejabat tersebut.
Adipati Marak Wijaya dengan tergopoh-gopoh segera turun dari panggung untuk menyambut pejabat itu. Adya Bangira dan Pamong Sukarat mengikuti sang adipati.
“Hormat hamba, Panglima!” ucap Adipati Marak Wijaya, yang diikuti oleh penghormatan Adya Bangira dan Pamong Sukarat.
Panglima Pasukan Keluarga Kerajaan segera turun dari kudanya.
“Bangunlah, Adipati!” perintah sang panglima. “Terima kasih atas undanganmu!”
Terkejut heranlah Adipati Marak Wijaya. Pasalnya, dia tidak pernah mengundang seorang pun pejabat dari Kerajaan Singayam. (RH)
__ADS_1