A1ma Dewi Dua Gigi

A1ma Dewi Dua Gigi
Alfa 9: Atraksi Tendang Telur


__ADS_3

*Alma Fatara (Alfa)*


Slamet Lara baru tiba dari melaut. Ia membawa ikan yang cukup untuk beberapa hari mendatang.


“Huuu huuu …!”


Slamet Lara mengerutkan kening saat mendengar suara tangis istrinya yang seperti orang meledek.


Saat ia melihat ke samping rumah kayunya, tampak istrinya yang bertubuh kurus sedang berjongkok menangis sambil makan daging kelapa. Tangan kanan memegang parang dan tangan kiri memegang daging kelapa. Dasar wanita tidak pernah makan kursi sekolahan, dia tidak tahu jika makan menggunakan tangan kiri itu cara dedemit makan.


“Kenapa toh, Mun?” tanya Slamet Lara seraya menghempaskan napas kelemasan. Lemas karena sudahlah pulang dengan membawa lelah, setibanya di rumah justru disambut dengan tangisan, bukan senyuman Monalisa.


“Aku rindu Alma, Pak. Tiga puluh satu hari sudah dia meninggalkan kita, tapi tidak kunjung pulang-pulang. Kata pendekar itu dulu, katanya Alma baik-baik saja dan sudah jadi murid orang sakti, tapi kok tidak pulang-pulang, seperti tidak punya orangtua saja. Huuu huuu …!” jawab Muniwengi lalu kembali menggigit daging kelapa muda dan melanjutkan tangisnya.


“Yaaa namanya juga berguru, mungkin dilarang oleh gurunya. Misalnya, Alma dilatih di dalam sumur penuh ular selama satu tahun, atau digantung di puncak gunung selama dua tahun,” kata Slamet Lara.


“Itu melatih atau menyiksa, Pak?” tanya Muniwengi. Tangisnya mulai reda karena diganggu oleh kehadiran suaminya.


“Yaaa namanya juga yang melatih orang sakti, Mun. Orang sakti itu kadang aneh-aneh.”


“Oh gitu ya, Pak?”


“Hok oh!” Slamet Lara membenarkan dengan anggukan.


“Aku tuh kangen berat sama suara ketawanya yang tidak sopan itu, Pak,” kata Muniwengi lagi.


“Hehehe! Anak itu memang menjengkelkan, tapi kalau tiada terasa kehilangan.”


“Semoga jika Alma sudah lulus, pulang bawa uang banyak, biar kita bisa naik tingkat jadi Orang Bersandal,” harap Muniwengi.


“Memangnya kau pikir orang berguru itu jualan barang sehingga dapat uang?” kata Slamet Lara. Lalu ia mengalihkan bahasan, “Anjengan ke mana? Biar dia yang pergi menyetor ikan ke Kepala Desa.”


“Biar aku panggilkan,” kata Muniwengi. Ia lalu bangkit dengan tangan tetap membawa parang.


Sejak kejadian sebulan lalu, Muniwengi selalu membawa parang jika pergi ke mana-mana, membuat sesama kaum ibu nelayan agak takut kepadanya, terlebih anak kesayangannya menghilang. Ada yang yakin bahwa Muniwengi sedang stress stadium dua.


Anjengan, anak perempuan bertubuh paling besar dan lebar, juga paling berlemak, sedang seru-serunya bermain Kuda Lempar Kerang di pantai.


Permainan tradisional ini aturannya mudah. Setiap pemain harus punya kulit kerang yang agak besar, sekira selebar telapak tangan. Satu orang akan dipilih menjadi kuda dengan diundi. Setelah terpilih satu kuda, maka pemain yang menjadi kuda meletakkan kerangnya pada sebuah lingkaran kecil yang dibuat di tanah pasir. Caranya, pemain yang menjadi kuda harus melempar kerangnya sendiri menggunakan kerang milik pemain yang menaiki punggungnya.


Jadi pelemparan dilakukan oleh si kuda dengan pemain lain naik ke punggungnya sebagai tekanan bagi si kuda. Lemparan dilakukan dari garis yang berjarak sepuluh langkah dari posisi lingkaran kecil.

__ADS_1


Jika lemparan si kuda mengenai kerangnya sendiri, maka yang jadi kuda berikutnya adalah pemain yang berada di punggungnya. Namun, jika lemparan kerang si kuda meleset, maka si kuda harus menggendong pemain di punggungnya sejauh lingkaran, lalu balik lagi ke garis lempar.


Saat itu, Anjengan yang bertubuh gemuk sedang menjadi pemain yang naik ke atas kuda. Pemain yang menjadi kuda adalah Iwak Ngasin, anak bertubuh kurus tinggi.


Iwak Ngasin sudah berdiri di garis lempar. Kakinya agak gemetar menahan berat Anjengan yang ekstrem. Tangan kanannya memegang kerang milik Anjengan. Ia harus melempar kerangnya sendiri yang ada di lingkaran.


“Ayo, Iwak! Jangan biarkan Anjengan menjadikanmu kuda perahan!” teriak teman-teman mereka yang lain. Rupanya mereka tidak tega melihat Iwak Ngasin tertindas oleh berat tubuh Anjengan.


Ketika hendak melempar, tangan kanan Iwak Ngasin sampai gemetaran. Lemparan pun akhirnya dilakukan. Kerang lemparan Iwak Ngasin lewat jauh dari target.


“Yaaah!” desah pemain lain kecewa.


“Hihihi! Kudaku lari kencang gagah berani! Hea hea!” tawa Anjengan lalu bernyanyi dan menggebah kudanya.


Mau tidak mau Iwak Ngasin berlari sekuat tenaga sampai langkahnya sempoyongan.


Bluk!


Ketika Anjengan menggebah, membuat tekanan berat bertambah, Iwak Ngasin jatuh tersungkur ke tanah pasir. Sementara Anjengan menimpa di punggungnya.


“Hahaha …!” tawa anak-anak itu ramai-ramai. Meski mereka tadi mendukung Iwak Ngasin, tetap saja mereka tertawa melihat kemalangan si kuda.


“Hahahak …!”


Sontak tawa mereka berhenti karena mengenali suara tawa lain itu. Mereka langsung menengok ke belakang.


“Almaaa!” teriak mereka serentak saat melihat keberadaan Alma Fatara yang tertawa terbahak-bahak melihat insiden Anjengan dan Iwak Ngasin.


Alma berada agak jauh dari mereka. Ketika mereka berlari hendak menghampiri sahabat yang sebulan menghilang, Alma cepat berseru.


“Eh, tunggu!”


Sontak mereka bersepuluh berhenti berlari.


“Aku punya beberapa telur, akan aku lempar dan kalian harus menangkapnya!” seru Alma.


Alma memang membawa sebuah keranjang bambu berisi banyak telur ayam. Alma meletakkan keranjangnya di tanah, ia mengambil empat butir telur. Dua di tangan kanan dan dua di tangan kiri.


Tuk!


Alma menjatuhkan satu butir telur ke bawah, yang kemudian ditendang pelan oleh ujung kakinya. Telur itu tidak pecah, tetapi kembali memantul ke atas dan ditangkap oleh tangan Alma. Atraksi itu menunjukkan bahwa telur itu telur matang yang sudah direbus.

__ADS_1


“Siapa yang menangkap dapat telur!” teriak Alma.


Maka kesepuluh teman sepermainan Alma itu segera bersiap untuk menangkap telur-telur yang dilempar.


Alma Fatara lalu melambungkan empat butir telur sekaligus ke udara, membuat teman-temannya mendelik. Segera timbul pertanyaan, bagaimana caranya Alma melempar dengan tekhnik seperti itu.


Namun, Alma memberi atraksi kejutan kepada teman-temannya. Kaki Alma dengan lincah melakukan dua kali kibasan. Sekali kibas, kaki Alma menghantam dua butir telur sekaligus. Maka empat butir telur melesat bersusulan ke arah Anjengan dan rekan-rekan.


Pcrak! Pcrak!


Ternyata, ketika keempat telur itu menghantam tangan atau badan, dia pecah layaknya telur mentah.


Iwak Ngasin berhasil menangkap dengan dua tangan, tapi telur itu langsung pecah. Gagap Ayu gagal menangkap sehingga telur pecah di dadanya. Anjengan tidak bisa menangkap, membuat telur pecah di dahinya. Satu lagi pecah di wajah Juling Jitu.


“Hahahak…!” Tertawa gilalah Alma melihat hasil ulahnya, sampai-sampai dia terjongkok.


“Hahaha …!” Teman-teman yang tidak terkena telur akhirnya ikut tertawa, terlebih melihat wajah Anjengan dan Juling Jitu.


“Alma anakku!” teriak Muniwengi kencang saat melihat Alma dari jauh.


“Hah!” kejut Alma yang sontak tawanya berhenti karena melihat ibunya datang berlari sambil membawa parang.


Buru-buru Alma menyambar keranjang telurnya lalu berlari guna menyelamatkan diri.


“Hahaha …!” Giliran anak-anak yang menertawakan Alma karena lari ketakutan terhadap ibunya sendiri.


Muniwengi tidak mengindahkan tawa Anjengan dan rekan-rekan.


“Alma, kenapa kau kabur?!” teriak Muniwengi.


“Aku tidak mau dibacok Emak!” teriak Alma.


Semakin tertawa Anjengan dan rekan-rekannya mendengar teriakan Alma.


Tersadarlah Muniwengi. Ia akhirnya berhenti mengejar dan membuang parangnya.


“Tidak, Alma. Emak tadi bawa parang karena usai belah kepala! Eh, belah kelapa!” teriak Muniwengi.


“Emak ada-ada saja! Untung aku tidak copot jantung! Hahaha!” teriak Alma sambil berjalan mendekat ke arah ibunya.


“Almaaa!” teriak Muniwengi sambil berlari memeluk kedatangan Alma.

__ADS_1


Anjengan dan para sahabat segera pula mengerumuni Alma. (RH)


__ADS_2