
*Alma Fatara (Alfa)*
“Apa itu?!” teriak Juminta mengejutkan sambil menunjuk jauh ke langit.
Alma Fatara, Jaring Wulung dan warganya, serta Magar Kepang dan warganya, semuanya memandang ke depan atas, tepatnya ke arah Pulau Seribis yang searah dengan tunjukan Juminta. Mereka semua terkejut, baik mereka yang ada di atas perahu maupun yang sedang berendam di air laut.
Apa yang mereka lihat adalah titik-titik hitam yang melesat cepat ke arah mereka. Alma segera tahu apa yang melesat ke arah posisi mereka. Karenanya, ia segera melompat tinggi ke udara. Tangan kirinya mengulur ke belakang.
Seees! Wuss!
Tangan kiri Alma menyedot udara dalam jumlah banyak, sampai pakaian basahnya mengembang. Lalu tangan kanannya menghentak ke arah sesuatu yang datang dari jauh itu. Segelombang angin keras menderu dari tubuh Alma dan menghadang belasan anak panah yang melesat ke arah mereka. Akibatnya, belasan anak panah itu berbelok arah lalu berjatuhan di air laut yang kosong dari perahu.
Magar Kepang dan pengikutnya terbelalak melihat aksi Alma.
“Ada yang menyerang kita dari pulau!” seru Debur Angkara.
Jbur!
Alma kembali masuk ke dalam air. Ia lalu melesat berenang ke perahu milik ayahnya. Lagi-lagi Magar Kepang dan warganya terbelalak melihat kehebatan renang Alma.
“Semuanya cepat pulang! Kita akan diserang terus!” teriak Alma. Lalu katanya kepada ayahnya, “Aku pinjam perahu ini untuk ke pulau, Ayah. Ayah ikut perahu Desa Iwakculas!”
“Tapi, Alma …. Kita tidak tahu siapa yang ada di sana!” kata Slamet Lara khawatir.
“Tidak perlu khawatir, Ayah. Aku bisa jaga diri!” tandas Alma.
“Lemparkan tali!” teriak Jaring Wulung.
Dua perahu lalu melemparkan tambang kepada Jaring Wulung dan Debur Angkara. Keduanya lalu bekerja mengikat tambang pada bangkai ikan raksasa yang telah mereka bunuh.
Sementara Slamet Lara merapatkan perahunya ke perahu besar yang dinaiki oleh Kepala Desa Iwakculas untuk naik menumpang pulang.
Setelah mengikat ikan siluman itu pada dua perahu, orang-orang yang ada di air segera naik ke perahu-perahu nelayan Desa Iwakculas.
Kini Alma seorang diri di perahu ayahnya. Debur Angkara yang sudah naik ke perahu Magar Kepang, heran.
“Alma, apa yang mau kau lakukan?” tanya Debur Angkara.
__ADS_1
“Aku mau ke Pulau Seribis. Katanya pulau itu tidak ada orangnya, tapi kenapa ada yang menyerang?” kata Alma.
“Alma, aku ikut!” teriak Debur Angkara. Ia lalu melompat ke perahu biru, menemani Alma Fatara.
“Serangan datang lagiii!” teriak Juminta lagi.
Mereka kembali menyaksikan ke atas arah pulau dengan tegang. Memang terlihat, belasan titik hitam seperti tadi.
Sebagian dari mereka cepat berinisiatif berlindung di balik apa pun. Namun, Alma kembali melakukan aksi yang sama. Ia melompat melepaskan angin dahsyat yang membelokkan arah belasan anak panah itu.
“Dayung perahu!” teriak Magar Kepang yang kini memimpin armada kecil itu.
Mereka beramai-ramai mendayung perahu menuju pulang dengan dua perahu besar menarik bangkai ikan siluman.
“Dayung, Kang Debur!” teriak Alma berkomando kepada Debur Angkara.
“Siap!” teriak Debur Angkara semangat empat dan lima.
“Alma! Jaga dirimu baik-baik!” teriak Slamet Lara kepada putrinya saat mereka semakin berjauhan jarak.
Kini, tinggal satu perahu yang meluncur menuju Pulau Seribis. Alma telah mengenakan kembali jubah hitamnya, melapisi tubuhnya yang kuyup. Kain jubahnya berkibar-kibar tertiup angin. Dengan gagah gadis belia itu berdiri menatap ke arah pulau. Sementara Debur Angkara mendayung terus.
Set!
Dari arah pulau, melesat belasan anak panah lagi, kali ini target mereka hanya perahu biru yang dinaiki oleh Alma dan Debur Angkara. Alma sudah menunggu datangnya serangan itu.
Seeet! Trak!
Kali ini Alma melakukan tindakan berbeda, ia tidak melompat lagi ke udara. Tetapi ia melesatkan sesuatu dari balik jubahnya. Debur Angkara tidak bisa melihat apa yang dilesatkan oleh Alma ke udara. Jadi dia tidak tahu.
Debur Angkara hanya melihat, tahu-tahu tiga anak panah yang melesat kepada mereka bergerak menempel satu lalu jatuh ke dalam air di sisi perahu. Sementara anak panah yang lain tidak mengenai sasaran dan berjatuhan ke dalam air.
Alma telah menggunakan Benang Darah Dewa yang melesat keluar dari dalam lengan jubahnya, lalu menjerat cepat tiga anak panah di udara menjadi satu. Alma hanya menjerat anak-anak panah yang mengarah tepat kepada mereka berdua.
Seeet!
Dengan ilmu kesaktiannya, Alma menarik masuk benang yang menjerat anak panah tadi. Tiga anak panah yang tercebur tertarik naik ke perahu. Ketika anak panah itu sudah tergeletak di lantai perahu, Benang Darah Dewa bisa melepas sendiri ikatannya pada ketiga anak panah itu.
__ADS_1
Debur Angkara hanya terbelalak melihat kejadian yang tergelar di depannya.
“A … apa itu tadi, Alma?” tanya Debur Angkara yang baru bisa melihat sesuatu yang membuat tiga anak panah itu diikat jadi satu di udara.
“Itu namanya Benang Darah Dewa, senjataku, Kang Debur,” jawab Alma.
“Waaah, hebat betul!” ucap Debur Angkara terperangah.
“Kang Debur belum lihat saja yang lebih hebat. Hahaha!” kata Alma lalu tertawa.
“Panahnya besar juga, Alma,” kata Debur Angkara mengomentari tiga anak panah yang berbahan besi dan ukurannya lebih panjang dari anak panah biasa. Ia lalu mengambil satu dan memegang-megangnya.
“Panah ini memang untuk melubangi perahu,” kata Alma.
Perahu mereka semakin dekat dengan bibir pulau.
“Lihat! Di sana ada orang!” tunjuk Debur Angkara.
Alma dan Debur Angkara bisa melihat keberadaan beberapa orang bergerak di pinggir pulau. Orang-orang itu mengenakan pakaian serba biru gelap.
“Pasukan prajurit!” kata Alma saat melihat kemunculan sekitar lima belas orang lelaki berseragam biru gelap.
Orang-orang itu membawa tombak dan tameng berbentuk bulat. Mereka muncul berbaris dan membentuk barisan di pantai pulau, seolah mereka menunggu kedatangan perahu Alma.
Alma dan Debur Angkara juga melihat keberadaan beberapa mesin panah. Mesin panah itu didesain untuk panah besar dan bagian depannya memiliki kotak persegi panjang. Kotak itu memiliki empat lubang tempat memasang anak panahnya. Setiap mesin panah dioperasikan oleh seorang prajurit. Sekali tembak, mesin panah itu bisa melesatkan empat panah sekaligus.
Perahu biru semakin mendekati pantai. Keempat prajurit operator mesin panah siap menembak lagi, setelah sejauh ini mereka selalu gagal.
“Kita akan bertarung, Kang Debur! Apa kau siap?!” teriak Alma layaknya seorang komandan muda.
“Siap!” teriak Debur mau tidak mau. Sebab, ia akan malu jika menjawab “tidak”.
“Majulah ke depan. Kita akan buat perahu ini terbang kepada mereka!” kata Alma sambil bergerak ke sisi belakang perahu.
Sementara Debur Angkara berpindah ke depan dan berjongkok, kedua tangannya berpegangan pada perahu. Debur Angkara semakin berdag dig dug saat melihat jelas bahwa prajurit operator mesin panah sudah menarik senarnya dengan kuat.
Alma Fatara telah bersiap diri. Senyumannya mekar lebar, seolah kondisi berbahaya itu bukan hal yang gawat. (RH)
__ADS_1